article

The Spirit Of Bali, Menemukan Kedamaiaan Hati Dan Pikiran Di Desa Adat Ubud

The Spirit Of Bali, Menemukan Kedamaiaan Hati Dan Pikiran Di Desa Adat Ubud

Pernah mengunjungi Desa Adat Ubud di Bali? Ubud ibarat magnet yang mempunyai kekuatan spiritual dan daya magis, dapat dilihat dalam karya-karya unik dan besar seperti lukisan, pahatan/patung-patung, dan arsitektur bangunan rumah dan pura yang ada di lingkungan desa ini.

Keberadaan Desa Adat Ubud di Bali yang unik mampu menarik kedatangan beberapa seniman maestro Eropa yang melahirkan banyak seniman besar di lingkungan desa ini contohnya adalah I Ida Bagus Made, I Gusti Made Deblog, I Ketut Soki, I Gusti Nyoman Lempad dan seniman yang lainnya dengan keunikan masing-masing karya mereka bisa kita saksikan hingga sekarang tersimpan dengan rapi pada beberapa museum yang berdiri di seputaran Desa Ubud. Misalnya saja Puri Lukisan Museum, Neka Museum dan ARMA Museum.

Seperti diketahui bahwa Desa Adat Ubud berlokasi di pusat Pulau Dewata Bali yang dapat ditempuh dari Bandara Internasional Ngurah Rai Denpasar rata-rata 1 jam dengan memakai kendaraan roda empat atau 30 menit dari pusat Kota Denpasar. Lingkungan desa yang memiliki lokasi strategi memudahkan para pengunjung untuk menemukan desa ini.

ads

Ubud dijuluki sebagai “the spirit of Bali” dimana kata Ubud mengandung makna obat-obatan tradisional atau dalam Bahasa Bali adalah ubad. Mulanya desa ini muncul adalah karena banyaknya tumbuh dengan subur beberapa jenis tanaman obat yaitu sekitar abad ke-8 di masa perjalanan Rsi Markandeya menuju ke Pulau Bali. Beliau merupakan seorang mahayogi, pertapa suci dan orang suci yang kunjungannya dari India dipercaya untuk tujuan kebaikan yaitu menyebarkan ajaran agama Hindu ke wilayah Bali dan sekitarnya (Nusantara). Kunjungan dimulai dari daerah Jawa, khususnya memasuki dataran tinggi Dieng di Jawa Tengah kemudian melakukan perjalanan panjang hingga tiba di lereng Gunung Raung di Jawa Timur. Di sini beliau memiliki ratusan pengikut yaitu orang-orang Aga dan selanjutnya perjalanan napak tilas dilanjutkan menuju ke lereng Gunung Agung untuk merambah hutan guna menanam lima jenis logam (dikenal dengan istilah Panca Datu) dan inilah yang menjadi titik sejarah awal adanya pembangunan Pura Besakih yaitu pura terbesar Di Bali.

Catatan perjalanan suci Rsi Markandeya ke Bali adalah sempat membangun beberapa pura kecil lainnya seperti Pura Pucak Payogan di daerah Kedewatan Ubud, Pura Gunung Lebah di daerah Campuhan Ubud, dan Pura Gunung Raung di Taro Tegalalang Ubud.

Dari daerah lereng Gunung Agung di sekitar Pura Besakih, Rsi Markandeya sempat singgah untuk beristirahat di bagian barat Desa Ubud tepatnya di area Campuhan adalah titik pertemuan antara dua atau lebih alur sungai Ubud yang dianggap sebagai sungai suci dimana di pinggir sungai ditumbuhi pepohonan berusia tua dan juga tumbuh-tumbuhan yang memiliki khasiat sebagai bahan obat tradisional. Pada akhirnya desa yang penuh dengan kedamaian, asri dan berudara sejuk ini diberi nama Desa Ubud yang berarti ubad atau obat.

Pada zaman dulu, Maha Rsi sempat merasakan adanya energi spiritual yang sangat kuat di kawasan Campuhan dan akhirnya beliau memutuskan untuk sementara waktu melakukan tapa yoga di sini untuk selanjutnya mendirikan Pura Gunung Lebah di tempat dimana beliau melakukan tapa yoga. Hingga saat ini Pura Gunung Lebah menjadi salah satu kawasan suci yang dipercaya mampu mengikat dan mengumpulkan aura-aura spiritual yang kuat bagi para pengunjung yang akan melakukan upacara keagamaan di pura ini.

Desa Ubud berlokasi pada ketinggian antara 600 hingga 700 meter di atas permukaan laut. Inilah yang menjadi salah satu sebab daerah Ubud mempunyai curah hujan yang cukup besar, memiliki udara yang sejuk, dikenal sebagai daerah perbukitan dengan kontur tanah berupa lembah, banyak dikelilingi oleh hutan hujan tropis dan adanya area persawahan terasering. Curah hujan yang tinggi menyebabkan lahan di sini sangat subur sehingga ideal untuk difungsikan sebagai tempat pertanian. Rsi Markandeya dulu memperkenalkan sistem pertanian tradisional yang saat ini dikenal dengan istilah pengairan subak dan sudah dilakukan secara turun-temurun dari zaman nenek moyang orang-orang Ubud sehingga Rsi Markandeya beserta pengikutnya kini dikenal sebagai orang Bali asli (Bali Aga/Balinese Aga) memilih untuk menetap di Desa Ubud sambil menyebarkan ajaran Agama Hindu hingga saat ini.

Memasuki tahun 1920, Ubud mulai dikenal sebagai wisatawan asing, dimana ada beberapa artis dan seniman asing seperti pelukis, pematung, seniman tari dan yang lainnya berkunjung guna melihat Desa Ubud yang dipercaya sebagai area yang mampu menumbuhkan aura spiritual. Contohnya adalah Elizabeth Gilbert adalah seorang novelis terkenal asal Amerika Serikat menulis otobiografinya mengenai perjalanannya mengelilindi dunia termasuk Ubud di Indonesia tertuang dalam sebuah novel yang selanjutnya difilmkan dibintangi oleh super star Holywood Julia Robert, “Eat, Pray and Love”. Gilbert mengalami perkawinan yang gagal karena bercerai dengan suaminya. Dengan rasa frustasi, ia mengambil cuti selama setahun guna mengadakan perjalanan ke luar negeri untuk tujuan refresh mind dalam mencari makna kehidupan. Dia memutuskan mengunjungi tiga negara yaitu Italia, India dan Bali.

Italia ia mendapatkan kenikmatan kuliner yang tiada banding, di India ia melakukan peribadatan agama dan persembahyangan, menjalankan pemujaan di kuil-kuil, dan di Bali khususnya Ubud ia menjumpai cintanya yang sejati baik itu kepada kekasihnya, teman-teman, sahabat, keluarga dan alam semesta. Ubud mampu memberi inspirasi pada Gilbert sehingga kembali menemukan jati dirinya dengan mengunjungi beberapa tempat yang indah, menarik, mempesona seperti pesona alam sawah dengan teraseringnya, perbukitan, lembah, dan juga wisata kuliner vegetarian. Ubud adalah surga bagi dia. Didukung oleh masyarakat Ubud yang ramah dan welcome dengan beragam jenis tamu yang melakukan kunjungan ke Ubud, sama seperti masyarakat Bali di daerah lainnya pada umumnya.   

 

0
Comments (0)
Unable to Comment
You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login

No comments yet. Be the first to comment.

From Author
Loading…
ads
ads
ads