Dicari Film Ramah Keluarga untuk Masyarakat Indonesia!

4 May 2016 00:44 4827 Hits 2 Comments

Rekreasi ke bioskop adalah salah satu alternatif rekreasi keluarga. Sayangnya, untuk saat ini film-film Indonesia di bioskop biasanya tidak ramah keluarga (tidak layak ditonton sekeluarga) dan sepi penonton. Membaik atau memburukkah kondisi perfilman Indonesia saat ini? Kalau dikatakan membaik mengapa film-nya sepi penonton, tetapi kalau dikatakan memburuk nyatanya film-film itu berjaya di dunia internasional. Apa yang terjadi? Bagaimana solusinya agar film-film Indonesia bisa ramah keluarga dan jika diputar di bioskop bisa ramai penontonnya?

Kondisi Film Indonesia Saat Ini

 

Situasi unik dialami oleh Industri perfilman Indonesia saat ini, produksi film yang meningkat dari tahun ke tahun ternyata tak diimbangi dengan meningkatnya minat masyarakat untuk menontonnya di bioskop. Beberapa film memang sempat laris, bahkan ada yang menembus angka penjualan sampai jutaan, namun yang demikian hanya sedikit.

 

Film Surga yang Tak Dirindukan
Sumber: http://movie.co.id/surga-yang-tak-dirindukan/

 

Dari film-film terlaris beberapa di antaranya ternyata diambil dari novel, seperti Surga yang Tak Dirindukan, Air Mata Surga, Bulan Terbelah di Langit Amerika, dan Sunshine Become You. Bukan satu-satunya sih, ada juga film yang laris karena diangkat dari buku, program radio, atau lainnya yang sebelumnya memang sudah sukses. Sepertinya trennya begitu karena hampir pasti dapat menjadi jaminan kesuksesan dari sebuah film.

 

Selain film-film yang memang ada “pendahulu”-nya seperti di atas, suksesnya film Indonesia di bioskop biasanya dipengaruhi oleh 6 faktor berikut:

 

1. Membuat penasaran

Mungkin ini sifat dasar manusia ya, termasuk orang Indonesia, jadi ketika ada film yang membuat penasaran mereka akan menontonnya. Saat terjadi perkelahian antara Julia Perez dan Dewi Persik misalnya, filmnya (Arwah Goyang Jupe Depe) malah meledak. Kemudian ada Jelangkung (2001) sebagai film format digital pertama yang diputar di bioskop serta Habibie dan Ainun (2012) yang menceritakan tentang kisah cinta dari mantan orang nomer 1 di Indonesia juga meledak karena orang-orang penasaran.

 

2. Diangkat dari kisah nyata yang benar-benar bagus dan menarik

Yang pernah membaca/menonton Laskar Pelangi mungkin sudah pernah mendengar bahwa film tersebut diangkat dari kisah nyata penulisnya. Kisah tersebut menarik dan kebetulan juga sudah dibuat novel sebelum akhirnya tayang di bioskop.

 

3. Tema cinta

Tema cinta seperti tak lekang oleh waktu, barangkali karena film-film romantis biasa jadi jujugan anak-anak muda yang sedang kasmaran. Ada Apa Dengan Cinta (AADC) 1 contohnya, saat itu meraih sukses besar pada pemutarannya. Konon kabarnya keberhasilan film ini menjadi salah satu penyebab diselenggarakannya kembali Festival Film Indonesia (FFI) setelah 12 tahun tidak ada, tepatnya tahun 2004.

 

4. Bagus kualitasnya

Film yang secara kualitas sudah bagus tinggal didukung dengan promosi yang gencar.

5. Film sebelumnya sudah sukses, contohnya karena AADC sukses maka dibuatlah AADC 2.

6. Dapat feel-nya

Sebuah film dikatakan bagus jika bisa membuat perasaan kita ikut tergerak sesuai dengan genre film dan jalan ceritanya, misalnya film komedi bisa membuat tertawa, film inspiratif bisa menginspirasi, film motivasi bisa membuat termotivasi, dan semacamnya.

 

Faktor-faktor di atas agaknya bertentangan dengan keyakinan banyak orang bahwa suksesnya film Indonesia di negeri sendiri lebih dipengaruhi oleh hal-hal berikut:

1. Faktor sutradara

Kurang apa dengan film Kuldesak (1998) soal ini, digarap oleh 4 sutradara sekaligus tapi ternyata hanya diputar terbatas di beberapa bioskop karena dinilai kurang menjual.

 

2. Modal besar dan peralatan canggih

Dana yang besar memang bisa menjadi pendukung suksesnya suatu film tetapi tidak selalu. Sebut saja Trilogi Merdeka (Merah Putih, Darah Garuda, dan Hati merdeka), Gunung Emas Almayer, Pendekar Tongkat Emas, Di Bawah Lindungan Ka'bah, dan Street Society, yang produksinya dikabarkan tidak balik modal.

Sebaliknya, A Copy of My Mind dan Siti berhasil menembus dunia perfilman di luar negeri walau dengan modal yang kecil.

 

3. Faktor lain seperti tampang atau popularitas pemain utama, lokasi jalannya cerita, serta hal-hal yang berbau seks atau keseksian pemain.

 

Pihak yang Terkait Saling Menyalahkan

 

Banyak pihak menilai lesunya dunia perfilman nasional kita adalah karena kualitas filmnya yang buruk. Meskipun pemerintah maupun pihak bioskop mengaku sudah berusaha membantu tetapi film Indonesia tetap lesu. Undang-Undang kita telah berusaha melindungi film-film nasional dengan mewajibkan bioskop untuk memutar seluruh film yang telah lolos sensor, juga dengan adanya kuota yang lebih besar 20% untuk film nasional dibandingkan dengan film impor (60%:40%). Namun, dari seluruh film yang masuk ke pengelola bioskop, yang lolos seleksi teknis (kualitas gambar, editing, atau lainnya) saja masih kurang dari setengahnya, belum termasuk seleksi dalam kualitas cerita. Itu pun sudah mereka bantu dengan menambah layar jika penontonnya banyak dan tidak langsung menurunkan film tersebut ketika penontonnya sedikit, melainkan hanya mengurangi jumlah layar. Seringkali malah meskipun penonton film impor masih banyak, filmnya terpaksa harus diturunkan karena sudah ada film Indonesia yang harus naik. Bioskopnya tidak sepi, hanya penonton film lokal-lah yang sepi. Itulah salah satu alasan mengapa mereka mengatakan kelesuan di dunia perfilman Indonesia adalah disebabkan karena kualitas filmnya yang buruk.

 

Dikatakan demikian para sineas film tidak terima karena nyatanya film-film mereka lolos tayang di festival-festival luar negeri dan bahkan memenangkan lomba-lomba di sana. Terkait dengan mengapa banyak karya yang tidak lolos dalam seleksi teknis hal itu tidak lain karena masalah kekurangan dana. Selain itu, untuk bisa masuk ke bioskop film harus memiliki puluhan kepingan salinan. Ini juga sama, lagi-lagi masalah dana. Kalau menurut  Kemala Atmodjo selaku Kepala Badan Perfilman Indonesia (BPI) hal tersebut berhubungan dengan kesalahan regulasi dan regulator yang mandek. Lalu bagaimana?

 

Sehubungan dengan regulasi, Ketua Panja RUU Perfilman DPR, Abdul Kharis Almasyhari memandang perlu dilakukannya revisi atas Undang-undang No 33 Tahun 2009 tentang Perfilman yang hingga saat ini belum memiliki Peraturan Pemerintah-nya. Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, malah mengeluarkan wacana tentang revisi Daftar Negatif Investasi (DNI), yaitu agar mengizinkan para investor asing untuk memiliki hak penuh dalam industri perfilman.

 

Pemerintah saat ini memang sedang mencari aturan yang tepat untuk itu agar selain bisa memajukan industri perfilman di Indonesia juga sekaligus bisa tetap mempertahankan budaya Indonesia. Tanpa adanya intervensi, maka para produser hanya akan mencari untung dan hidupnya tergantung rating, tanpa kualitas.

 

Dari pihak pemerintah sendiri sebenarnya Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbang Film) sudah menganggarkan sekitar 21 miliar untuk membantu pendanaan film, dengan syarat film tersebut mempertontonkan revolusi mental atau menunjukkan budaya Indonesia, misalnya mengembalikan nilai kesetiakawanan sosial. Akan tetapi, menurut Sutradara kawakan Joko Anwar banyak film bertemakan budaya lokal tak mendapat modal dan dianaktirikan oleh pihak bioskop. Jumlah bioskop hanya sedikit sehingga yang diutamakan adalah film-film non budaya. Oleh karena itu, Joko memandang perlu untuk mengundang investor asing agar film-film bertema budaya berpeluang mendapat layar di bioskop. Jika tidak demikian maka para sineas film tentu akan berusaha mencari “solusi” lain, seperti melempar film-filmnya ke luar negeri.

 

Bagaimana jika Mencari Dana dari Pihak Luar?

 

Kurangnya dana produksi film yang dimiliki dan minimnya keuntungan yang didapat membuat para sineas film banyak yang melempar filmnya ke luar negeri. Banyak dari mereka yang mencari bantuan bantuan pendanaan dari festival film di luar negeri atau organisasi internasional. Untuk film yang diproduksi tahun 2015 contohnya adalah The Fox Exploits the Tiger's Might yang mendapat bantuan dana dari Humanist Institute for Cooperation (Hivos) asal Belanda, sedangkan untuk tahun 2016 contohnya adalah A Copy of My Mind yang memperoleh bantuan pemodalan dari Asian Project Market, Busan, Korea Selatan.

 

Hivos adalah sebuah organisasi internasional asal Belanda yang berfokus mengangkat isu penguatan perempuan, hak-hak dan kedaulatan atas tubuh, serta hak seksual dan keberagaman, tema-tema sensitif yang mustahil dibiayai oleh pemerintah Indonesia. Menurut Hivos pemilihan tema tersebut adalah untuk menghapuskan kekerasan atau lainnya dengan cara membongkar stigma-stigma dan ketabuan. Dengan bantuan permodalan hampir seratus persen darinya, tiga film pendek: The Fox Exploits the Tiger’s Might, Sendiri Diana Sendiri, dan Kisah Cinta yang Asu akhirnya berhasil berjaya di luar negeri.

 

Film yang Berjaya di Luar Negeri = Film Sukses?

 

Apakah film yang berjaya di luar negeri adalah film yang sukses? Tergantung standarnya. Nyatanya, film Indonesia yang dipandang sukses di negara orang itu banyak juga yang berisi konten-konten yang sensitif dan rawan kontra. Para sineas film tahu kalau film-film seperti itu sulit lolos sensor di negaranya sendiri tanpa potongan. Daripada dipotong oleh Lembaga Sensor Film mereka memilih menayangkannya di luar negeri. Joko Anwar memasukkan film semacam ini ke dalam jenis arthouse (film seni), yaitu film yang dibuat untuk eksplorasi estetika yang lebih untuk seni dan budaya.

 

Apa yang disebut Joko sebagai film seni sebenarnya lebih terlihat seperti film-film yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia atau mengandung suatu kerawanan jika ditonton. Film Marlina the Murderer in Four Acts misalnya, di dalamnya bercerita tentang seorang janda yang memenggal kepala perampok. Joko dan orang-orang yang sependapat dengannya tidak peduli akan hal itu, baginya film tidak boleh dibatasi oleh tema, gaya, atau genre agar tidak terkesan dipolitisir oleh pemerintah.

 

Berikut ini adalah beberapa contoh film-film rawan di Indonesia yang sukses di luar negeri:

  1. The Fox Exploits the Tiger’s Might, tentang kekuasaan, seks, dan  homoseksualitas,
  2. A Copy of My Mind bertutur tentang masih banyaknya korupsi dan politik ‘kotor’ di Indonesia. Namun, dari cover sudah terlihat kalau isinya mengandung unsur seksualitas.
  3. Kisah Cinta yang Asu, tentang kemerdekaan atas tubuh sendiri,
  4. Babi Buta yang Ingin Terbang (2008), tentang menjadi keturunan Tionghoa di Indonesia,
  5. Parts of The Heart (2012), tentang homoseksual
  6. Something in The Way (2013), tentang pria alim tapi suka membeli DVD porno dan masturbasi serta jatuh cinta dengan PSK,
  7. About A Woman (2014) tentang seksualitas, agama dan kemunafikan,
  8. The Sun, The Moon and The Hurricane (2014) tentang homoseksual, dan
  9. Siti, mengandung adegan yang agak erotis.

 

Bila kita menyadari, film bukanlah sekadar film. Dari film harkat dan martabat bangsa bisa terangkat atau bisa juga sebaliknya. Saya teringat cerita dari seorang kenalan, bahwa masyarakat luar negeri masih banyak yang belum mengenal Indonesia. Ada yang berpikir Indonesia itu hanya Bali, padahal tidak. Dengan membawa film-film “bermuatan” negatif/sensitif tadi, bagaimana citra Indonesia di mata internasional? Bukankah seperti menjelek-jelekkan bangsa/negara sendiri atau membuka aib sendiri, atau hal-hal semacam itu? Tak percaya? Tiga panel juri dalam Viddsee saja melontarkan pernyataan serupa, bahwa banyak film yang mampu memperlihatkan identitas asli Indonesia. Bedanya, film-film yang dimaksud dalam ketiga panel juri tersebut adalah tentang film-film Viddsee Indonesia yang baik, bukan yang sensitif/rawan atau semacamnya.

 

Akan lebih bijak jika para sineas film menggunakan film untuk memuat hal-hal yang positif saja, misalnya sebagai alat promosi wisata, membangun imej bangsa dan negara, atau tujuan-tujuan lain yang baik. Ingin sukses di dunia internasional tak harus dengan menjual budaya atau bangsa dan negara sendiri, bukan?

 

Film I'm Star

Sumber: www.tabloidkabarfilm.com/berita/517/517.html

 

Yang jelas, masih banyak film yang bisa sukses go international dengan membawa konten yang baik dan layak tonton, misalnya:

  1. Guru Bangsa HOS Tjokroaminoto
  2. Mencari Hilal lolos di acara Tokyo International Film Festival
  3. Sokola Rimba, tentang pengabdian seseorang untuk mengajar anak-anak pedalaman.
  4. “Wonderful Indonesia: History and Culture” dan “Wonderful Indonesia: Diving”

Film-film ini sukses mempromosikan pariwisata dengan tema budaya dan sejarah sekaligus sukses mengekspose keindahan bawah laut Indonesia di mata dunia.

      5. I'm Star, tentang anak penyandang autisme (kisah inspiratif).

      6. Si Anak Kampoeng, tentang pentingnya pendidikan sejak usia dini.

      7. From Seoul to Jakarta, tentang drama inspirasional bagi remaja.

      8. Biji Kopi Indonesia (2014)/Aroma of Heaven, mengenalkan kekayaan alam Indonesia (khususnya kopi) kepada masyarakat internasional.

      9. Little Sister’s Chalk’ (Kapur Ade), mampu menceritakan wajah dan semangat Indonesia kepada penonton asing, dengan karakterisasi yang unik dan imajinasi tinggi.

     10. Of The Dancing Leaves’ (Digdaya Ing Bebaya)

Film asal Yogyakarta inimenghadirkan visual yang memukau sekaligus penuturan cerita para subjek yang menyentuh hati penonton.

 

Rekreasi Bioskop, Mengapa Tidak?

 

Bioskop

Sumber: http://cinemags.id/mengulas-aturan-60-persen-porsi-film-lokal-di-bioskop/

 

Tak bisa dipungkiri bahwa banyak sekali film yang tidak bisa untuk ditonton sekeluarga, di antara penyebabnya misalnya mengandung unsur seks. Zaman dulu banyak film berbau “ranjang” murni, kemudian berganti menjadi zaman horor berbau “seks”, dan hingga kini pun “seks” masih sering disisipkan di berbagai tema film.

 

Saya membayangkan betapa menariknya jika bioskop menjadi ramah keluarga. Selain harga tiketnya murah, lokasi yang terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat dan merata hingga daerah-daerah, film-filmnya pun bisa ditonton sekeluarga. Konten filmnya positif dan layak tonton untuk segala usia. Jadi misalkan di masa liburan atau sedang ingin refreshing sekeluarga menonton bioskop bisa menjadi sarana rekreasi. Hal ini tampak sepele namun sebenarnya kemanfaatannya sangat besar baik bagi individu itu sendiri, bagi keluarga, pihak bioskop, para sineas film, maupun negara. Di samping bisa merekatkan hubungan di antara sesama anggota keluarga, tindakan ini juga bisa membantu membangun karakter bangsa atau mengubah bangsa Indonesia menjadi lebih baik dan lebih positif. Bagaimana kalau dicoba secara sadar untuk membuat film-film semacam itu. Misalnya jika kita ingin meningkatkan rasa kesetiakawanan sosial maka buatlah film semacam itu sebaik mungkin, promosikan besar-besaran dan jadikan yang paling menonjol sebagai tontonan saat liburan atau kapan pun. Jangan remehkan kekuatan film karena efek audiovisual itu lebih melekat pada otak daripada audio saja, visual saja, atau bahkan hanya dengan perintah/teori yang abstrak. Jika filmnya ramah keluarga, maka bisa juga ditonton sama-sama satu kelas atau satu sekolah sambil didampingi oleh guru. Bisa dengan cara pergi ke bioskop atau menontonnya melalui VCD. Menarik, bukan? Film-film semacam ini harus diperbanyak, sedang yang tidak termasuk di dalamnya hendaknya diberi batasan usia penonton. Jadi misalnya film dewasa (bukan film porno/mengandung seks) ya hanya untuk dewasa, anak-anak dan remaja tidak boleh menonton. Semacam itu.

 

Keuntungan lain dari rekreasi dengan menonton film ramah keluarga adalah lebih irit dan mudah dijangkau. Rekreasi tak harus dilakukan dengan bepergian jauh, terkadang jarak, waktu, dan biaya yang dimiliki terbatas. Dalam kondisi seperti ini rekreasi bioskop bisa menjadi alternatif pilihan. Syarat utamanya hanya satu, filmnya harus ramah keluarga. 

 

Sudah berapakah film ramah keluarga di Indonesia?

 

Sumber:

http://www.goodnewsfromindonesia.org/2016/03/15/3-film-pendek-karya-anak-bangsa-juara-di-singapura

http://www.goodnewsfromindonesia.org/2015/06/18/film-dokumenter-indonesia-menang-festival-film-hongkong

http://life.viva.co.id/news/read/630569-film-indonesia-kembali-menang-penghargaan-internasional

http://puteriputeri.com/2015/08/natasha-dematra-persembahkan-dua-karyanya-menang-di-amerika-untuk-hut-ri-ke-70/

http://life.viva.co.id/news/read/613203-lagi-film-karya-anak-bangsa-menang-di-festival-internasional

http://travel.detik.com/read/2015/04/06/101003/2878714/1382/indonesia-menang-festival-film-pariwisata-di-bulgaria

http://www.suara.com/entertainment/2015/06/20/140352/dua-film-indonesia-menang-di-ajang-festival-film-hainan

http://film-indonesia.com/joko-anwar-film-budaya-lokal-tak-dapat-dukungan-modal/

https://m.tempo.co/read/news/2016/02/15/111745005/modal-asing-boleh-masuk-film-nasional-ini-kata-mira-lesmana

http://www.republika.co.id/berita/senggang/film/16/01/21/o1amfb284-bikin-film-nggak-harus-modal-besar

http://id.bookmyshow.com/blog-hiburan/sunil-samtani-kualitas-film-harus-dijaga-agar-tidak-kecewakan-penonton/

http://kabaroke.com/kualitas-film-indonesia-memburuk-ini-penyebabnya/

http://www.kompasiana.com/totosoegriwo/meningkatkan-kualitas-film-mengatrol-jumlah-penonton_55300efb6ea834ac188b4591

http://www.cnnindonesia.com/hiburan/20150626204622-220-62699/kenapa-jumlah-penonton-film-indonesia-terus-merosot/

http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2015/05/11/163250/bukan-salah-bioskop-tapi-salah-kualitas-film-indonesia/#.Vx-GKzG_TIU

http://selebupdate.com/film-indonesia-vs-hollywood/16687

http://wartaekonomi.co.id/read/2015/04/03/51936/mau-ditonton-kualitas-film-indonesia-harus-ditingkatkan.html

http://possore.com/2016/03/08/dede-yusuf-kualitas-film-indonesia-menurun/

http://malesbanget.com/2015/05/5-film-indonesia-termahal-yang-sayangnya-gak-balik-modal/

http://www.cnnindonesia.com/hiburan/20151119104503-220-92644/film-indonesia-tengah-disorot-mata-dunia/

http://www.nyoozee.com/film/filmsiti-menang-ffi/

http://www.solopos.com/2015/06/22/prestasi-indonesia-film-siti-sabet-2-penghargaan-festival-film-shanghai-616675

https://www.brilio.net/news/6-film-indonesia-ini-tak-tayang-di-bioskop-tapi-dikagumi-dunia-top-151210r.html

http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/03/160317_majalah_seni_film_modal_festival

http://www.antaranews.com/berita/534915/lola-amaria-film-indonesia-layak-masuk-pasar-film-dunia

http://www.muvila.com/film/artikel/10-film-indonesia-terlaris-tahun-2015-1601068.html

About The Author

Dini Nuris Nuraini 35
Ordinary

Dini Nuris Nuraini

penulis, blogger

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel