5 Fokus Utama Dakwah Santri di Era Digital

15 Nov 2019 10:09 245 Hits 0 Comments Approved by Plimbi
Santri tak hanya mengaji, tetapi juga membangun negeri

Menjadi santri yang melek teknologi sudah seperti wajib di era digital saat ini. Menguasai teknologi digital sudah dianggap standar dan bukan merupakan kelebihan. Yang membedakannya adalah seberapa besar tingkat penguasaan atas teknologi tersebut. Kemampuan apa saja yang mereka miliki di dalamnya.

Seperti banyak hal lainnya, baik buruknya media digital tergantung pada penggunaannya. Penyebarannya yang luas dan kecepatan sampainya informasi yang luar biasa membuat kebaikan bisa menyebar dengan cepat dan mudah. Begitupun sebaliknya, keburukan juga sama. Mereka saling beradu untuk memenangkan pertempuran di dunia maya.

Terdapat 4 poin utama yang patut diperhatikan terkait dengan pemanfaatan media digital, yaitu konten, kemampuan berpikir yang benar, penyebaran informasi, dan kejelasan/fokus.

Saat menggunakan internet kita akan dibanjiri oleh derasnya arus informasi. Jadi, kita harus bisa memilih tidak hanya yang baik dan benar, tetapi juga mana prioritas utama yang mendukung tujuan/kehidupan kita. Jika tidak, fokus kita bisa mudah terpecah. Lalu kita pun akan gagal atau tidak mampu mencapai hasil yang diharapkan.

Sehubungan dengan dakwah santri, 4 poin tadi tetap sama. Kemudian sebagai fokus utamanya terdapat 5 aktivitas yang bisa dipilih, yaitu:

1. Reframing/pembingkaian ulang

Saya tidak tahu apakah ini bisa disamakan dengan ghazwul fikr (perang pemikiran) atau tidak. Yang jelas reframing ini sangat berbahaya dan bagaikan serigala berbulu domba. Di dalam buku “In Search of The Obvious”, Jack Trout dengan terang-terangan mengatakan bahwa dirinya memasarkan Amerika dengan cara reframing, sehingga Amerika bisa menguasai/ikut campur terhadap urusan negara-negara lain seperti Irak, konflik Israel-Palestina, dan sebagainya.

 

Contoh lain dari reframing misalnya:

a. Seks bebas dan kebebasan atas tubuh sendiri,

b. Pacaran tanpa ciuman belum bisa dianggap pacaran, dan sebagainya.

 

Dakwah kita harus bisa diarahkan untuk mengatasi reframing-reframing seperti di atas atau membuat reframing positif.

 

2. Memberikan pelatihan

Beberapa pelatihan bisa diajarkan secara online, baik melalui website, aplikasi, atau media sosial. Bila santrinya sudah kaya/berkecukupan, mereka bisa memberikan pelatihan online gratis, misalnya berupa tahsin, tahfidz, bahasa Arab, pelatihan isi kitab, atau lainnya.

 

3. Memberikan keteladanan/sebagai agen Islam/merek berjalan

Khabib, seorang pegulat muslim yang terkenal pernah berkata, “Orang nonmuslim tidak membaca Al Quran dan Hadits. Maka tunjukkanlah Islam melalui dirimu.” Jadi, setiap muslim merupakan agen Islam atau merek berjalan. Idealnya, jika santri ingin berdakwah tidak sekadar berilmu atau tahu teorinya, tetapi juga menerapkannya secara komprehensif. Apalagi kata-kata tertulis yang salah/buruk selain lebih melekat pada ingatan juga bisa memiliki implikasi hukum. Dakwah santri hendaklah mengutamakan keteladanan; tidak menyerang, menghina, atau menjelekkan; tidak kasar; serta lebih memperhatikan pesan-pesan perdamaian, intonasi, dan isi.

 

4. Program santri mandiri dan memandirikan

Program santri mandiri dan memandirikan bisa berupa startup digital, koperasi digital, jual beli barang dan jasa online, dan sebagainya yang intinya santri yang telah mandiri berusaha memandirikan santri lain yang belum mandiri atau masyarakat umum, terutama sesama muslim. Karena pada kenyataannya, di luar sana banyak tempat atau lapangan pekerjaan yang menyulitkan umat muslim untuk beribadah dengan benar serta merusak/menggerogoti keislaman seseorang. Jadi, program ini sangat membantu.

 

5. Pembuatan media dakwah eksplisit

Misalnya video ceramah, ilmu-ilmu keislaman, pembagian informasi-informasi penting, menggalang aksi sosial, kisah-kisah teladan, melawan hoaks, dan lain-lain.

 

Kerusakan zaman semakin nyata. Tidak hanya tentang gaya pacaran yang semakin bebas dan berani, tetapi juga iklan yang semakin banyak disisipi porno, anak-anak/murid-murid yang semakin berkurang sopan santunnya, dan sebagainya. Banyak orang telah terlepas dari kejelasan hidup, lupa/lalai akan mana yang patut diutamakan. Padahal, Islam sendiri sudah menetapkan 5 hukum untuk memudahkannya, yaitu wajib, sunnah, makruh, mubah, dan haram. Dengan mengutamakan yang wajib dan sunnah maka kita akan menjadi unggul dan lebih banyak manfaatnya. Kemudian bertindak sesuai dengan prioritas terpentingnya terlebih dahulu. Nantinya, dengan sendirinya mereka akan teralihkan dari akun-akun/orang-orang yang buruk/tidak bermanfaat tadi.

 

 

About The Author

Dini Nuris Nuraini 34
Ordinary

Dini Nuris Nuraini

penulis, blogger

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel