Tidak pernah dalam dua puluh lima tahun perjalanan hidup Jane Pamela dalam berjuang begitu banyak untuk menapakkan kedua kakinya di kota kecil ini. Dia hampir bisa berharap bahwa dia adalah seorang wanita perkasa, meskipun gaun yang dia kenakan pernah tersangkut angin dan mendorongnya kembali kepada sebuah kekuatan yang luar biasa seperti mencari napas segar.
Mereka memiliki sebuah vila indah di wilayah Fort Collins, Colorado, dimana Jane dan seorang putranya dari perkawinan pertama tinggal menjalani kehidupan mereka sehari â hari, tapi masalah pertama yang sempat menerpa Jane tidaklah begitu dianggap berat, dibandingkan keadaan tak menentu yang akan dia hadapi di kehidupan mereka yang akan datang. Pendakian kehidupan dari perhentian sementara yang telah mereka lalui seperti melangkah perlahan â lahan ke arah angin topan. Namun, perubahan bagus menyambut mereka berdua setelah terguncang dan tersentak oleh badai angin topan tersebut, Jane melangkah dengan pasti sambil tetap menjaga dan memegang erat tasnya dan putra tercinta, Benjamin Pamela Pearsons tujuh tahun, Jane berjuang untuk membuat kemajuan di jalan.
Dalam sebuah liburan yang menyenangkan di musim semi. Meskipun semua yang didengarnya terlihat lebih besar dari bayangan sederhana seorang Jane, mereka berdua sangat bahagia merencanakan sebuah perjalanan singkat ke kota kecil Cheyenne Wyoming. Tapi angin keberuntungan itu berhembus kembali. Jane memanggil Ben, hanya untuk menunjukkan segarnya angin di kota yang mempesona ini untuk mengambil napas dalam - dalam. Melihat ke sekeliling taman hotel dan bangunan yang elegan, mereka berdua menuju pintu lobi hotel, dimana Jane mendorong perlahan â lahan tubuh mungil Ben untuk masuk ke dalam ruangan. Rasanya cuaca sangat baik untuk sekedar keluar dari lingkaran rutinitas sehari â hari mereka di Colorado. â Mama . â Ben menarik - narik lengannya sampai akhirnya ia melihat melalui jendela hotel kepada seorang pria bertubuh tinggi besar dan berambut pirang berdiri di seberang jalan dekat hotel. â Itu bukan dia ? â Teman baru mereka saat berada di ruang tunggu Bandar Udara Internasional Cheyenne. Jane menyentuh bahu anak laki - lakinya, berharap dia bisa sedikit santai, â Apakah kau ingat dia bercerita bahwa hanya akan singgah saja untuk beberapa jam di kota ini tetapi tidak bermaksud untuk bermalam seperti kita ? " Rasa ingin tahu begitu besar terpancar keluar dari mulut dan mata Ben kecil, lalu ia mengibaskan tangan mamanya. â Bisa saya bantu, Bu ? â Orang pada bagian front office Historic Plains hotel tempat kami berdua menginap ramah memberi pelayanan mereka, tersenyum kembali kepada kami. â Apakah Anda berdua ingin check - in ? â â Kami ada beberapa keperluan penting di kota ini dan tentu saja saya perlu akomodasi untuk beristirahat selama beberapa hari, Anda mungkin bisa membantu saya. Juga saya hendak menitip pesan untuk seorang kolega bernama Ibu Franklin Panagiotis, jika beliau datang tolong beri tahu nomor kamar hotel kami di sini. â
Selama menunggu kedatangan Ibu Franklin, Jane dan Ben menghabiskan hari â hari menyenangkan mereka di sekitar hotel yang sangat luas, mewah dan elegan ini. Namun sebenarnya ada hal lain yang masih belum beres dan sangat mengganggu pikiran Jane. Dia mungkin telah salah mengerti terhadap beberapa berkas penting terakhir di pengadilan Colorado saat menghadapi perceraian antara dia dengan suami pertama yaitu Willie Thompson, sesuatu dalam selembar telegram mengenai pembagian harta warisan dari suami pertama yang menjadi hak tunggalnya dimana untuk melancarkan urusan tersebut, Jane meminta tolong Ibu Franklin, seorang pensiunan hakim di kota Colorado untuk membantu dia keluar dari kemelut itu.
Hingga tiga hari berlalu, beliau belum juga muncul di hotel ini. Jiwa Jane tiba â tiba bergidik. Tolong Tuhan, apa yang akan terjadi pada kami jika bantuan dari Ibu Franklin tidak kunjung datang ? Jane tahu ini akan mengerikan sekali, atau mungkin penyakit Ibu Franklin kambuh lagi dan saat ini beliau telah meninggal dunia. Sebenarnya dia tidak begitu memikirkan kondisi Ibu Franklin yang mungkin sekarang sedang sibuk bersama seorang klien lainnya, namun Jane mempunya kekhawatiran lain. Dia memiliki seorang anak yang perlu mendapatkan perawatan layak dalam kehidupannya sekarang dan nanti di masa depannya. Jane berpikir kembali ke satu tempat lain yang mungkin akan mempekerjakan dia dengan imbalan gaji yang memuaskan, dan bertanya - tanya apakah itu akan menjadi salah satu pilihan utamanya ? Setelah semua badai sempat mengoyak dan merobek dengan kasar dua kehidupan terpentingnya, cinta dan karir. Ini tentu bertentangan sekali dengan martabat tinggi sebagai seorang manusia, tapi Tuhan waktu itu seperti tidak peduli. Dunia mereka berdua, Jane dan Willie akhirnya terpisah dan semua pintu surga sepertinya tertutup untuk mereka berdua dan para malaikat hanya mampu menonton saja tanpa bisa membantu banyak untuk mengatasi kemelut yang ada.
Pintu depan hotel terbuka dan mata Jane berkedip kaget, hatinya beriak sedikit tatkala dia melihat seorang pria seusia dia melangkah masuk, mengenakan busana santai menuju ke ruang resepsionis, di kantor depan hotel. Itu bukan Willie mantan suaminya dan juga bukan Ibu Franklin, itu adalah dia, pria yang berkenalan sangat singkat tempo hari di ruang tunggu bandara, semula Jane tak begitu peduli saat pertama melihatnya, laki â laki itu bernama Paul Nata Tyanna. Dia tidak melihat Jane dan Ben asyik duduk di ruang lobi utama hotel, menikmati pemandangan taman, kolam renang dan arsitektur hotel bergaya Eropa kuno ini, sehingga Paul hanya berlalu begitu saja dalam ramainya tamu hotel khusus di musim semi yang indah ini. Jane bersandar sambil menunggu dan memarahi dirinya sendiri untuk tindakan bodoh yang baru saja dia lakukan. Namun dia tahu ini adalah hal terbaik yang harus dia lakukan.ÂÂ
Seminggu berlalu dengan suasana sedikit membosankan. Namun tepat di pagi hari Senin, mantan suami Jane, Willie dan pengacara mereka Ibu Franklin, akhirnya datang ke hotel ini. Seperti halnya terhadap Jane, petugas kantor depan Historic Plains hotel menyambut mereka berdua dengan ramah dan akrab. Howdy, mereka bertiga meeting penting di restoran hotel. Wajah - wajah berkerut serius membahas masalah yang ada, kemudian mencari ruang segar seolah - olah berusaha mendapatkan sesuatu yang terlupa. Hampir tujuh jam lamanya dalam suasana tegang, akhirnya pertemuan itu selesai.
Tiga orang kemudian datang mengikuti Ibu Franklin dengan membawa tiga peti terbuat dari besi dicat warna hijau terang dalam ukuran sedang, dan ketika Jane bergegas untuk membantu mereka membuka pintu restoran, Ibu Franklin tampak malu bahwa seorang wanita yang seharusnya duduk manis saja di kursi pengadilan justru harus repot membantu membukakan dan menahan pintu restoran hotel yang lumayan berat tersebut. Ternyata tidak begitu mudah dilakukan apalagi berdekatan dengan taman hotel dimana angin sedang kuat berhembus, Jane berjuang keras namun tiba â tiba Ben datang untuk membantu mamanya. Urusan kecil ini pun akhirnya selesai, sementara Ibu Franklin dan tiga pria lainnya kembali duduk dalam ruang meeting.
Tiga kotak tersebut berisi perhiasan mahal milik mereka berdua dahulu saat sama â sama masih dalam ikatan satu pernikahan bahagia. Ada bros, cincin, gelang, anting dan jam tangan serta asesoris rambut lainnya yang terbuat dari emas murni (putih dan kuning). Berbagai batu permata mahal, seperti mutiara Indonesia, igtisi, jadeite, red diamond, serendibite, red beryl emerald, jeremejevite, dan queen marie of Romaniaâs sapphire. Tiga kotak ini akhirnya dengan selamat menjadi hak milikku. Aku tersenyum ke arah Ben yang duduk di meja dekat jendela restoran hotel.
Jika Ibu Franklin tahu berapa lama sebuah masalah bisa terselesaikan, mungkin dia akan menyimpan sekantong aneka permen untuk bekal liburannya nanti seperti yang putraku Ben sering lakukan, tetapi Jane harus mengakui hari ini adalah khusus hari teristimewa dalam dirinya sendiri,  dan tentu saja putra semata wayangnya, Ben yang banyak mendapatkan pelajaran dan kehidupan baru, kesempatan baru untuk memulai kembali sebuah kehidupan. Itu adalah hari yang baik untuk empat tahun mendapatkan sebatang permen peppermint.
Kota kecil Lilyfield, New South Wales Australia.
Jane akhirnya memutuskan untuk menjual vila mewah mereka yang ada di wilayah Fort Collins, Colorado, kemudian pindah ke sebuah kota kecil di Lilyfield, New South Wales Australia.
Mereka berdua tinggal di dalam sebuah apartemen sederhana terletak di kawasan Helena St. Lilyfield, New South Wales 2040, Australia. Sebuah apartemen dengan bangunan cantik dan bersih berada tidak jauh dari Norton Street merupakan kompleks restoran, kedai kopi, toko - toko dan gedung bioskop. Di tempat ini paling bagus dipakai untuk berjalan - jalan atau ideal melakukan aktifitas olahraga dan tentu saja shopping. Ada hari Sabtu spesial dimana terdapat pasar - pasar murah digelar seperti Orange Grove khusus untuk menjual produk â produk segar makanan dan minuman, buah â buahan dan sayuran segar serta pasar kembang. Juga Rozelle Markets merupakan surga yang paling nyaman buat Anda berbelanja dan menemukan barang â barang baru, item bekas dan aneka suvenir khas negeri kangguru, Australia. Di sini juga aku menemukan sebuah pekerjaan baru sebagai seorang manager toko pada rumah produksi parfum Chanel.
Dan musim salju pun tiba. Hujan salju melanda seluruh benua Eropa dan Australia, hal ini merupakan suatu kejadian biasa. Salju menutupi seluruh kawasan desa dan kota di wilayah New South Wales, Australia. Suhu udara begitu dingin menggigit dan hujan salju turun di sepanjang hari selama hampir 24 jam tanpa henti - henti. Salju mungkin masih ada dalam beberapa bulan lagi sehingga diramal akan terjadi White Cristmas atau Natal bersalju di Australia.
Malam menjelang perayaan Natal dan tahun baru, lebatnya salju yang turun menyelimuti kota tidak menghalangi niat seorang pemuda bernama Paul Nata Tyanna untuk sekedar jalan â jalan mengelilingi cantiknya kota Lilyfield. Dalam satu kesempatan bagus, Paul berminat untuk mampir ke sebuah bangunan unik toko parfum terkenal tempat Jane bekerja. Mereka berdua akhirnya berjumpa dan berkenalan dimana Jane masih ingat dengan jelas pria ini adalah  yang dijumpainya beberapa tahun yang lalu dalam sebuah liburan musim semi di kota kecil Cheyenne Wyoming. Selanjutnya hubungan mereka kian hari semakin akrab dan dekat.
Meskipun dinginnya salju di musim ini hampir mendekati titik beku terendah di dunia, tetapi mereka berdua tetap bisa menjaga satu sama lain dengan memeluk hangat disepanjang malam dan waktu. Akankah mereka menghabiskan musim dingin ini bersama â sama selamanya ? Aku berjanji akan bersikap baik dan hangat selalu dengan dia dalam kehidupan kedua Tuhan berikan buat aku khusus di tengah tumpukan salju dingin pada malam perayaan Natal kali ini.
ÂÂ
ÂÂ
ÂÂ
ÂÂ
ÂÂ
ÂÂ
ÂÂ
ÂÂ
ÂÂ
ÂÂ
ÂÂ
ÂÂ
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.