article

5 Tips Menulis Ala Tere Liye

5 Tips Menulis Ala Tere Liye

Apakah menjadi penulis tersebut mudah?

Jawabannya jelas: mudah. Tinggal duduk, berpikir, dan menulis.

Namun, di balik kemudahannya, menjadi penulis pun memiliki kendala (tinggal duduk dan mengetik — tapi kendala secara pikiran/mental) yang biasanya memusingkan kepala, terlebih untuk penulis awam atau pemula yang baru terjun ke dunia tulis-menulis.

ads

Tere Liye, pengarang Negeri Para Bedebah dan sejumlah kitab best-seller lainnya punya sebanyak tips mencatat yang layak dikenang — saat beliau memenuhi acara kepenulisan di Pondok Pesantren Baitussalam, Pulerejo, Bokoharjo, Sleman, Yogyakarta, (05/05/2017)

Terlepas apakah anda seorang pengarang yang baru terjun ke dunia tulis-menulis, atau pengarang yang telah menerbitkan tidak sedikit buku, sebanyak tips ini bakal sangat menolong mengembangkan karya tulis yang lebih baik.

1.  Menulis Kalimat Pertama Tak Harus Banyak Berpikir

Bagi pengarang best-seller ini, mencatat kalimat atau paragraf kesatu tak perlu tidak sedikit dipusingkan. Yang sangat penting ialah melanjutkannya, dan sebagai tambahan, hapus kalimat atau paragraf kesatu yang ditulis asal.

“Saya bila menulis di paragraph mula itu asal-asalan saja. Nanti bila sudah jadi sejumlah paragraf panjang, baru saya hapus kalimat kesatu tadi. Ini pernah saya kerjakan dalam mencatat novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu,” ucap Tere Liye.

 

2. Tulis Topik Apa Saja, Asal Sudut Pandangnya Berbeda

Seperti karya-karya hebat pada umumnya, sudut pandang yang menarik dan spesial mestilah diperhatikan. Apabila suatu karya, tergolong sebuah kitab fiksi atau non-fiksi, terlihat sama (umum) seperti banyak sekali buku-buku lainnya, maka tak ada keanehan yang unik perhatian.

“Tema cinta tersebut ada cowoknya dan terdapat ceweknya, kemudian ada orang ketiga, terus berantem. Tapi mengapa sebuah novel jadi istimewa, tidak sedikit pembacanya, bagus, dan dapat best seller? Itu sebab sudut pandang yang menarik dari pengarangnya. Jadi tugas kamu ialah menemukan sudut pandang yang berbeda,” cerah Tere Liye yang disetujui para peserta.

3. Gaya Bahasa Mengikuti Kebiasaan Menulis

Bagi Tere Liye, gaya bahasa pun tak perlu tidak sedikit dipikirkan. Selama anda rajin mencatat secara konsisten, maka gaya bahasa bakal terlatih dengan sendirinya.

“Soal gaya menulis tersebut terbentuk dengan sendirinya, bila rajin menulis. Sedangkan bila untuk menuntaskan sebuah naskah novel, bila memang mentok, bingung mau mencatat apa lagi, ya, telah tuliskan saja di bawah naskah tersebut TAMAT. Selesai telah novel kamu. Novel Hapalan Sholat Delisa pun begitu. Bingung saya inginkan melanjutkan ceritanya saat di halaman 50-an, ya, telah saya ketik saja TAMAT,” ucap Tere Liye menciptakan audiens tertawa.

4. Menulis Perlu “Mengisi Kepala” Terlebih Dahulu

“Sama seperti suatu teko, andai teko tidak terdapat isinya, bagaimana cangkirnya dapat penuh? Tidak bisa! Karena itulah teko mesti terdapat isinya,” kata pengarang best seller tersebut mencontohkan.

Tere Liye menyerahkan tips mencatat soal konten atau materi, yang ilham atau idenya dapat anda ambil dengan membaca tidak sedikit buku dan mengerjakan perjalanan. Bagi anda yang kegemaran traveling seraya membaca, menjadi penulis ialah cita-cita yang luar biasa. Selain menghasilkan karya Anda bisa mendapatkan rupiah dari penulis. Bisa menjadi penulis novel, penulis puisi, atau bahkan buka jasa penulis yang profesional.

Tere Liye pun menambahkan, bahwa dengan bertemu dan mengobrol dengan orang-orang saat dalam perjalanan, bakal menambah ilham dan gagasan tulisan secara tak langsung. Terutama orang-orang arif atau spesial. Karena dengan perjalanan, kita dapat mendapat pengetahuan baru.

5. Terus Menulis, secara Konsisten

Sama laksana tips mencatat pada umumnya, satu-satunya yang meningkatkan kemahiran dalam menulis ialah dengan terus menulis. Tere Liye memperkuat saran ini dengan pengalamannya saat mengikuti seminar, dan memperlihatkan saran konsistensi ini dengan karya-karya best-seller-nya.

“Izinkan saya menuliskan ini untuk kalian semua. Karena saya dulu saat mengikuti seminar menulis, saya tanya pada pengarang itu, bagaimana menjadi seorang pengarang yang hebat? Jawabannya ialah latihan… latihan… dan latihan. Maka kini pun saya katakan lagi pada kalian, latihan… latihan… latihannn,” pesan Tereliye.

Menulis tersebut tampak gampang dari luar. Namun dari dalam, menulis dapat menjadi pekerjaan yang menguras tidak sedikit pikiran. Terlebih untuk penulis pemula, yang pastinya membutuhkan pertolongan lebih tidak sedikit dari mereka yang lebih berpengalaman, tergolong Tere Liye.

0
Comments (0)
Unable to Comment
You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login

No comments yet. Be the first to comment.

From Author
Loading…
ads
ads
ads