
Insomnina.
Jangan gunakan kalimat tanya.
Hanya judul, mungkin anemia: salah ketik, lalu amnesia.
Â
Selamat merefleksikan diri anda dalam rayuan kesesatan nina bobo dan kebingungan yang membingungkan Tuhuk Ma'arit selama Mei-Juni 2013
Â
Datar Isi:
⇒ Kata Pengantar
⇒ Daftar Isi
⇒ Info Sekilas
⇒ #1 Kehilanganmu
⇒ #2 Insomnina
⇒ #3 Mencari Pisau Inggris
⇒ #4 Peter Pan Pun
⇒ #5 Disuruh Berenang
⇒ #6 Semoga Terlelap
⇒ #7 Buka Pintunya Lain Kali
⇒ #8 Jangan Ganggu Nanti Nanti Malam
⇒ #9 Jalan-jalan Jangan Jauh-jauh
⇒ #10 Sapi Perkasa
⇒ #11 Suka Suka-suka Sesukanya
⇒ #12 Bu tidak Bertanya
⇒ #13 Jualan Eng
⇒ #14 Oi
⇒ #15 Sisa Kenangan Seperempat Abad yang Entah Kenapa Lenyap Begitu Saja
⇒ #16 Mari Insomnina
⇒ #17 Seakan Aku Pernah
⇒ #18 Memahami Teman
⇒ #19 Ritma Dunia
⇒ #20 Bukan Tak Mau Tapi Enggan
⇒ #21 Amanat Pembina Upacara
⇒ #22 Dirantai Orang
⇒ #23 Saat Merindukanmu
⇒ #24 Aku bohong berkata cinta, dusta berkata rela, aku sabar tapi berpura, aku munafik tapi diam
Â
Info Sekilas
1. Anda boleh menyanyikan lagu nina-bobo pada saat anda membacanya (boleh dalam hati)
2. Demi menghemat waktu dan kuota anda (bagi yang belum tahu), lakukan ini untuk melompat halaman, ganti angka pada:

dengan angka yang mewakili halaman yang ingin dituju (misal pada gambar di bawah tujuannya adalah pergi ke halaman 7), kemudian enter (ingat, enter, bukan entar).

3. Info #1 di atas adalah info sesat, abaikan saja.
4. Berikan waktu anda untuk meninggalkan komentar, konstruktif maupun dekstruktif, saya siap membaca setiap kritikan, hujatan, dan makian (siap karena sudah terbiasa dengan ketiga hal tersebut, bruakak).
Selamat menikhidup.
#1
Kehilanganmu
Di sini, buat halaman baru, lalu lima ketukan spasi, enternya ditekan terus. Terus, sampai halaman baru.
Apa itu?
Judul laguku.
Padahal tinggal masukkan halaman kosong. Jangan! Nanti halamanku kosong. Biarlah isinya spasi. Spasi bukan kosong. Kau akan segera tahu bahwa banyak huruf berwarna putih di kertas putih.
Â
#2
Insomnina
Dia kepulan di ranjangku, berderit-derit saja kepulan itu mengalahkan bisingnya ranjangku yang kehabisan minyak. Jemarinya celingukan mencari asbak. Taruh saja di sana.
Lalu foto-foto itu berayun minta dicium. Betina yang membuatku amnesia. Kenapa lagi setiap malam?
Kereta api jatuh di belukar, kereta kosong: hanya apinya yang membakar. Jika saja api itu mengeringkan luka.
Lalu kalender melompat jauh. Jauh. Jauh.
Betina telah lama jadi sipir penjara: tatapan bengis.
Ampuni aku, ampuni aku. Betina tak bergeming.
Kepulan di ranjangku tak mau surut, masih duduk manis merayu, bibirnya basah dalam remang. Lampuku tak sanggup menyala lagi sejak lama, aku tahu bibirnya basah.
Â
Aku menunggu kereta.
Satu domba, dua domba, tiga domba.
Kepulan di ranjangku mulai bernyanyi dalam remang. Merayu.
Satu nina, dua nina, tiga nina.
Â
Aku meraih panci dalam remang. Membantingnya.
Ampuni aku, ampuni aku.
Satu nina, dua nina, tiga nina.
Betina tak bergeming…
…Ampuni aku, ampuni aku.
Â
#3
Mencari Pisau Inggris
Aku mencari, pisau Inggris buntung yang berganti kelima jarinya, diamputasi kedua jari depannya. Seperti berlutut Inggris yang hilang dua jari depannya juga; lalu berganti menjadi belut, tentu saja belut, Inggris.
Pisau buntung tanpa kepala harus punya kepala, pisau yang ku cari berkepala apa dan di mana, seperti kepala apa yang tanpa kepala menjadi topi, seperti kepala di mana yang tanpa kepala menjadi di sini, sehingga genaplah keempat jari pisau yang ku cari. Di mana Inggris? padahal masih Inggris.
Mencari tentu karena butuh, seperti setetes air yang tidak menjadi hujan jika sanak kerabatnya enggan kepala kawan Inggris ditambah semua Inggris.
Mengapa butuh karena burung harus punya pisau, seperti pisau yang ku cari. Mengapa tidak ada Inggris? Berarti di sini Kita.
Jika ketemu tentu genap empat jarinya menjadi lima dengan diriku. Pisau yang ku cari butuh aku. Agar ganjil tapi sempurna. Siapa peduli genap jika tidak sempurna. Harus Kita.
Di mana?
Kau akan menemukannya di tahu. Bukan tahu perahan kedelai, tapi tahu apa itu keledai agar tidak keledai, lalu Inggris. Kau akan menemukannya di tahu. Tapi bukan tahu Kita. Tahu Inggris.
Aku mencarinya, terserah.
O tidak ada di tahu, Inggris.
Kau menemukannya?
Aku masih mencari, pisau, bukan yang memotong, bukan yang membelah, bukan yang menusuk, bukan yang menikam.
Aku masih mencari, pisau bait satu yaitu pisau bait dua, bait bukan Inggris! Tapi bait Kita.
Kau menemukan yang kau cari? Kau menemukan yang ku cari? Kau dan aku mencari dua hal yang berbeda. Aku tahu yang kau cari, carilah di tahu, Inggris.
Kau tahu apa yang ku cari?
Kau tahu jika diberitahu; O tidak ada di tahu Inggris. Jika menemukannya buang saja. Agar kau tahu, terserah. Aku ingin kau tahu, terserah.
Aku masih sibuk mencari, pisau tiga jari, karena sama dua jari dengan tahu, lalu jadi genap dengan kepala memakai ekor tahu Inggris.
Seperti mau Inggris, jika tanpa kepala jadi semut, tentu semut Inggris. Kepala mau itulah kepala pisau yang ku cari. Jika semut Inggris memakai kepala itu jadi mau, jika pisau buntung Inggris memakai kepala itu jadi yang ku cari.
Yang pertama ganda kamu dalam Inggris, kepala mau, kepala apa, kepala di mana.
Ganda kamu dalam Inggris, ekor tahu.
Itu kita Inggris. Bukan kita Kita, tapi kita Inggris.
Itu kepala koma kita Inggris! Bukan kepala kita koma Inggris! Tapi kepalanya kita!
Jadi, kita Inggris kepalanya ganda kamu dalam Inggris.
Yang kedua di kunci Kita, bukan kunci Inggris, tapi Kita! Kuncinya Kita! Kita bukan Inggris!
Hampir kawin Kita tapi bukan kawin Kita yang ku cari tapi ada di kawin Kita.
Aku mencari pisau Inggris buntung seperti kepala dan ekor kawan Kita yang diamputasi, diganti dengan yang ada di dada kawan agar punya kepala
Di kawan Kita dan di tahu Inggris.
Pasti bukan tempe, bukan teman tempe, bukan suami tempe, bukan saudara tempe, maka bukan perahan kedele.
Kau tahu tahu-tahu itu tahu-tahu jadi tahu. Ada di tahu itu tapi bukan tahu itu.
Tahu yang mana?
Tahu yang: tahu pisau yang tidak memotong, tidak membelah, tidak menusuk, tidak menikam.
Aku tidak mencari tahu, tapi pisau.
Yang sederhana,
tidak mengamputasi,
tidak aborsi,
tidak bunuh diri.
#4
Peter Pan Pun
Astaga!
Setiap hari.
Menunggu cerita yang berita, tapi lalu kecewa.
Si anu mengajak bermain, si anu yang lain mengajak bermain, hidup main-main.
Peter pan pun menua.
Jadi, mana kejutan yang lain?
Besok hari kiamat,
nanti malam bumi meledak.
Setiap hari.
Astaga!
Â
#5
Disuruh Berenang
Kucurannya sampai ke dada, berai-berai yang piknik bersama ketombe, lalu komedo, lalu jerawat, menjadi kapal-kapal yang hanyut.
Aku gelisah, takut jika para penumpangnya melempar nakhoda. Padahal sekoci sudah dijual di swalayan dan minimarket.
Ku tatap langit, hei! Tatap aku! Tak ada satupun yang jatuh. Tapi kenapa hangat? Padahal kompor masih tertidur, tapi kenapa hangat?
Gelas-gelas berdenting kehausan. Mari tuang lagi, teman. Botolku masih penuh. Padahal kucurannya sampai ke dada.
Aku gelisah, gelas-gelas terlalu banyak minum. Nanti mereka kehausan.
Ku tatap lagi langit, hei! Gantian donk!
Langit menuang botolnya, kucurannya sampai ke tanah. Hebat betul. Kucuranku hanya sampai ke dada.
Tidak, hanya dingin lalu desau, lalu beku.
Aku gelisah. Ku tuang lagi botolku, kucurannya hanyut, tapi kenapa hangat? Siapa yang merebusnya tadi subuh?
Gelas-gelas kehausan. Bergelimpangan di meja makan.
Ku tatap lagi langit, hei! Cukup! Nanti gelas-gelasku kedinginan! Nanti mereka tergenang!
Aku gelisah, langit telah naik terlalu tinggi, suaraku tenggelam oleh raungan eskalatornya yang terus menanjak, padahal dia masih menuang botolnya.
Tidak hanya dingin, desau, beku. Ketukan-ketukan di dinding dan pintu.
Selimut yang menggigil. Kapal-kapal hanyut sampai ke bantal…
Â
#6
Semoga Terlelap
Aku mengantuk.
Ingin tidur, daritadi terus duduk.
Ku tatap lagi secangkir kopi tumbuk yang sudah diaduk.
Bismillah, ku pejamkan mata dan ku reguk.
Â
#7
Buka Pintunya Lain Kali
Sore itu kita bermain layang-layang.
Langit cerah, angin bertiup, layar terkembang.
Naikkan jangkarnya, sayang. Layang-layang ingin terbang.
Â
Gulung benangnya, sayang.
Langit cerah, tapi angin terlalu kencang.
Kepalamu dalam kulkas, telingamu gelap tak mau terang.
Â
Penyesalan tertinggalkan.
Layang-layang putus di atas awan.
Itukah yang kau inginkan? sangkut di pepohonan?
Â
Sore ini langit secerah sore itu.
Layang-layang dulu telah berbulan madu.
nanti akan ada yang berlari-lari dan memanggilnya ibu.
Â
#8
Jangan Ganggu Nanti Nanti Malam
Nanti ada yang marah.
Tunggulah, nanti malam.
Siapkan ini, siapkan itu, buat nanti malam.
Cepat-cepat, sudah sore, nanti keburu malam.
Nanti lama sekali ke mana saja, nanti malam.
Nanti malam-malam Nanti mau marah-marah nanti malam.
Jangan ganggu.
Nanti marah.
Jangan bilang ibu.
Nanti ibu tanya kenapa Nanti malam-malam marah-marah nanti malam
Jangan tunggu Nanti nanti-nanti, nanti Nanti marah.
Jangan ganggu-ibu-lagi tidur.
Nanti saja. Biar Nanti saja yang nanti bilang.
Ayo. Tapi jangan berisik, nanti ketahuan Nanti.
Â
#9
Jalan-jalan Jangan Jauh-jauh
Mau kemana? Kenapa jauh-jauh? Kita sudah sampai. Rekreasi hari ini ke kebun binatang. Tidak perlu mandi dan berganti baju. Kita sudah sampai. Dekatlah kemari, jangan jauh-jauh. Kalau jalan hati-hati, nanti diterkam macan.
O…yang di kandang itu namanya tikus. Yang belum dikandang lebih banyak lagi, makanya kalau jalan hati-hati, nanti digigit tikus.
Nah… yang diikat itu namanya monyet. Yang belum diikat lebih banyak lagi, makanya kalau jalan hati-hati, nanti digigit monyet.
Betul, yang di lantai itu namanya anjing. Yang belum dirantai lebih banyak lagi, makanya kalau jalan hati-hati, nanti digigit anjing.
Kalau yang itu lebih hebat lagi. Dia pintar menggigit. Bisa jadi tikus. Bisa jadi monyet . Bisa jadi anjing.
Makanya kalau jalan hati-hati. Kamu belum tikus, belum monyet, belum anjing.
Kita hanya rekreasi. Kenapa jauh-jauh? Kita sudah sampai. Tapi jangan jauh-jauh, nanti dibawa setan.
Â
#10
Sapi Perkasa
Mendongeng lagi, malam tadi Putri Salju, malam ini Putri Salju, malam besok Putri Salju; cerita-cerita yang ku takuti. Setiap malam.
Lusa papa mogok kerja, kalau boleh juga mogok cerita. Tapi jangan mogok makan, sayang. Kasihan nasinya nanti kekenyangan. Tapi jangan mogok tidur, sayang. Kasihan bantalnya nanti ketiduran.
Mendongeng lagi, lalu kamu papa cium. Jangan erat-erat peluknya, sayang. Nanti papa ingat mama kamu. Nanti kamu ingat mama kamu. Nanti kamu mirip mama kamu. Mirip papa saja.
Lusa kita banyak waktu seharian, sejak kamu lahir gaji belum dibayar. Bagus juga jika kita sehari jalan-jalan.
Kenapa kamu belum tidur? Papa baik-baik saja. Papa tidak nangis. Papa hanya usap lipstik dan bedak. Papa tahu kamu lihat mama sering datang marah-marah. Papa tahu kamu lihat mama sering pukul papa tendang-tendang. Tapi papa kuat sayang. Papa tidak sakit. Papa tidak nangis. Kamu jangan nangis.
Mendongeng lagi, sampai anakku tidur. Banyak paku di paru-paru.
Dia datang. Menengok sapi, memerah lagi.
Dia minta lagi. Ditampar lagi, memerah lagi.
Dia pergi. Tapi minta lebih, hartaku, diambilnya besok hari. Bagaimana jika hartaku jangan menjelma sapi?
Sayang, bangun. Papa bawa minuman. Supaya jadi Putri Salju. Supaya kita tidur. Menunggu pangeran tampan yang mencium.
Mendongeng lagi, tapi terakhir kali, tentang sapi perkasa.
Â
#11
Suka Suka-suka Sesukanya
Hobinya main bola, tendang sana, tendang sini.
Bagus, cita-cita piala dunia. Amin.
Â
Hobinya suka-suka, suka sana, suka sini.
Bagus, cita-cita suka-suka. Amin.
Â
Hobinya main potong, potong sana, potong sini.
Bagus, cita-cita potong bebek angsa. Amin.
Â
Hobinya main-main, main sana, main sini.
Bagus, cita-cita main-main. Amin.
Â
Hobinya bola pimpong, oper sana, oper sini.
Bagus, cita-cita oper-oper. Amin.
Â
Generasi olahraga, generasi sehat, generasi suka suka-suka.
Â
#12
Bu tidak Bertanya
Maaf Bu, dia meracuniku;
Itu hanya lukisan.
Telingaku sampai berdarah.
Â
Maaf Bu, jika tidak asli berarti palsu
Belum, hampir, atau, kemungkinan.
Metamorfosa, tidak lagi rupiah.
Â
Bu
Dengarkan
Dia si Botak
Â
Tidak ada lagi anjing menggonggong di pagi buta depan rumahku sudah seminggu.
aku kenal sesuatu yang menggorengnya dalam jamban
Lalu berak.
Â
Maaf tapi terimakasih Bu.
Dia merampok meja kerjaku, membakar kamar mandiku, mencukur mata-telinga-lidahku, menyeretku ke jalan.
Aku sempat menoleh, pulang atau menggapai krim es hangat coklat plastik ayam goreng tepung yang berenang di ujung sana, bersinar seperti batu di atas monitor yang menempel di dada saat kemarau berlari-larian di punggung lembu yang tersesat, ku dengar kau katakan tidak.
Â
#13
Jualan Eng
Cuma ini cuma-cuma
Sisanya harus beli
Â
Cuma-cuma mudah
Tinggal diam lalu pasrah
Mengapa beli harus?
Semua-harus-susah
Â
Mengapa beli?
Beli-susah!
Beli atu tajam, beli ati melukai
Beli Eng
Â
Dilarang mengatakan jangan!
Sisanya diam-diam beli
Â
#14
Oi
Oi, muliakan orang mulia
Mereka memberi makan orang lapar
Aku pun
memberi, makan orang, lapar
Â
Memuliakan orang, tapi juga binatang
Memberikan makan, tapi tertidur
Makan orang lapar makan orang lapar makan orang
sampai lapar
Â
Oi, hormati orang terhormat
Mereka memberi minum orang haus
Aku pun
memberi, minum orang, haus
Â
Menghormati orang, tapi juga binatang
Memberi minum, tapi terlelap
Minum orang haus minum orang haus minum orang
sampai haus
Â
Oi
Bangun!
Â
#15
Sisa Kenangan Seperempat Abad yang Entah Kenapa Lenyap Begitu Saja
Aku menyusuri tembok, kawat demi kawat. Belum ada yang berubah. Kami masih mengunyahnya. Pelan-pelan, lalu merambat ke dinding lainnnya.
Aku tertatih juga. Hujan membuat mata pedih, ada garam disana, membasahi mata yang luka. Kami masih mereguknya. Pelan-pelan, lalu merayap ke pintu lainnnya.
Aku berteduh pula. Bayang-bayang keringat dan embun. Debu-debu. Pelan-pelan, lalu ditumpuk dalam tanah tak bernama.
Aku termenung seperempat abad yang lalu, tanah demi tanah. Kami masih menggigil, tetap menggalinya. Pelan-pelan, lalu merangkak dari kawat ke kawat. Lagi. Rotasi dan metrum. Hingga bersua tanah tak bernama.
Aku termenung seperempat abad kemudian.
Aku belum dilahirkan.
Â
#16
Mari Insomnina
Ada yang mengetuk pintu
Saat itu anak-anak berbaju rapi, ada sarang-sarang kepompong di perut mereka.
Saat itu anak-anak memakai topi, ada jerigen-jerigen kosong di kepala mereka.
Saat itu anak-anak berkalung dasi, ada singa-singa ompong di dada mereka.
Dia melongok dari jendela
O, hanya Insomnina
Â
Insomnina mulai menggedor pintu
Kunci laci-laci
Terkadang rantai dan gembok tidak melindungi.
Silahkan masuk, Insomnina.
Â
Insomnina meringkuk beku
Ribuan kilometer dari pintu
Tak punya tangan tuk merangkak
Matanya jatuh
Â
Aku aman dalam gelap, bersama weker, sajadah, tulangku, tubuhku.
Dia menyimpannya dengan rapi.
Terkadang lantai dan tembok tidak melindungi.
Mari Insomnina
Mataku tertusuk tiang bendera
Â
#17
Seakan Aku Pernah
Senja dimulai pagi itu dengan ceria.
Bunga-bunga bermekaran diselimuti nyenyak dalam bantal,
Ada juga obat nyamuk, obat malaria, obat anemia.
Â
Lembu terus berpacu di arlojiku yang menempel di dindingku.
Senja hendak beranjak, matahari telah menanjak,
Aku rindu anjing yang menggonggong.
Â
Dapurku disinari matahari;
di sana pernah berserakan kekecewaan yang tega membanting gelas dan piring,
kini terbaring di bak sampah.
Â
Aku merenung hingga ayam berkokok, matahari tenggelam.
Saatnya tidur, Insomnina membanting ranjang.
Â
#18
Memahami Teman
Seorang teman menatap apel di atas meja. Aku mengerti arti tatapannya, lalu memberinya pisau. Dia mulai mengupasnya sambil terus melirikku. Aku tidak mengerti arti lirikannya.
Â
Seorang teman membanting pisau-ku.
Gila susah betul. Menggiurkan tapi kulitnya bencana.
Makan saja bersama kulitnya.
Aku memimpikan apel tanpa kulit.
Kamu akan menyesal saat apel-mu jatuh ke lumpur.
Aku tidak memakan yang telah jatuh.
Kamu akan merindukan seni mengupas jika hidup di antara apel-apel tak berkulit.
Aku sudah mati sebelum berbakat andai itu memang seni.
Aku terdiam.
Â
Seorang teman terdiam.
Kulit apel juga terdiam, teronggok di lantai, berdarah, darah-seorang teman.
Seperti hidup. Solusi melukai jika terlalu tajam, tak berguna jika terlalu tumpul. Sebagian orang menelan dunia, bersama kulitnya, bersama darahnya, bersama pisaunya. Kadangkala kulit apel berlapis-lapis, terkadang isinya kulit melulu-kulit melulu. Aku menanam apel, siapa tahu ada yang memakannya. Aku mendalami seni mengupas tapi tidak mengamalkannya. Seharusnya aku mengerti arti lirikan-seorang teman.
Â
#19
Ritma Dunia
Jemariku masih ingain menari
-kan nada otakku yang terus berlari.
Sedang batukku menghempaskan lagu.
Â
Udara yang gatal menggaruk tenggorokanku tak henti.
Sedang asap tebal menghiasi kamarku yang berdebu.
Sedang rokok dan pena masih bertengkar di jemari.
Â
Tidurku yang putus asa, payah, tak berdaya.
Dikekang di kekang kalender dan jam dinding.
Sedangkan uang dan waktu tak pernah bergeming.
Â
Cinta O cinta
Kapan tidur kapan bekerja kapan tetap hidup
Celaka kau hatiku satu tak seimbang dengan dua mata
Â
Perahuku terjebak dalam pusaran dilema.
Jari manisku telah lelah menunggu dan bertanya.
Sedang kau tidak berpangku hati.
Â
Meteran dan timbangan
Cinta
Kita
Berbeda.
Â
#20
Bukan Tak Mau Tapi Enggan
Aku menggenggam pasir lalu membiarkannya berjatuhan, sungguh lebih kejam dari biadab.
Polisi menahanku agar anjing-anjing tidak berlompatan dari mulutku. Apa salah anjing, apa salah, anjing.
Aku merana pohonku tak bertelur kambing, tidak sapi, tidak kucing, ember saja, lalu pecahkan!
Polisi menahanku agar pantat-pantat tidak bertunggingan ke tengah jalan, bisa saja tukang ojek menabraknya lalu menggiringnya ke rumah duka ke rumah sakit ke rumah makan. Bisa saja. Terimakasih polisi.
Ke rumah makan, di sanalah.
Mana rumah, jika ada mana makan, jika ada mana aku.
Aku menggenggam pasir, pulang, nanti ku taburkan ke rekening-rekening listrik, ke kartu-kartu kredit, ke album-album foto, ke pigura-pigura, ke cermin.
Siapa yang membiarkanku berjatuhan saat aku menggenggam di dalam genggaman?
Cermin itu lebih kejam dari biadab. Bedebah saja yang ada di sana, berguling-guling minta pecahkan.
Â
#21
Amanat Pembina Upacara
Duit-duit yang saya cintai, bangsa ini adalah bangsa yang besar, sudah sepantasnya berdiri di antara yang besar-besar. Di sinilah kita belajar, maka buka mata lebar-lebar, tengok ke atas, lebih atas, lebih atas lagi! Ada sesuatu yang besar di sana menanti dengan lembar-lembar.
Duit-duit yang saya cintai, kalian adalah hasil seleksi ketat, seketat-ketatnya. Tidak ada tempat untuk cacing-cacing. Hanya kelas ular, hingga kalian naik ke kelas naga!
Naga menengah pertama, lalu naga menengah atas, lebih atas, lebih atas lagi! Mahanaga!
Duit-duit yang saya cintai, kita berdiri di sini, demi menyongsong masa depan cerah, lapangan kerja yang mewah, kolam-kolam yang bahkan kompor-kompornya juga basah. Untuk menuju ke sana jangan sungkan kasih makan! Kasih makan yang atas, lebih atas, lebih atas lagi!
Duit-duit yang saya cintai, budaya mulia ini harus dilestarikan, sejak buaian, sejak mengenal makna kemanusiaan: memberi makan! Kemuliaan ini yang membuat kursi kita naik ke atas, lebih atas, lebih atas lagi! Sampai cacing dimakan punah.
Â
#22
Dirantai Orang
Kau gadis seberang rumah.
Pipimu merah bibirmu merah, bolehlah dadamu ku buat merah…
Setiap pagi kau mencuci, setiap malam kau mengaji, bimbanglah aku meraih tanganmu.
Kau gadis seberang rumah.
Wajahmu cerah bibirmu pendiam matamu seterang kunang, ibalah aku kau tak punya ibu…
Setiap hari berangkat sekolah, setiap sore ku tunggu di balik jendela saja, nanti kau enggan melenggang juga.
Kau gadis seberang rumah.
Malam itu menjerit, bajumu koyak, kulitmu putih, mataku gelap, kau tersungkur, pipimu merah bibirmu merah, berdarah…
Tak kuasa aku kau menangis, ku lemparkan pisau itu ke tanah, membenturkan kepala ke dinding andai itu bisa menebusnya, nyawa yang hilang karena hilang akalnya.
Kau kini di seberang juga. Rumah baruku sempit di dada, lantainya dingin, temboknya gelap, jiwaku mengaduh, tanganku pelacur, tlah merobek jantung punggungmu.
Hari menunggu hukuman, kau datang pula menjenguk.
Tak kuasa aku kau menangis, aduhai… jangan kau tangisi jalang yang membuatmu dipanggil kini: yatim piatu.
Â
#23
Saat-saat Merindukanmu
Setiap malam, terbangun lalu duduk di sudut kamar, menatap ruang kosong di kasur, meraba relung kosong di hatiku, ku harap di sana ada kamu…
Setiap malam, meski masih tersisa penat kerja tadi siang, namun mataku terasa sulit tuk terpejam, menyusuri setiap kelokan di otakku, di sana ada banyak tentang kamu…
Setiap malam, selalu memikirkanmu,
ya, meski tak ada di sampingku, meski tak pernah berhasil mendapatkanmu, namun yang ku pikirkan selalu tentang kamu…
yang sekarang mungkin di bibir seorang pria yang tak ku kenal.
Setiap malam, hingga pagi menjelang, tak ada yang berubah,
terus-menerus memikirkanmu ternyata tidak berguna, tidak merubah jarak antara kita,
ku tarik lagi selimutku…
Setiap malam, menatap langit-langit kamar, tak mampu berbuat apa-apa, kecuali memikirkan kamu, lalu menelan ludahku,
hargamu semakin mahal seiring pemerintah menaikkan harga BBM, seiring Rupiah yang terus anjlok, hingga ku putuskan untuk berhenti hidup bersamamu…
Setiap malam, begitu berat, mungkin saja aku merindukanmu, bisa jadi aku mencintaimu…
Setiap malam, tanpa asbak dan kamu, Sam Soe…
Â
#24
Aku bohong berkata cinta, dusta berkata rela, aku sabar tapi berpura, aku munafik tapi diam
Aku memeliharanya dalam rumah, seekor kerudung, hari ini dia putih bersih, besok hari dia tidak dicuci, kemarin dia mencuci. Kerudung itu kini merenung di bawah mendung, ah, andai bisa dia bernyanyi.
Kerudung tetanggaku tidak diikat, hanya bergulung di malam hari, lalu telanjang seharian di bawah matahari, keracunan setiap hari, mengingatkanku pada kerudung yang dibawa temanku dua hari yang lalu, ku pikir aku bisa menipunya. Kerudungnya wangi, oh temanku yang malang…
Aku ingin membeli kerudung lagi, yang baru, yang bisa mengeong dan mengembik, atau seperti punya Bambang, peliharaan mandiri, cebok sendiri, sekolah tak perlu diantar, pandai meronta dan meminta.
Kerudungku semakin usang dilindas putaran jam, dia pernah menangis di tengah malam, aku hanya mengaduk terigu dan ku pikir telur-telur itu telah busuk, tidak ada yang mau menetas.
Kerudungku sepi dalam rumah, pernah juga ku bawa biji matanya ke pancuran tengah kota, semoga dapat mencucinya, tapi tetap saja tangannya hampa, menyesali pangkuan kosong dalam dekapnya.
Di bangunan putih dan hitam sudah pernah kami singgah. Nyamuk-nyamuk bersertifikat, lintah-lintah berijazah, kalong-kalong omnivora, pemakan uang, darah, sampah, sudah pula kami temui. Hasilnya sama saja, kami gagal, kerudungku lah yang gagal, kerudungku sampah.
Aku memelihara seekor sampah dalam rumah. Seperti bangunan-bangunan itu, memelihara sampah-sampah.
Tidak ada sampah di kerudung tetanggaku yang bugil, tidak ada sampah di kerudung temanku yang wangi, aku harus membeli, dengan menipu atau menyakiti.
Kerudungku terus menangis, aku hanya munafik, memeluknya, menyetrikanya agar rapi, sekaligus ingin mengasuransikannya lalu menabraknya sampai mati, agar bisa membeli kerudung lagi.
Malam itu aku naik ke atas jamban, kencing sambil berdiri, sambil duduk, sambil tiarap, sambil bernyanyi, berulangkali, sampai anjing berkokok, lalu ajaib, dia kemasukan air, tenggelam, dalam kedua telapak tangannya yang tertengadah. Kerudungku tersenyum, mengeluarkan dompet dan menyuruhku ke pasar, dia yang bayar.
Aku hanya munafik, maka ku bisikkan bahwa aku belum menyerah.
Lima tahun kemudian masih sama, rumah itu-itu juga, peliharaan itu-itu juga, dan tetap munafik-munafik juga.
Kerudungku masih ada, panjang kainnya, aku bertanya-tanya kapankah yang panjang itu habis.
Akhirnya dia muntah-muntah, pengemis itu entah keracunan atau mendapat sedekah, gratis, tanpa pajak dan biaya administrasi. Oh Dermawan, aku tersungkur, bersukur karena bertahun-tahun telah munafik tapi diam.
Â
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.