Plimbi.com - Prediksi Accenture mengikuti laporan tahun lalu di Technology Vision telah membuktikan sebanyak 60 persen konten digital akan dihasilkan oleh kecanggihan AI sepanjang lima tahun ke depan nantinya. Salah satu yang paling menonjol adalah peluncuran Google Flow di Indonesia. Platform canggig berbasis kecerdasan buatan ini bukan hanyalah untuk menerjemahkan teks-teks menjadi gambar melainkan menghasilkan video sinematik lengkap seperti mulai dari alur cerita, ada sudut kamera hingga musik latar.
Kemunculan Google Flow menjadi salah satu momentum penting untuk para kreator konten dan para pelaku industri kreatif di Indonesia. Ini menjadi lebih dari sekadar alat bantu, platform ini membuka era baru yang berkolaborasi antara manusia dengan AI dalam proses produksi konten.
Flow dirancang untuk tujuan memahami konteks emosional dan visual dari input teks. Contohnya adalah deskripsi seperti senja di Pantai Lombok dengan deburan ombak pelan-pelan memecah keheningan pagi dan langit biru, akan diubah menjadi video lengkap dengan grading warna hangat, ada slow motion ombak dan angle drone mengikuti matahari terbenam.
Teknologi tersebut di atas menggabungkan large language model/LLM dan juga generatif adversarial networks/GANs, dimana da pilar dipakai oleh ChatGPT dan juga MidJourney. Yang bikin beda flow adalah kemampuannya dalam menciptakan narasi visual yang konsisten dari awal hingga akhir.
Menurut pendapat Dr. Maya Sari, pakar AI dari Universitas Indonesia, kemampuan ini didukung oleh database transisi adegan yang dipelajari dari ribuan film-film Hollywood dan sinema Asia. Bagi para pelaku industri kreatif, flow menjadi salah satu solusi efisiensi yang signifikan. Salah satu pemilik agensi digital marketing di Jakarta mengatakan bahwa timnya berhasil memangkas biaya-biaya produksi video iklan hingga memperoleh nilai sebesar tujuh puluh persen dari global. Naskah secara langsung menjadi storyboard dan hanya butuh menyempurnakan logo dan voice over.
Namun kehadiran AI tidak serta merta menggantikan peran manusia di dalamnya. Justru kualitas video sangat tergantung kepada kemampuan merangkai prompt secara tepat. Semakin detail input yang diberikan maka menjadi semakin memukau hasil yang dilakukan oleh flow. Di balik kemudahan ini muncullah pertanyaan besar bagimana dengan hak cipta atas musik, terkait dengan visual atau gaya yang dihasilkan AI? Apakah YouTube akan membatasi monetisasi video berbasis AI?
Selanjutnya Google mengklaim telah menerapkan watermark digital dan sistem atribusi otomatis. Menurut Prof. Arif Wijaya, adalah ahli hukum siber UGM, Undang-undang terhadap hak cipta nomer 28 tahun 2014 belum mengatur adanya kepoemilikan karya yang dihasilkan oleh AI. Pertanyaan seperti siapa pemilik sah konten flow masih belum terjawab secara hukum.
Flow tidak akan menggantikan kreator melainkan mengubah cara mereka bekerja. Desainer grafis, penulis naskah hingga para editor video kini dapat menjadi lebih fokus terhadap konsep kreatif bukan lagi menjadi proses teknis repetitif.
Menurut riset Boston Consulting Group ada sekitar 58 persen profesional kreatif di Asia Tenggara mengalami peningkatan produktivitas berkat AI. Bahkan muncul profesi baru seperti AI content strategist yaitu ahli dalam merancang teks prompt supaya hasil videonya maksimal.*****
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.