Asus PadFone 2 berjalan dengan prosesor quad-core Qualcomm Snapdragon S4 dengan kecepatan 1,5GHz. Dia juga didukung RAM 2GB yang sangat membantu perangkat ini dalam multitasking. Dengan Andreno 320 GPU, grafik sangat berjalan mulus dan menampilkan kualitas tampilan yang lebih tajam.
Ketika Paseban melakukan uji coba ke game GP Reptide, perangkat ini bisa menjalankan dengan mulus. Begitu juga dengan game Asphallt 8 dan FIFA 14. Di game N.O.V.A 3 Near Orbit, game ini masih menjalankannya hampir perfect tetapi sedikit lag ketika ada video pertama. Namun secara keseluruhan PadFone 2 memiliki ketangguhan dalam menjalankan game-game besar. Dalam menjalankan game-game yang dinilai orang banyak sebagai game berat, di tabletnya PadFone 2 juga masih tangguh, hampir sama tangguhnya dengan handphonenya.
Hanya saja kita akan menemukan sedikit lag yang hanya bisa Anda lihat ketika diperhatikan dengan seksama saat slow-motion di GP Reptide dan ketika mengalihkan pandangan dengan cepat di N.O.V.A 3. Tetapi tidak akan sampai menghalangi kenikmatan Anda bermain game. Asus PadFone 2 memberikan kualitas yang sangat bagus di sisi grafik dan multitasking. Walau banyak aplikasi yang berjalan di background, PadFone tetap bisa menjalankan fungsi-fungsi fitur aplikasi lain dengan baik bahkan juga bermain game. Dibawah, video saat Paseban menguji Game N.O.V.A 3 dan FIFA 14 di PadFone 2.
Kemampuan lainnya dari PadFone 2 adalah ketika memutar video beresolusi besar. Ketika uji coba, paseban memutar film Monster University dengan resolusi 720p dengan format .mkv. Dijalankan dengan baik oleh PadFone 2. Tetapi kita butuh aplikasi pemutar video yang tepat. Ketika Paseban mencobanya, menggunakan aplikasi DicePlay, aplikasi yang bisa di andalkan menjalankan format video .mkv. sebelumnya, Paseban mencobanya dengan aplikasi bawaan dan beberapa aplikasi lain yang gratis tetapi video tidak dapat diputar dengan baik. Terkadang ketika momen dimana gambar sudah mulai kompleks, cepat dan banyak benda video agak lag. Tetapi dengan DicePlay tidak terjadi lag sama sekali. Sama ketika uji coba dengan OpenGL 2.0 AnTuTu, di sini PadFone 2 memang agak kwalahan me-render video 3D. Video agak lag dan menjadi lebih parah ketika pergerakan kamera lebih cepat. Ini juga terjadi di video pada game N.O.V.A. 3 tetapi tidak sebanyak OpenGL 2.0 AnTuTu.
Berikut hasil benchmark Paseban dengan AnTuTu
Asus PadFone 2 berada satu tingkat lebih tinggi dari Google Nexus 10 dan di bawah Sony Xperia Z. Bila dibandingkan dengan Sony Xperia Z sebenarnya tidak jauh berbeda, PadFOne 2 kalah di 3D Graphics dan multitasking. Sony Experia Z menggunakan chipset yang lebih baru dari PadFone 2, Qualcomm MDM9215M / APQ8064. Sedangkan PadFone 2 menggunakan MDM215m/APQ8064. Ini salah satu faktor yang membuat Sony Experia Z mampu menggenjot resolusinya hingga 1080 x 1920 pixels di layarnya yang 5 inci.
3DMark
hanya saja pada tes Ice Storm Unlimited, PadFone 2 tidak bisa me-render video yang disajikan 3DMark. yang lain dijalankan dengan mulus walau beberapa bagian agak lag seperti, pada test Physics dan ketika aksi kejar-kejaran pesawat tempur dengan robot yang memang gerakannya sangat cepat.
Sedikit kembali kemasalah disain, bezel-nya yang terbuat dari campuran logam dan bagian belakang body dari campuran alumunium membuat handphone ini terasa panas bila bermain dalam waktu yang cukup lama. Bermain GP Reptide selama 30 menit cukup membuat tangan Anda kurang nyaman karena panas yang ditimbulkan. Menonton video 1 jam juga akan menimbulkan rasa panas yang sama, apalagi dengan resolusi yang tinggi. Memang ini agak mengganggu, tetapi bila Anda pasangkan ke tabletnya, panas itu tidak akan terasa lagi. Hilang? Tidak. Body tabletnya yang terbuat dari pelastik tidak menghantarkan panas yang dihasilkan perangkat. Semua perangkat elektronik akan menghasilkan panas yang besar, terutama prosesor.
Ada keuntungan dan kekurangan dari "panas dan tidak panas" ini. Bila boby dibuat dari bahan yang menghantarkan panas dengan baik maka panas yang dihasilkan oleh perangkat tersalurkan keluar wlau tidak begitu banyak. Namun Anda akan tidak nyaman memegangnya. Karena perangkat Anda panas maka Anda seharusnya tahu harus mendinginkannya dahulu (jangan memaksa). Bila perangkat yang tidak panas alias bahannya didominasi pelastik, body tidak akan terlalu panas. Anda nyaman menggunakannya dalam waktu yang lama sekalipun. Tetapi harus diingat kembali, perangkat Anda tetap menghasilkan panas yang luar biasa tetapi tidak Anda rasakan. Karena itu, dengan senag hati Anda terus bermain. Salah satu cara yang cukup banyak digunakan pada laptop saat ini adalah mode lapis. Palmrest pada laptop tetap dibuat dari bahan yang menghantarkan panas tetapi kemudian dilapisi lagi dengan bahan yang mudah meredam panas. Alhasil, panas terhantarkan keluar dari laptop dan tangan kita tidak akan “terbakar”.
Paseban masih akan mereview tentang Asus Padfone 2 ini, tunggu artikel selanjutnya. [RIC]






Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.