Warga : Yang penting murah!

7 Nov 2018 20:47 125 Hits 0 Comments
Barang KW

Bukan hal yang asing lagi kalau dengar barang KW, tiruan, atau knock-off. Mulainya bermunculan barang tersebut, banyak orang yang tergiur dengan harga murah tanpa mempedulikan keaslian suatu barang. Dengan adanya barang tiruan membuat masyarakat tidak mempedulikan kepentingan suatu hak cipta dalam sebuah barang.

Dalam fenomena kehidupan jaman sekarang, masyarakat lebih mengutamakan penampilan tanpa mempedulikan hak cipta dari suatu barang yang ia gunakan. Menurut mereka, jika bagus dan murah mengapa harus membeli yang mahal?

Masyarakat yang memilih untuk membeli dan menggunakan barang tiruan tersebut karena ingin bergaya dengan menggunakan barang bermerek, namun tidak memiiki uang yang cukup. Maka dari itu banyak masyarakat yang tergiur dengan membeli barang-barang tiruan tersebut.

Munculnya sebuah paham mengenai fashion di kalangan masyakarat juga merupakan salah satu faktor terbesar dalam penggunaan barang tiruan. Melihat artis dan idolanya menggunakan barang yang bagus dan menarik namun harganya selangit juga salah satu faktor munculnya barang tiruan di kalangan masyarakat.

Melihat calon pasar yang besar, maka produsen berusaha membuat barang serupa yang bisa dijual lebih murah untuk meraup pasar yang lebih luas lagi. Akhirnya muncul deh barang-barang tiruan yang lebih sering disebut KW.

Satu lagi alasan kenapa barang tiruan sangat laku keras di pasaran Indonesia ialah faktor nilai konsumtif masyarakat kita yang cukup tinggi. Salah satu ciri masyarakat konsumtif ialah mereka melakukan pembelian bukan dasar atas kebutuhan, melainkan lebih dari sekedar gaya hidup.

Salah satu kelebihan barang KW/aspal/tiruan adalah harganya yang sangat murah. Bahkan dengan kualitas yang nyaris sama harga bisa lebih murah hingga lebih daro 50%. Akhirnya pamor barang KW ini jadi melonjak hingga menjadi komoditas yang unggul bagi beberapa negara besar di dunia termasuk negara kita Indonesia.

Dari catatan Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan (MIAP), akhir tahun lalu nilai kerugian mencapai Rp 65,1 triliun. Angka ini naik tajam sekitar 50 persen dibanding tahun 2010, di mana kerugian Indonesia akibat barang palsu hanya Rp 43,2 triliun.

Dari survei MIAP, tujuh jenis barang palsu yang paling banyak beredar adalah tinta printer, pakaian, produk dari kulit, peranti lunak, kosmetik, makanan dan minuman, serta produk farmasi. (www.merdeka.com/2018)

Di Indonesia, masalah hak cipta diatur dalam Undang-undang Hak Cipta, yaitu, yang berlaku saat ini, Undang-undang Nomor 28 Tahun 2014. Dalam undang-undang tersebut, pengertian hak cipta adalah "hak eksklusif bagi pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku".

Dengan adanya informasi tersebut di harapkan masyarakat dapat menghargai dan menjunjung hak cipta dengan sebaik-baiknya. Karena dengan menggunakan barang tiruan merupakan salah satu tindakan yang tidak terpuji. Bahkan dalam agama tertentu jika seseorang melakukan aktifitas jual beli barang tiruan maka transaksi tersebut di katakan tidak sah. Jadi mari hargai dan cintai keaslian produk.

Tags

About The Author

Duta Imanuel Sitorus 5
Kapur Tulis

Duta Imanuel Sitorus

Mahasiswa Bina Nusantara

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel

From Duta Imanuel Sitorus