article

Ketika Duo Sahabat Menggelar Jamasan dan Parade Pusaka Nusantara

Ketika Duo Sahabat Menggelar Jamasan dan Parade Pusaka Nusantara

JAMASAN pusaka. Ini sebenarnya cerita setahun yang lalu. Tapi saya ulas kembali malam ini. Mumpung malam satu Suro. Sebuah tradisi memandikan pusaka warisan nenek moyang kita yang kini sudah mulai pudar. Namun di wilayah jabodetabek, masih ada yang melestarikannya. 

Inisiatornya adalah duo sahabat; KRHT Purba Jati dan Ki Sutono Qusyairi Sumolangu. KRHT Purba Jati nama aslinya adalah KH. Mh. Suud Wakhid. KRHT Purba Jati adalah gelar dari pria yang masih kerabat Kasepuhan Cirebon. Dalam keseharian, KH. Mh. Suud Wakhid dikenal sebagai Imam Jam’iyyah Dzikrul Manaqib Syech Abdul Qodir Al-Jaelani (Jamman). Sedangkan sahabatnya Ki Sutono Qusyairi Sumolangu adalah ahli spiritual yang memimpin Padepokan Tunggul Wulung di kawasan BSD, Serpong. 

Saya beruntung, pada setahun lalu itu bisa berada di tengah-tengah komunitas yang masih peduli untuk melestarikan budaya nusantara dengan menggelar jamasan pusaka dan parade pusaka nusantara tepat di malam 1 Muharram. 

ads

 

Saat itu, pusaka yang dijamas rata-rata adalah koleksi pribadi KH. Mh. Suud Wakhid dan Ki Sutono. Jumlahnya mencapai ratusan pusaka. Selebihnya ada milik para kolega dan warga yang berasal dari berbagai daerah di nusantara seperti Kepulauan Riau, Surabaya, Jogjakarta, Solo, Cirebon, Bandung, Madura, Jawa Timur dan sejumlah daerah lainnya. 

“Jamasan itu artinya memandikan atau membersihkan pusaka untuk merawat dan menjaga pusaka supaya tetap bebas dari karat sehingga terjaga dari kerusakan.” Demikian yang diungkapkan Suud Wakhid. 

Sejumlah pusaka yang ikut dijamas diantaranya Kujang Purbayeksa yang seluruhnya berbahan emas murni dibuat abad 12. Lalu Pusaka Nagaraja, Pedang Siberot milik Prabu Siliwangi, Pusaka Indra Nagabanda yang pernah menjadi pusaka Sultan Agung serta Gada Gajah Mada yang semuanya berasal dari abad 14. Selain itu juga terdapat ratusan benda kuno dan pusaka lainnya seperti keris, tombak, pedang, golok, tongkat, tasbih, kalung , guci dan berbagai lainnya. 

KH. Mh. Suud wakhid juga punya koleksi Guci Kasada milik Sunan Gunung Jati yang dulu adalah souvenir yang dikirim dari negara Cina untuk Sunan Gunung Jati. 

 

Ki Sutono menambahkan, banyak makna yang terkandung dalam prosesi jamasan. Selain mencuci pusaka dan menstabilkan auranya, juga untuk melestarikan budaya yang kini hampir punah. Sehingga, generasi muda tidak melupakan budaya para leluhurnya. “Dulu di beberapa tempat seperti TMII sering mengadakan acara seperti ini. Tapi sekarang sudah mulai langka. Untuk itu, kita melakukan agar tradisi seperti ini tidak hilang,” ujarnya. Namun, ujar KRHT Purba Jati, tujuan terpenting dari kegiatan ini sebagai salah satu bagian dari syiar Islam. 

Dari sisi dakwah, duo sahabat ini ingin meluruskan pandangan aqidah di masyarakat tentang pusaka agar tidak terjebak pada hal musrik dan khurafat. “Mintalah pertolongan hanya kepada Allah. Tidak ada kekuatan dan tidak ada yang mampu menolong di dunia ini kecuali Allah. Jadi, jangan meminta kepada benda pusaka untuk masalah atau penyakit yang dihadapi,” ujar KH Mh. Suud Wakhid.

Sebelum dijamas, pusaka-pusaka ini diparadekan dulu. Warga bisa melihatnya, namun tidak boleh menyentuh. Selama prosesi jamasan berlangsung, ada hal menarik terjadi. Ratusan warga yang hadir dalam acara itu tampak berebut air Jasaman—air bekas mencuci benda pusaka. Santoso Hardjono, salah satu warga percaya, air Jamasan ini diyakini diberkahi Allah sebab sebelum dipakai untuk mencuci pusaka, telah melalui serangkaian doa orang-orang pilihan.

0
Comments (0)
Unable to Comment
You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login

No comments yet. Be the first to comment.

From Author
Loading…
ads
ads
ads