6 Film Pendakian Gunung Terbaik Ini Sayang Jika Anda Dilewatkan

11 Feb 2016 09:30 20040 Hits 3 Comments
Film bertemakan pendakian gunung akhir-akhir ini membanjiri industri film di dunia, dan berikut adalah beberapa film pendakian gunung yang sayang jika Anda lewatkan

Anda pengagum film bergenre petualangan dengan latar pendakian gunung dan mengangkat tentang kisa nyata? Mulai dari penjelajahan alam liar, eksplorasi wilayah-wilayah terpencil hingga pendakian gunung yang mendebarkan acap kali membuat kita harus menahan nafas lantaran tegang, ada drama yang menyertai setiap adegan tersebut.

 

Senada seperti trend di Indonesia tentang mendaki gunung dan traveling, film bertemakan gunung baru-baru ini membanjiri industri film dunia, jika Hollywood punya Everest maka industri film korea memiliki Himalayas dan film tersebut menjadi latar yang sangat menarik untuk diangkat kisahnya, K2 Siren of Himalayas dan Meru menjadi film yang sayang jika Anda lewatkan, tak mengherankan jika film terakhir yang disebutkan terpilih menjadi film documenter terbaik dan mendapatkan penghargaan Oscar.

 

Dan kini muncul film yang mengangkat kisah nyata, yaitu Himalayas, film drama petualangan dari Korea Selatan yang dijamin membuat Anda pecinta drama Korea bisa mencucurkan air mata karena kisahnya yang dramatis, tapi beberapa film ini mungkin harus Anda tonton, berikut ulasannya.

 

The Himalayas

Himalayas diangkat dari kisah nyata, Lee Seok-Hoon mengangkat kisah sepasang pendaki Park Moo-Taek (Jung Woo) dan rekannya Park Jung-Bok (Kim In-Kwon) menemukan pendaki gunung legendaris Um Hong-Gil (Hwang Jung-Min) yang ikut mengevakuasi rekannya turun dari puncak Nepal yang tewas.

 

Beberapa tahun kemudian,Um menyusun sebuah timuntuk mendaki Kanchenjunga, gunung tertinggi ketiga di dunia yang terletak di perbatasan India-Nepal, Moo-Taek dan Jung-Bok memohon untuk bergabung dengan tim, tapi itu tidak akan terjadi sebelum pengujian nan ketat dari Hong-Gil terlewati, keberhasilan pendakian itu kemudian menginspirasi keduanya, sementara Hong-Gil harus pensiun dini karena cedera kaki.

 

Tapi sialnya, dalam ekspedisi ke puncak Everest, Moo-Taek mengambil kendali dan menjadi kapten, tetapi tidak berjalan mulus karena mereka tewas karena diterjang badai. Um yang pensiun kemudian menyusun kembali tim untuk melakukan ekspedisi penyelamatan, mengangkat tubuh Moo-Taek dari ‘zona kematian’di atas 26.000 kaki.  Dalam setiap adegan selanjutnya, menjadi aksi yang begitu dramatis, aksi heroik dari Um untuk membawa mayat juniornya sukses membuat pemirsa menguras air mata, film paling dramatis yang mengangkat tentang Everest sebagai impian para pendaki benar-benar tersaji di film ini.

 

Meru

Meru menjadi film bertemakan mendaki gunung menjadi film documenter yang menuai decak kagum, bercerita tentang tiga pendaki profesional yang menghadapi mimpi buruk di masa lalu, Conrad Anker, Jimmy Chin dan Renan Ozturk merupakan tiga pendaki yang telah mendunia karena kemampuan yang mengagumkan. Namun, reputasi ketiganya tak bisa melepaskan dari kegagalan. Adalah tebuing dengan ketinggian empat ribu kaki, yang bernama Shark's Fin membuat ketiga pendaki legendaris itu tak ubahnya menjadi seperti pendaki amatiran.

 

Pada tahun 2008 silam, ketiga pendaki tersebut pernah mencoba melakukan pendakian untuk menalkukkan tebing tersebut. Dengan persiapan yang matang, ketiganya berusaha menambah daftar gunung yang pernah didaki. Perlahan mereka memanjat dinding curam, dengan harapan yang tinggi, ketiganya sudah sampai separuh jalan, tapi seperti yang terjadi dalam film pendakian, kejadian tragis mulai mereka dapatkan, terjadi lonsor salju yang membuat ketiganya tenggelam dalam timbunan saljut berton-ton, kejadian yang terus mengantui mereka.

 

Kini, tiga tahun telah berlalu sejak kejadian itu, Anker bersama kedua sahabatnya siap kembali ke tebing itu, pelajaran dari kegagalan sebelumnya membuat mereka melakukan persiapan yang lebih matang dari sebelumnya, meski bayang-bayang dari kegagalan mereka di beberapa tahun lalu terus membayangi, ketika kejayaan untuk bisa berada di puncak gunung itu sirna seketika terus membayangi, perjuangan tanpa lelah mereka baru akan dimulai.

 

Everest

Everest adalah sebuah film drama-thriller yang dibesut oleh Baltasar Kormakur sedangkan naskah dari film ini ditulis oleh Justin Isbell serta William Nicholson. Film ini diangkat dari kisah nyata di gunung Everest pada tahun 1996.

 

Pada saat itu, badai salju menerjang di gunung yang menjadi impian banyak pendaki itu, kejadian itu menewaskan beberapa pendaki yang sedang melakukan ekspedisi di gunung tertinggi di dunia tersebut. Tantangan yang melampaui batas para pendaki dari terjangan badai salju paling mematikan yang pernah terjadi dalam sejarah umat manusia. Para pendaki mendapatkan ujian untuk menghadapi hambatan yang hampir mustahil sebagai obsesi seumur hidup dan misi ini kemudian berubah menjadi misi untuk bertahan hidup ketika seorang pendaki memaksa untuk terus mendaki hingga puncak.

 

Dalam film ini, memberikan banyak pelajaran kepada para pendaki gunung bahwa setiap pendakian akan selalu mengundang dan mengandung bahaya, dan dari kisah ini kita bisa belajar bahwa setiap perjalanan pendakian, puncak bukanlah segalanya, keselamatan nyara adalah hal yang harus diutamakan.

 

K2 Siren of Himalaya

Meskipun sedikit lebih pendek dari Everest, gunung yang dikenal sebagai K2 disebut gunung paling mematikan, di Everest memiliki resikoyang berbahaya, dari 4559 pendaki yang mencapai puncak, 216 diantaranya tewas, rasio 5%. Sedangkan ke K2 memiliki resikoyang lebih mematikan, dari 302 pendaki yang mencapai puncak, 77 diantaranya tewas, dan memiliki rasio sebesar 25%, artinya dari 4 pendaki satu diantaranya tidak akan pulang. Di film ini kita mendapatkan pelajaran tentang bagaimana membuat detail prosedur pendakian, K2 Siren of Himalaya akan memberikan banyak ilmu pengetahuan kepada kita.

 

Mengabaikan upaya yang dilakukan pada tahun 1903, film ini mengangkat kisah pendakian pada tahun 1909 yang dipimpin oleh Duke dari Abruzzi sebagai ekspedisi besar pertama pada saat itu. Satu grup melakukan perjalanan ke K2 pada tahun 2009 untuk merayakan 100 tahun mencapai puncak gunung tertinggi pertama pada tahun 1909, difilmkan pada tahun 2012, anggotanya termasuk Gerlinde Kaltenbruner, dari National Geographic 2012 ‘Explore of The Year’. Film ini penjadi perjalanan yang didokumentasikan tidak hanya oleh seorang fotografi saja, tapi juga ditulis oleh Filippo De Filippi.

 

The Wildest Dream Conquest of Everest

Tahukan Anda jika bukan Sir Edmund Hilllary dan Tenzing Norgay bukanlah pendaki pertama di dunia yang mencapai puncak Everest? Ya, pada tahun 1924 George Mallory (38) dan Sandy Irivine (22) melakukan ekspedisi besar ke gunung ini dengan nama timThe British Expedition 1924. Dan film ini ini mengangkat tentang sejarah itu.

 

Dengan membawa botol oxygen Asparatus mereka melakukan pendakian, dan setelah dua hari, Odell yang memantau di base camp tertinggi melihat mereka mendaki sisi utara Everest, tapi pandangannya lalu terhalang karena awan dan cuaca yang selalu berubah-ubah, dan itulah saat terakhir mereka terlihathingga akhirnya hilang ditelan salju abadi Everest.

 

75 tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1999, Conrad Anker menemukan tubuh Mallory yang telah membeku, segala bawaan mallory masih ada kecuali foto istrinya yang akan  diletakan di puncak everest bersama dengan Thom Pollard dari Everest Spekers Bureau mencoba memaparkan bukti-bukti kuat yang didapat dari Mallory & Irvine Reaserch Espedition (MIRE 1999) dan meneliti posisi terakhir saat duo pendaki Inggris tersebut hilang, sejumlah geologist, ahli sejarah, pendaki serta Sherpa turut bergabung dalam misi ini.

 

Pada tahun 1924  hati dan pikiran George Mallory terbagi antara gunung dan cinta untuk istrinya Ruth, dan obsesinya akan petualangan besar untuk menjadi manusia pertama yang mencapai puncak Gunung Everest yang tak tersentuh adalah pilihan sulit. Dengan mengenakan gabardin dan memakai sepatu hobnailed, Mallory mempertaruhkan segalanya dalam mengejar mimpinya.

 

The North Face

Beberapa orang mengatakan ini adalah salah satu film pendakian terbaik sepanjang masa. Mengambil latar kala Eropa masih dikuasai Nazi, film ini bercerita tentang dua orang pendaki yang sangat ambisius, Max Mehringer dan KarlSedmayer, meski dengan teknik dan peralatan yang terbatas, mereka bertekad menaklukkan Eiger dari sisi utara, jalur yang dianggap mematikan dan paling ekstrim.

 

Hal yang ironis terjadi di film ini, di saat orang-orang berpesta di basecampe pendakian untuk merayakan keberanian mereka untuk mendaki, ternyata mereka berdua justru tewas dalam usaha pendakian tersebut.

 

Film ini dibuat berdasarkan kisah nyata dan menyedot perhatian di kalangan pendaki serta pecinta olahraga ekstrim. Bahkan sampai beradar kalimat yang begitu melegenda di kalangan pendaki benua biru:” The first men to summit will be celebrated as Olympic heroes”, and so the battles cry echoes through Europe: Attack the Eiger North Face!!!

 

Ketegangan mulai terjadi mana kala keempat orang tersebut sudah tiba di tengah-tengah gunung. Udara yang tidak bersahabat, Edi yang kakinya terluka setelah terjepit bebatuan gunung, serta peralatan yang sangat minim, menyebabkan satu persatu dari mereka tewas.

 

Hingga akhirnya Toni menjadi satu-satunya pendaki yang tersisa, setelah tergantung selama 24 jam serta dihempas badai salju yang luar biasa dasyat. Ketika akan ditolong, tim penolong tidak membawa tali yang cukup panjang. Akibatnya Toni tidak bisa diselamatkan dan dia hanya bisa tergantung beberapa meter saja di atas para penolongnya. Tidak ada orang yang bisa melakukan apapun selain melihat Toni yang sekarat mati perlahan-lahan.

 

 

Bagaimana, menegangkan bukan? Lagi-lagi mendaki gunung bukan soal untuk mencapai puncak, tetapi inti dari perjalanan itu adalah kembali dengan selamat. Dan apakah deretan film di atas menjadi salah satu favorit Anda? Atau Anda memiliki film favorit lainnya?

Gambar via trailers.apple.com

Tags

About The Author

Nana 45
Ordinary

Nana

Karena, menulis itu menyenangkan...

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel