Pola Konsumsi Ritel Berubah

21 Nov 2017 23:37 2821 Hits 0 Comments
Pertumbuhan ritel 2017 memang tidak begitu menggembirakan. Nielsen mencatat selama paruh 2017 penjualan retail hanya tumbuh 3,04 % jauh dari angka tahun lalu di bulan yang sama. Pertumbuhan yang tidak menggembirakan ini semakin membuat publik bertanya-tanya setelah serentetan penutupan gerai - gerai ritel ternama, sebut saja sevel kemudian gerai Matahari di Blok M, publik ramai2 menyebut daya beli turun.

Pertumbuhan ritel 2017 memang tidak begitu menggembirakan. Nielsen mencatat selama paruh 2017 penjualan retail hanya tumbuh 3,04 % jauh dari angka tahun lalu di bulan yang sama. Pertumbuhan yang tidak menggembirakan ini semakin membuat publik bertanya-tanya setelah serentetan penutupan gerai - gerai ritel ternama, sebut saja sevel kemudian gerai Matahari di Blok M, publik ramai2 menyebut daya beli turun.

Pola Konsumsi Ritel Berubah
Banyak pengamat yang meneyubutkan terjadi shifting atau perpindahan belanja offline menjadi online tetapi faktanya omzet bisnis retail online baru 1 % dari total penjualan retail. Pertanyaan tentang apakah daya beli menurun atau tidak mulai sedikit terjawab ketika salah satu pejabat BI menyebut bahwa memang benar daya beli golongan menengah turun, tetapi tidak untuk golongan atas. Pernyataan ini juga di perkuat dengan hasil riset nielsen.

Sebenarnya apa yang terjadi? Nielsen menyebut bahwa ternyata pola belanja ritel sudah mulai berubah, yang tadinya ke supermarket saat ini public lebih suka berbelanja di minimarket, tdak heran jika supermarket hanya tumbuh 0,4 % sedangan minimarket bias naik sampai 4 % bahkan dibeberapa artikel ada yang menyebut hingga 7 %. 

Fenomena ini menarik untuk di cermati. Diperlukan riset dan analisa lebih jauh terkait kemana dana golongan menengah kebawah ini mengalir. Sebuah website penyedia layanan minimarket yang saya baca yaitu minimarketrak menuturkan bahwa sangat mungkin budaya istagram dan naiknya biaya pendidikan mendorong generasi milenial membelanjakan dananya untuk traveling dan memenuhi kebutuhan pendidikan. 

Yang perlu difikirkan juga adalah bagaimana omzet ritel yang sedemikian besar bias dinikmati dengan lebih merata. Sebuah website koperasi mengulas tentang bagaimana persebaran omzet ritel hanya terjadi di beberepa pemilik modal besar. Ambil contoh dengan minimarket misalnya, indo dan alfa mampu membukukan omzet mayoritas hingga hamper 100 T jika di gabungkan, ini adalah angka yang sangat fantastis. 


Perlu adanya regulasi yang lebih adil untuk pelaku ritel kecil terutama toko kelontong atau bahkan pedagang pasar, sehingga omzet ritel tidak hanya di kuasai sepihak oleh para pemilik modal yangs angat besar, caranya adalah dengan bekerjasama antar konsumen


Kedepan sepertiunya budaya belanja di supermarket memang akan semakin turun dan di gantikan oleh belanja di minimarket yang lebih dekat dan cepat. Sebagian dana golongan menengah akan mengalir ke wisata local ataupun kebutuhan eksis di medsos. 
Tulisan ini adalah opini pribadi yang tidak mewakili kepentingan siapapun dan tentu masih dibutuhkan data – data tambahan untuk bias melihat apakah benar gaya belanja generasi milenial berubah tidak seperti pandahulunya yang cenderung lebih suka berbelanja sambal wisata di supermarket, Jika anda memiliki pendapat silahkan tinggalkan komentar 

Tags

About The Author

Agus B 13
Pensil

Agus B

Pengamat dan konsultan ritel yang banyak memberikan analisa perkembangan ritel di Indonesia

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel

From Agus B