Panggih, Ritual unik Pernikahan Adat Jawa

9 Jan 2020 12:12 337 Hits 0 Comments Approved by Plimbi
Rangkaian dari awal prosesi hingga akhirnya duduk di pelaminan.

Pernikahan menjadi impian setiap orang .Berbagai konsep pernikahan bisa menjadi pilihan setiap pasangan . Ada  beberapa konsep pernikahan bisa menjadi alternatif pilihan mulai konsep pernikahan modern, internasional, India, Arab  hingga pernikahan adat tradisional.Pernikahan adat tradisional dewasa ini seringkali menjadi salah satu pilihan. Sejumlah alasan memilih konsep pernikahan  adat tradisional mulai ingin pernikahannya berkesan,beda dan menarik.Pernikahan adat tradisional di Indonesia dikenal unik dan bercirikhas menambah kekayaan budaya Indonesia .Setiap daerah memiliki ciri khas masing-masing dengan keunikan dan beragam kebudayaannya .Setiap daerah memiliki adat istiadat sendiri dalam prosesi  pernikahan atau perkawinan salah satu konsep pernikahan yang memiliki penuh sarat akan makna.

Pernikahan adat Jawa seringkali menjadi pilihan banyak orang  untuk merayakan hari bahagianya.Pernikahan adat Jawa yang populer yang seringkali menjadi rujukan adalah pernikahan adat Jawa Yogyakarta. Pernikahan adat Jawa Yogyakarta dikenal memiliki rangkaian yang panjang dan lengkap.Prosesi pernikahan adat Jawa Yogyakarta memang terbilang rumit dan mesti melewati proses yang panjang ,namun model pernikahan adat Jawa seperti ini masih menjadi sorotan dan pilihan bagi masyarakat luas.

Pernikahan adat Jawa terdapat beberapa prosesi yang panjang, selain siraman, midodareni ada juga upacara Panggih. Rangkaian prosesi dalam upacara adat Jawa digelar secara menyeluruh tanpa ada satu pun yang ditinggalkan. Bagi masyarakat Jawa menikah dengan pernikahan adat Jawa lengkap menjadi kebanggaan tersendiri. Pernikahan adat Jawa memiliki sarat makna sehingga tak heran sebagian orang memilih model pernikahan adat Jawa dalam prosesi perkawinannya kelak.Alasan kepraktisan dan tidak ribet dalam melakukan rangkaian pernikahan adat Jawa ,maka pasangan pengantin kerap memotong rangkaian prosesi pernikahan adat Jawa yang panjang dan hanya menjalani sebagian saja  keseluruhan ritual yang semustinya dilakukan.

Panggih merupakan rangkaian dari prosesi adat pernikahan Jawa yang unik dan khas hanya  dijumpai pada adat pernikahan Jawa. Cirikhas yang mencolok dari rangkaian prosesi pernikahan adat Jawa adalah Panggih .Panggih sering disebut upacara Dhaup atau temu merupakan puncak rangkaian prosesi  tradisi upacara perkawinan adat Jawa. Prosesi pernikahan adat Jawa yang jarang dilewatkan adalah upacara Panggih.

Prosesi upacara Panggih dilakukan dari sebelum duduk di pelaminan sampai berada di pelaminan dengan serangkaian upacara adat Jawa yang menarik.Panggih dalam bahasa Jawa berarti bertemu. Panggih dilakukan saat awal mempelai wanita dan pria bertemu setelah sebagai suami-isteri yang menghantarkan mereka hidup berumah tangga. Panggih adalah prosesi pertemuan antara pengantin laki-laki dan pengantin perempuan setelah resmi menikah secara agama yang biasanya dilakukan dirumah mempelai wanita. Mempelai pria datang bersama keluarga besarnya. Ketika itulah menjadi moment yang membahagiakan bagi kedua mempelai pengantin. Rangkaian prosesi Panggih dihadiri oleh para tamu undangan.Serangkaian prosesi ini unik dan lucu seringkali mampu menarik perhatian dan menghibur para tamu undangan.

Prosesi ritual pernikahan adat Jawa dalam Panggih menjadi acara yang sering dinantikan oleh sebagian para tamu undangan dan masyarakat pada umumnya.Adegan-adegan dalam prosesi ritual Panggih diperagakan sedemikian rupa hingga menjadi suatu moment, peristiwa yang penting penuh makna dalam perjalanan hidup bagi kedua mempelai pengantin .Tak jarang moment dan rangkaian  prosesi Panggih diabadikan dalam bentuk photo dan video sebagai dokumentasi.

Panggih terbagi menjadi beberapa bagian penting yang saling berkaitan antara satu dan lainnya tidak bisa dipisahkan

mulai prosesi saling melempar sirih,injak telur,minum parem, gendong manten, tukar kembang mayang dan mapag besan.Rangkaian prosesi Panggih yang menarik  saat penyerahan pisang sanggan atau seserahan. Sanggan merupakan simbolisasi atau saranan untuk menebus pengantin wanita. Sanggan terdiri dari satu tangkep adau dua sisir pisang raja matang , sirih ayu, kembang telon (mawar,melati,kenanga)serta benang lawe.Kesemuanya ditata dalam satu wadah khusus dalam keranjang anyaman. Ketika prosesi seserahan sanggan tiba pembawa sanggan berada di depan rombongan keluarga mempelai pria.

Rangkaian prosesi ritual upacara adat pernikahan dalam Panggih diawali dengan melakukan kegiatan saling melempar sirih antara mempelai pengantin laki-laki dengan mempelai wanita  atau dikenal Balangan sirih atau lempar sirih. Saat prosesi balangan sirih mempelai pengantin wanita berlangsung didampingi pendamping menuju tempat pengantin pria untuk prosesi lempar sirih. Daun sirih yang akan dilempar tidak hanya berupa daun sirih saja ,tetapi gulungan daun sirih tersebut  berisi bunga pinang ,kapur sirih ,gambir dan tembakau hitam yang kemudian digulung sedemikian rupa dan diikat dengan benang putih.

Gantal yang dibawa mempelai pengantin wanita disebut gondhang kasih dan gantal yang dibawa mempelai pengantin pria disebut gondhang tutur.

Ketika ritual lempar sirih berlangsung kedua pengantin saling berhadapan kemudian gulungan daun sirih yang telah disiapkan akan saling dilempar kedua mempelai pengantin ke pasangannya. Dibalik prosesi ini ada makna yang melambangkan pertemuan jodoh antara kedua mempelai yang telah disatukan dalam kasih suci. Melempar gulungan daun sirih merupakan simbol saling melempar cinta diantara keduanya.

Prosesi balangan sirih unik dan menarik tak jarang moment saling lempar suruh ini menimbulkan gelak tawa diantara kedua mempelai .Balangan suruh dalam prosesi Panggih menyimpan makna menjauhkan kedua mempelai dari segala bentuk godaan atau gangguan buruk.Ritual balangan suruh tidak hanya saling melempar gantal, namun dari balik ritual ini kedua mempelai pengantin selalu harmonis terhindar dari marabahaya dan bencana setelah itu dilanjutkan prosesi jabat tangan atau salaman.

Prosesi selanjutnya adalah injak telur atau wiji dadi.Ketika prosesi ini berlangsung pengantin pria melepaskan sandal dan menginjak telur  ayam sampai pecah dengan telapak kaki tanpa alas kaki.Setelah telur pecah kemudian pengantin wanita membasuh dan membersihkan kaki mempelai pengantin pria  dari sisa-sisa pecahan telur sampai bersih dengan menggunakan Ranupada .Ranupada terdiri dari dari gayung ,bokor,baki,bunga setaman dan telur.Prosesi injak telur atau wiji dadi memiliki makna  simbol pengabdian isteri pada suami dalam menjalani bahtera rumah tangga.pengantin pria siap menjadi seorang pemimpin bagi keluarganya dan pengantin wanita siap sebagai seorang isteri yang baik .

Prosesi injak telur tidak sekedar rangkaian acara dalam Panggih ,namun ada makna dibalik ritual yang sarat makna ini.Prosesi injak telur yang dilakukan mempelai pengantin pria ,karena pria yang harus bekerja keras untuk keluarga.Ritual lain yang tak kalah menarik dalam prosesi injak telur dengan kaki telanjang memiliki makna Ia lebih mandiri dan tidak tergantung pada orang lain dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga.Prosesi mempelai pengantin wanita membasuh kaki mempelai pengantin pria memiliki makna seorang isteri harus mengabdi pada suami dengan senang hati.

Prosesi wiji dadi dengan menggunakan ranupada hanya terjadi pada prosesi pernikahan adat Solo atau Surakarta .Prosesi wiji dadi tidak dilakukan pada prosesi pernikahan adat Yogyakarta ,namun menarik pada prosesi pernikahan Yogyakarta prosesi injak telur diganti dengan wiji dadi atau memecah telur kampung oleh Ibu adat .Saat prosesi memecah telur kampung mula-mula telur disentuhkan pada dahi pengantin pria kemudian ranupada akan dipecahkan oleh pemimpin Ibu adat.

Setelah prosesi wiji dadi dilanjutkan dengan berjalannya kedua mempelai pengantin menuju pelaminan dengan jalan berdampingan .Saat berjalan tersebut masing-masing kelingking mempelai saling berpegangan hingga menuju pelaminan  Prosesi Panggih yang menarik lainnya disebut Uben-ubengan.Ritual Ubengan yaitu ritual memutari pengantin laki-laki oleh pengantin wanita sebanyak 3 kali dengan panduan oleh perias .Ritual Ubengan tidak sekedar memutari pengantin laki-laki, namun sebagai simbol perkenalan  pengantin antara pengantin pria dan pengantin wanita.

Dari  ritual ini kedua belah pihak saling memahami kekurangan dan kelebihan masing-masing.Ritual Uben-ubengan tersebut kedua mempelai pengantin dapat memahami karakter pribadi masing-masing . Panggih prosesi pernikahan adat Jawa yang memiliki rangkaian panjang ,namun menarik setiap prosesinya.

Tags

About The Author

Suryatiningsih 33
Ordinary

Suryatiningsih

Penulis adalah Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel