Plimbi.com - Seperti diketahui bahwa pesawat sudah mulai dicanangkan akan memakai tenaga penggerak yang sifatnya ramah lingkungan. Yang dimaksudkan di sini adalah dilakukan tanpa emisi. Pesawat tanpa emisi ini akan berlaku untuk melakukan perjalanan udara yang bentuknya berkelanjutan.
Industri penerbangan telah menyumbang sekitar dua persen dari emisi karbondioksida/CO2 hasil buatan manusia. Dimana pada tahun 2050 akan diperkirakan kontribusinya mengalami peningkatan hingga mencapai angka dua pulug dua persen jika tidak ada upaya perubahan.
Merespon hal di atas, beberapa ilmuwan dunia memberikan saran kepada para penyusun kebijakan-kebijakan dunia untuk bisa memodifikasi emisi pesawat. Dan pada akhirnya perusahaan-perusahaan besar mulai perlahan-lahan sadar atas peran emisi pesawat kemudian memicu munculnya gagasan pesawat tanpa emisi.
Airbus telah mengeluarkan pengumuman bahwa mereka akan berencana memperkenalkan pesawat komersial tanpa emisi memasuki tahun 2035. Pihaknya lebih lanjut menjelaskan tentang konsep-konsep untuk pengaplikasian pesawat komersial tanpa emisi perdana mereka.
Guillaume Faury selaku chief executive officer airbus dalam salah satu pernyataannya menjelaskan ia sangat yakin mengenai penggunaan hidrogen baik itu untuk bahan bakar sintetis maupun sebagai sumber tenaga utama untuk pelengkap pesawat-pesawat komersial. Ini akan mempunyai potensi mengurangi dampak iklim penerbangan secara signifikan.
Melalui konsep pesawat airbus ini desain yang berbentuk turbofan mampu menampung sekitar 120 hingga 200 penumpang. Desain turboprop bisa menampung sekitar 100 penumpang dan badan sayap campuran bisa menampung sampai 200 penumpang. Di samping itu Norwegia sedang mengerjakan pesawat tanpa emisi. Mereka berharap bisa membuat pesawat-pesawat penumpang listrik pertama di tahun 2026.
Konsep pesawat listrik tersebut dikembangkan oleh Rolls Royce dan perusahaan perancang pesawat seperti Tecnam. Pesawat yang diberi nama P-Vlot ini hanya memiliki kemampuan menampung 9 penumpang saja.
Meski diketahui ada sedikit kemampuan untuk menampung penumpang tetapi ini tentunya akan menjadi solusi di masa depan untuk bagian industri penerbangan yang diharapkan bisa mengalami perkembangan positif guna melakukan penerbangan dan perjalanan yang sifatnya berkelanjutan.
Pada tahun 2019 yang lalu dalam acara konferensi perubahan iklim COP25, para ilmuwan MIT memberikan masukan ke para pembuat kebijakan untuk melakukan modifikasi emisi pesawat. Emisi ini memperburuk kualitas udara dan berkontribusi terhadap ribuan kematian setiap tahunnya. Temuan yang dilakukan oleh mereka bisa memberikan solusi dalam upaya menghindari dampak global yang membahayakan sebagai akibat dari gas yang terbendung. Pada laporan kesenjangan emisi PBB, masing-masing negara yang hadir diminta segera mengurangi emisinya.
Studi yang diterbitkan di environmental research letters merinci tentang bagaimana komponen-komponen pembuangan pesawat dapat memberikan dampak terhadap iklim global dan juga kesehatan manusia. Pendapat yang tertampung pro dan kontra tentang kebijakan-kebijakan bisa dipastikan akan terjadi melalui program pengurangan emisi tersebut di atas.
Para ilmuwan menemukan ada beberapa komponen emisi pesawat bertanggung jawab atas sembilan puluh tujuh persen berdampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan. Komponen ini adalah nitrogen oksida, ada karbon diaksida dan juga contrails. Masing-masing terbentuk ketika uap air mengembun pada satu titik partikel emisi.*****
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.