A Copy of My Mind, Bukan Sekadar Film Cinta-cintaan

1 May 2016 00:04 4591 Hits 4 Comments
Setting film "A Copy of My Mind" tidak akan asing dengan kehidupan kita, terasa dekat, sedekat DVD bajakan dan mie instan dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Di Indonesia, untuk menjadi manusia yang dipandang dengan kedua belah mata, tidak cukup hanya dengan Think Big atau Think Out of Box saja, tapi harus dibarengi dengan Do Big atau Do Out of Box ~ JL

Film ini (A Copy of My Mind) nggak sekedar cinta-cintaan aja, ada sisi lain berbagai profesi yang ada di Jakarta. Walaupun film ini sangat raw, saya yakin banget ikutin ini ke berbagai festival ~ Joko Anwar

Penulis dan Sutradara Film "A Copy of My Mind"

Jika pengamat lebih suka mengkotakkan seniman berdasarkan dua kategori besar, idealis dan realis, Joko Anwar seharusnya dimasukkan ke kotak yang pertama.

Siapa sebenarnya Joko Anwar?

Tidak banyak yang saya ketahui tentang sutradara kelahiran Medan, 4 Januari 1976, ini kecuali lewat film-film yang telah digarapnya, termasuk film "A Copy of My Mind" yang saya bikin reviewnya pada kesempatan ini.

Bertolak belakang dengan latar pendidikannya di bangku kuliah, pria lulusan Institut Teknologi Bandung tahun 1999 ini malah bekerja sebagai wartawan The Jakarta Post. Profesinya yang sekaligus sebagai kritikus film akhirnya mempertemukannya dengan Nia DiNata untuk menggarap penulisan film "Arisan!"

Berbekal menjadi Asisten Sutradara 2 pada film "Biola Tak Berdawai", pada tahun 2005 Joko lalu menulis sekaligus menyutradarai film pertamanya, "Janji Joni", yang dibintangi Nicholas Saputra dan Mariana Renata.

Dua tahun kemudian, film "Kala", yang ditulis dan disutradai sendiri olehnya, disebut-sebut sebagai film noir pertama dari Indonesia yang mendapat pujian dari para kritikus internasional.

Tahun 2009, lagi-lagi sebagai penulis dan sutradara, Joko merilis film "Pintu Terlarang" yang bertema thriller psikologis, sebuah film 'cerdas' yang dikemas dengan apik. Bandingkan saja dengan "Shutter Island" yang dirilis setahun sesudahnya, meski memiliki ide dan plot yang hampir serupa, penonton Indonesia akan segera mengetahui perbedaannya, ini Made in Indonesia, bung!

Sebagai rangkaian 'latihan bikin film', Joko kemudian menulis dan menyutradarai film "Modus Anomali" yang dirilis pada tahun 2012. Jika Anda mengaku pecinta Film Indonesia, seharusnya Anda sudah pernah menonton film ini.

Jika Anda bertanya balik kepada saya, siapakah sebenarnya Joko Anwar?

Saya akan menyebutnya sebagai sutradara cerdas dan keras kepala. Joko menolak disebut sebagai sutradara idealis (anti-mainstream) namun juga menampik jika dianggap sebagai sutradara realis (bekerja sesuai selera pasar). Joko malah membuat 'kotak'nya sendiri dengan kategori yang berbeda: Sutradara sewaan dan Sutradara independen.

Sutradara sewaan adalah sutradara top dan terkenal yang dipekerjakan oleh sebuah agensi untuk menggarap sebuah film, entah dia suka film itu atau tidak. Sedangkan sutradara independen menurut dia adalah sutradara yang -entah top atau tidak- membuat film karena dia memang mau membuatnya.

Joko Anwar merasa dirinya sebagai sutradara pada kotak yang kedua ini, sutradara independen, bikin karena mau.

Setelah bereksperimen dengan keempat film yang telah disinggung sebelumnya, pada tahun 2015, Joko Anwar kemudian menggarap sebuah film 'cinta' yang diberi judul "A Copy of My Mind".

Ditayangkan di berbagai festival film Internasional seperti di Toronto, Busan, Venice, "A Copy of My Mind" kemudian mendapat tujuh nominasi pada Festival Film Indonesia (FFI) 2015 dan membawa pulang tiga piala untuk kategori Sutradara Terbaik, Pemeran Utama Wanita Terbaik dan Penata Suara Terbaik.

Sinopsis Film "A Copy of My Mind" (No Spoiler)

Film ini menceritakan kisah sepasang kekasih, Sari dan Alek.

Sari adalah seorang karyawati (facial & spa therapist) sebuah salon kecantikan di Jakarta yang memiliki hobi menonton film melalui DVD bajakan selepas kerja dengan ditemani mie instan. Mimpinya sederhana, memiliki seperangkat home theater.

Hobinya ini membuatnya 'hunting' film setiap hari. Terjemahan yang buruk pada sebuah film akhirnya mempertemukannya dengan Alek, si penggarap subtitle Indonesia pada DVD bajakan yang ditonton Sari. Menurut Sari, Alek tidak becus dalam menerjemahkan teks film

Awalnya mereka bertengkar, namun akhirnya saling jatuh cinta.

Cerita cinta mereka sederhana.

Profesi Sari membuatnya berkenalan dengan Mirna, kliennya yang berstatus tahanan di sebuah penjara. Dari Mirna, Sari 'mencuri' sebuah DVD yang dikiranya berisi film yang sangat menarik. Ternyata isi DVD tersebut sangat berbeda dengan apa yang dia sangka, bahkan malah membawa petaka.

DVD itu membuat kehidupan cinta Sari dan Alek menjadi semakin rumit di tengah rumitnya hidup di Jakarta. Mereka berdua dikejar-kejar dan nyawa mereka terancam. Alek yang tertangkap harus rela disiksa demi melindungi Sari.

Berikut Official Trailer Film "A Copy of My Mind" yang diunggah di Youtube:

Kalau mau yang bagus, cari aslinya. Bajakan kok diprotes ~ Alek

Cast Film "A Copy of My Mind"

  • Tara Basro sebagai Sari

Melalui film ini, saya belajar bahwa menjadi perempuan di Indonesia tidaklah mudah sehingga butuh usaha dan perjuangan yang keras ~ Tara Basro

 

  • Chicco Jerikho sebagai Alek

Melalui film ini, saya melihat bahwa perempuan bukanlah kaum yang lemah. Apabila perempuan ditindas, mereka akan membalas dan bertahan dengan cara mereka sendiri ~ Chicco Jerikho

 

  • Maera Panigoro sebagai Mrs. Mirna

 

  • Paul Agusta sebagai Bandi

 

  • Ario Bayu sebagai Hitman

 

Cinta yang Sederhana: Sewajarnya, Jujur, Apa Adanya

Anda tidak akan misjudging saat melihat cover dan poster film ini, entah itu sensualitas ataupun bau erotis nan panas.

Ya, "A Copy of My Mind" bercerita tentang kisah cinta manusia dewasa, bukan cinta monyetnya remaja, ada adegan 'berkeringat' di dalamnya.

Karakter pemain yang kuat merupakan ciri-ciri film garapan Joko Anwar yang lebih mengutamakan karakter daripada teknis.

Akting Tara Basro dalam memerankan Sari sangat memukau. Cara dia menggambarkan wanita pinggiran Jakarta dalam bertahan hidup, menikmati hari demi hari, saat dimabuk cinta, hingga dituntut beradegan 'panas', secara keseluruhan terlihat sempurna, manis, dan menggetarkan. Tidak heran jika pada akhirnya Tara Basro dianugerahi penghargaan sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik untuk film ini pada ajang Festival Film Indonesia di tahun 2015.

Karakter Alek tak kalah memikat. Kehadirannya bukan sekadar aktor pelengkap, melengkapi cintanya Sari di film ini. Di balik tampang sangar dan sikap cueknya, tokoh Alek yang diperankan secara total dan natural oleh Chicco Jerikho ini berhasil menghadirkan sisi romantisme cinta melalui cara yang berbeda.

Mereka berdua tidak terlihat harus bersusah-payah dalam membangun cinta, cinta mereka mengalir sewajarnya dan begitu saja, tanpa embel-embel status sosial, harta, atau tahta.

Saya masih percaya bahwa cinta dan seks itu adalah dua pengertian yang sangat berbeda, cinta itu bukan seks dan seks itu bukan cinta. Cinta dan seks bisa berjalan sendiri-sendiri tanpa harus saling menopang. Namun, bercinta dengan orang yang dicintai dan mencintai kita itu pasti terasa indah, emosional, menyenangkan sekaligus mengharukan.

Seakan tidak mau terikat oleh batasan agama, norma, budaya ketimuran, "A Copy of My Mind" nekat menyajikan kisah cinta yang jujur menggambarkan realita cinta zaman sekarang. Film ini tidak munafik dalam menceritakan cinta, entah bermoral atau tidak bagi penontonnya.

Bukan Sekadar Cinta-cintaan

Meski disebut sebagai film cinta, pesan dan kesan moral yang diselipkan pada film ini sangat padat dan beragam, tidak hanya terpaku pada makna 'kesetiaan', 'pengorbanan' atau 'perasaan' saja, yang jika digabung menjadi kalimat 'setia mengorbankan perasaan'.

Dikemas secara cantik dan alami, penonton tidak akan merasa dijejali secara paksa oleh berbagai isu politik dan kesenjangan sosial yang sekarang tengah terjadi ketika menonton film ini.

Jadi, jangan hanya terpaku dengan adegan ranjangnya! Anda akan melihat pendekatan yang membumi ala Joko Anwar terhadap Indonesia khususnya Jakarta sebagai ibukota. Kerasnya kehidupan di sana, intrik dan skandal yang silih berganti bahkan tumpang tindih terjadi. Dari 'layanan hotel mewah' dalam penjara, semrawutnya ibukota, hingga kasus korupsi di Indonesia.

Setting film "A Copy of My Mind" tidak akan asing dengan kehidupan kita, terasa dekat, sedekat DVD bajakan dan mie instan dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Saya ingin "A Copy of My Mind" jadi time capsule Jakarta, Indonesia sekarang. Jadi nanti, kita bisa melihat situasi Indonesia yang sebenar-benarnya saat ini, dan kapanpun kita mau nantinya ~ Joko Anwar

Sesuai dengan judulnya, rupanya film ini adalah 'sebuah salinan dari pemikiran seorang Joko Anwar' terhadap wajah ibukota dan manusia di dalamnya.

Film ini rencananya akan menjadi sekuel pertama dari trilogi "A Copy of" yang akan dilanjutkan dengan "My Soul" dan "My Heart".

Kemungkinan besar simpulan dan amanat sesungguhnya yang ingin disampaikan oleh Joko Anwar akan rampung dan terungkap seutuhnya melalui ketiga sekuel ini nantinya. Kita tunggu saja.

Rating?

Jika harus memberikan rating dengan skala 1-5, maka saya akan memberikan 4 untuk keseluruhan film "A Copy of My Mind", berdasarkan penulisan cerita, karakter, akting, dan cara penyuguhannya.

Film berbudget rendah ini hanya memakan delapan hari dalam proses syutingnya. Anda tidak akan mendapati efek khusus dan fantastis selama pemutaran film "A Copy of My Mind". Anda tidak akan disuguhkan cerita cinta yang melankolis dan puitis, bahkan sebaliknya, cinta yang telanjang, buka-bukaan, dan apa adanya. Maka sebaiknya jangan bawa anak-anak di bawah umur untuk menontonnya.

Film berdurasi 116 menit ini terasa berjalan sangat lambat pada paruh pertama, Joko berusaha keras di sini untuk memperkenalkan karakter Sari dan Alek, chemistry cinta mereka berdua, dan menanamkan simpati penonton kepada kedua pecinta ini.

Paruh kedua adalah serangan-serangan emosional Joko kepada penonton. Seharusnya Anda akan trenyuh hingga meneteskan airmata sebagai bentuk prihatin, dukungan, dan simpati terhadap tokoh fiktif Sari yang diperankan dengan apik oleh Tara Basro.

Jika "A Copy of My Mind" gagal untuk membuat Anda menangis terharu, jangan khawatir, ending film ini adalah yang terbaik!

Film ini bukan peraih penghargaan Film Terbaik Indonesia dan saya pun merasa bahwa "A Copy of My Mind" bukanlah The Best-nya Film Indonesia. Jadi, kenapa harus menonton film ini?

"A Copy of My Mind" menawarkan cinta yang sederhana, tidak bertele-tele, dan mudah dinikmati, bahkan bagi Anda yang tidak suka pada film-film yang berisi romantisme percintaan sekalipun.

Film ini akan membuka pandangan Anda, bahwa Film Indonesia saat ini berpotensi untuk menjadi lebih hebat dan bermutu, bahkan dari ide yang sederhana dan cara penceritaan sederhana bisa melahirkan sesuatu yang bagus dan layak untuk diapresiasi.

Saya percaya para filmmaker kita saat ini sedang berusaha all-out demi mempersembahkan yang terbaik, sisanya adalah kepada kita. Mari dukung Film Indonesia menjadi lebih baik, mulailah dengan mencintai film negeri sendiri, dan yang tak kalah penting, Stop Pembajakan!

Saya tidak menyesal menonton film ini dan saya yakin Joko Anwar tidak akan mengecewakan Anda!

Sudah menonton film ini? Berikan komentar Anda!

Jangan lupa berkunjung ke artikel "Suara Orang Indonesia di Layar Lebar"

About The Author

Jimi Laila 23
Novice

Jimi Laila

Write about writing is sounds fun, isn't?

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel