review

Film Wonderful Life : Kebahagiaan Bermula Dari Keluarga

Film Wonderful Life : Kebahagiaan Bermula Dari Keluarga

Menjadi seorang ibu muda dengan tantangan karir di kantror di zaman serba modern ini tidaklah mudah untuk anda lakoni seorang diri, apalagi bagi Amalia Prabowo (Atiqah Hasiholan) yang diuji ketangguhannya ketika sang anak, Aqil (Sinyo) didiagnosa mempunyai disleksia dan autisme ringan.  Obsesi Amalia untuk benar – benar bisa menyembuhkan anaknya justru membawa mereka menempuh sebuah perjalanan panjang penuh tantangan hingga kejadian konyol seperti ban mobil bocor pun bisa membuat mereka kebingungan.

Amalia tampil sebagai seorang ibu yang kaku dan terbiasa dihup di kota metropolitan dengan segala kemewahan yang tersedia, juga sebagian besar waktu luangnya selalu sibuk mengontrol Aqil, sementara Aqil hanya ingin menggambar dan bersenang - senang saja bersama ibunya dan menikmati perjalanan liburan ke daerah pedesaan yang jauh dari hiruk – pikuk kehidupan kota metropolitan. Di sisi lain, Aga (Alex Abbad), mitra kerja Amalia di sebuah agensi periklanan tanpa ampun tiba – tiba menuntut Amalia untuk menjadi CEO yang dapat diandalkan untuk perusahaannya.
 
Tanpa berani menolak bahkan mengakuinya, Amalia menyadari bahwa perjalanan tugas keliling Jawa untuk menemukan berbagai macam karakter orang sakti dan tukang obat spiritual di pelosok Jawa  guna mencari kesembuhan terhadap ribuan anak - anaknya hanyalah sebuah kedok. Ia sebenarnya ingin kabur dari tekanan orang tua serta merenungi kehidupan rumah tangganya yang baru saja berjalan tetapi tiba – tiba runtuh.

Di puncak permainan film keluarga ini, penonton akan mendapati adegan – adegan percekcokan bathin terus - menerus melanda antara Amalia dan mantan suaminya merupakan penyebab utama terjadinya perpisahan yang sebenarnya tak diinginkan tersebut. Kesibukan keduanya mengurus perusahaan sebagai pekerja urban ternyata membuat masing – masing dari mereka tidak bisa menyisakan sedikit waktu untuk mengurus Aqil yang sedang membutuhkan perhatian dan kasih sayang khusus dari kedua orang tuanya. Di dalam lubuk hati sang ibu yang sangat cantik dan cerdas ini, ia semakin sadar  bahwa Aqil merupakan anak yang sempurna dan salah satu obat yang paling mujarab bagi keluarga yang hanyalah seorang anak biasa dan membutuhkan kasih sayang seorang ibu.

Simak trailernya berikut ini.

Road Movie, Alternatif Baru Film Keluarga

Wonderful Life merupakan film layar lebar pertama yang disutradara oleh Agus Makkie dan terinspirasi dari kisah nyata Amalia Prabowo yang diadaptasi dari sebuah buku berjudul sama. Gambaran kompleksitas seorang ibu muda serta kepolosan seorang anak dipaparkan secara efektif dan sangat mudah dimengerti melalui pendekatan segar Agus Makkie yang sudah lama melanglang buana dalam bidang iklan televisi. Didukung oleh permainan visual yang begitu dinamis, ilustrasi asli Aqil, dan pemandangan teduh desa – desa yang ada di Kota Yogyakarta, road movie ini mampu meyakinkan penonton bahwa film tentang anak disleksia tidak harus suram dan berakhir dengan penuh isak tangis.

Film ini mampu menjadi wujud edukasi keluarga tanpa terkesan menggurui. Amalia dipaksa untuk benar – benar mampu mendobrak pandangan kakunya tentang dunia anak – anak melalui sentuhan Aqil yang periang dan polos. Perilaku keras Amalia merupakan proyeksi terhadap kekalutannya akan kehidupan bary yang dijalani bersama dengan sang suami perlahan - lahan runtuh : pekerjaan yang kompetitif, statusnya sebagai seorang orang tua tunggal di masa depan, hingga kegagalannya menjadi anak yang kompeten di mata orang tua merupakan sebuah proses pembelajaran Amalia yang bisa menjadi bekal bagi ibu - ibu muda masa kini, bahwa kebahagiaan di rumah sama pentingnya dengan edukasi dan karir. Yang terpenting, seorang ibu tidaklah harus selalu terbiasa tampil sempurna seperti tuntutan lingkungannya sehingga bisa dianggap gaul dan layak diajak kumpul bersama dengan sang suami tercinta bahkan anak – anaknya.
 

Ibu Dengan Anak Berkebutuhan Khusus Untuk Sebuah Dukungan Penuh

3

Pemilihan Atiqah sebagai pemeran utama merupakan keinginan dari Amalia yang ia sampaikan kepada trio produser Handoko Hendroyono, Rio Dewanto, dan Angga Dwimas Sasongko. Terbukti Atiqah benar – benar mampu membawa karakter Amalia ke layar perak dan menunjukkan chemistry dengan Sinyo. Berbeda dengan Atiqah, Sinyo terpilih sebagai Aqil melalui proses casting yang cukup panjang. Dinamika hubungan kedua karakter tersebut diharapkan akan membawa penonton untuk terenyuh hingga akhirnya berlinang air mata.

Hal Yang Paling Memicu Stres Dalam Pernikahan

Film yang didukung oleh soundtrack dari Lala Karmela dan Banda Neira ini sejak rilis pertama kali dapat menjadi hiburan yang tepat bagi anda dan keluarga yang menyukai film perjalanan berlatarbelakang konflik rumah tangga dengan cinta yang kandas di tengah jalan.

Film ini dapat menjadi pengingat untuk sebuah keluarga baru agar selalu menghargai setiap kelebihan dan kekurangan anak – anak mereka. Bawalah si kecil untuk menonton bersama dengan anda pada bioskop – bioskop kesayangan di kota anda dimana press rilis pertama film Wonderful Life sudah cukup lama yaitu 13 Oktober 2016 tetapi DVD dan CDnya banyak disukai hingga awal tahun ini.

Hal Yang Paling Memicu Stres

Era metropolitan seperti sekarang ini banyak dijumpai orang – orang terutama wanita mendapat tekanan atau stres yang diterima jauh lebih banyak dari orang dulu. Pada jaman dulu, mungkin orang bisa tertekan gara - gara hal kecil saja seperti masalah sekolah, pekerjaan atau cinta. Tapi saat ini, ditambah stres gara - gara masalah kecil semisal macet di jalan, dunia maya, bencana alam, dan yang lainnya.

Menurut Indri Savitri, praktisi pendidikan, menjelaskan bahwa dibandingkan sepuluh tahun yang lalu, anak – anak sekarang mempunyai masalah yang berbeda dibandingkan anak – anak pada jaman dulu. Dulu, anak lebih banyak mendapatkan masalah karena kesulitan dalam hal konsentrasi belajar dan disleksia, sementara sekarang ini masalah anak – anak lebih banyak berupa masalah emosional dan self esteem.

Sebagai seorang konselor yang menangani anak – anak menginjak usia remaja, di sebuah SD - SMP di Jakarta, Indri berhadapan dengan generasi sekarang yang cenderung menyukai digital native, sehingga membuat mereka tidak terbiasa untuk berkomunikasi langsung dengan lingkungan di sekitarnya. Tantangan yang sebenarnya mereka hadapi adalah bullying di media sosial, karena kebanyakan mereka belum tahu apa yang boleh dan tidak boleh untuk diungkapkan di medsos.

 “Memang edukasinya lebih berat, harus lebih cepat membantu memilah informasi yang boleh dan tidak boleh dibagi di media sosial. Apalagi kalau korban bully, berarti tekanan tak hanya dari satu orang tapi dari sekelompok orang,†ungkap Indri.

Berbeda lagi dalam masalah pernikahan. Tiga hal yang paling rentan dan sering menjadi pemicu stres dalam pernikahan, menurut psikolog Konseling Keluarga, Elly Nagasaputra, adalah finansial, komunikasi dengan pasangan, dan seks. “Ini adalah tiga masalah yang sering ditanyakan, termasuk di www.konselingkeluarga.com. Namun ada satu benang merah diantara ketiganya, yaitu soal ekspektasi,†ungkap Elly. Dalam hal ekspektasi sebelum menikah adalah berbeda dengan setelah menikah, seringkali anda akan menjumpai hal – hal diluar dugaan dan tak sesuai harapan, baik itu dalam hal finansial, komunikasi, maupun seks.

Saat harapan / hasrat tidak sesuai lagi dengan kenyataan, dan tidak bisa menerima keadaan, lama - kelamaan seseorang akan mudah tertekan. Jika dibiarkan berlarut - larut, maka kemungkinan besar akan menyebabkan gangguan yang lebih parah, sehingga jika kurang mendapatkan perhatian maka akan merambat ke fisik, atau mengarah kepada depresi dan gangguan kecemasan (anxiety) yang berlebihan dan bisa mengganggu kehidupan anak – anak di masa depan.

Lain lagi dengan masalah karir dan urusan pekerjaan di kantor, sangat rentan menjadi pemicu stres setelah masalah financial di dalam keluarga. Jarir Nurzaman (36), seorang Head of Human Resources bercerita bahwa dirinya pernah menemukan seorang engineer yang sering terpaksa lembur. Ia mungkin merasa masih sanggup, tapi tubuhnya tidak. Suatu hari ia tiba - tiba pingsan di kantor, dan tak lama kemudian, ia memutuskan resign – dari berbagai sumber.

Kasus – kasus seperti di atas sebenarnya bisa dicegah. Seperti halnya di kantor, salah satu  tugas HR adalah membuat karyawan/wati atau calon karyawan yang akan bekerja di sana merasa  nyaman dan termotivasi  untuk mampu berprestasi dan memajukan perusahaan. Caranya dengan memberi fasilitas dan wellness program untuk fungsi ketahanan mental dan mengurangi stres. Program wellness ini bisa bermacam - macam bentuknya, seperti jam kerja yang dijadikan lebih fleksibel, setengah hari kerja pada hari Jumat, pada hari – hari tertentu mengadakan program outbounding keluarga ke kawasan wisata hingga luar pulau, atau bisa kerja dari rumah saja, sehingga membuat semacam workshop bagi karyawan/wati tentang stress management.  â€Tinggal sesuaikan dengan kultur perusahaannya,†Jarir menutup pembicaraan.

0
Comments (0)
Unable to Comment
You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login

No comments yet. Be the first to comment.

From Author
Loading…
ads
ads
ads