Mengenal Suku Osing di Banyuwangi, Jawa Timur

6 Nov 2019 09:00 185 Hits 0 Comments Approved by Plimbi
Wong Blambangan atau Suku Osing merupakan suku yang berada di hampir sejumlah kecamatan di Kabupaten Banyuwangi ,Jawa Timur.Suku Osing yang penduduk aslinya dapat ditemukan Desa Kemiren ini memiliki seni budaya yang unik dari rumah adat perpaduan antara arsitektur Jawa dan Bali yang terlihat pada gebyok dan hiasan atap kemudian suku Osing juga terkenal pelbagai tradisi yang unik 

 Laros Osing atau Lare Osing atau terkenal dengan Wong Blambangan  merupakan penduduk asli Banyuwangi atau juga terkenal dengan sebutan wong Blambangan. Asal usul suku Osing  menjadi  cerita legenda dalam kehidupan masyarakat Banyuwangi hingga sekarang.

Suku Osing  berawal  dari jatuhnya kekuasaan Majapahit tahun 1478  membuat sebagian masyarakat Majapahit melarikan diri ke sejumlah tempat  mulai ke kawasan gunung Bromo atau terkenal dengan sebutan suku tengger, pulau Bali dan Blambangan atau populer sebutan nama suku Osing. Tak heran bila Kehidupan suku Osing memiliki kedekatan cukup besar dengan masyarakat Bali terlihat dari kesenian Gandrung serta arsitektur bangunan rumah adat Osing terutama hiasan bagian atap bangunan rumah.

Masyarakat  suku Osing  sebagian besar beragama Hindu, agama Islam dan sebagian memeluk kepercayaan saptadharma dan sisanya memeluk kepercayaan lainnya yang mendiami sebagian besar wilayah Kabupaten Banyuwangi. Komunitas adat Osing mayoritas mendiami hampir merata disejumlah kecamatan di Kabupaten Banyuwangi seperti kecamatan Rogojampi, Singonjuruh, Sempu, Glagah,Giri, Kalipuro dan kecamatan Sanggon ini  mayoritas berprofesi sebagai petani dan pedagang.

Suku Osing yang mendiami wilayah kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur hampir merata disejumlah kecamatan, namun dari sekian puluh desa adat suku Osing di kabupaten Banyuwangi desa Kemiren, kecamatan Glagah ,kabupaten Banyuwangi cukup menarik pasalnya penduduk desa Kemiren adalah penduduk suku asli Osing yang mampu mempertahankan nilai-nilai budaya suku Osing hingga kini.

Desa adat Kemiren  sebagai penduduk asli Osing memiliki beragam seni, budaya khas suku Osing dari bahasa,tradisi, seni hingga rumah adat Osing hingga pemerintah setempat menetapkan desa Kemiren sebagai cagar budaya, desa budaya, desa adat Ketika berkunjung ke Desa Kemiren masih dijumpai rumah adat Osing dengan gaya arsitektur cukup unik perpaduan gaya arsitektur adat jawa dan adat Bali terlihat  pada gebyok Jawa dan hiasan atap berornamen Bali. Atap rumah suku Osing memiliki bentuk Balung, Baresan dan Cerocogan kemudian dinding rumah bagian belakang terbuat dari bambu yang disebut Ghedeg pipil dan dinding rumah  bagian depan terbuat dari kayu atau gebyog. Rumah adat Osing memiliki cirikhas yang bisa dapat dibongkar pasang dengan menggunakan sistem tanding tanpa paku, tetapi menggunakan sasak pipih yang dinamakan Paju. Sementara  Bahasa yang dipakai penduduk Desa Kemiren adalah bahasa Osing, bahasa khas suku Osing.

Budaya suku Osing di Banyuwangi juga memiliki tradisi yang unik khas suku Osing yakni tradisi jemur kasur merah secara massal yang digelar penduduk desa adat Kemiren setiap menjelang malam senin atau jum'at di minggu 1 bulan Dzulhijjah yang telah berlangsung turun temurun. Tradisi atau ritual khas suku Osing yakni tradisi tarian Seblang digelar dalam wilayah desa Bakungan setiap 1 minggu pasca idul adha dan desa Olihsari setiap 1 minggu pasca idul fitri sebagai unggap rasa syukur sekaligus tolak balak agar desa aman tentram.


Perjalanan sejarahnya tidak lepas dari Blambangan, kemudian proses juga tak lepas dari jatuhnya kekuasaan Majapahit 1478 ,namun ketika Blambangan mengalami kejayaan VOC berusaha mengusik kehidupan masyarakat Blambangan sehingga terjadilah perang puputan Bayu. Rangkaian peristiwa itu melekat dalam kehidupan masyarakat suku asli Blambangan yakni suku Osing atau dikenal wong Blambangan sampai sekarang.Suku Osing dikenal memiliki beragam seni, budaya, adat istiadat hingga kuliner.


Salah satunya adalah Tarian Seblang, yaitu sebuah tarian yang dimainkan seorang perempuan kemudian ketika menari penari wanita dimasuki roh halus nenek moyang dan uniknya penari wanita didesa oleh sari wanita belum akil balik digelar 7 hari setelah idul fitri ,sedangkan penari seblang dari desa Bakungan dimainkan oleh wanita menopause digelar 7 hari setelah hari idul adha.

Tari Seblang biasanya digelar sebagai wujud syukur atas karunia yang diberikan oleh sang Pencipta sekaligus sebagai tolak balak dan menariknya dalam ritual tari Seblang dilengkapi boneka nini towok sebagai simbol padi dan kesuburan ,aneka bunga dan sesajen lainnya.
    
 Tarian suku Osing yang tak kalah menarik antara lain tarian Puputan bayu, sebuah tarian bernuansa perang yang menggambarkan suasana perang puputan bayu berlangsung sengit,kejam dan sadis antara penduduk asli Blambangan dengan VOC belanda tahun 1477 M. Perang puputan bayu ini tetap dikenang oleh masyarakat suku Osing adalah masyarakat asli Blambangan hingga sekarang kemudian akhirnya dibuat sebuah tarian yang unik disebut tari puput bayu selanjutnya tari Banyuwangi. Tari Banyuwangi,sebuah tarian yang biasanya digelar pada acara tahunan Barong ider bumi didesa adat Kemiren, Kecamatan Glagah,Banyuwangi dan tarian barong ini diarak keliling kampung yang dipercaya dapat menolak tolak balak.
   
Tarian khas suku Osing yang populer dikalangan masyarakat Banyuwangi adalah tari Gandrung, sebuah tari yang digelar setiap panen padi dan kini menjadi ikon kota Banyuwangi hingga kota ini dijuluki kota Gandrung dan menariknya tarian gandrung yang awalnya dimainkan pasangan penari wanita-laki-laki namun sekarang sejak tari ini jadi ikon kota Banyuwangi seluruh tari gandrung beranggotakan penari wanita.Tari Gandrung ,sebuah tarian khas suku Osing bernuansa mistis diduga titisan nenek moyang dimasa lalu dan keindahan tari gandrung mampu tampil diberbagai negara dengan pesona tarian gandrung yang unik,bahkan keunikan tarian gandrung diabadikan dalam betuk patung penari gandrung yang dapat dijumpai diberbagai sudut kota Banyuwangi.
    
Kini tarian beserta seni budaya khas suku Osing terus dilestarikan diantaranya menetapkan desa Kemiren sebagai desa adat pasalnya desa ini adalah penduduknya sebagaian besar suku asli Osing sehari-hari berbahasa Osing kemudian desa Kemiren juga kaya akan tarian khas suku Osing.
 

Tags

About The Author

Suryatiningsih 31
Ordinary

Suryatiningsih

Penulis adalah Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel