Inggris dan Sejarah Berdirinya Arab Saudi

16 Sep 2020 09:45 290 Hits 0 Comments Approved by Plimbi
Inggris memiliki peran penting dalam.sejarah berdirinya Kerajaan Arab Saudi

Sejarah berdirinya Kerajaan Arab Saudi tidak lepas dari peran  negara Inggris merebut dari tangan Turki Utsmani, hingga pecahnya Revolusi Arab, dan akhirnya kemunculan kerajaan Arab Saudi di Jazirah Arab. Inggris mendukung Arab Saudi, setelah tanggal 29 Oktober 1914 Turki Utsmani mengumumkan menyatakan perang terhadap aliansi Inggris, Perancis, Rusia, dan Amerika Serikat.

Diketahui, sejak tahun 1517 Turki memperluas wilayah,  hingga wilayah Arab, sampai menghabisi kekuasaan Mamluk. Namun,  saat itu Turki tidak menguasai Hijaz, Mekah dikuasai Al-Idrisi, dan wilayah lain di jazirah hijaz dikuasai  Klan Saudz, yang saat itu, wilayahnya makin meluas, apalagi setelah bersama Muhammad bin Abdul Wahab. Bani Saud berhasil menguasai sebagian Hijaz, hingga ke Irak.

Pengaruh,  dan kekuasaan Bani Saud,  membuat wakil Turki Utsmani di Kairo khawatir. Maka,  dikirimlah ulama terkenal, bernama: Mahmud Syukuri Al-Alusi. Ia  memberi hadiah kepada Bani Saud 10.000 lira mas dan diminta agar tidak mengganggu jalur perdagangan Utsman serta jamaah hajinya, Ibnu Saud menyetujuinya.

Namun,  akhirnya ditahun 1818  pertempuran tetap terjadi, antara pasukan Turki dengan pasukan Bani Saud. Ia  kalah bukan berarti, Ia mengambil wilayah Turki Utsmani. Ditahun 1824, Bani Saud bangkit  membangun kekuasaan di Nejd lagi-lagi dihancurkan oleh Klan Al-Rasyid.

Sementara itu,  konflik dan pertikaian antar para Amir  Dinasti Saudi kian meningkat. Klan Ibnu Ar-Rasyid,  dengan cerdiknya memanfaatkan kondisi ini menguasai wilayah-wilayah Dinasti Saudi di Najd,  dan berafiasi dengan, Turki Utsmani. Klan Ash Shabah di Kuwait tempat Dinasti Saudi berafiliasi dengan Inggris.

 Perebutan kekuasaan antar amir Dinasti Saudi,  terus terjadi berujung pemberontakan di seluruh wilayah Arab, dan Turki Utsmani terus melakukan tekanan serta intervensi  di wilayah ini. Melihat keadaan seperti itu, Inggris langsung bergerak menyatakan dukungan terhadap Dinasti Saudi. Mereka berusaha membubarkan Kekaisaran Utsmani,  dan melakukan strategi perang tertentu untuk mengusir Utsmani dari tanah Arab. Terjadilah pemberontakan Syarif Husein tahun 1916.

 

 

Perjanjian The Sykes-Picot Agreement

 Bermacam cara dilakukan Inggris mengambil Dinasti Saudi dari  tangan Turki Utsmani yang mereka pandang, sebagai bagian dari perang dunia. Menciptakan pemberontakan-pemberontakan di wilayah jazirah Hijaz,   yang dikuasai Kekaisaran Utsmani menjadi salah satu strategi Inggris.

Untuk merealisasikan strategi ini mereka mendekati amir  Dinasti Saudi yang, disebut sebagai Syarif Husein bin Ali(1856-1931). Adalah: gubernur Mekah yang diangkat tahun 1908 oleh Turki, dan Raja Hijaz 1916-1924.vSyarif Husein dianggap bisa membantu,  dan bersedia membuat perjanjian, dengan pemerintah Inggris, untuk memberontak atas Turki Utsmani tahun 1916.

Perjanjian antara Inggris dengan Syarif Husein,  kemudian dikenal, dengan nama: The Perjanjian Sykes dan Picot Agreement, yang ditandatangani tahun 1916. Sykes, diambil dari nama diplomat Inggris, Sir Mark Sykes, sedang Picot dari nama diplomat Prancis, Francois Georges Picot.

Perjanjian itu, antara lain: berisikan pembagian pengaruh dan kendali wilayah-wilayah Islam di Asia Barat. Setelah jatuhnya Kekhalifahan Utsmani di luar jazirah Arab, sehingga di masa depan dapat ditentukan dimana kendali, atau pengaruh Inggris, dan Perancis akan berlaku. Hasil lain dari perjanjian Sykes Pilot, yaitu: Suriah dan Libanon menjadi mandat Perancis dan Yordania, sementara Irak serta Palestina termasuk Yerusalem di bawah mandat Inggris.

Pasca perang dunia 1 orang-orang Arab tidak hanya gagal mendapatkan kemerdekaan. Namun, juga dibagi-bagi ke negara-negara yang terpisah diperintah dua kekuatan berbeda. Konflik yang berkepanjangan terus terjadi hingga sekarang akibat dari perbedaan. 

Sebagai tindak lanjut dari perjanjian Inggris mendorong bangsa-bangsa Arab, untuk bersatu melawan Kekhalifahan Utsmani selama perang dunia 1. Inggris menjanjikan untuk membantu Arab membangun sebuah persatuan di bawah 

 Syarif Husein bin Ali (1856-1931). Namun,  apa yang terjadi Syarif Husein akhirnya, memberontak kepada Kekhalifahan Utsmani atas bujukan Inggris.



 

Pemberontakan Syarif Husain

Alasan Syarif Husein beraliansi, dengan Inggris salah satunya penolakan terhadap penunjukan tiga Pasha oleh nasionalis  Turki, dan konflik personal dengan Utsmani. Pada saat itu, Inggris sempat mengajak Abdul Aziz Ibnu Saud, atau dikenal Ibnu Saud untuk memberontak terhadap Turki Utsmani. Namun, Ibnu Saud tetap pada pendiriannya menolaknya alasannya makar itu tidak saja keji,karena bagaimanapun Hijaz, dan Mekah, adalah: bagian dari wilayah Kesultanan Turki Utsmani, tetapi juga ancaman serius bagi Nejd.

Saat itu, baru mulai pembentukan negara baru di bawah Syarif Husein,  berarti sama saja menyerahkan Nejd pada Inggris. Ibnu Saud tidak mau melakukan hal itu. Ibnu Saud  menyarankan kepada Syarif Husein, agar bersikap netral dengan bangsa-bangsa kolonial Eropa.

Syarif Husein menolak ajakan tersebut yang kemudian, Ia melakukan pemberontakan pada Turki Utsmani tahun 1916.Terjadilah perang, antara pasukan Syarif Husein yang didukung Inggris melawan Turki Utsmani. Inggris menjanjikan untuk menyediakan  dana, prajurit, uang, dan senjata modern kepada pemberontak, untuk membantu mereka bertempur melawan tentara Ottoman.

Ia juga mendapat kerajaan Arabnya sendiri yang terdiri atas seluruh Semenanjung Arab, termasuk Suriah dan Iraq. Surat-surat yang menunjukan negosiasi ini, disebut Korespondensi McMohan-Husein, karena Syarif Husein berbalas pesan dengan Komisaris Tinggi Inggris di Mesir, Sir Henry  McMohan. Perang berlangsung selama hampir 3 tahun, tanpa ada keterlibatan Ibnu Saud, kemudian terkenal dengan nama Revolusi Arab.

Pada tahun 1916,  terjadi kampanye bersenjata melawan Ottoman yang membawa kelompok bersenjata Bedouin, dari Hejaz. Gerakan ini mampu menguasai Hejaz, Jedah, dan Mekah dengan bantuan angkatan darat,  dan laut Inggris melawan Ottoman.Turki Utsmani akhirnya menyerah, dan mengakui kekalahan dari pasukan Syarif Husain. Turki Utsmani semakin melemah, setelah kalah dalam perang dunia 1.Tanggal 3 Maret 1924 khilafah Turki Utsmani dibubarkan.

Pemberontakan  yang dipimpin Syarif Husein, berimbas pada kejatuhan Palestina dalam genggaman Inggris. Tidak sampai disitu kejatuhan Turki Utsmani tentu saja memberi jalan bagi Inggris mewujudkan pembagian negara-negara  di Timur Tengah sesuai perjanjian Sykes-Picot tahun 1916. Dari keputusan perjanjian inilah kemudian menjadi penyebab negara-negara Arab mengalami konflik berkepanjangan di abad ke-20 sampai kini. 



 

Syarif Husein Mengaku  Sebagai Raja Seluruh Arab

Syarif Husein terus melakukan pemberontakan didorong keinginannya menjadi raja   Arab. Setelah melepaskan diri dari Kekhalifahan Turki, Ia mengangkat dirinya sebagai raja seluruh Arab, karena secara de facto Ia tidak mempunyai kekuatan yang cukup untuk bisa mewujudkan kekuasaan tersebut.Tetapi, alangkah kecewanya ternyata Inggris, Perancis dan Italia hanya mengakuinya sebagai Raja Tanah Hijaz. Sejak itu, Turki serta Inggris pun melepas dukungannya, maka Syarif tidak mempunyai kekuatan yang dihandalkan.

Syarif Husein merasa dirinya menjadi Raja Arab meminta keluarga Saud, agar tunduk kepadanya. Keluarga Saud menolaknya, karena sudah punya wilayah sendiri sejak zaman Utsmani, akhirnya meletuslah perang antara Saudi, dan Syarief Husein di Al-Khurman, sebuah daerah subur di Timur Mekah.

Pada pertempuran tersebut, pasukan Syarief yang didukung Inggris  berhadapan, dengan pasukan Al-Ikhwan, pasukan loyalis Saudi akhirnya kalah.Tahun 1924, Syarif Husein mengangkat dirinya sebagai khalifah, setelah Kamal Ataturk membubarkan Kekhalifahan Turki Utsmani.

Semenjak itu, Syarif melarang jamaah haji dari Nejd untuk melakukan ibadah haji di Mekah. Hal ini, menimbulkan kemarahan keluarga Saud, dan Inggris melepaskan dukungannya atas Syarif,maka dengan cepat Saudi menguasai Hijaz.



 

Akhir Kekuasaan Syarif Husein

Sementara itu, kekuasaan Bani Saud makin luas, dan berpengaruh di wilayah Nejd, setelah ditakluknya akhir 1921. Pada tahun itu, Faisa putra Syarif Husein dinobatkan menjadi raja Iraq setelah diangkat oleh Miss Bell. Ia utusan dari pemerintah Inggris yang berkantor di Cairo. Syarif Husein terdesak meminta bantuan Inggris melawan Ibnu Saud, tetapi ditolak oleh Ingggris, karena Inggris berpihak pada Ibnu Saud.

Akhirnya, Syarif Husain turun tahta, kalah dengan Abdul Aziz  bin Saud. Kekalahan Syarif Husein lantaran dikhianati Inggris, setelah menang perang dunia 1. Syarif Husein akhirnya, juga gagal mendapatkan wilayah dari perjanjian Skyes- Picot. Tahun 1926. Ia diusir oleh Inggris dari Aqabah, dan dibolehkan mengungsi ke    ke Pulau Ciprus.Tahun 1930. Ia pindah ke Amman bersama putranya, hingga meninggal dunia tahun 1931. Keturunan Syarif Husein memegang kekuasaan di Yordania hingga sekarang ini.



 
Tags

About The Author

Suryatiningsih 37
Ordinary

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel