Article: Ulasan

ads
ads

Ulasan

Jenis Makanan Bergizi Untuk Ibu Hamil Dan Janin Yang Sangat Dianjurkan

Jenis makanan yang wajib di konsumsi ibu hamil harusnya juga di perhatikan

Ulasan

5 Smartphone yang Bisa Dijadikan Power Bank

Tidak sedikit pula orang mencari ponsel dengan kemampuan power bank

Ulasan

5 Mobil Balap dengan Desain Teraneh yang Pernah Ada

Ada mobil balap besutan produsen yang dibuat dengan desain atau tampilan yang aneh

Ulasan

5 Kemungkinan Line-up Manchester United Musim 2016-2017

Kedatangan Jose Mourinho ke Old Trafford langsung mengubah dinamika Manchester United, dia membawa pemain-pemain yang tampak akan mengubah United secara signifikan

Ulasan

5 Aplikasi Android Terbaik untuk Mengedit Video

Instal 5 aplikasi edit video ini di Android Anda untuk kemudahan mengedit video

Ulasan

Kegunaan Agama Bagi Para Pemilik Amarah

Selama berminggu-minggu, Immaculée bersama sejumlah perempuan Tutsi berdesak dalam kamar mandi di rumah pendeta Murinzi, seorang Hutu yang baik. Di sanalah, ia menunda kematian sampai dagingnya tipis dan duduknya kian tidak nyaman sebab tulang pantatnya menekan ke lantai. Tak boleh berisik, berkata-kata akan mengantar mereka kepada maut. Pendeta Murinzi bahkan merahasiakan keberadaan mereka dari keluarganya sendiri. Namun teriakan, percakapan, atau hura-hura Interwhamwe terus terdengar; dan dengan nalar inilah “Yang Tersisa Yang Bercerita” mengambil posisi sastrawinya. Mungkin, demi menangani subyektifitas sekaligus mempertahankan sisi yang emosional pula tak terjebak pada penyampaian yang cenderung mengeksploitasi kengerian. Tentu, sebab kisah seperti ini menjadi bacaan yang selamanya sensitif bagi rakyat Rwanda; seperti halnya Genosida ’65 di Indonesia. Immaculée (bersama Steve Erwin) menulisnya dalam kadar yang pas dan tidak tendensius memihak posisi politis tertentu. Peristiwa-Peristiwa sejak Immaculée terkurung dalam kamar mandi—yang sebagian besar berupa suara bahasa semata-mata, sampai kesaksiannya sendiri dan detail cerita lisan tentang pembantaian; semulai sahabat sampai anggota keluarga (setelah pendeta Murinzi, karena pembantunya berkhianat demi imbalan uang, tak punya pilihan selain mengusir dengan santun dan berat hati sembilan perempuan yang disembunyikannya kemudian membiar mereka menempuh medan kematian menuju barak perlindungan pasukan Perancis di dekat danau Kivu; jarak yang cukup untuk menyaksikan bahwa kejahatan manusia bisa dan telah benar-benar melampaui imaginasi melalui sehampar pemandangan yang begitu ganas—meminjam Afrizal Malna—yang memberi mereka sepasang mata yang untuk pertamakalinya melihat kebenaran), adalah fragmen paling bernilai yang agaknya menggerakkan Immaculéé menulis buku ini; ditata dalam plot tak menyusahkan dan penuturan yang renyah. Dalam keadaan yang manusiawi, saya kira, pembaca akan turut merasakan di bagian mana kesedihan Immaculée mengental dan di bagian mana semestinya mata pembaca wajar bergetah.

Ulasan

Jelang MotoGP Seri ke-9 2016 (Sirkuit Sachsenring Jerman)

MotoGP besok sore akan memasuki seri ke-9, di sirkuit Sachsenring Jerman.

Ulasan

Teroris ISIS VS Teroris Macet

Serangan ini, mengingatkan kita kepada serangan boemi hangoes yang dilakukan pedjoeang kemerdekaan di kota Bandung yang kemudian terkenal menjadi sebutan Bandung Lauan Api. 

Loading…