Kearifan Budaya Lokal Masyarakat Suku Baduy dalam Menjaga Alam

27 Nov 2019 11:10 160 Hits 0 Comments Approved by Plimbi
Suku Baduy ,suku yang terisolir dikenal dekat dengan alam hingga dari tempat tinggal sampai perlengkapan rumah tangga pun banyak yang  terbuat dari alam dan ramah lingkungan

Suku Baduy salah satu kelompok etnis Sunda yang tinggal di kawasan Gunung Kenekes tepatnya di Desa Kenekes, Kecamatan Leuwidamar,Kabupaten Lebak,Banten, Jawa Barat.Sebutan Baduy berasal  dari peneliti asal Belanda yang menyebut masyarakat Baduy mirip dengan masyarakat Badawi atau Bedoin di Arab.Mereka sering menyebut diri sebagai urang Kenekes. Suku Baduy umumnya tinggal di daerah perbukitan 300-600 mdpl sehingga ketika berkunjung ke daerah ini perlu tenaga ekstra dan belum lagi ketika musim hujan tiba jalan menjadi licin dan becek .


Sisi lain dari kehidupan masyarakat Suku Baduy adalah adat istiadat yang kuat sehingga tak heran bila kemudian masyarakat suku Baduy ini dikenal kuat menjaga norma serta adat istiadat. Kuatnya suku Baduy dalam menjaga adat istiadat dan norma membuat suku ini termasuk salah satu suku terisolir yang ada di Indonesia dan mengasingkan diri dan menutup diri dari dunia luar dengan tujuan menghindar dari pengaruh budaya luar dan hidup mandiri dan tidak mengharapkan bantuan dari orang lain .Dari pola hidup  masyarakat suku Baduy yang selalu menjaga norma dan adat istiadat demikian tinggi dan kemampuannya mempertahankan kebudayaannya dari pengaruh budaya luar hingga tercipta nilai-nilai kearifan budaya lokal masyarakat suku Baduy seperti sekarang ini.


Wilayah suku Baduy mencakup Kampung Cikesik,Cikertawana, dan Cibeo  yang sebagian besar 3 kampung tersebut tempat suku Baduy tinggal yang. Sementara 50 kampung  masyarakat Baduy luar sebagian besar menetap di daerah bukit Gunung Kendeng dikepalai oleh Pu'un ketua adat  tertinggi dibantu Jaro sebagai wakilnya yang bertugas mengakomodir kebutuhan dasar yang diperlukan semua masyarakat suku Baduy  kemudian wilayah Suku Baduy dari Desa Cibolenger hingga Rangkasbelitung sebagai tempat bermukimnya Suku Baduy dan sejak tahun 1990 wilayah ini telah ditetapkan oleh pemerintah Kabupaten  Lebak sebagai cagar budaya.


Kehidupan suku Baduy yang unik mampu bertahan  dari pengaruh budaya luar dan mempertahankan adat istiadatnya ditengah gempuran modernisasi dan globalisasi saat ini.Kehidupan suku Baduy yang terisolir dikenal sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan budaya lokal dengan pantangan-pantangan yang harus dihindari dengan alasan menjaga alam dan tradisi seperti: dilarang menggunakan listrik,elektronik,sabun,transportasi ,handphone dan lainnya.Sementara  masyarakat Baduy luar membuka diri dari budaya luar seperti barang elektronik ,sabun,pasta gigi mereka telah kenal dan diperbolehkan oleh ketua adat yang disebut Jaro.Baduy luar terbuka bagi tamu yang berasal dari luar mengunjungi dan menginap di salah satu rumah warga Baduy luar .


 Masyarakat Baduy dikenal suku yang selalu mengasingkan diri dari dunia luar, namun mereka peduli dan sangat dekat dengan alam .Alam bagi mereka bagian dari kehidupan sehari-hari sehingga wajib menjaganya. Alam bagi masyarakat Baduy dunia miliknya yang perlu dijaga kelestariannya dan mereka tidak ingin merusak kelestarian alam yang ada.Alam membuat mereka mengerti arti hidup yang sesungguhnya dan memahami bagaimana memanfaatkan kekayaan alam dengan bijak tanpa merusak lingkungan. Dekatnya masyarakat Baduy dengan alam dan kuatnya suku Baduy dengan adat istiadat menciptakan kearifan budaya lokal yang unik dan khas yang hanya bisa ditemukan dalam kehidupan masyarakat Baduy di Kabupaten Lebak, Banten, Jawa Barat.


Kearifan budaya lokal masyarakat Baduy dalam menjaga alam dan adat istiadat setempat terlihat jelas dari lingkungan tempat mereka tinggal dan hutan-hutan yang ada disekitarnya masih alami dan asri. Nilai-nilai kearifan lokal terlihat jelas dari pemukiman penduduk suku Baduy yang berada daerah perbukitan dikelilingi rimbunan pepohonan dan hutan yang masih asri.Rumah milik warga Baduy ini dibangun tanpa semen .Pemukiman penduduk sebagian besar terdiri dari bahan bangunan alami yang ramah lingkungan seperti kayu,rotan dan dinding rumahnya terbuat dari anyaman bambu. Pondasi rumah sebagian besar suku Baduy berasal dari batu kali membuat tiang penyangga rumah terlihat tidak sama tinggi dengan tiang lainnya.Rumah adat khas Baduy unik dilihat dari ruangan dalam rumah adat yang masing-masing berbeda. Ketika berkunjung ke daerah Lebak tempat tinggal Suku Baduy menjumpai rumah adat Baduy yang terdiri dari 3 ruangan dan masing-masing fungsinya berbeda.Bagian depan sebagau ruang penerima tamu dan tempat menenun untuk kaum perempuan.Bagian tengah sebagai ruang keluarga dan tempat tidur dan bagian belakang tempat untuk memasak dan menyimpan hasil ladang dan padi.Lantai rumah adat Baduy terbuat dari anyaman bambu yang dibuat sedemikian rupa hingga terbentuk lantai rumah yang kokoh dan rapi.Bagian atap rumah adat Baduy terbuat dari serat ijuk atau anyaman daun pohon kelapa dan menariknya rumah adat Baduy dibangun saling berhadap-hadapan kemudian selalu menghadap utara dan selatan.Pilihan yang menjadikan rumah adat Baduy hanya 2 arah menurut pandangan mereka yaitu sinar matahari menyinari daerah ini dan masuk ruangan rumah mereka menjadi penyebabnya.


Rumah adat Baduy yang dibuat dari bahan sederhana ini ternyata demikian kokoh ,meski gempa bumi melanda Banten beberapa waktu yang lalu M 6,9 namun tak satu pun rumah adat dikawasan tersebut yang mengalami kerusakan .Saat gempa bumi melanda menurut kepala desa adat Baduy Jaro Saijo warga Baduy hanya merasakan getaran, tidak berdampak pada bangunan yang dihuni. Bangunan rumah dikawasan Baduy menurut Kepala Desa Adat Baduy Jaro Saijo dirancang untuk anti gempa sehingga ketika bencana gempa melanda dalam sejarahpun belum pernah ada rumah di kawasan Baduy ambruk dan mengalami kerusakan akibat gempa.Masyarakat Baduy demikian tinggi dalam menjaga alam terlihat dari tehnik pembangunan rumah tidak menggunakan paku hanya memakai rotan yang membuat rumah adat suku Baduy menja kokoh,kuat meski dilanda gempa bumi besar sekalipun.


Metode pembangunan rumah adat suku Baduy yang hanya memakai paku dan rotan menurut Kepala Desa suku Baduy Jaro Saijo telah ada sejak ratusan tahun yang lalu dan turun temurun sampai kini. Jarak dan lokasi rumah warga dalam pemukiman masyarakat suku Baduy diatur sedemikian rupa termasuk larangan membuat rumah di bandaran sungai menjadi cara mereka melestarikan dan menjaga alam dari kerusakan lingkungan. Ketika masyarakat suku Baduy membuka lahan menurut Jaro Saijo ada aturannya yang sesuai hukum adat yaitu upacara pembukaan lahan.


Ketika menelusuri perkampungan suku Baduy di Desa Kenekes ada pemandangan menarik dengan rumah kayu berdinding anyaman bambu, jalan masih berupa tanah yang penuh debu bau harum kayu bakar serta wangi kopi yang disangrai. Menariknya setiap rumah disuguhi pemandangan unik berupa kain tenun karya perempuan Baduy. Kain tenun tersebut digantung didepan rumah yang sepintas menyerupai etalase bagi wisatawan yang berkunjung.


Kearifan budaya lokal pada masyarakat Baduy juga terlihat jelas dari sistem Pertanian yang mereka bangun yang banyak mennggunakan cara sederhana dan berpadu dengan alam dan adat menghasil sistem pertanian yang unik dan khas Baduy. Ketika memberantas hama misalnya petani Baduy menggunakan metode pertanian yang unik dengan menancapkan batang atay cabang daun belah yang berbau khas bertujuan mencegah serangan hama penyakit atau hewan perekat tikus.Batang yang ditancapkan ke tanah dikenal sangat disukai capung.Capung dianggap predator,penghalauh hama-hama tanaman padi.Burung hantu suka bertengger di cabang daun pelah tersebut. Burung hantu yang sering hinggap di cabang daun pelah dianggap sebagai predator bagi tikus yang seringkali merusak ladang.


Cara petani Baduy menyubur tanaman dan pencegahan tanaman dari serangan hama penyakit dengan konsep pemberantasan hama terpadu yang menjadi bagian kearifan budaya suku Baduy dalam bertani.Penyubur tanaman dan pestida terbuat dari campuran berbagai memanfaatkan ramuan dedaunan yang ditumbuk halus kemudian dicampur dengan abu dapur yang dikenal ramah lingkungan. Sementara itu,alat pertanian pun sederhana seperti golok dan lainnya,walaupun pola pertanian suku Baduy sederhana hasil pertanian padi berkualitas, tahan lama, aromanya enak. Jenis padi suku Baduy berasal dari produk lokal yang dikembangkan sendiri.Kini dikawasan ini jenis tanaman padi mencapai 80 variant padi yang jarang ditemukan daerah lain.


Padi huma salah satu jenis padi hasil varian karya suku Baduy yang telah ada ratusan tahun lalu .Lahan pertanian padi huma menurut Sanca, petani Baduy yang menjadi salah satu menyewa tanah milik orang lain seperti milik Perum Perhutani .Sewa lahan pertanian dilakukan ,karena areal pertanian di tanah adat terbatas .Lewat pertanian padi huma masyarakat Baduy menurut Sanca belum pernah kelaparan atau mengalami rawan pangan ,sebab hasil produksi padi huma melimpah dan surplus. Hasil panen padi huma tidak dijual melainkan disimpan di lumbung pangan atau rumah Leuit atau tempat menyimpan padi


Suku Baduy yang hidup dengan alam dan adat istiadat yang kuat mampu menjaga alam, menciptakan kearifan lokal yang demikian kreatif mengolah pepohonan dari akar pohon sampai buahnya menjadi aneka kerajinan tangan ramah lingkungan khas Baduy. Dari kekayaan alam yang melimpah suku Baduy mampu mengolahnya menjadi kain tenun Kain tenun produksi masyarakat Baduy berbahan dasar dari hasil hutan ulayat adat dan alat tenun pun menggunakan kayu pilihan yang dibentuk demikian rupa sehingga membentuk alat tenun sederhana hasil tenun yang dibuat suku baduy berkualitas tidak kalah dengan kain tenun daerah lainnya yang didominasi warna biru dan hitam sebagai lambang kecintaan terhadap alam.Suku Baduy mengenal budaya menenun yang telah diturunkan dari nenek moyang mereka. Menenun hanya dilakukan oleh kaum perempuan yang diajarkan sejak usia dini sehingga tak heran kaum perempuan suku Baduy pandai membuat tenun .Hasil kerajinan tenun suku Baduy biasanya digunakan dalam pakaian adat Suku Baduy. Kain khas Baduy bertekstur lembut untuk pakaian namun ada juga yang bertekstur kasar. Kain yang agak kasar biasanya digunakan masyarakat Baduy untuk ikat kepala dan ikat pinggang.Kain tenun selain digunakan dalam pakaian sehari-hari kain tenun tersebut juga diperjualbelikan untuk wisatawan yang datang berkunjung ke Desa Kanekes.


Kerajinan tangan khas baduy menarik lainnya yaitu tas koja yang terbuat dari akar serat teureup pilihan yang berfungsi anti kaligata kemudian diproses demikian rupa sehingga membentuk anyaman tas koja yang unik.Selain serat teureup dimanfaatkan untuk tas juga dikembangkan menjadi aneka anyaman aneka gelang yang unik ,gelang tasbis,gelang polos,anting-anting ,aneka kalung,ikat pinggang, topi, tompet dan aneka anyaman menarik khas Baduy. Kerajinan tangan baduy selain anyaman juga dijumpai aneka kerajinan terbuat dari tempurung kelapa pilihan yang dibentuk sedemikian rupa membentuk kerajinan gantungan kunci,kalung, rumah baduy mini, aneka miniatur dari tempurung kelapa seperti:perangkat perabot rumah tangga cangkir, mangkok kemudian aneka kendaraan holikopter, balap motor dan, vas bunga, asbak dan sejumlah miniatur lainnya.


Kerajinan baduy yang umumnya berasal kekayaan alam sekitarnya memiliki nilai seni dan ekonomi yang cukup tinggi,walaupun pola pengerjaannya dengan cara tradisional tetapi dilihat dari segi kualitas tidak kalah dengan hasil pabrik.Kearifan budaya lokal yang turun temurun membuat mereka menjadi masyarakat yang mandiri ketika krisis keuangan melanda dunia mereka tetap bisa bertahan berkat kemandirian dan prinsip hidup dalam kehidupan sehari-hari.

Tags

About The Author

Suryatiningsih 32
Ordinary

Suryatiningsih

Penulis adalah Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel