article

Trip to Sanghyang Heuleut, The Real of Adventure in Bandung.

Trip to Sanghyang Heuleut, The Real of Adventure in Bandung.

Jika ditanya apakah tempat wisata di Bandung yang sedang populer akhir-akhir ini, jawabannya bisa bermacam-macam. Ada tebing Kraton, Taman Film, Puncak Guha, Transtudio Mall, dan lainnya. Di antara yang tidak bisa disebutkan satu persatu, ada destinasi wisata baru yang belakangan populer sekitar 2-3 bulanan. Destinasi wisata ini sebetulnya sudah lama karena di lokasi tersebut ada beberapa tempat wisata yang namanya memusat, yaitu Sanghyang. Ada Sanghyang Tikoro, sungai yang di bawah batu, ada sanghyang Poek yaitu Gua yang berada di sungai, ada juga sanghyang ratu, dan terakhir yang cukup populer adalah Sanghyang Heuleut.

Sanghyang Heuleut berada di area Waduk Saguling Padalarang Kabupaten Bandung Barat. Sekitar 48 km dari pusat Kota Bandung atau 2 Jam perjalanan. Cukup jauh sesama lokasi yang masih berada di Bandung.

Sanghyang Heureut, bukan Heuleut.

ads

Menurut salah satu pedagang yang tinggal di daerah Rajamandala Padalarang, nama Sanghyang Heuleut hanya sebutan latah dari pengunjung yang kemudian diikuti oleh penduduk setempat. Karena nama sebenarnya adalah Sanghyang Heureut. Heureut berasal dari bahasa sunda yang artinya sempit. Sanghyang Heureut adalah lokasi wisata yang sedang ramai diperbincangkan di media sosial. Lokasi wisata ini tiba-tiba populer dan menarik banyak pengunjung.

Sanghyang Heureut menyerupai sebuah Kolam yang dikelilingi batu besar dan juga diaping oleh dua tebing batu yang tinggi. Seperti pada umumnya wilayah Padalarang yang mayoritas Gunung Batu, daerah ini juga mayoritas terdiri dari batu-batu besar dan bukit batu. Kolam yang dikelilingi batu tersebut cukup luas menampung wisatawan yang hobi main air lias alias berenang. Bahkan pengunjung bisa lompat dari atas tebing batu dan menceburkan diri ke Kolam dengan warna air khas, hijau. Hijau seperti tempat wisata di Cukang Taneuh, Pangandaran (Green Canyon).

Sayang, karena curamnya tebing pengunjung tidak bisa melanjutkan hingga ke ujung paling sempit. Kecuali melalui jalur kolam yang cukup dalam. Sementara bagi pengunjung yang hanya menikmati pemandangan seperti saya akan kesulitan menikmati pemandangan Sungai yang diapit oleh gunung batu tersebut.

Wisata Batu Purba

Selama perjalanan menuju Sanghyang Heuleut, inilah wisata yang sesungguhnya. Selain hehijauan juga bisa menikmati berbagai jenis bebatuan yang memenuhi sungai tersebut. Sungai Sanghyang. Perjalanan ini mengantarkan pada petualangan sesungguhnya dibandingkan dengan Sanghyang Heuleut sendiri.

Petualangan dimulai saat meninggalkan tempat parkir yang berada di lokasi rumah-rumah penduduk kemudian memasuki area PLTA Saguling, melewati lorong Piva-piva besar penyalur air menuju turbin Pembangkit Listrik. Perjalanan dilanjutkan melewati kebun-kebun penduduk yang cukup curam.

Jalan setapaknya tidak wajar, relatif sangat baru dilalui oleh pengunjung. Tidak ada jalan khusus yang telah dibuat menuju Sanghyang Heuleut. Jalan menuju lokasi ini seperti melalui jalan menuju negeri antah barantah, asing, dan terjal. Setelah melewati kebun-kebun penduduk yang gersang, masuklah ke area pepohonan yang rindang dengan rumput tinggi-tinggi. Cukup terjal karena jalan tersebut alamiah dan jarang dilalui orang sebelumnya. Walaupun ada jembatan yang dibuat dari kayu-kayu batangan yang dibuat penduduk untuk menghubungkan kebun-kebun.

Di tengah terik matahari saat itu, area terjal, berakar dan berbatu cukup menyedot energi. Suhu tubuh mulai naik ke kepala, keringat bercucuran tak tertahankan hingga membanjiri kaos oblong. Beruntung sejak awal sudah persiapan dengan mengenakan sepatu gunung sehingga cukup bisa menguasai medan. Beberapa botol air mineralpun sudah habis, bahkan sebotol air dalam Ecowater Tupperware juga sudah kerontang.

20 menit sudah dilalui sejak perjalanan dari area parkir, sampailah ke sungai yang dipenuhi dengan batu-batu besar. Sejenak kami beristirahat di sungai dipenuhi batu-batu. Airnya walaupun tidak dominan sangat jernih. Karena jernihnya, saya pun memberanikan diri minum air tersebut karena hausnya dan persediaan sudah habis. Air berkelok-kelok mengalir melewati batu-batu besar dan menyempit. Kami pun bercengkrama di atas bebatuan dan seperti manusia kekinian lainnya, mengambil gambar alakadarnya. Sebagian yang lain narsis berlebihan.

Sementara yang lain menikmati sejuk dan dinginnya air setelah berlelah-lelah dan berpanasan, saya sendiri justeru menikmati batu-batu besar tersebut hingga akhirnya mengantarkan saya ke lokasi Gua Batu yang berada di lokasi sungai tersebut. Inilah Sanghyang Poek. Salah satu lokasi yang disebutkan oleh penduduk. Salah satu lokasi yang berada di sepanjang sungai tersebut. Sanghyang poek menyerupai Gua Batu yang besar dan di sekilingnya batu-batu raksasa. Di lokasi Sanghyang Poek Selain Gua Batu yang bisa dijadikan tempat berteduh, juga terdapat batu-batu besar yang menyerupai patung.

Sungai ini lebih pas jika disebut sebagai sungai Batu karena isinya semua Batu. Batu-batu besar. Gua Sanghyag Poek menyerupai bukit atau Gunung Batu yang di bawahnya adalah perbekasan air mengalir. Batu-batu tersebut adalah batu-batu purba yang sudah ada sejak 2 juta tahun yang lalu. Setidaknya itulah komentar T Bachtiar dalam status facebook saya yang menanyakan perihal batu-batu besar tersebut.

Pada batu-batu tersebut juga tampak tapak kaki yang bertebaran dimana-mana, pada beberapa batu-batu besar. Menurut komentator lain, saat foto tersebut saya posting, sungai tersebut juga memiliki nilai sejarah yang berbau mistik karena telapak kaki tersebut bukan telapak kaki sembarangan. Telapak kaki nenek moyang Ki Sunda.

Bukan hanya batu-batu besar yang saya temukan. Namun batu-batu yang bercorak dan berbentuk juga cukup banyak, ada batu-batu berlapis. Pada area lain saya temukan batu yang menyerupai kursi. Sepanjang perjalanan kami lewati melalui batu-batu. Batu kecil ataupun besar yang akhirnya harus didaki. Karena tidak ada jalan lain menuju Sanghyang Heuleut.

Hampir 1 jam kami lalui sejak turun dari area parkir roda dua di lokasi pemukiman penduduk. Namun tidak juga sampai di lokasi Sanghyang Heuleut. Batu-batu besar kami temui setiap beberapa meter. Sunga tersebut isinya batu dan batu. Saat kami tanya kepada pedagang keliling, apakah area Sanghyang Heuleut sudah dekat. Jawabnya cukup memberikan harapan. Tetapi hanya batu dan batu yang saya temukan.

Sampailah pada kerumunan orang pada batu-batu besar. Rupanya Sanghyang Heuleut sudah nampak. Di balik kerumuman dan batu besar tersebut adalah kolam yang berada di area Sanghyang Heuleut. Kolam tempat bersenang-senangnya para pengunjung.

Namun sebelum akhirnya menatap Sanghyang Heuleut, bebatuan yang unik saya jumpai. Batu berlapis, batu dengan mata di sekelilingnya. Batu-batu warna hijau yang lebih mirip sebagai batu pembuat bahan akik. Batu-batu ini harus dilewati dengan peluh, karena tinggi-tinggi. Alapagi selalu berpapasan dengan pengunjung yang mulai kenyang dengan petualangannya di Sanghyang Heuleut. Sehingga rombongan harus antri.

Saat menemukan dinding batu yang menjulang tinggi atau lebih tepatnya tebing batu, di antara dua tebing itulah Sanghyang Heuleut. Dihalangi oleh batu besar yang membendung air sehingga membentuk kolam buat tidak lebih dari 10 meter persegi.

Namun saya belum bisa menikmati Sanghyang Heuleut karena harus melewati bongkahan batu besar yang menjadi tempat berkumpul pengunjung. Saya juga harus bersusah payah, menaiki batu-batu besar yang berhimpit dan meninggi agar bisa menyaksikan kolam dengan air warna hijau dari atas tebing. Akhirnya sampai di lokasi Sanghyang Heuleut.

Diapit oleh dinding batu yang menjulang tinggi. Makin jauh makin menyempit. Tidak ada lagi jalan. Kecuali harus melalui kolam kecil yang terbendung Batu. Dan perjalanan berhenti sampai di sini. Menonton mereka yang kegirangan bermain-main dengan air. Kolam Sanghyang Heuleut. Mereka riang berenang di Air yang hulu sungainya dipergunakan untuk memutarkan turbin. Turbin listerik. Listerik yang menerangi penduduk Jawa-Bali. Namun hanya sisanya, sehingga air di sungai tersebut tidak royal. Sedikit saja.

Sejenak menikmati para perenang amatiran dari atas batu yang tinggi dan harus menaiki bukit batu. Betul saja, jika diperhatikan, dinding batu yang menjulang tersebut semakin menyempit. Sebelum airnya berkumpul menyerupai kolam. Dinding-dinding batu itu tidak menyisakan celah agar kami bisa melaluinya. Petualanganpun berhenti. Air hijau kami nikmati. Satu persatu pengunjung bergantian naik ke atas batu. Loncat dan byuuur, suara kepala menabrak air. Mereka pun riang berenang. Sesekali diiringi tepukan riuh pengunjung yang sengaja menonton di Seberangnya.

Inilah Sanghyang Heuleut dengan sungai dan bebatuan purba di dalamnya. Perjalanan sesungguhnya Wisata Batu Purba Bandung.Trip to Sanghyang Heuleut, The Real of Adventure in Bandung. ***[Abah Raka]

 

 

 

0
Comments (0)
Unable to Comment
You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login

No comments yet. Be the first to comment.

From Author
Loading…
ads
ads
ads