PERAN RELASI JENDER DALAM BINGKAI EKOFEMINISME

5 Jan 2019 14:59 624 Hits 0 Comments
Pemikiran relasi Gender dalam bingkai ekofeminis masih jadi perdebatan. Tulisan sederhana ini menjelaskan pemikiran dimaksud.

Oleh : Haris El Mahdi dan Achmad Hidir

Pra-Wacana

Perempuan – dilihat dari sudut pandang manapun – selalu mempunyai sisi-sisi yang menarik dan memikat hati laki-laki. Dan, untuk alasan itulah Tuhan menciptakan perempuan, yakni sebagai perhiasan sekaligus teman bercanda bagi laki-laki. Betapapun Tuhan telah mendesain alam semesta dengan tata arsitektural yang sungguh indah, elok dan menakjubkan, hati seorang laki-laki tak akan bisa tentram tanpa kehadiran seorang wanita di sampingnya atau di hadapannya. Seolah-olah terbersit dalam hatinya sebuah ungkapan : “Bolehlah Tuhan tidak menciptakan alam semesta, tetapi jangan Engkau biarkan diriku merana tanpa kehadiran seorang wanita!” Itulah naluri fitriyah setiap laki-laki di seluruh penjuru dunia. Dan, itulah sebabnya, Adam yang yang telah Tuhan ciptakan sebagai manusia pertama, hatinya selalu gelisah gundah-gulana meskipun hidup dan bertempat tinggal di Surga yang penuh dengan keindahan dan kenikmatan. Dia (baca: Adam) merasa ada belahan jiwanya yang hilang. Dus, belahan jiwa Adam yang hilang itu adalah  perempuan atau lebih tepatnya Hawa…!

Lebih dari itu, perempuan adalah mahakarya Tuhan yang mempunyai banyak misteri bagi laki-laki. Keindahan tubuhnya, kehalusan perasaannya dan keterpujian pribadinya membuat banyak laki-laki harus (baca : terpaksa) bertekuk-lutut dihadapan seorang perempuan. Tetapi tak jarang, dikarenakan kelemahan yang dimilikinya, perempuan menjadi “bahan permainan” laki-laki. Kadang-kadang atau bahkan sering terjadi, laki-laki memanfaatkan sisi kelemahan perempuan untuk memuaskan nafsunya semata. Kita sering menyaksikan di panggung kehidupan ini,  seorang perempuan terpaksa meratapi kesedihan hanya dikarenakan dirinya tidak dihargai oleh kaum laki-laki. Kita juga sering menyaksikan, betapa banyaknya perempuan kehilangan kehormatan dan jati diri disebabkan ulah jahil kaum laki-laki. Di sinilah uniknya keberadaan perempuan di panggung kehidupan. Di satu sisi ia dipuja-puja oleh kaum laki-laki, namun di sisi lain ia dicampakkan laksana sampah yang tak berguna.           Namun demikian, bagi perempuan, laki-laki juga sama-sama misteriusnya. Ketampanan wajahnya, kharisma yang dimilikinya serta kewibawaan dan ketegasannya dalam menuntaskan permasalahan menjadikan perempuan “terpaksa” bersimpuh untuk melayani laki-laki. Namun, tak jarang perempuan merasa jijik terhadap laki-laki. Hatinya yang keras, perilakunya yang kejam dan ambisinya yang besar menjadikan perempuan muak, jijik, dan tak suka dengan laki-laki. Baginya laki-laki tak ubahnya seperti seorang penguasa tiran yang senantiasa memaksakan kehendaknya, merampas harkat dan martabat perempuan. Dus, di sini pulalah uniknya keberadaan laki-laki di pentas panggung kehidupan. Di satu sisi ia (baca: laki-laki) dibutuhkan dan menjadi harapan bagi perempuan, namun di sisi lain ia dibenci dan dicaci-maki.

Demikianlah sekilas hubungan yang terjadi antara laki-laki dengan perempuan atau antara perempuan dengan laki-laki. Sebuah hubungan hiperbolic,  di satu sisi laki-laki membutuhkan perempuan dan juga sebaliknya, namun di sisi lain laki-laki mencampakkan perempuan dan perempuan membenci laki-laki. Hubungan antara laki-laki dan perempuan seperti ini telah menjadi sumber inspirasi bagi sebagian besar – kalau tak dapat dikatakan semuanya – karya-karya sastra dunia.

Realitas  hubungan antara laki-laki dengan perempuan seperti itu jelas terjadi di dalam masyarakat. Dalam artian tak ada satupun masyarakat di belahan dunia ini yang tidak mengenal, memahami dan mengerti hubungan antara laki-laki dengan perempuan.

Berbicara tentang masyarakat, mau tidak mau, suka tidak suka kita pasti membicarakan hubungan antara laki-laki dengan perempuan. Singkatnya, relasi gender merupakan sebuah “social construction”  di masyarakat. Karena tidaklah mungkin laki-laki tidak menjalin hubungan dengan perempuan dan perempuan itu kemudian menjauh dari laki-laki ? 

Kefemininan vs Kemaskulinan : Sebuah Kegagalan Cara Pandang Barat 

            Secara historis, gerakan feminisme lahir untuk pertama kali di dunia Eropa. Paradigma awal gerakan feminisme – antara tahun 1960 sampai dengan 1970-an – sangat dipengaruhi oleh filsafat eksistensialisme yang dikembangkan terutama oleh filosof Perancis abad ke-20, Jean-Paul Sartre (dalam Sachiko Murata, 1996) menjelaskan bahwa “Manusia tidak mempunyai sifat alami, fitrah atau esensi (innate nature). Eksistensi manusia tergantung pada bagaimana ia menciptakan esensinya sendiri. Karenanya apa yang dimaksud dengan esensi manusia pada dasarnya adalah socially created, yaitu tergantung dari lingkungan di mana ia berada.

Bagi penganut faham eksistensialisme, untuk menciptakan esensi bagi eksistensi dirinya dalam sebuah masyarakat, maka dia harus menggagas “socially created” yang menunjang untuk itu. Pemahaman seperti inilah yang menjadi inspirasi gerakan awal feminisme yang menolak eksistensi sifat alamiah pria dan perempuan. Bagi mereka, sistem yang ada saat itu merupakan sistem yang sengaja diciptakan (socially created) untuk melanggengkan kultur patriarkhi dan menjadikan perempuan senantiasa menjadi makhluk nomer dua setelah laki-laki.

Oleh karenanya, untuk menciptakan kesetaraan gender, perempuan harus melepaskan diri dari kultur dan norma-norma patriarkhi, perempuan harus dapat menentukan sendiri eksistensi dirinya di tengah-tengah masyarakat. Dalam bahasa Anthony Giddens (1984), perempuan harus menjadi aktor-aktor penggerak untuk merubah struktur dan sistem patriarkhi yang membelenggu kebebasannya. Ungkapan paling jelas mengenai hal ini, dapat kita simak ungkapan Simone de Beauvoir (Sachiko Murata,1996), seorang aktivis feminisme terkemuka abad ke-20, mengatakan “Perempuan secara kultural diperlakukan sebagai makhluk sekunder (secodary creation) yang tugasnya mengasuh keluarga dan anaknya, serta memelihara lingkungan hidup. Peran tersebut bukanlah sifat alamiah perempuan. Norma-norma feminin yang melekat pada perempuan seperti pengasuh, pemelihara, pasif dan penerima, adalah sifat yang dikulturkan oleh sistem patriarkhi.Kulturisasi norma feminin dilanggengkan oleh sistem ini agar perempuan dapat “ditindas”. Oleh karena itu, perempuan harus melepaskan diri dari norma-norma tersebut, agar mereka dapat menentukan eksistensinya sendiri.”

Singkat kata, gerakan feminisme Barat pada periode tahun 1960 sampai dengan 1970-an, diwarnai oleh tuntutan kebebasan dan persamaan hak agar para perempuan dapat menyamai laki-laki dalam bidang sosial, ekonomi, dan kekuasaan politik. Kini, kita melihat semakin banyak perempuan yang telah memasuki dunia maskulin dan berkiprah bersama-sama dengan laki-laki. Dokter, pengacara, saintis, insinyur, polisi, politisi, dan banyak bidang pekerjaan lainnya yang semula merupakan “kawasan” kaum laki-laki, sekarang telah dimasuki oleh kaum perempuan. Seolah-olah kaum feminis berujar : “aku bukan pecundang yang senantiasa menjadi runner-up…!  Dalam bahasa lain, gerakan feminisme telah berhasil mendekonstruksi sekaligus merekonstruksi sistem patriarkhi, meskipun belum secara revolusioner (semoga tidak – Pen).

Ironisnya, keberhasilan gerakan feminisme ini bukannya menciptakan sebuah kesantun-setimbangan sistem di masyarakat tetapi malah sebaliknya. Kekacauan dan ketidak-seimbangan sistem menjadi sebuah fenomena absolut masyarakat dunia saat ini. Dunia menjadi maskulin murni (pure-masculinity) dan kehilangan ruh femininnya. Sifat-sifat feminin seperti cinta, pasif, kepedulian dan pemeliharaan telah hilang dan digantikan oleh sifat-sifat maskulin seperti benci, aktif, tidak peduli dan perusakan. Dengan kata lain, gerakan feminisme awal hanyalah sebuah usaha untuk lebih melanggengkan kualitas-kualitas maskulin.

Maka wajarlah jika watak maskulin sangat tampak pada peradaban modern (atau Barat) seperti hasrat untuk menguasai, mendominasi dan mengeksploitasi. Dan hasilnya, kerusakan alam, polusi, hancurnya solidaritas sosial, tingkat kriminalitas yang tinggi, merupakan sedikit contoh dari ketidakseimbangan sistem di masyarakat.

Lebih ironis lagi, kaum perempuan yang telah masuk ke dunia laki-laki dan bersaing dengan laki-laki di dunia itu, telah membuat perempuan tak ubahnya sebagai laki-laki tiruan (male clon). Dia (baca : perempuan) menjadi sosok individu yang keras dan tegas padahal seharusnya lebih menonjolkan sifat yang lunak dan lemah-lembut. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya masuk ke dalam dunia maskulin tetapi juga mengadopsi sifat-sifat kemaskulinan. Sehingga  hubungan yang terjadi antara laki-laki dengan perempuan adalah hubungan yang saling bersaing, saling mempengaruhi dan saling berebut kekuasaan. Perempuan tidak mau eksistensinya dinomor-duakan sedangkan laki-laki juga tidak mau dikalahkan oleh perempuan. Dus, jika dua ekor gajah saling berkelahi, maka bukan hanya kedua gajah yang menderita dan terluka parah tetapi medan perkelahian dan lingkungan sekitar pun menjadi rusak dan porak-poranda. Itulah yang terjadi di dunia saat ini.

Demikianlah sekilas paparan bahwa ide mengenai feminisme a la Barat yang telah menciptakan ketidakserasian pola hubungan antara laki-laki dengan perempuan. Relasi gender yang terjadi mengarah pada permusuhan. Padahal seharusnya perempuan adalah mitra bagi laki-laki dalam mengarungi ganasnya samudera kehidupan. Tuhan menciptakan Hawa bukan sebagai musuh Adam tetapi untuk menentramkan hati Adam. Oleh karena itulah, muncul kesadaran baru dari kaum feminisme untuk mengoreksi teori dan gagasan mengenai gerakan feminisme. Feminisme tidak lagi dimaknai sebagai gerakan untuk merobohkan dominasi maskulin tetapi lebih diarahkan untuk memaksimalkan sifat dan karakter kefemininan. 

Eco-Feminism : Cita Rasa Baru Gagasan Feminisme

Memasuki abad ke-21, dunia global mengalami situasi krisis yang sungguh luar biasa dahsyatnya. Ketidakseimbangan ekologi (di samping ketidakseimbangan sistem sosial) menjadi permasalahan global tersendiri bagi manusia dewasa ini.

Ungkapan yang sangat jelas mengenai situasi dunia tersebut dapat kita simak dari penuturan Fritjof Capra (1990)  “......ekosistem global dan evolusi kehidupan selanjutnya di bumi berada dalam bahaya yang serius dan bisa berakhir dalam suatu bencana ekologis dalam skala besar. Kelebihan penduduk dan tekhnologi industri telah menjadi penyebab terjadinya degradasi hebat pada lingkungan alam yang sepenuhnya menjadi gantungan hidup kita. Sebagai akibatnya, kesehatan dan kesejahteraan hidup kita menjadi terancam. Kota-kota besar menjadi tertutup oleh selimut asap-kabut yang bewarna kekuning-kuningan dan terasa menyesakkan. Orang-orang yang hidup di kota-kota semacam ini bisa melihatnya setiap hari; kita merasakannya ketika asap-kabut itu membakar mata dan menganggu paru-paru. Di Los Angeles, menurut pernyataan yang dibuat oleh enam puluh orang dosen University of California Medical School, “polusi udara sekarang telah menjadi bahaya besar bagi kesehatan kebanyakan masyarakat selama ini”. Namun demikian, asap-kabut tidak hanya terbatas pada daerah-daerah metropolitan di Amerika. Di Mexico City, Athena dan Istambul pun keadaannya sama, atau bahkan mungkin lebih buruk. Polusi udara yang terus-menerus ini tidak hanya mempengaruhi manusia melainkan juga mengganggu sistem ekologi. Polusi udara melukai dan membunuh tumbuh-tumbuhan dan mengubah populasi binatang yang tergantung pada tumbuh-tumbuhan itu secara drastis. Saat ini asap-kabut tidak hanya ditemukan di sekitar kota-kota besar melainkan tersebar di seluruh atmosfer bumi dan bisa sangat mempengaruhi iklim global. Para ahli meteorologi berbicara tentang adanya suatu tabir polusi udara yang meliputi seluruh planet.

Sengaja penuturan dari Fritjof Capra dikutip secara agak panjang-lebar mengingat betapa penting dan krusialnya pembahasan mengenai hal tersebut. Dari pembahasan Capra di atas, kita sudah bisa membayangkan bahwa kehidupan di dunia dewasa ini tidak lagi nyaman bagi manusia atau bahkan bagi makhluk lain selain manusia. Bumi sebagai “satu-satu”-nya sumber kehidupan dan penghidupan manusia sampai saat ini, mulai enggan menjadi pelayan yang baik bagi manusia dan juga makhluk hidup lainnya. Seolah-olah bumi marah karena selama ini tidak dihargai eksistensinya. Salah satu laporan penelitian yang menunjukkan menurunnya daya dukung lingkungan dapat kita simak dalam tabel berikut  :

 

Penurunan Keragaman Tanaman dan Ternak

Negara

Penurunan Keragaman Tanaman dan Ternak

India

Lebih dari 30.000 varietas padi yang ditanam, sekarang diperkirakan hanya tinggal 10 varietas padi yang meliputi 75% area penanaman padi.

Filipina

Sebelum era modernisasi pertanian, yaitu awal 1970-an, terdapat 3.500 varietas padi. Sekarang tinggal 3 - 5 varietas yang ditanam untuk lahan beririgasi.

Eropa

Keragaman hewan domestik termasuk kuda, sapi, biri-biri, kambing, babi dan ternak unggas separohnya telah tidak ditemukan sejak awal abad 20. Diperkirakan 1/3 dari770 jenis dikhawatirkan tidak ditemukan pada tahun 2010

Perancis

71% produksi apel berasal dari satu jenis varietas, yaitu Golden Delicious; 30% produksi gandum untuk roti berasal dari 2 varietas dan 70% berasal dari 10 varietas. Pada awal abad 20, pada bagian tenggara, kebutuan pangan disuplai dari 250 species tanaman, sekarang hanya 30-60 saja.

Yunani

90% varietas gandum lokal hilang sejak tahun 1920-an

Belanda

Hanya 1 varietas kentang yang ditanam pada 80% area tanam, 90% area tanam gamdum ditanami 3 varietas, 70% area tanaman barley ditanami 1 varietas. 

Inggris

68% area tanam kentang ditanami 3  varietas  dan  71%  area  tanam  gandum  ditanami  4 varietas

USA

Sejak 1990 : - 6121 varietas apel lenyap (35%)

- 2354 varietas pear lenyap (88%)

-   546 varietas kapri lenyap (95%)

 

Sumber : Lihat misalnya Pretty J.N, Regenerating Agriculture, Eartschan Publication Limited, London, 1995 dan Laporan FAO, 1993; Fowler dan Money, 1990 dalam Pretty, 1995

           

Berpijak dari pemahaman mengenai kondisi global seperti itulah, eco-feminism lahir sebagai upaya untuk mengoreksi kegagalan konsep feminisme. Bagi penganut eco-feminism, terjadinya kerusakan ekologi global lebih disebabkan oleh terlalu dominannya sifat-sifat maskulin dalam tata hubungan antara manusia dengan manusia dan lebih-lebih antara manusia dengan alam. Bagi mereka maskulinismelah – dalam artian kulturisasi sifat-sifat maskulin – yang menyebabkan tata hubungan antara manusia dengan manusia dan manusia dengan alam menjadi renggang bahkan terpisah. Oleh karena itu, mereka menyerukan agar pola pandang gagasan feminisme direkonstruksi, yakni tidak memahami gerakan feminisme sebagai upaya mengadopsi nilai-nilai maskulin tetapi lebih diarahkan untuk menonjolkan nilai-nilai feminin.

Lebih jauh mereka menjelaskan bahwa terjadinya diferensiasi atau fragmentasi dari segala sesuatu, baik dalam diri manusia (ruh dan raga), manusia dan manusia maupun manusia dan alam dikarenakan manusia telah begitu memuja “Tuhan Maskulin” (the Father God) dan kurang memuja “Tuhan Feminin” (the Mother God).  Akibatnya manusia mengidentifikasikan dirinya dengan “the Father God” sebagai yang kuasa, aktif, terpisah, independen, jauh dan dominan  (Zimmerman dalam Irene Diamond and Gloria Leman Orienstein, 1990)

  Untuk itulah, agar hubungan di alam semesta ini kembali harmonis, manusia harus memuja “the Mother God”.  Sehingga manusia mengidentifikasikan dirinya sebagai yang lemah, pasif, menyatu, dependen, dekat dan resesif. Sifat-sifat feminin seperti itulah yang senantiasa diulang-ulang dan diperjuangkan oleh aliran eco-feminism, sehingga mereka menganggap bahwa sifat-sifat maskulin atau maskulinisme adalah sesuatu yang selalu berkonotasi negatif. Padahal kalau kita telaah lebih jauh, tak selamanya maskulinisme harus kita tinggalkan. Bagaimana mungkin ovum dapat berproses kalau tidak dibuahi. Bagaimana mungkin bumi (bersifat feminin) bisa subur jika langit (bersifat maskulin) tidak menurunkan hujan. Sehingga amat naif rasanya – setidak-tidaknya menurut penulis – jika kehidupan terlalu timpang pada sisi feminin meskipun terlalu timpang pada sisi maskulin juga bukanlah hal yang bijak. Namun demikian, aliran eco-feminism telah memberi ruang munculnya kesadaran spiritual yang selama sekian abad – semenjak renaisance dan humanisme – terkubur oleh filsafat materialisme.

Kembali pada permasalahan awal mengenai relasi gender, bahwa maskulin dan feminin, bumi dan langit, siang dan malam serta dingin dan panas bukanlah dua hal yang bersifat dikotomis atau terpisah melainkan satu hal yang terpolarisasi. Dus, itulah kesalahan paling fatal yang sering dilakukan oleh para cendikiawan, yakni selalu berfikir dikotomis.

Perlunya Keterpaduan Antara Laki-Laki Sejati dan Perempuan Sejati

Di atas,  telah dijelaskan bahwa tidak selamanya laki-laki berkonotasi positif dan perempuan berkonotasi negatif, serta sebaliknya. Laki-laki (maskulin) mempunyai beberapa kualitas yang antara lain : Pandai, sehat, kuat, pemarah, perusak,dan keras. Maka, laki-laki sejati adalah mereka yang mampu menumbuh-kembangkan kualitas-kualitas maskulin yang positif (pandai, sehat dan kuat) sekaligus menghilangkan kualitas-kualitas maskulin yang negatif (pemarah, perusak dan keras). Demikian halnya dengan perempuan, yang mana mempunyai kualitas-kualitas feminin seperti : bodoh, sakit, lemah, pemaaf, pencipta dan lembut;  untuk menjadi perempuan sejati, dia harus menumbuh-kembangkan kualitas-kualitas feminin yang positif (pemaaf, pencipta dan lembut) sekaligus menghilangkan kualitas-kualitas feminin yang negatif (bodoh, sakit dan lemah). Relasi antara perempuan dengan laki-laki terjadi dalam usaha untuk menghilangkan kualitas-kualitas negatif di antara keduanya, baik yang feminin maupun yang maskulin.

Oleh karena itu, lembaga perkawinan merupakan institusi yang ideal untuk melakukan usaha individu (manusia) dalam menghilangkan kualitas-kualitas maskulin dan/atau feminin yang negatif yang otomatis menumbuh-kembangkan kualitas-kualitas feminin dan/atau maskulin yang positif. Hubungan yang benar di antara keduanya akan menghasilkan sosok manusia mulia yang layak mengemban misi kekhalifahan (kualitas positif maskulin) di muka bumi. Dan jika hal ini terjadi, maka bumi (berkualitas feminin) akan mengeluarkan seluruh kekayaannya yang terpendam secara ridho dan ikhlas tanpa dipaksa-paksa. 

 

                                                                                    A/n Achmad Hidir

                                                                               BNI Pekanbaru - Nangka

 

 

 

Tags

About The Author

Achmad Hidir 9
Kapur Tulis

Achmad Hidir

Peminat masalah sosial

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel

From Achmad Hidir