article

Nyaneut, Tradisi Minum Teh Bersama ala Garut

Nyaneut, Tradisi Minum Teh Bersama ala Garut

Indonesia merupakan negara kaya tradisi. Bahkan tradisi tertentu bisa dilakukan dengan beragam cara di daerah berbeda di Indonesia. Salah satu tradisi yang banyak dilakukan oleh masyarakat di Indonesia adalah tradisi Nyaneut, nyai haneut, yaitu tradisi minum teh bersama yang dilakukan oleh warga. Nyaneut dilakukan oleh masyarakat Garut, tepatnya warga kecamatan desa Cigedug.

Tradisi minum teh bersama ini tidak hanya dilakukan oleh masyarakat yang ada di Garut, namun juga oleh masyarakat beberapa daerah di Indonesia. Bahkan oleh masyarakat dunia sekalipun seperti negara-negara maju; Jepang, Amerika Serikat, Denmark, Rusia, Maroko, Belgia, Mesir/ Maroko dan lain sebagainya.

Nyaneut, adalah satu dari tradisi yang dianut masyarakat Garut. Tradisi minum teh bersama ini merupakan tradisi yang sudah berlangsung ratusan tahun pada masyarakat Cigedug Kabupaten Garut. Nyaneut adalah salah satu tradisi yang masih terus dilakukan oleh masyarakat. Tradisi ini telah menyedot ribuan orang untuk sekedar menyaksikan tradisi minum teh bersama yang dikemas dalam bentuk festival.

ads

Nyaneut biasa dilakukan pada saat pesta rakyat. Di Cigedug, Nyaneut khusus dilakukan setiap tanggal 1 Muharam 1437, penulis mendapatkan kesempatan untuk menyaksikan Nyaneut pada satu muharam tahun ini. Nyaneut tahun ini berbeda dengan nyaneut sebelumnya, karena diselenggarakan lebih meriah, dikemas dalam bentuk pesta budaya yaitu Nyaneut Festival.

Nyaneut merupakan singkatan dari Nyai Haneut atau Cai Haneut yang artinya air hangat. Adalah bentuk tradisi suguhan air teh hangat kepada tetamu yang datang yang disuguhkan oleh warga masyarakat Cigedug. Tradisi ini sudah ada sejak teh ditanam sejak abad 19 di wilayah Bayongbong dan Cikajang, Cigedug bagian dari Kecamatan Cikajang sebelum terjadi pemekaran menjadi kecamatan tersendiri. Tehnya sendiri dibawa dan ditanam oleh para pengusaha dari Belanda ditanam di kaki Gunung Cikuray.

Nyaneut menjadi tradiri dalam menyambut tahun baru Islam. Namun karena gempuran modernitas, Nyaneut sempat terputus cukup lama. Walaupun telah menjadi bagian dari keseharian warga karena dekat dengan kehidupan Teh. Festival ini menjadi awal kembalinya tradisi Nyaneut pada masyarakat Cigedug untuk terus dilakukan.

Menyaksikan Nyaneut di Situ Gede

Memasuki wilayah Situ Gede Cigedug, pengunjung disambut dengan gapura gugunungan, atau dikenal dengan SIGOTAKA yang sering ditemukan dalam pembukaan atau penutupan wayang golek. Semua panitia dengan mengenakan pakaian asli urang sunda (Pangsi) dan iket kepala turut menyambut kedatangan dan mempersilakan pengunjung untuk memasuki area serta ikut mengikuti acara Nyaneut. Sepanjang jalan menuju area Situ Gede, berjajar obor yang terbuat dari bambu anyaman. Aroma tradisi sungguh terasa bahwa ini merupakan festival budaya.

Acara diawali dengan Pawai Obor bersama yang dilakukan oleh ratusan anak-anak tepat setelah sholat magrib dilaksanakan. Dengan dampingan panitia, mereka mengelilingi jalan Cigedug. Mereka berangkat dari tempat festival dan kembali lagi ke area festival menjelang sholat Isya. Setelah Sholat Isya, festival dibuka dengan Rebana Cigedug dan rampak cangkir dari Teater Jalarea Universitas Garut. Dilanjutkan dengan sambutan dari ketua panitia, camat, dan Bupati Garut.

Baru setelah peresmian pembukaan festival oleh Bupati Garut, acara puncak Nyaneut Festival dilaksanakan yaitu ngahaturan cai kepada warga dan pengunjung pada tempat lesehan yang telah disediakan, dengan meja yang dirancang khusus dari bambu. Alas airnya sendiri menggunakan gelas dan teko yang terbuat dari tembikar. Air teh yang diolah adalah teh yang berasal dari teh wejek, yang diolah secara tradisional oleh masyarakat Cigedug. Sehingga menghasilkan wangi yang khas. Nyaneut disuguhkan bersama panganan tradisional yang dikukus yang mayoritas terdiri dari umbi-umbian; ubi jalar, singkong, ganyong, dan gula merah.

Di tengah-tengah udara Kaki Gunung Cikuray, Nyaneut menjadi aktifitas warga, bukan hanya untuk menghangatkan tubuh, juga menghangatkan suasana, karena pada dasarnya Nyaneut dilakukan secara bersama-sama. Maka, terbentuklah tradisi kerjasama dan kekompakan dari warga. Hal inilah yang menjadi semangat Nyaneut. Seperti dituturkan oleh Dasep Badrussalam, Ketua Penyelenggara Nyaneut Festival. Pemuda lulusan STT Tekstil ini mengatakan, ingin menghidupkan kembali tradisi Nyaneut untuk tetap menjadi kekompakan dan kebersamaan warga Cigedug yang sedikit demi sedikit sudah tergusur oleh modernitas.

Kekompakan dan kebersamaan ini tampak terasa atmosfernya dari sejak saya datang ke Cigedug. Anak-anak sangat kompak untuk melakukan pawai obor, para wanita kompak membuat suguhan kepada warga dan pendatang. Kekompakan inilah yang pada akhirnya melahirkan kebersamaan antara warga Cigedug Garut. Sebagaimana halnya kebersamaan antara menyambut Tahun Baru Islam dan kebiasaan warga Cigedug dalam melakukan aktifitas minum teh bersama. Jadilah Nyaneut menjadi bagian dari tradisi warga dalam menyambut hari bersejarah dalam Islam tersebut.

Tidak hanya di Cigedug

Selain di Cigedug, Nyaneut juga dilakukan pada sebagian masyarakat lain di Garut. Nyaneut biasanya dilakukan saat pesta atau hajatan masyarakat. Seperti halnya pada saat Festival Dodol, warga juga melakukan Nyaneut.

Saya juga teringat masa kecil, Nyai Haneut ini juga dilakukan saat pagi-pagi di hari minggu. Sambil bercengkrama dengan keluarga di depan tungku yang memberikan kehangatan dari luar tubuh, maka Nyaneut memberikan kehangatan dari dalam tubuh.

Semoga tradisi masyarakat ini terus bertahan, karena seperti diceritakan oleh Dasep, penggagas Festival, Nyaneut ini ditujukan untuk menjaga kedekatan dan kebersamaan warga. Karena saat kita nyaneut, pada dasarnya kita juga bercerita tentang kita.

0
Comments (0)
Unable to Comment
You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login

No comments yet. Be the first to comment.

From Author
Loading…
ads
ads
ads