Tradisi Desa Kemiri, Kaloran Temanggung yang tetap Lestari di Tengah Pluraritas

20 Nov 2019 09:00 194 Hits 1 Comments Approved by Plimbi

Desa Kemiri yang ada di Kecamatan Kaloran Temanggung  dikenal sebagai desa Pluralitas .Pasalnya di wilayah ini penduduknya beberapa pemeluk agama mulai agama Islam,Budha ,Kristen dan Khatolik hidup rukun dan damai

Desa Kemiri adalah salah satu desa yang ada di Kecamatan Kaloran ,Temanggung berpenduduk sekitar 900 jiwa sensus penduduk tahun 2016.Wilayah desa  Kemiri terdiri 7 dusun yaitu dusun Pringtali,Tegaron,Kebondalem,KemiriJangkungan,Mlereng   dan dusun Sigran .Desa Kemiti terdari 9 RW   22 RT.Wilayah Desa Kemiri berbatasan sebelah utara Desa,Tempuan,sebelah timur desa  Kaloran ,sebekah selatan desa Geblog dan sebelah barat berbatasan Desa Tepusen Jarak ke ibukota kecamatan 3 km dan 23 km dari kot Temanggung.

Luas wilayah desa Kemiri 394 hektar kemudian desa ini terletak pada ketinggian 700 mdpl terbagi ,47 hektar adalah lahan sawah dan bukan sawah 347,9 hektar,Lahan pertanian di wilayah desa ini dikelola menjadi lahan pertanian  ketela pohon sehingga tak heran tanaman ketela pohon banyak dijumpai di desa ini.Ketela pohon yang berkembang di wilayah Kemiri dimanfaatkan menjadi kerajinan rumah tangga yaitu kerupuk ketela atau Lenteng.

Kerajinan kerupuk ketela menjadi mata pencaharian sampingan bagi ibu- ibu rumah tangga .Kerajinan rumah tangga lain yang bisa dijumpai di Desa Kemiri adalah pembuatan gula jawa atau gula aren kemudian hampir semua rumah tangga di desa ini produksi gula merah berkualitas tinggi .Gula aren terbuat dari pohon aren yang d ditanam sekitar kebun  rumah dan gula aren ini dihasilkan dari penguapan nira pohon aren diolah demikian rupa hingga berbentuk pipih atau setengah mangkok.

Bentuk gula aren berbentuk pipih selanjutnya ada pula yang dibentuk bulat yang menggunakan cetakan bambu.Gula aren beraroma harum ,khas ini biasanya dimanfaatkan sebagai bumbu masak,pemanis minuman,bahan pembuat kecap,dodol,kue,penambah citarasa pada makanan ,Industri rumah tangga gula aren pemasarannya masih terbatas hanya dikomsumsi sendiri dan dijual ke pasar

Penduduk Kemiri Dusun  Kemiri terdiri  pemeluk agama Budha  400 jiwa sisanya beragama Islam 300 jiwa  dan pemeluk  agama Kristen Protestan  serta Kristen jawa .Pada tahun 80-an warga Kemiri mayoritas beragama Budha kemudian awal tahun 90-an beberapa orang Budha memeluk agama Islam dengan berbagai alasan ,salah satunya pernikahan .Syiar Islam mulai berkembang sejak desa ini kedatangan seorang santri bernama Solihin menikah dengan gadis  Kemiri bernama Sumirah tahun 1992 kemudian sejak menikah keduanya didaulat sebagai pemuka agama sekaligus guru ngaji desa dan sejak itulah syiar Islam mulai tampak .

Pluralitas agama masyarakat Desa Kemiri yang tinggi ,meski berbeda agama ,keyakinan mereka dapat menerima pluralitas agama bagi mereka agama urusan pribadi dan tidak ada  alasan seseorang memaksa suatu keyakinan kepada individu lain . Kehidupan beragama di Desa Kemiri terjalin dengan baik ,rukun& damai tidak ada konflik antwr warga yang bersumber dari agama .

Pluralitas agama masyarakat Kemiri demikian tinggi dilihat dari jumlah tempat beribadah  berimbang dan letaknya yang berdekatan.Masyarakat Kemiri menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama  terlihat dari jumlah penganut agama yang berimbang sehingga tidak ada mayoritas maupun minoritas .

Tingkat pluralitas agama tidak hanya terjadi pada tingkat masyarakat ,tetapi terjadi pada keluarga dimana satu keluarga beda agama misal orang tua beragama budha hidup seatao dengan anak ,cucu ,menantu yang beragama Islam atau Kristen .Seorang kakek beragama Budha biasa mengantarkan cucunya pergi mengaji ke mesjid .Atau seorang anak beragama Budha  mengantarkan ibunya ke pengajian desa sebelah.Pluralitas agama masyarakat Kemiri ini berdampak luarbiasa terhadap pola hidup masyarakat setempat sehingga muncul cirikhas atau tradisi unik masyarakat Kemiri salah satunya keunikkan berbusana .

Cara berbusana masyarakat Kemiri ini memang unik betapa tidak jilbal selama ini simbol bagi muslimah,tetapi hal ini nyaris tidak berlaku bagi di Desa Kemiri.Pasalnya ibu- ibu beragama Budha dan Kristen biasa berpakaian muslim lengkap dengan jilbab .Alasan ibu- ibu Desa Kemiri memakai jilbab bukan menutup aurat ,melainkan agar tidak kedinginan saat ke pasar waktu subuh  .Atau peci dan sarung cirikhas pakaian muslim kaum laki- laki pun sudah biasa dipakai oleh pemeluk agama Budha dan Kristen di Desa Kemiri saat malam hari atau acara resmi lainnya .

Tradisi  atau kebiasaan masyarakat Desa Kemiri  yang unik nan menarik adalah:

Pertama, etika acara maulud Nabi SAW tiba warga tua muda yang terdiri pemeluk agama Budha,Kristen dan Islam berbondong- bondong ke berkumpul ke rumah Kadus berpakaian muslim  beramah tamah dengan jamuan ketan - juroh,kolak pisang serta jenang candil .Siang harinya  lepas shalat Dhuhur semua warga baik muslim,budhis maupun kristiani hadir dimasjid berpakaian muslim sama sekali tidak bisa membedakan muslim,non muslim semua membaur duduk bersama di serambi masjid mengikuti acara Maulud Nabi SAW.

Yang kedua adalah tradisi Nyadran lintas agama digelar masyarakat Desa Kemiri setiap jelang bulan ramadhan yang diikuti oleh semua warga dengan latar agama yang berbeda yaitu:Islam,Budha dan  pemeluk agama Kristen .Wilayah Desa Kemiri ini dikenal sebagai masyarakat pluralitas agama yang tempat ibadahnya saling berdekatan antara masjid, vihara dan gereja .Tingkat pluralitas agama masyarakat desa ini demikian tinggi sehingga perbedaan agama tidak menjadi suatu konflik antar umat beragama dalam kehidupan bermasyarakat .

Hal ini terjadi adanya faktor sosial budaya masih melekat dan berkembang sampai saat ini salah satunya Tradisi Nyadran lintas agama di Desa Kemiri.Ritual sadranan ini diawali arak- arakan tenongan berisi nasi tumpeng,ingkung ayam,jajan pasar,buah- buahan ke areal pemakaman di Desa Kemiri yang diikuti ratusan umat dari empat agama yaitu: agama Islam,Budha ,Kristen dan agama Katholik untuk mendoakan leluhur sebagai wujud kerukunan antar umat beragama

Kemudian yang ketiga adalah tradisi 1 Suro lintas agama yang digelar masyarakat Desa Kemiri dihadiri semua warga baik penganut agama Islam,Budha,Kristen dan penganut Katholik  setiap menyambut bulan Suro  sebagai bentuk saling menghormati perbedaan ,persatuan dan kesatuan .Menariknya tradisi menyambut 1 Suro ini dilaksanakan di sebuah kuil Budha yang berada  di puncak bukit kecil bernama Watu Payung .

Ritual tradisi  1 Suro diawali arak- arakan warga menuju kuil yang berada di puncak bukit Watu Payung ,Setiba di kuil acara dilanjutkan pembacaan oleh pemuka agama Budha dengan berbahasa jawa memanjatkan doa kepada Tuhan YME untuk memberi keberkahan,rezeki bagi masyarakat setempat.Usai berdoa dilanjutkan doa menurut keyakinan masing- masing .Acara berikutnya ritual berbagi air suci yang dilakukan secara rebutan warga.Konon air suci ini membuat awet muda ,murah rezeki dan terhindar dari bahaa .

Lanjut dengan tradisi keempat adalah tradisi Merti Desa yang digelar setiap hari Senin Legi bulan Bakda Maulud oleh masyarakat Desa Kemiri secara meriah sehari semalam .Ritual Merti Desa  yang dihadiri warga baik penganut Islam,Budha,Katolik, dan Kristen ini diawali menata sesaji berupa nasi tumpeng ,jajan pasar,bunga,buah- buahan di atas daun jati .Sesaji tersebut diletakkan beberapa tempat salah satunya  di atas soko papat yang dilengkapi satu tandan pisang  rumah Kadus sebagai tuan rumah puncak acara di malam harinya .

Usai acara menata sesaji dilanjutkan acara metokan dimulai beberapa  sambutan- sambutan dan dilanjutkan hajat warga yang disampaikan oleh tokoh muslim .Acara ditutup dengan doa oleh pemuka agama Budha diakhiri makan bersama.Usai acara makan bersama warga berbondong- bondong ke tuk sikencen yang terletak di lereng gumuk watuk payung menelusuri  sejauh 1 KM .Sepanjang jalan menuju tuk sikendeng gamelan gong,kendang dibunyikan diiringi tarian dari penari warok  dan jaran kepang.

Sesampai di Tuk Sikendeng acara dilanjutkan pembacaan mantra oleh beberapa tetua sambil menggenggam menyan .Menyan kemudian dibakar lalu diteteskan ke sumber air  dan beras ,bunga  uang receh ditebar warga berebut sesaji .Warga mengambil air berkah dari sumber air dengan botol mineral untuk dibawa pulang.Usai acara  tarian tayub digelar di depan rumah Kadus hingga jelang subuh yang dihadiri Pemerintah Kabupaten  Temanggung ,Jawa Tengah 
     
Tradisi masyarakat Desa Kemiri yang telah ada dan berlangsung sejak ratusan tahun yang lalu hingga kini tetap lestari dan bertahan ditengah pluraritas agama .Perbedaan agama tidak menjadi persoalan bagi masyarakat Desa Kemiri ,tetapi membuat membuat mereka bersatu.

      

Tags

About The Author

Suryatiningsih 32
Ordinary

Suryatiningsih

Penulis adalah Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel