Sadarkah Bahwa Ucapan Kita Sendiri Menghambat Perkembangan Dunia

18 Dec 2018 06:18 1041 Hits 0 Comments
Lucu tapi nyata. Tidak jarang dimasyarakat pada umumnya. Suka bikin aturan sendiri, mitos dan standarnya sendiri. Alih-alih bikin hidup semakin mudah, justru malah tambah bikin susah. Bikin susah sendiri dan menyusahkan orang lain.

Enaknya hidup dijaman modern, khususnya di Indonesia. Kita bisa merasakan salah satu nikmat sebagai pribadi merdeka. Yakni bebas menyampaikan pendapat dimuka umum. Dan hak tersebut dijamin secara sah oleh negara dan diatur sedemikian rupa. Terlebih sekarang semua menuju serba online.

Kita tahu sama tahulah, saat ini di Indonesia kita tengah menikmati hasil perjuangan dari pendahulu kita. Selama tidak melanggar aturan atau yang berlaku. Masyarakat boleh bebas berkumpul, berserikat dan menyampaikan pendapat didepan umum.

Bahkan kritik pemerintah juga bisa di Indonesia. Apalagi sekarang dengan adanya media sosial. Menyampaikan pendapat menjadi semakin mudah dan massiv.

Sebenarnya sudah enak di Indonesia dalam urusan cuap-cuap. Beda kalau seumpama kita tinggal di Tiongkok atau Korea Utara misalnya. Coba saja berani nyinyir di negara itu.

Tapi ironisnya. Ketika negara sudah mulai mengendorkan aturan-aturan yang mengekang rakyat. Kita-kita ini, masyarakat biasa terkadang suka terjebak pada kesusahan yang dibuat sendiri.

Lucu tapi nyata. Tidak jarang dimasyarakat pada umumnya. Suka bikin aturan sendiri, mitos dan standarnya sendiri. Alih-alih bikin hidup semakin mudah, justru malah tambah bikin susah. Bikin susah sendiri dan menyusahkan orang lain.

Kita tahu sama tahulah. Orang-orang terkadang sering melontarkan suatu pendapat seenaknya sendiri. Tanpa mikir itu benar atau salah. Pokoknya kalau dia pikir benar, maka orang lain salah.

Katakanlah omongan orang lain boleh saja dianggap sebagai "kentut". Tapi kentut tetap saja bau, bikin menjengkelkan. Bahkan omongan orang lain justru lebih berat daripada masalah pokok yang dihadapi.

Misalnya terjadi pada kasus penyakit HIV Aids. Penderita HIV Aids ini boleh jadi masih bisa kuat berjuang menghadapi penyakitnya. Namun siapa tahu, bila mereka (penderita HIV -Aid) justru lebih merasa berat menyandang sebagai penderita Aids karena dikucilkan dari masyarakat.

Orang-orang cenderung berbeda berpikir penyakit tersebut menular secara liar, hidup penderitanya yang dekat dengan dunia malam dan selalu dicap jelek. Padahal nyatanya tidak seperti itu, tidak semuanya.

Apapun itu, orang sudah sakit, rasanya tidak pantas mendapat hinaan yang bertubi-tubi. Bayangkan saja, gimana sih rasanya kalau diri kita sakit. Namun orang-orang bukanlah doain cepat sembuh. Malah sibuk menduga penyebab penyakitnya, bentar lagi mati, diguna-guna, bahkan dikiranya karena kena azab.

Kasus yang mirip-mirip juga bisa ternyata pada kejadian fisik tidak sempurna, korban perkosaan, 'telat' menikah dan lainnya.

Saya jadi ingin bertanya; apa omongan orang lain kepada hidup orang lain bisa dikatakan sebuah kontrol sosial? Mengontrol hidup orang lain lewat omongan.

Katakanlah orang lain berniat baik memberi saran dan pendapatnya. Namun percuma kalau niat tidak berbanding lurus sama prakteknya.

Begitupun soal urusan ekonomi. Saya gak tahu sejak kapan orang-orang Indonesia jadi paham ekonomi terutama netizen-netizen itu. Mendadak jadi sibuk ngurusi utang negara dan nilai tukar Rupiah.

Tapi jauh dari itu. Ternyata soal ekonomi ini masyarakat kita memang sepertinya sensitif soal ekonomi. Kondisi ekonominya sulit ngeluh. Sementara ekonomi orang lain susah, malah dirumpiin.

Kita tahu sama tahulah kalau standar kebanyakan orang memandang ekonomi mapan itu; kerja kantoran, kendaraan, pakaian mahal dan gaya hidup mewah. Kalau gak itu, berarti belum jadi 'orang'.

Padahal kita gak tahu, apa Besar kecilnya harta seseorang berbanding lurus sama kebahagiaan? Ironisnya, kebanyakan orang justru merendahkan orang-orang yang sedang berusaha meraih rejekinya masing-masing.

Seperti saat ini dimana wirausaha sedang digalakkan. Banyak muncul jenis usaha-usaha baru yang belum pernah ada. Bukannya didukung, tapi malah dicibir. Karena mindset orang-orang rasanya sudah mengakar. Kalau tidak kerja kantoran, berarti belum kerja.

Ya begitulah. Sebenarnya banyak lagi contoh kasus penghambat orang-orang berkembang justru datang dari omongan saudara-saudara sebangsanya sendiri.

Meskipun omongan orang lain boleh diabaikan. Namun terlalu banyak mengabaikan, satu dua ada yang melekat dan menghambat. Dan disini Sebenarnya masalahnya. Tidak semua orang tahan mendengar omongan pedas orang lain. Sekalipun dia suka sambal.

Maka itu. Yuk jaga ucapan kita sejak sekarang. Tanpa sadar banyak ucapan kita yang dikira benar, malah menjadi penghambat saja. Kita bukannya tidak boleh berpendapat. Dan juga bagus bila kita menerima kritik.

Namun kritik itu sejatinya pintar. Tidak boleh seenaknya mencaci maki, merasa benar dan menang. Namun kebanyakan kita sering lupa diri. Kritik atau pendapat tanpa dasar yang jelas. Hanya seperti bacotan tidak bermakna. Bila terus dilakukan, maka orang-orang akan tahu seberapa buruknya kamu.

Tags

About The Author

Rianda Prayoga 39
Ordinary

Rianda Prayoga

Gak banyak bicara, sedikit cuek tapi lumayan ramah

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel