Daftar Content
Ini adalah 4 Kartini Muda Yang Sukses Di Perfilman Internasional
Penuh Bakat, 4 Kartini Muda Ini Jadi Sorotan Internasional Kartini muda berprestasi di dunia internasional
Momentum Apresiasi Film Nasional melalui Surat Cinta untuk Kartini: Sekolah Perfilman vs Sekolah Beranda Belakang
Film merupakan karya seni budaya yang memiliki peran strategis yang mampu meningkatkan ketahanan bangsa. Dalam hal ini Negara bertanggung jawab dalam memajukan perfilman nasional. Seni budaya merupakan akar dari identitas bangsa yang harus dipertahankan. Film, sebagai bagian dari seni dan budaya, dapat menjadi media komunikasi massa yang mengandung pendidikan, sejarah dan pengetahuan.
Seburuk Itukah Kualitas Film Indonesia?
Memang 3-10 tahun terakhir film horor terlalu mendominasi perfilman Indonesia dalam hal kuantitas, sehingga banyak penonton yang sudah acuh tak acuh dengan film Indonesia. Padahal belakangan ini makin banyak film yang bagus yang memenangkan banyak penghargaan di festival film negeri, salah satunya film Siti, yang juga dianugerahi sebagai film terbaik tahun 2015. Mirisnya, film tersebut hanya bertahan seminggu di bioskop tanah air karena kurang penonton. Ya semoga banyak penonton Indonesia yang lebih mengapresiasi film tanah air terutama yang memang berkualitas. Karena sesungguhnya film Indonesia tak sejelek itu dan tak semua film Hollywood semuanya berkualitas baik.
Filosofi Kopi dan Sederet Keganjilan Tak Filosofis
Di Indonesia, setidaknya ada dua hal yang segera terasa tak menyenangkan dari sebuah film yang sukses secara komersial. Pertama, film itu tak selalu baik secara kualitas. Kedua, film itu selalu mudah menjadi “negatif trendâ€â€”dalam artian; memicu ramainya “kreatifitas-duplikatif†atau “kelatahan-kelatahan tak perlu†pada produksi film-film setelahnya.Tetapi apakah film yang mengikuti trend otomatis buruk? Tentu tidak. Salah satu yang menurut saya berhasil: Filosofi Kopi (2015). Film ini, mampu menampilkan kekuatannya tersendiri. Filosofi Kopi hadir dengan literasi tentang kopi yang ditampilkan dengan mencukupi. Film besutan Angga Dwimas Sasongko ini juga mampu menghadirkan kopi bukan sebagai produk dan “ngopi†bukan sebagai “kesibukan konsumtifâ€. Pendeknya: menghadirkan sebentuk filosofi.