“ Ck, ck, ck, ck, ck, ck, hujan turun lagi. †keluh seorang gadis berambut cepak yang baru saja keluar dari sebuah rumah sakit swasta di kota tua, Manado. “ Kenapa setiap musim hujan tiba aku tidak begitu suka !? “ “ Nggak bawa mantol ? †jawab temannya yang berambut panjang dan disanggul bergaya modern. “ Bukan. Nggak suka aja ! †“ Hmmmmmmmm ? †teman gadis berambut cepak itu melangkah tergesa – gesa ke sebuah toko makanan yang berada tidak jauh dari area parkir rumah sakit dan duduk dengan santai pada salah satu balkon toko itu yang berlantai dua.
Kemudian, ia menengadahkan wajahnya menatap langit yang gelap karena mendung. Sesekali tangannya yang gemulai merasakan air hujan yang dingin, ia memulai lagi sebuah percakapan dengan Klara, gadis manis berambut cepak. “ Ada saja ya, orang – orang yang alergi dengan air hujan ? †“ Oh, ada ! Kamu menyindir saya ya ? †“ Karena aku selalu melihat kamu galau setiap musim hujan tiba ? †“ Ya … aku nggak suka saja dengan hujan, repot, bukan karena apa - apa. â€
Hari telah beranjak sore, kedua teman akrab tersebut sama – sama mengernyitkan kening, mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing – masing, “ Terus ? Kenapa, dong ? Kamu harus bisa berubah. Kayak tokoh Kugy di novel Perahu Kertas ! †“ Ya, aku tau, hujan terlalu berisik dan membuat aku sering merasa cemas. †“ Anak – anak di sekitar rumahku justru hobi hujan – hujanan ! “
******************************
Kota Manado berlokasi di tepi pantai laut Sulawesi Utara dan diketahui banyak menyimpan sejuta keindahan dan daya tarik tersendiri di bidang pariwisata bagi para turis lokal dan mancanegara yang melancong ke kota ini. Apalagi didukung oleh populasi mayoritas umat Kristiani, menjadikan kota Manado semakin terkenal dengn ikon sejuta monumen yang sekaligus merupakan kebanggaan bagi masyarakat di kota ini karena dimana – mana ditemukan monumen Yesus Memberkati dengan latarbelakang arsitektur Eropa yang sangat menakjubkan.
Di samping keindahan kotanya yang unik, Manado juga terkenal akan beragam ekowisata yang dimilikinya, antara lain adalah Danau Tondano, Gunung Lokon, Bukit Kasih, Taman Nasional Bunaken, dll. Ekowisata lainnya yang terindah di kota ini adalah fenomena alam berupa hujan yang selalu turun hampir di sepanjang tahun. Hujan merupakan sebuah siklus alam yang akan terus berlangsung dimana air yang turun dari langit itulah yang disebut dengan hujan. Namun sebelum menjadi hujan, air yang telah terkumpul di dalam awan yang berwarna hitam pekat di atas langit untuk menjadi hujan haruslah melewati sebuah proses tertentu. Jika teringat pelajaran IPA atau Sains ketika masih duduk di bangku SMA dulu, anda pasti mengenal tentang proses ini. Hujan bermanfaat sangat besar buat kehidupan manusia. Karena tanpa hujan, pastilah akan terjadi kekeringan atau krisis air pada suatu tempat. Jika air kurang, maka bagaimana dengan kehidupan manusia, hewan, tumbuhan agar bisa minum untuk bertahan hidup. Juga, manusia butuh air untuk kebutuhan yang lainnya seperti mencuci, memasak, membersihkan kotoran dan bahkan pada beberapa tempat adalah memanfaatkan air sebagai pembangkit tenaga listrik. Maka dari itu sangat penting air untuk keberlangsungan kehidupan makhluk hidup di dalam bumi ini.
******************************
Hari Senin, pagi hari di Rumah Sakit Advent Manado.
Hari ini adalah hari yang sangat sibuk bagi semua staf rumah sakit swasta ini yang berlokasi di pusat kota tua, Manado. Tampak beberapa aktifitas para dokter dan perawat serta tenaga medis lainnya di lantai enam. Sepuluh pasien baru sedang dirawat dibawah pengasuhan perawat senior bernama Klara Susan, ia adalah seorang wanita dewasa berusia 32 tahun, berperawakan tinggi dan langsing, memiliki sepasang mata sipit seperti gadis – gadis di Jepang dan berambut cepak. Cantik dan manis, suka menghabiskan hari – harinya setiap pagi dan sore dengan memeriksa penuh telaten dari mereka.
Seorang temannya yang berambut panjang, Sharron, membantu untuk mempersiapkan sepuluh kamar kosong untuk pasien baru dan memastikan bahwa kondisi dari mereka nyaman. Setelah menyelesaikan satu tugas dengan sempurna, biasanya dia bermain ke ruang kerja Klara, dia memiliki kebiasaan buruk, tiba – tiba suka meraih punggung Klara dari arah belakang dan berkata, “ Waktunya untuk istirahat. Ayo kita mencari makan, apakah di kantin atau keluar saja, ke KFC atau mencari resto Chinesefood ? “
Duduk saling berhadapan di kantin rumah sakit, Klara melihat Sharron tanpa sadar kemudian menyeka keringat di kedua pipinya, kelembaban udara dari luar ruang kantin yang sempit ini terasa panas di sekujur tubuhnya. Wajahnya yang ayu mencerminkan kelelahan yang teramat sangat karena akhir – akhir ini banyak pasien yang harus dirawat sehingga menyebabkan ia enggan untuk mengambil cuti buat berlibur, ia selalu datang lebih pagi dari bawahannya setiap hari.
“ Kau cukup tenang hari ini. Apakah tidak merasa lelah, atau sesuatu yang salah ? “ Klara bertanya. Tampak Sharron ragu – ragu untuk menjawabnya. Namun, menilai dan melihat perhatian yang tulus di wajah teman akrabnya tersebut, ia mengaku, “ Aku tidak bisa melakukan sesuatu dengan baik hari ini tak seperti kemarin, juga di rumah sama saja, Klara ! Aku kadang – kadang berpikir harus mencari pekerjaan lain yang bergaji tinggi untuk mencukupi semua kebutuhan hidup dan keluarga saya. Kami hampir jarang dapat menikmati gaji untuk hura – hura atau kesenangan, apalagi buat membeli oleh – oleh yang pas dan menarik buat mereka di rumah. Jika bukan karena pengaruh dari orang tua saya yang dengan sukarela mau menjaga anak - anak kami di rumah, aku merasa tidak akan pernah berhasil. “
Tiba – tiba mata Klara melihat memar disalah satu pergelangan tangan Sharron yang mengintip keluar dari bawah jaketnya. “ Bagaimana dengan suamimu ? “ †Kadang – kadang saya kurang bisa mengandalkannya. Dia tidak bisa menahan diri untuk tetap menekuni pekerjaan lamanya, mungkin karna ia hobi dan suka melakukan itu. Sepertinya dia punya masalah. “
“ Itu di rumah. Aku melihat kau begitu baik dengan pasien, dan sepertinya suka bekerja di sini. Mengapa dulu tidak pergi ke sekolah perawat saja seperti aku dan sudah menjadi perawat senior saat ini ? Ada bantuan keuangan yang tersedia di rumah sakit ini untuk bea siswa sekolah perawat bagi yang berminat, dan saya yakin orang tuamu akan setuju untuk menjaga anak - anak di rumah sementara kamu berada di kelas. “
“ Kamu tau, Klara ? Pada tahun pertama perkawinan kami, kami hampir bercerai, hakim memberikan hak asuh terhadap anak - anak kami kepada suami saya yang waktu itu berada di Jakarta, karena usia saya ketika itu masih sangat belia, hampir dua puluh tahun dan dia merasa aku tidak mampu memberikan apa – apa bagi mereka. Aku merasa shock ! Lalu dia mengambil bayi saya dan secepat kilat meninggalkan kami yang terengah – engah keluar dari rumah untuk mengejar dan mencegahnya. Tidak hanya itu saja, ia memotong semua kontak antara aku dengan mereka. Selanjutnya, aku berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup ke kota ini. Saya menemukan sebuah pekerjaan sebagai asisten perawat di rumah sakit ini meskipun kadang – kadang harus bekerja lembur untuk sebuah tips. Hidup saya memprihatinkan, setiap hari saya makan hanya terdiri dari segelas susu dan biskuit. Hal yang paling sulit adalah mengisi kekosongan dalam jiwaku. Aku memilih untuk tinggal di sebuah apartemen dengan satu kamar kecil dan tanpa menyadari kesepian semakin menguasai. Saya ingin sekali bermain – main dengan bayi saya yang lucu dan mendengarkan mereka tertawa. “
Dia berhenti sejenak.
“ Bahkan setelah empat dekade berlalu, memori itu masih melekat dan tampak menyakitkan. “ Tiba – tiba mata Sharron dipenuhi oleh air mata ketika ia melihat kedua tangan lembut Klara terulur ke salah satu pundaknya untuk menghibur. Namun sekarang, apa yang ia ceritan itu seperti  angin  yang  numpang  lewat  saja  dan  sudah  tidak  masalah  lagi.  Klara  melanjutkan, “ Pertama kali saya bekerja di rumah sakit ini, saya segera menyadari dan menemukan bahwa profesi ini ternyata mampu menyembunyikan kondisi rumah tangga kami yang sedang kacau sejak usai tahun pertama pernikahan kami, aku ingin selalu bersembunyi di balik topeng – topeng ini, berusaha tersenyum tetapi kadang – kadang justru semakin menekan kegalauan di hati. Lama aku tidak pernah mendengar kabar berita darinya, apakah ia sudah menikah lagi dengan gadis lain atau sudah mempunyai seorang bayi baru. Namun kadang – kadang dia menjadi alasan utama saya untuk tetap bersemangat hidup, hingga akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke perguruan tinggi, mengambil jurusan Bahasa Inggris. “
“ Lalu aku kembali lagi ke rumah kedua orang tuaku di Manado, dimana aku harus memulai lagi semuanya dari awal, sempat tidak tahu apa yang harus aku lakukan dengan diriku sendiri, hingga hari itu tiba, ibu saya akan menjalani operasi berat. Aku melihat seorang perawat sedang merawatnya dengan sangat hati – hati dan telaten, aku lantas berpikir : saya bisa melakukan itu. Masalahnya adalah, saya hanya mengandalkan pendidikan biasa saja yaitu dari kelas IPA di SMA dulu. Mau kembali ke sekolah perawat tampaknya seperti akan mendaki sebuah gunung besar untuk berhasil menaklukkannya. Saya memutuskan untuk mengambil langkah - langkah kecil tetapi cepat buat menuju tujuan tersebut. “ Klara Susan berhenti bicara dan menatap langsung ke kedua mata Sharron. “ Saya menerima diploma administrasi saya saat berumur sekitar 39 tahun, rasanya sudah sangat terlambat bagi saya, Klara. Saya sudah terlalu tua untuk memulai sekolah perawat. Saya selalu ingin menjadi seorang perawat, itulah sebabnya saya mengambil pekerjaan ini meskipun hanya sebagai asisten, tetapi setidaknya aku mampu dan bisa merawat pasien. “
“ Berapa umurmu sekarang ? “ Klara bertanya. “ Apakah aku tampak terlihat tiga puluh tahun atau terlalu tua untuk perempuan seusia kita ? “ Klara menunjuk luka memar disalah satu  pergelangan tangan Sharron. “ Aku akrab sekali dengan masalah – masalah seperti ini. Sebenarnya kamu tidak perlu merasa malu, karena tidak ada kata terlambat untuk menjadi seseorang yang sukses atau apa yang kita harapkan dan impikan pastilah terwujud nyata. Saya akhirnya mengetahuinya dengan caraku sendiri. “
Klara melirik jam tangan mungilnya, masih ada waktu beberapa menit lagi buat istirahat di kantin rumah sakit. Klara mulai lagi berbagi bagian dari hidupnya berupa beberapa hal penting tentang prinsip hidup yang harus diyakini agar benar – benar mampu keluar sebagai pemenang. Hal ini adalah sesuatu yang biasanya enggan untuk dibicarakan, hanya saja saat akan berniat untuk membantu orang lain, maka harus diingat sebagai sebuah cermin diri terhadap kehidupan yang akan dijalani di masa depan. “ Saya pertama kali menikah ketika berumur tiga belas tahun. Sangat muda sekali bukan !? “ Sharron tersentak. “ Suamiku adalah dua puluh dua tahun. Kami telah lama berusaha menjalani sebuah bahtera pernikahan sekitar enam tahun dan saya berhasil mempunyai tiga anak. Pada suatu malam, kami berselisih paham dan suami saya memilih untuk lari dari saya. Aku sebenarnya terkejut sekali, lalu memilih berlari ke kamar anak – anak kami untuk menenangkan diri ini, aku meraih dan memeluk mereka ! “ Kedua mata Klara yang hitam tampak berkaca – kaca oleh air mata. Seperti yang dilakukan oleh Sharron, mereka adalah sepasang sahabat yang sedang berusaha mencari sebuah kunci untuk mungkin bisa kembali membuka pintu hati dalam kehidupan paling kelabu menjadi lebih bergairah kembali.
“ Usiaku masih muda waktu itu, aku berusaha memantapkan pikiranku dan memutuskan untuk mendaftar ke sekolah perawat. Selama dua tahun, saya belajar dengan keras sambil menangis dan mencoba untuk berhenti serta memisahkan konflik di rumah dengan pergaulan di luar rumah. Tapi saya adalah perempuan yang beruntung, ada keluarga terkasih yang dengan sukacita membiarkan saya memilih hidup seperti ini. Sesekali saya menyempatkan diri untuk menelepon putri saya yang masih kecil dan berteriak keras, apakah engkau menyadari telah berapa banyak tulang di dalam tubuh manusia untuk mampu tumbuh besar, dan engkau harus tahu ! Aku tidak bisa melakukan ini lama - lama, karna aku baru berusia empat puluh tahun ! “ Tetapi saya tetap akan melakukannya. “ Sharron, aku tidak bisa memberitahumu bagaimana indah rasanya saat saya berhasil lulus dari sekolah perawat dengan nilai yang sangat memuaskan. “
Hari semakin panas, dengan rasa malas Sharron mengambil gelas lalu menyeruput sisa es jeruk pesanannya tadi ketika Klara telah selesai bicara. Kemudian dia menggenggam erat tangan kanan Sharron dan mengatakan, “ Kamu tidak harus mengalah oleh kondisi rumah tanggamu yang sedang buruk, harus mampu menghindar, berusahalah untuk tetap bergairah, dengan bisa mengendalikan emosi di dalam diri. Maka kita akan dapat menjadi seorang perawat yang sangat baik hati dan profesional. Aku telah membuktikan hal ini lama sekali, dan berhasil mendaki gunung lalu memulai sebuah titik terpenting dari awal kehidupan yang baru. “ Sharron mengusap wajahnya dengan lembut dan hati – hati memakai selembar tissue parfum basah, sedikit bedak menempel di atasnya dan meninggalkan noda. Kemudian ia mengambil selembar tisu biasa untuk mengeringkan sisa parfum yang menempel di wajahnya, “ Aku kurang tahu apakah konflik rumah tanggamu sama menderitanya dengan yang pernah aku alami, begitu banyak ada rasa sakit dan kecewa, tampak seperti seseorang yang selalu gagal tetapi pada akhirnya mempunyai harapan lagi. “
“ Saya mengira telah berhasil mengembangkan sebuah apresiasi untuk mengatasi kesulitan terbesar yang pernah aku alami di masa lalu, “ akhir cerita Klara Susan, seorang perawat senior yang sudah lama bekerja di rumah sakit ini. “ Bila aku benar – benar berniat untuk menggunakan mereka dalam membantu mengatasi masalah sama terhadap orang lain, maka aku benar - benar tidak merasa telah kehilangan apa – apa pada waktu itu. “
Sharron termenung, lalu berjanji kepada sahabatnya tersebut akan melanjutkan ke sekolah perawat dan benar – benar menjadi perawat yang bisa membantu orang lain penuh ketulusan hati dan rela berbagi pengalaman hingga menjadi lebih dewasa.
********************
Beberapa tahun selanjutnya, Sharron menepati janjinya kepada Klara, ia benar – benar akan menjadi seorang perawat profesional yang handal dan akan bekerja kembali di rumah sakit ini dengan pengetahuan dan pengalaman baru, tentu saja masih mengharapkan bantuan dan bimbingan dari teman terdekatnya, Klara Susan, hingga usia tua dan pensiun. Sharron sangat berterima kasih dan tidak akan pernah lupa terhadap kebaikan hati rekannya.
Awal Desember 2002, akhirnya Sharron berhasil mengambil sekolah perawat. Ketika dia sedang mengikuti acara wisuda dan telah berhasil menjadi seorang perawat, dia bertemu kembali dengan mantan suaminya, mereka baikan dan merencanakan untuk menyiapkan sebuah pesta kecil untuk perkawinan perak.
Sharron mengundang Klara Susan dan mengabarkan kabar baik itu, dimana Klara juga mengalami nasib beruntung serupa dengan Sharron, “ Bagaimana kabar suamimu ? “ “ Oh ! Dia baik – baik saja, kami baru saja menjalani liburan Natal bersama ke Bali. “
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.