Pentingnya Menguasai Bahasa Arab bagi Milenial dan Generasi Z Muslim Indonesia di Era Revolusi Industri 4.0

3 Jul 2020 13:20 2190 Hits 1 Comments Approved by Plimbi

Generasi milenial dan generasi Z muslim Indonesia harus melek bahasa Arab.

Ini alasannya.

Tahukah Anda, baru-baru ini, Perpustakaan Nasional Israel (NLI) membuka akses daring dan gratis terhadap 2.500 lebih manuskrip dan buku langka dari dunia Islam abad ke-9 hingga ke-20 Masehi. Sungguh sumber keilmuan yang sangat berharga, bukan? Sayangnya, manuskrip dan buku langka tersebut berbahasa Arab, Persia, dan Turki. Jadi, bagi mereka yang tidak menguasai ketiga bahasa tersebut akan sulit mendapatkan kemanfaatan darinya.

Itu baru dari Israel, bayangkan bagaimana jika kita bisa mengakses segala ilmu pengetahuan berbahasa Arab dari seluruh dunia, baik mengenai Islam ataupun bukan. Tentu khazanah keilmuan kita akan berkembang pesat, karena selain dapat memperkaya wawasan mengenai peradaban Arab juga dapat memperkaya wawasan mengenai peradaban Islam. Belum lagi manfaat dari hasil interaksi dengan para pengguna bahasa Arab di seluruh dunia, tentu akan semakin memudahkan urusan kita di bidang keagamaan, pendidikan, pekerjaan/karir/bisnis, pariwisata, politik, atau lainnya.

Secara spesifik, bila kita mengaitkan bahasa Arab dengan Islam, maka dengan mendalami bahasa Arab diharapkan umat Islam dapat lebih memahami ajaran agamanya. Masih sering kita jumpai umat Islam yang suka berkomentar buruk atau bahkan melontarkan julukan cebong atau kampret pada saat pemilu. Potret kecil tersebut menunjukkan masih banyaknya orang Islam yang tidak tahu esensi Islamnya, bahwa Islam itu secara harfiyah artinya selamat, tunduk, damai, dan bersih. Maksudnya, Islam adalah agama yang cinta damai, menebarkan kedamaian dan keselamatan, serta membawa keselamatan hidup di dunia dan akhirat.

Dalam revolusi industri 4.0 ini akses ilmu pengetahuan dan informasi semakin terbuka lebar. Hal ini sangat menguntungkan terutama bagi milenial dan generasi Z yang umumnya sudah melek internet. Bagi milenial dan generasi Z muslim juga demikian, agar bisa bersaing mereka dituntut untuk bisa memanfaatkan sistem siber-fisik, internet, komputasi awan, dan komputasi kognitif semaksimal mungkin, kemudian menyaring mana bahan yang benar dan terbaik sesuai kepentingannya.

Peran bahasa internasional sangat penting untuk memuluskan tujuan tersebut, terutama bahasa Inggris dan Arab. Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional utamanya, sementara bahasa Arab sebagai bahasa istimewa bagi umat Islam. Keistimewaan bahasa Arab tersebut bukan karena Arab atau bahasa Arab sama dengan Islam, melainkan karena kitab suci Al Quran dan sumber-sumber rujukan lain dalam Islam umumnya berbahasa Arab. Apabila umat Islam mempelajari bahasa Arab maka akan memudahkan mereka untuk memahami ajaran Islam lalu mengajarkan atau mengamalkannya.

Jangan salah, bahasa Arab telah menjadi bahasa internasional ke-6 dari 22 bahasa negara di seluruh dunia. Ia digunakan sebagai bahasa resmi di 24 negara sekaligus bahasa persatuan bagi umat Islam. Sebanyak 29 negara di dunia menggunakan bahasa Arab secara teratur, dan 22 di antaranya adalah negara Arab. Total terdapat 422 juta orang lebih di dunia yang berbahasa Arab dalam kesehariannya, khususnya di Timur Tengah dan Afrika Utara. Tak hanya itu, bahasa Arab juga telah menjadi salah satu bahasa resmi di Dewan Keamanan Bangsa-Bangsa (DK-PBB) sejak 1 Januari 1974.

Umat Islam sering salah mengira label Islam-lah yang membuat mereka berjaya, padahal tidak. Siapapun yang menerapkan nilai-nilai, prinsip-prinsip, maupun kandungan dalam Al Quran atau sumber-sumber rujukan Islam meskipun bukan orang Islam maka dia juga akan sukses hidupnya.

Masalahnya, umat Islam masih banyak yang malas mempelajari bahasa Arab dan Al Quran serta sumber-sumber keilmuan Islam lainnya, sementara untuk mempelajari agama lain/kitab dan rujukan agama lain pun mereka sudah antipati, dicurigai akan pindah agama, atau prasangka buruk lainnya. Berbeda dengan Jerman, banyak kampus di Jerman yang memunculkan subjek Islam secara ilmiah dan detail, walaupun mayoritas dari mereka non muslim atau bahkan ateis. Sebagaimana diceritakan oleh Dini Alamanda, peserta studi trip Goethe Institut Indonesia bertajuk “Life of Muslims in Germany”. “Orang-orang di Jerman sangat teliti dan ilmiah, berbeda dengan orang-orang Indonesia yang langsung percaya dan menuruti penuh apa kata ustaz,” paparnya.

Nah, muslim di Indonesia jangan mau kalah, harus lebih bersemangat dalam mempelajari bahasa Arab dan Islam. Mereka hendaknya mempelajari Islam secara ilmiah dan detail juga. Bila perlu, pelajarilah Islam secara langsung dari kitab-kitab atau rujukan dari sumber aslinya, dan bukan terjemahannya. Dengan mamahami Islam secara benar, para penganutnya sudah selangkah menuju perbaikan diri yang pada akhirnya menuju pada perbaikan masyarakat dan negara. Para milenial dan generasi Z sebagai generasi yang umumnya sudah melek internet dapat memimpin ke arah perubahan ini. Saya percaya, berawal dari mereka perubahan besar ke arah kebaikan dapat tercipta.

                                                                                                                 

About The Author

Dini Nuris Nuraini 35
Ordinary

Dini Nuris Nuraini

penulis, blogger

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel