Padi Adan Produksi Suku Dayak Lundayeh, Kalimantan Utara

6 Nov 2019 11:40 239 Hits 0 Comments Approved by Plimbi
Padi Adan diproduksi masyarakat Suku Dayak Lundayeh di Kabupaten Nunukan ,Kalimantan Utara dengan sistem pertanian unik khas suku Lundayeh

Pertanian di Kawasan Kalimantan Utara dewasa ini berkembang pesat salah satu produk pertanian yang berasal dari Kalimantan Utara adalah Padi Adan  Padi Adan menjadi produk pertanian unggulan di Dataran tinggi Krayan ,Kalimantan Utara.Padi Adan dibudidayakan oleh masyarakat lokal yang sebagian besar terdiri dari Suku Dayak Lundayeh dengan mengubah bagian bawah lembah menjadi lahan produktif yang dikelola secara  tradisional  yaitu sistem pertanian organik.


Sistem pertanian organik dalam arti petani Suku Lundayeh  dalam mengelola pertanian padi Adan dari persemaian benih padi,penanaman,perawatan,panen sampai pasca panen tanpa memakai pestisida kimia hanya menggunakan pestisida organik. Budidaya padi Adan  ternyata  telah lama berkembang sejak  tahun 1996  tak heran hasil panen padi jenis ini melimpah dan berkualitas.

Budidaya Padi Adan berkualitas di dataran tinggi.Dieng terletak pada benih padi .Cara unik mengembangkan benih padi Adan tidak biasa  yaitu benih padi disebarkan diarea pembenihan padi setelah disemaikan selama 30- 40 hari ,tetapi sebelum umur padi 30- 40 hari di pindah ke lahan yang tergenang air supaya gulma tidak tumbuh .Cirikhas lain dalam budidaya padi Adan yang tak kalah menarik saat  proses penanaman benih padi  Adan sampai proses panennya tidak menggunakan pupuk sama sekali murni organik sehingga beras adan ini kaya akan kandungan mineral,vitamin yang penting bagi kesehatan.

Cara yang menarik  ketika  mengolah sawah pun terlihat unik dari cara mengelola lahan pertanian yang dilakukan secara  bergilir yang disesuaikan dengan lokasi,musim dan diatur oleh adat.Setiap lahan padi adan hanya digarap sekali setahun ,meski lahan pertanian digarap setahun sekali kesuburan lahan pertanian tetap terjaga. Lahan pertanian Padi Adan digarap secara tradisional dengan memanfaatkan kerbau tidak membajak ,namun setelah  panen kerbau dilepas bebas ke tengah sawah untuk meratakan tanah ,memakan hama,serta menyuburkan tanah sehingga membuat sawah siap diolah untuk musim selanjutnya.

Kerbau dibiarkan bebas berendam dikubangan  air sawah dan kerbau dibiarkan menginjak-injak rumput dan jerami kemudian kerbau jug dibiarkan membuang kotoran ditengah sawah .Kotoran kerbau  tersebut sengaja dibuat menjadi kompos alami membuat tanah subur diareal perasawahan.

Lahan pertanian tersebut dalam penggarapannya tidak sama sekali pemberian pupuk kimia selama budidaya padi adan.Padi adan digarap dengan menggunakan sistem irigasi tradisional yang bersumber mata air pegunungan yang ada disekitar kawasan dataran Krayan .Dari sistem irigasi ,pupuk kemudian  cara mengolah sawah  mampu menghasilkan beras organik dikenal dengan nama beras Adan Krayan yang terkenal pulen,legit aromatik dan harum.

Kondisi ekonomi Krayan mulai menggeliat sejak adanya budidaya padi Adan .Kecamatan Krayan terdiri dari 65 desa dengan luas sawah 3600 hektar ini mampu menghasilkan beras Adan Krayan dikenal pulen,legit,dan aromatik Beras Adan Krayan berasal dari bibit padi Adan pilihan dan sebelum disemaikan bibit padi direndam selama sehari semalam ,diangkat didinginkan kemudian disemaikan kembali,dan ditebar ,tumbuh padi. Bibit padi Adan  yang disemaikan sebelum umur 30-40 hari dipindah ke tempat bergenang air agar bebas dari gulma.

Petani Krayan yang sebagian besar dari Suku Lundayeh  menanam padi setahun sekali. Pasca panen lahan dibiarkan tidak produktif dan menjadi tempat kerbau  berkubang ,Kerbau sengaja dilepas bebas agar memakan jerami ,dibiarkan berendam,membuang kotoran di sawah, kerbau dibiarkan menginjak lahan pertanian agar lahan pertanian menjadi subur .Budidaya padi Adan tidak sama sekali menggunakan pestisida dan kesemuanya organik. Sistem pertanian padi Adan di Krayan perpaduan peternakan kerbau ,pemeliharaan ikan dan pemanfaatan air bersih dari gunung untuk irigrasi tradisional. Bibit padi Adan yang telah disemaikan kemudian dipindah ke lahan pertanian untuk ditana. Padi yang ditanam kemudian dialiri air dari gunung yang murni, jernih bebas dari bahan kimia.

Fakta menarik adalah pola pertanian organik suku Lundayeh yang dipadukan dengan perternakan kerbau dan memanfaatkan air jernih dari lembah dataran tinggi Kayan untuk irigrasi persawahan. Air bersih dialirkan oleh pipa bambu atau parit alami ke sawah.Kerbau oleh petani Lundayeh tidak digunakan untuk membajak,namun setelah panen lahan pertanian dibiarkan tidak produktif kemudian kerbau dilepaskan ke tengah sawah yang telah dialiri air bersih sehingga sawah dibuat seperti kolam .Kerbau dibiarkan menginjak-injak jerami agar meratakan tanah, memakan hama, kerbau dibiarkan berkumbang, membuang kotorannya di tengah sawah serta menyuburkan tanah hingga membuat sawah siap diolah untuk musim selanjutnya.Selama lahan tidak produktif inilah proses penyuburan lahan pertanian dilakukan tanpa menggunakan pestisida alami sama sekali hanya memanfaatkan jerami ,kotoran kerbau sebagai pupuk organik. Selain itu, lahan pertanian yang dialiri air dari gunung mirip seperti kolam tersebut sebagai tempat perternakan kerbau ,kolam di sawah ini juga dijadikan sebagai perternakan unggas dan tempat pemeliharaan ikan .

Masa penyuburan lahan pertanian di dataran tinggi Krayan tidak menggunakan sama sekali pestisida kimia seperti lahan pertanian daerah lainnya di Indonesia. Kesemuanya menggunakan bahan pupuk alami ,tanpa campuran bahan kimia pestisida lainnya.Lahan pertanian di dataran tinggi Krayan hanya bisa menggunakan pestisida alami.Pestisida alami adalah suatu pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan, kotoran hewan, atau bahan alami lainnya. Jenis pestisida jenis ini mudah terurai di dalam tanah, tidak mencemari lingkungan atau ramah lingkungan serta relatif aman bagi manusia dan ternak, karena residunya mudah hilang.

Petani Suku Lundayeh pernah mencoba menggunakan pestisida kimia seperti yang disarankan sebagian pihak ,tetapi hasil panennya tidak sebagus malah petani mengalami kegagalan panen. Padi Adan yang dipanen memang kelihatan berisi dan gemuk, namun padi  tidak isinya membuat petani merugi. Semenjak itu, petani Krayan sampai sekarang tidak menggunakan lagi pestisida berbahan kimia dan hanya memakai pestisida organik berbahan alami yang ramah lingkungan. Pola pertanian organik yang dilakukan petani di wilayah ini menjadi ciri khas pertanian dataran tinggi Krayan. Sistem pertanian ini telah berlangsung secara turun temurun dari beberapa generasi dan saat ini sistem pertanian organik suku Lundayeh di dataran tinggi Krayan tetap dipertahankan sampai sekarang

Sistem pertanian organik yang perpadu dengan adat atau kebiasaan masyarakat suku Lundayeh menjadi daya tarik tersendiri bagi Krayan sehingga menghasilkan produk pertanian berkualitas yang sering disebut Padi Adan atau beras Adan Krayan ,demikian nama spesifik lokal untuk padi yang umumnnya ditanam oleh masyarakat Krayan. Padi Krayan yang dikembangkan oleh masyarakat daratan tinggi dengan nilai-nilai adat suku Lundayeh yang dikenal selalu menjunjung tinggi budaya kearifan lokal bersandar kepada potensi alam sekitar. Pola pertanian tradisional berbasis organik inilah menjadi keunikan pertanian Krayan yang tidak dimiliki oleh pola pertanian modern.

Produk pertanian yang dihasilkan petani Krayan dengan sistem pertanian organik yakni beras Adan Krayan yang dikenal memiliki cita rasa khas,harum,lezat dan legit.Ciri khas beras Adan yang demikian legit,harum ternyata mampu menarik perhatian warga negara Brunei Darussalam, bahkan beras Adan favorit raja Sultan Brunei.Beras Adan yang demikian membumi sampai negara Brunei dan Malaysia memang membuat bangga Indonesia disisi lain produk Indonesia ini juga menjadi dilema bagi petani Krayan karena produk ini sering diklaim oleh Malaysia sebagai produk buatan Malaysia dengan mengemas dan membuat merek sendiri padahal beras Adan buatan petani Indonesia.Kini beras Adan tidak bisa diklaim oleh negara lain setelah beras Adan mendapat Indek Geografis dari pemerintah
Indonesia.

Tags

About The Author

Suryatiningsih 31
Ordinary

Suryatiningsih

Penulis adalah Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel