Mengapa Ada Perokok yang Tampak Sehat-sehat Saja Hingga Tua?

9 Dec 2019 11:35 346 Hits 0 Comments Approved by Plimbi
Terutama buat kamu yang bukan perokok, jangan pernah tergoda iming-iming perokok yang sehat hingga tua. Itu semua gak benar!!

Berbagai upaya dilakukan banyak pihak untuk menekan komsumsi tembakau atau rokok. Kampanye anti rokok juga digencarkan. Seperti membatasi iklan rokok. Bahkan beasiswa bulutangkis juga disoroti karena memuat nama perusahaan rokok.

Di kemasan rokok juga demikian, tertulis kalimat yang amat horor; "merokok membunuhmu". Tapi masih aja ada orang yang merokok?

Banyak "pembenaran" yang digunakan para perokok untuk terus melanjutkan kebiasaanya. Salah satunya diketahui adanya perokok yang panjang umur dan sehat-sehat aja tuh sampai tua.

Kok bisa gitu ya. Padahal telah didengung-dengungkan pada kampanye anti tembakau termasuk pada kemasan rokok yang menyebutkan bahwa rokok mengandung banyak zat berbahaya dan beracun. Jadi bimbangkan sebenarnya yang benar mana? Rokok itu berbahaya atau tidak?

 

Netralisir zat nikotin dalam tubuh

Dikutip dari portal berita Liputan6.com (23/12/16) disebutkan fakta bahwa perokok bisa tetap hidup sehat selama puluhan tahun. Asalkan mampu menjaga asupan makanan dan mengkonsumsi makanan yang bisa menetralisir nikotin.

Seperti makanan yang banyak mengandung Omega 3, Protein, kedelai, apel, jeruk nipis, hingga banyak minum air putih. Juga rutin berolahraga. Tapi tidak dijelaskan bahwa siasat tetap sehat meski merokok tersebut dijamin berhasil. Dan tidak ada jaminan setiap orang yang merokok akan sehat tetap hingga tua.

 

Pengaruh gen yang bikin perokok tetap sehat

seperti dilansir BBC, juga menguak fakta menarik. Para perokok bisa tetap sehat bugar hingga puluhan tahun, juga dikarena ada faktor gen. Prof Martin Tobin, salah seorang peneliti dari University of Leicester, mengatakan gen punya andil besar terhadap cara paru-paru tumbuh dan merespons cedera.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Lancet Respiratory Medicine, membandingkan perokok dan non perokok yang terjangkit paru-paru kronis atau Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD).

Dari uji coba yang melibatkan 50.000 sukarelawan itu, ditemukan ada DNA tertentu yang bekerja mengurangi risiko COPD. Hasil riset itu menyebutkan, perokok yang punya ‘gen baik’ akan lebih memiliki risiko penyakit paru kronis dibanding mereka yang punya ;gen buruk’.

Namun sekali lagi, tidak ada jaminan gen dapat menjadi "benteng" bagi tubuh terhadap racun berasal dari rokok.

 

Ratusan ribu orang Indonesia meninggal akibat rokok setiap tahunnya. Masih yakin rokok tetap sehat?

Berdasarkan data penelitian dari Tobacco Control Support Center (TSCS) Indonesia, sebanyak 427.948 penduduk Indonesia meninggal setiap tahun akibat rokok.

Untuk mempermudah pembahasan, kita sederhanakan angkanya jadi 400.000 saja. Jika 400.000 adalah jumlah kematian dalam waktu satu tahun, maka setiap bulan terdapat 33.000 kematian, atau 1.100 orang meninggal setiap hari.

Semakin dipermudah lagi untuk melihat datanya. Di Indonesia memiliki 514 kabupaten/kota. Bila diasumsikan kematian akibat rokok merata di seluruh Indonesia. Maka artinya setiap hari ada dua orang meninggal akibat merokok di setiap kabupaten/kota.

Tapi kenapa kita gak menyadari fakta demikian. Karena kematian akibat rokok tentunya tidak diumumkan secara terang-terangan akibat rokok. Paling cuma dibilang karena asma atau penyakit pernafasan lainnya. Dan umumnya orang hanya melihat perokok yang "sehat" saja. Apalagi para perokok, akan sulit sekali mengakui sakitnya karena rokok.

 

Perokok bisa mencapai umur lebih panjang dibanding umur non perokok?

Dalam satu kasus, seorang perokok terlihat baik-baik saja dan mencapai umur lebih panjang dibanding umur non perokok. Mirisnya, banyak orang terutama perokok yang menggunakan contoh kasus diatas sebagai pembenaran bahwa merokok tidaklah terlalu bahaya seperti dikata banyak orang.

Sayang hal demikian tidaklah tepat. Sebuah pembenaran yang agak dipaksa. Memang betul ada perokok yang memiliki umur hingga tua, lebih panjang umur dibanding umur non perokok. Tapi belum cukup untuk mengambil kesimpulan sebagai dampak dari rokok.

Untuk pengujian seberapa parah dampak merokok. Diperlukan sampel data yang mumpuni. Tidak hanya sampel satu dua orang saja, lantas bisa menyebutkan rokok tidak bahaya. Melainkan harus dilakukan penelitian yang objektif dan sampel data yang banyak.

Penelitian tentang umur para perokok dan nonperokok sudah pernah dilakukan oleh Richard Doll dkk.

Penelitian tersebut dilakukan selama lima puluh tahun (1951 – 2001) pada 34.439 dokter di Inggris yang merokok dan tidak merokok.

Pada dokter kelahiran 1851 – 1899 (masa lansia di tahun 70-an), hanya 68% perokok yang umurnya bisa lewat 70, sedangkan nonperokok 82%

Pada dokter kelahiran 1900 – 1930 (masa lansia di tahun 90an), hanya 71% perokok yang umurnya bisa lewat 70, sedangkan nonperokok 88%. Hanya ada 5% perokok yang umurnya bisa mencapai 90 tahun, sementara untuk non perokok 26%

Pada dokter kelahiran 1900 – 1930, setelah usia 70 tahun harapan hidup nonperokok 10 tahun lebih tinggi dari para perokok.

Dengan penelitian diatas maka terbukti kebiasaan merokok memang dapat mengurangi angka harapan hidup. Pembuktian ini jauh lebih bisa dipertanggung jawabkan dari banding hanya menggunakan sampel satu dua orang saja.

 

Pembandingan yang salah

Contoh kasus yang sering terjadi diantara kita, salah satunya membuat masyarakat bimbang akan dampak dari rokok. Masyarakat kita sering melihat seorang perokok yang tampak lebih sehat dibanding orang yang gak merokok.

Benarkah demikian? Untuk pembuktian yang menyakinkan perlu melihat contoh kasus yang lebih mendalam. Dari beberapa kasus yang ada, perokok tampak lebih sehat dibanding non perokok karena pembandingan yang kurang tepat.

Satu sisi seorang perokok memiliki aktifitas fisik dan pola makan yang baik. Sementara seorang non perokok minim aktifitas fisik dan asupan makan yang buruk. Secara umum, jelas saja dalam kasus ini perokok tampak lebih sehat (jangka pendek) dibanding non perokok.

Ini yang sering terjadi dalam menyikapai pengaruh rokok terhadap kesehatan. Seorang yang sehat lalu merokok tidak bisa dibanding dengan orang yang memang sudah sakit tapi tidak merokok. Lantas mengambil kesimpulan bahwa perokok yang lebih sehat dibanding non perokok. Tentunya tidak fair ya!!

Oke, buat kamu yang masih bimbang bagaimana pengaruh rokok terhadap kesehatan? Kenapa ada perokok yang tampak sehat-sehat saja meski merokok? Gak usah bimbang dan bingung.

Faktanya sudah ratusan korban meninggal akibat rokok. Kita tidak menyadarinya karena memang kenyataan demikian cukup horror. Sehingga kita abai.

Sementara sering terjadi pembandingan yang bias terhadap dampak merokok seperti dijelaskan diatas. Kemudian yang paling penting diketahui ialah dampak dari merokok umumnya berupa penyakit jangka panjang. Untuk sekarang mungkin gak masalah, kalau entar gak tahu deh...

Semua ulasan diartikel ini mungkin sulit diterima buat kamu yang perokok. Gak apa, itu wajar sebagai dampak dari rokok. Dimana perokok memang selalu mencari pembenaran dan membela pendapatnya. Terutama buat kamu yang bukan perokok, jangan pernah tergoda iming-iming perokok yang sehat hingga tua. Itu semua gak benar!!

Tags

About The Author

Rianda Prayoga 37
Ordinary

Rianda Prayoga

Gak banyak bicara, sedikit cuek tapi lumayan ramah

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel