Napak Tilas Sejarah Kerajaan Pajang

12 Nov 2019 09:25 367 Hits 0 Comments Approved by Plimbi
Petilasan keraton Pajang yang dahulu  dikenal sebagai istana  keraton Kesultanan Pajang sejak tahun 1586 .Kini keberadaan kerajaan ini telah hancur ratusan tahun yang lalu dan bekas kerajaan ini dapat dijumpai pada petilasan istana kerajaan Pajang yang ada di Surakarta


Petilasan keraton Pajang yang dahulu dikenal sebagai istana keraton Kesultanan Pajang sejak tahun 1586. Petilasan keraton Pajang dalam perkembangannya mengalami pasang surut .Kisah sejarah mewarnai perjalanan panjang Kerajaan Pajang yang berdiri sejak tahun 1586 ini .Perjalanan panjang sejarah Kerajaan Pajang diawali dari kerajaan ini yangbtidak berumur panjang hanya bertahan beberapa tahun akibat ditaklukkan oleh Sutawijaya. Serangan fajar yang dilancarkan oleh Sutawijaya membuat riwayat perjalanan sejarah Kerajaan Pajang berakhir di tangan Sutawijaya .Semenjak itu kekuasaan Kerajaan Pajang berada dibawah pemerintahan Sutawijaya yang akhirnya mendirikan kerajaan Mataram Islam.

Tidak sampai disitu saja wilayah Kerajaan Pajang yang dikuasai Sutawijaya membuat umur kerajaan ini hanya seumur jagung.Sisi lain yang membuat Kerajaan Pajang berakhir tragis adalah bencana alam letusan Gunung Merapi yang demikian dahsyat membuat Kerajaan Pajang berikut istana kerajaannya yang megah juga hilang dampak dari bencana lahar gunung merapi ketika itu.

Peristiwa hancurnya Kerajaan Pajang telah berlalu sejak 425 tahun atau 4 abad yang lalu. Selama 425 tahun atau 4 abad tersebut tidak ada peristiwa apapun yang berkaitan dengan keberadaan Kerajaan Pajang . Tepat bulan Mei tahun 2011 muncul aksi fenomenal dan peristiwa yang mengejutkan dari salah satu warga Tegal Kuniran,Kebres, Kotamadya Surakarta bernama Suradi berumur 57 tahun yang mengangkatkan dirinya menjadi raja kerajaan Pajang bergelar kanjeng raden adipati Suradi Joyonegoro. Suradi menjadi raja kerajaan Pajang setelah diambil sumpah janji oleh Sultan suryo alam, raja Demak sekaligus meresmikan yayasan kesultanan Pajang sebagai keraton kerajaan Pajang versi baru dengan raja pajang kanjeng Suradi.

Jumenangan Suradi Joyonegoro sebagai adipati sekaligus raja Pajang baru terbilang fenomenal, bahkan menimbulkan kontrovesi dikalangan kerajaan kasunanan Surakarta dan kesultanan, ahli sejarah dan lainnya yang dianggap Suradi tidak memiliki garis keturunan atau garis silsilah dengan kesultanan kerajaan Pajang yang terbilang nekat mengangkat dirinya menjadi raja Pajang. Sementara pendapat lain menyebutkan Suradi dianggap memiliki garis silsilah dengan kesultanan Demak sehingga sultan Surya alam akbar berani mengambil sumpah kanjeng Suradi menjadi raja Pajang.

Kanjeng Suradi,sang raja kerajaan Pajang membantah bahwa menghidupkan kembali situs kesultanan pajang versi baru yang Ia bangun bukan berarti upaya untuk mendirikan negara baru dan melepaskan diri dari NKRI. Terlepas dari itu semua sesungguhnya ada tujuan atau misi atau visi lain yang ingin disampai Suradi Joyonegoro dibalik pendirian kesultanan Pajang yakni memunculkan kembali situs keraton Pajang sebagai cagar budaya warisan nusantara dan melestarikan menggali potensi situs cagar budaya keraton Pajang terutama bidang edukasi sekaligus tempat wisata sejarah.

Dibalik kontroversi pengangkatan Suradi sebagai raja Pajang ,namun rangkaian ritual acara jumenengan Kanjeng Suradi tetap berlangsung hikmad seperti halnya yang dilajani raja-raja di Solo. Menariknya dalam rangkaian jumenengan tersebut Suradi menjalani ruwatan Sudamala kemudian digelar pula pasar malam dikomplek petilasan keraton Pajang beragam kesenian,seni budaya trasional diantaranya tarian tradisional, pentas wayang semalam suntuk sebagai ungkapan rasa syukur pada sang Pencipta.Semenjak itu Adipati kanjeng Suradi resmi sebagai pemimpin kesultanan Pajang setelah sekian abad atau 425 tahun kerajaan yang didirikan oleh Jaka Tingkir tidak mempunyai raja. Pasca jumenengan Kanjeng Suradi sebagai adipati kerajaan Pajang muncul beragam pernyataan dari sejumlah tokoh , sejarawan baik bersifat pro maupun kontra budayawan ISI Solo Prof Dharsono misalnya pengangkatan Suradi dinilai hal yang wajar zaman sekarang siapapun bisa mengangkat dirinya .

Kini pasca jumenengan Kanjeng Suradi dengan membangun museum petilasan keraton Pajang yang lokasi berada dikawasan petilasan keraton Pajang didesa Sanggrahan,kaumhaji,kec Pajang, kab Sukoharjo kondisi keamanan wilayah Surakarta dan Sukoharjo relatif konduktif. Uniknya Yayasan kesultanan keraton Pajang terus berencana membangun replika-replika warisan budaya sehingga peninggalan sejarah lebih mudah dilakukan .Selain itu, pewaris tahta keraton Pajang adipati suradi Joyoningrat telah mendaftarkan keraton Pajang UNESCO melalui yayasan keraton nusantara.Pembangunan museum keraton kerajaan Pajang sebagai tempat singgasana raja Pajang Adipati Suradi Joyonegoro dimasa mendatang menjadi tempat wisata sejarah yang baru di Indonesia.Sayangnya dana terbatas untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan museum keraton kerajaan Pajang,walaupun kawasan petilasan keraton kerajaan Pajang termasuk museum keraton kerajaan Pajang kekurangan dana tidak mengurangi semangat dan motivasi pihak pengelola yayasan kesultanan Pajang untuk terus melanjutkan beragam pembangunan di komplek peti.

Tags

About The Author

Suryatiningsih 36
Ordinary

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel