Prosesor

Yang biasanya dipasarkan dalam kategori laptop gaming adalah laptop-laptop yang mampu memainkan berbagai permainan (game) dengan baik dan lancar, termasuk permainan-permainan terbaru saat itu. Ini bisa dicapai dengan menggunakan komponen jeroan (hardware) dengan spek tinggi dan mumpuni.
Untuk mencapai performa gaming yang memadai, Asus ROG GL552JX dibekali prosesor Intel Core i7 4720HQ. Dilihat dari kode modelnya saja, mereka yang paham sistem kode prosesor Intel pasti tahu bahwa prosesor laptop ini terbilang sudah ketinggalan zaman.
Core i7 4720HQ adalah prosesor 4 core berkecepatan 2,6 GHz sampai 3,6 GHz (via Boosting). Prosesor ini memiliki 6MB cache dan tergolong prosesor high-performance dari Intel. Prosesor ini diproduksi dengan basis arsitektur Intel Core generasi keempat berkode Haswell dan dalam skala 22 nm.
Saat ini, rata-rata laptop gaming model baru di pasaran minimal sudah menggunakan prosesor-prosesor Intel generasi keenam (Skylake). Asus ROG GL552JX masih menggunakan prosesor generasi keempat, sehingga jelas performa gaming laptop ini tidak bisa diekspektasikan setara dengan laptop-laptop high end keluaran terbaru.
Comments (5)
Oh seperti itu, hahaha
Sentimentalitas negatif saya biasanya cuma ke produknya As*s :p . Terutama yang dirilis pasca-2010.
Nanggung apa nungging...? Mail sini laptopnya ke saya, saya bersedia memanfaatkannya, meski nanggung dan bergoyang... :D
Laptop gaming kelas nanggung kalau bagi saya. Yang pertama dari segi harga, hanya berbeda sedikit dengan penerusnya RoG GL552VW yang sudah dibekali GTX 960M 4GB dengan harga terakhir di kisaran 13.7 jutaan.
yang kedua adalah nanggung dari segi spesifikasi yang menggunakan GTX 950 dimana di tahun ini sudah menjadi VGA yang out of standard untuk memainkan game-game di tahun ini.
Yang terakhir adalah nanggung dari segi desain dimana layar pada laptop ini terlalu flexibel, sehingga pas bermain mengetik si layar bergoyang layaknya zaskia gotik.
Gaya penulisan dengan kesan 'nakal' begini jarang saya temukan di review om Esen yang lain, seakan penulisnya memiliki pengalaman sentimentil terhadap barang yang direview, hehe. Inspiratif! Izin copy gaya, kalimat, dan diksi-diksinya sebagai bekal perbendaharaan saya untuk menulis.