Ambisi Pemerintah dalam Pengentasan Masalah Pertanian Terwujud di Periode Kedua ?

25 Oct 2019 10:53 282 Hits 0 Comments Approved by Plimbi
Usaha pemerintahan Presiden Jokowi periode pertama dalam mengentaskan masalah pertanian di Indonesia dilakukan dengan membangun infrastruktur pertanian yang memadai. Pada periode kedua pemerintahannya dengan visi SDM unggul Indonesia maju akankah dapat mewujudkan ambisi kedaulatan pangan bagi bangsa Indonesia ?

Pada periode pertama pemerintahan Presiden Jokowi sedang gencar-gencarnya dalam membangun infrastruktur nasional tidak terkecuali di bidang pertanian guna memenuhi ambisi kedaulatan pangan Indonesia. Hal itu tercermin dari visi presiden dalam membangun infrastruktur pertanian Indonesia yang salah satunya adalah pembangungan bendungan (waduk) di banyak wilayah Indonesia menjadi harapan baru bagi para petani untuk dapat meningkatkan produksi hasil tanaman pangan. Namun apakah infrastruktur pertanian yang memadai secara efektif menghilangkan seluruh masalah pertanian yang ada di Indonesia?

 

Bendungan belum Tentu jadi Solusi

Sesungguhnya kemarau dan kekeringan bukanlah satu-satunya masalah pelik yang menimpa sektor pertanian kita. Misalnya soal beras yang merupakan komoditas pertanian yang paling banyak dikonsumsi penduduk Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan luas lahan baku sawah kian menurun dari tahun ke tahun. Data mereka menunjukan luas lahan tahun 2018 seluas 7,1 juta hektare, turun dibanding tahun 2017 yang masih 7,75 hektare. Hal tersebut terjadi karena gencarnya alih fungsi lahan. Lahan pertanian yang kian menurun tentu berdampak besar pada produksi beras nasional. Hal tersebut sudah terkonfirmasi berdasarkan data statistik yang memperlihatkan luas lahan pertanian Indonesia kini hanya 568 m2 perkapita. Jauh lebih rendah dari Vietnam (1000 m2 per kapita), Thailand (5000 m2 perkapita), dan Australia (26000 m2). Beragam faktor bisa menjadi penyebab menyempitnya lahan pertanian di Indonesia, namun yang pasti sebagian besar terjadi akibat dari alih fungsi lahan pertanian menjadi hunian dan industri.

Permasalahan lain yang tak kalah peliknya adalah rendahnya tingkat regerasi petani di Indonesia. Berdasarkan hasil Survei Pertanian Antar Sensus (SUTAS) tahun 2018 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menginformasikan sektor pertanian Indonesia saat ini didominasi oleh kelompok umur petani utama berusia diatas 35 tahun sebesar 24,4 juta orang atau mencapai 88,36 persen, sedangkan kelompok umur petani utama 35 tahun kebawah sebesar 3,2 juta orang atau mencapai 11,64 persen. Faktanya, saat ini kultur bertani kian tergerus. Banyak anak petani enggan meneruskan pekerjaan orang tuanya.menjadi petani merupakan pilihan terakhir anak-anak muda di wilayah pedesaan. Seorang dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) berkata di sebuah workshop bahwa pemuda yang tinggal di daerah puncak lebih senang bekerja sebagai tukang ojek atau penjaga vila dibanding menjadi petani sayuran. Salah satu alasannya adalah menjadi petani identik dengan kemiskinan.  Tidak dapat ditampik bahwa pendapatan petani tidak sebanding dengan beban kerjanya. Bahkan nilai Nilai Tukar Petani (NTP) pada Juni 2019 hanya 102,33 persen berdasarkan data BPS. angka tersebut mengartikan apa yang dikerjakan petani Indonesia selama ini hampir impas dengan biaya yang dikeluarkannya untuk memproduksinya. Dengan kata lain, pendapatan petani sama dengan pengeluarannya. Itulah mengapa petani Indonesia rentan terhadap kemiskinan.

 

Integrasi SDM dan Infrastruktur yang Baik jadi Solusi

Visi presiden Jokowi untuk meningkatkan SDM bangsa Indonesia dalam masa jabatan periode kedua ini menjadi secercah harapan. Ibarat hujan dikala kemarau panjang jika kita bisa meningkatkan SDM petani Indonesia akan menjadi suatu langkah besar dalam meningkatkan kualitas petani kita. Misalnya, apabila petani menguasai teknologi industri pertanian, produktivitas petani akan meningkat berkali-kali lipat dibandingkan saat menggunakan cara tradisional. Banyak dari negara-negara barat seperti Amerika dimana jumlah petani nya relatif sedikit namun produktivitasnya sangat besar. Hal tersebut disebabkan oleh sebagian besar para petani disana sudah mengetahui cara mensinergikan teknologi dengan kemampuan bertani yang mereka miliki. SDM yang berkualitas membuat para petani lebih mudah dalam memanfaatkan teknologi pertanian yang ada. Dengan adanya skill penguasaan teknologi pertanian oleh para petani, diharapkan dapat menyelesaikan masalah semakin berkurangnya produksi tanaman pangan karena lahan pertanian yang semakin menyempit setiap tahun.

Banyak dukungan dari berbagai pihak untuk kemajuan pertanian Indonesia. Salah satu yang berkontribusi adalah kaum milenial dengan membuat berbagai aplikasi canggih yang ada di smartphone guna mempermudah para petani. Beberapa manfaat aplikasi tersebut adalah membuat para petani bisa bertanya secara langsung pada para pakar tentang berbagai info dunia pertanian seperti cara budidaya tanaman yang baik, cara memberantas hama yang efektif, memberikan penyuluhan dan literasi mengenai dunia pertanian, mempertemukan konsumen akhir dengan petani sehingga para petani tidak lagi harus menjual hasil panennya kepada tengkulak atau penadah yang mana berakibat marjin penjualan sebagian besar dinikmati oleh petani yang pada akhirnya akan meningkatkan Nilai Tukar Petani (NTP). Semakin besar NTP petani menjadikan hidup petani semakin sejahtera sehingga membuat kaula muda menjadi lebih tertarik untuk menjadi petani yang kedepannya akan meningkatkan regenerasi petani di Indonesia.

Jadi sangat penting bagi pemerintah untuk mengintegrasikan antara infrastruktur pertanian yang telah dibangun dengan SDM petani yang berkualitas. Ibarat merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui, permasalahan di sektor pertanian akan terselesaikan dan tujuan memperoleh kedaulatan pangan nasional pun tercapai.

Tags

About The Author

Aldi Rochman Nulkarim 7
Novice

Aldi Rochman Nulkarim

Seorang mahasiswa berusia 20 tahun dengan motto hidup "if you have an aim you can move a montain" Memiliki hobi membaca dan travelling

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel

From Aldi Rochman Nulkarim