article

Lomba Mewarnai; Anak Atau Ortu Sih yang Berlomba?

Lomba Mewarnai; Anak Atau Ortu Sih yang Berlomba?

BIASANYA mengisi liburan hari Minggu, saya manfaatkan untuk jalan pagi. Tapi minggu lalu, saya diingatkan istri untuk menunda dulu kegiatan jalan pagi. Karena harus mengantar si bungsu ikut lomba mewarnai yang diadakan salah satu arena bermain anak di sebuah mal. Jam 7 pagi saya, istri dan si bungsu sudah sampai mal itu.

Sepagi itu, suasana mal sudah ramai mirip-mirip pasar pagi. Anak-anak kecil berbaur. Ada yang berlari-larian, bercanda dengan temannya, ada yang sibuk menyiapkan peralatan gambar di karpet yang digelar panitia. Sejumlah orang tua (ortu) juga tampak sibuk mengawasi anak-anak mereka. Sementara, ibu-ibu lainnya terlihat asyik ngerumpi.

Tepat jam 8 lomba digelar. Panitia membagikan lembar kertas yang sudah bergambar untuk diwarnai peserta. Nah, disinilah kehebohan baru dimulai. Para orang tua—khususnya ibu-ibu mulai ikut mengatur sang anak. “Dek, gambar gunungnya jangan hijau. Pakai warna biru aja,” teriak seorang ibu kepada anaknya.

ads

“Batang pohonnya coklat ya, jangan hitam. Ntar nggak menang, lho,” teriak yang lain. Beberapa ibu yang lain juga sibuk mengarahkan anak-anaknya masing-masing. Bahkan, ada yang sampai menerobos pagar batas yang dipasang panitia untuk mendampingi anaknya mewarnai. Padahal, panitia sudah berkali-kali mengingatkan agar para orang tua tidak mengarahkan sang anak saat berlomba. Tapi, peringatan itu dianggap angin lalu saja. Benar-benar tidak terkendali!

Dalam hati, saya jadi punya pertanyaan menggelitik, kenapa tidak ibu-ibunya saja yang jadi peserta lomba. Lomba mewarnai antar ibu-ibu, hehe…

 

Tapi dibalik itu, para orang tua—termasuk saya pada hari itu juga punya harapan sama; anaknya menang lomba. Namun banyak diantaranya yang kelihatan terlalu berambisi. Hingga akhirnya, tujuan awal mengikutkan sang anak lomba agar mereka punya keberanian dan kreativitas tergilas oleh ambisi orang tua yang semata-mata hanya ingin anaknya menang.

Bagaimana anak bisa keluar ide kreatifnya, jika mau memberi warna pada obyek tertentu saja, mereka diteriaki “jangaannn! warna ini saja yang dipakai.” “jangaannn! warna itu saja yang dipakai.” Akibatnya, anak cenderung saja menuruti perintah si ortu. Anak pun akhirnya berlomba di bawah tekanan ortu.

Padahal, lomba mewarnai seperti ini begitu banyak manfaat. Tidak sekadar melatih kreatifitas, tapi juga menumbuhkan jiwa seni sang anak. Dan buat saya, yang paling penting anak jadi punya rasa percaya diri. Ini juga sarana mereka bersosialisasi.

Tibalah saatnya pengumuman lomba. Dipilih lah juara 1,2 dan 3. Juga harapan 1, 2 dan 3. Suasana seru. Yang diumumkan menang langsung bersorak-sorai. Tapi yang tidak menang, ada yang menggerutu. Bukan anaknya, tapi orang tuanya. “Jurinya nggak fair…”

Ada salah satu orang tua yang protes, “kenapa panitia tidak bertindak tegas melihat ada orang tua mengarahkan anaknya untuk memilih warna tertentu saat mewarnai? Wah, juri payah, nih…”

Padahal, selama lomba, saya melihat sendiri, si ibu yang protes ini justru orang yang kelihatan paling sibuk mengarahkan anaknya. Nah, lho…! 

0
Comments (0)
Unable to Comment
You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login

No comments yet. Be the first to comment.

From Author
Loading…
ads
ads
ads