KALAU ada pertanyaan, apa impian Anda setelah menjadi penulis, apa jawabnya? Ingin tenaaaarrr!!! Thok, cuma itu? Kalau jawaban Anda YA, siap-siap dech, Anda hanya dapat tenar aja. Kelak, semangat Anda menulis pun hanya karena ingin tenar, ingin diakui eksistensinya di dunia kepenulisan dan tak ingin yang lain.Â
Padahal, kalau memang sudah memantapkan diri berkarir di dunia kepenulisan, mustahil kita menulis cuma ingin tenar semata. Tentu kita berharap rezeki dari dunia menulis pun berlimpah. Ya tenar, ya kaya…Â
Ada yang protes!!! Lho, bukannya kalau sudah tenar, rezeki pun bakal ikutan terkatrol? Eitt…, nanti dulu. Belum tentu itu. Benar, urusan rezeki memang Tuhan yang mengatur. Tapi kita wajib berusaha kan? Lha kalau usaha kita hanya kepengen tenar saja, tapi tidak kepengen kaya, bagaimana Tuhan akan memberi kita kekayaan yang melimpah dari menulis?Â
Ingat cerita hidup J.K Rowling, penulis novel dahsyat, Harry Potter. Dulu, saat start untuk mulai menulis Harry Potter, Rowling sama sekali tak ada impian untuk menjadi terkenal kelak setelah novelnya diterbitkan. Yang ada di benaknya saat itu adalah bagaimana penerbit mau menerbitkan novelnya dan dia mendapatkan uang untuk menghidupi keluarganya.Â
Kondisi Rowling saat itu memang sangat memprihatinkan. Ia adalah seorang single parent yang membesarkan anak sendirian dan menggantungkan biaya hidupnya dari bantuan sosial. Dalam kondisi kepepet itulah, Rowling melahirkan karya hebat dan kini menjadi salah satu wanita terkaya di dunia berkat menulis.Â
Sudah saatnya kita banyak belajar dari penulis-penulis sukses. Di tanah air, coba tengok Habiburrahman El Shirazy, penulis novel Ayat-Ayat Cinta. Kang Abik—panggilannya, tak sekedar ngetop, tapi kini juga hidup berkelimpahan karena novelnya ini meledak di pasaran. Konon, royaltinya tembus hinga Rp1 miliar. Itu belum termasuk pendapatan lain-lain karena novelnya ini juga di-filmkan di tahun 2014.Â
Contoh lainnya adalah Andrea Hirata, penulis Laskar Pelangi. Novel pertamanya ini juga tak sekedar meledak di pasaran, tapi mengundang niat dua sutradara terkenal Riri Riza dan Mira Lesmana untuk mem-filmkannya. Sama sepertinya novelnya, film ini pun meledak dan penontonnya mencapai 4.6 juta orang.Â
Tidak berhenti sampai di situ. Tahun 2010, agen Amerika Amer & Asia Co. Ltd dari Tucson, Virginia di Amerika Serikat membeli hak cipta internasional tetralogi Laskar Pelangi. Lalu, novel Laskar Pelangi diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh FSG, Penguin Books, dan Random House untuk penjualan ke 20 negara. Yuk, sudah saatnya menulis tak sekedar bermimpi untuk tenar semata, tapi juga kaya…!!!Â
Menurut saya, menulis bukan sekadar pekerjaan, tapi juga bisa menjadi bisnis. Ini seperti kata Dan Poynter mengatakan, “writing is not a job; it"s businessâ€. Tulisan adalah komoditas jasa sekaligus produk yang memang bisa dibisniskan atau dijual. Istilahnya adalah writerpreneur. Kalau ini disebut bisnis, maka harus konsisten. Jika sebuah bisnis—apapun juga tak dilakukan secara konsisten, maka jangan harap akan berkembang.Â
Itulah sebabnya saya pernah katakan bahwa jangan lagi menulis berdasarkan mood. Meski harus jujur diakui seringkali kita memang kehilangan mood. Tapi saat mood hilang, tetaplah menulis sekalipun hasilnya tak maksimal. Yakin saja seberapa buruk tulisan yang dihasilkan dalam kondisi tidak mood, kelak hal itu tetap bisa kita pakai.Â
Ada juga yang semangatnya menggebu-gebu menjadi penulis. Apalagi setelah dimotivasi lewat pelatihan-pelatihan menulis. Tapi semangatnya hanya sebatas koar-koar saja ingin menulis. Sementara tak satupun tulisan yang dihasilkan hingga semangatnya kian meredup. Contoh kasus seperti ini banyak.Â
Semoga kita bukan bagian dari karakter yang seperti ini. Terus latih menulis, apapun juga. Mau mood nggak mood, nulis saja, terus..dan terus… sampai menulis benar-benar menjadi sebuah passion, yang seperti Dahlan Iskan jika sehari saja tidak menulis akan merasa "kelaparan".Â
Namanya sebuah bisnis—apalagi pemula, jatuh bangun itu sudah biasa. Begitu juga dalam writerpreneur. Karena itu, mental yang harus disiapkan memang harus mental pebisnis, yang tetap berjuang dalam kondisi apapun, baik saat jatuh maupun bangun agar bisnis yang digeluti tetap berkembang.Â
Sekedar penyemangat, saya paparkan deretan penulis-penulis kaya dunia pilihan dari Majalah Forbes tahun 2012. Diantara penulis dunia kaya itu adalah James Patterson, dengan penghasilan $94 million/tahun. Lalu Stephen King dengan penghasilan $39 million/tahun. Juga ada Bill O"Reilly dengan penghasilan $24 million/tahun.Â
Dari tiga penulis ini, yang menarik adalah kisah Stephen King. Anda tahu tidak, buku pertamanya berjudul Carrie pernah ditolak oleh 30 penerbit yang didatangi. Saat itu, keputus-asaan mulai mendera. King benar-benar menyerah dan membuang naskah itu ke tong sampah. Namun sang istri mengambilnya dan menyemangati King untuk terus mencoba. Hasilnya, King telah menjadi penulis yang tidak sekedar terkaya di dunia, tapi juga menjadi penulis terbaik sepanjang masa.Â
Sedangkan James Patterson yang punya penghasilan $94 million/tahun adalah seorang penulis kuliner. Ia banyak menulis resep masakan super lezat. Sedangkan Bill O"Reilly adalah penulis analisa politik yang juga menjadi host di TV Fox News.Â
Nah, untuk menuju ke sana mari kita samakan dulu persepsi. Menulis sebagai bisnis bukan penulis yang menulis sekedar mencari sensasi, eksistensi atau pencitraan seperti yang sering kita lihat pada sejumlah buku-buku karya selebiritis maupun politikus.Â
Kita menulis untuk satu tujuan utama; mencari nafkah. Disamping juga membagi ilmu maupun pengalaman buat pembaca. Kita jangan menjadi penulis yang rela mengeluarkan uang berjuta-juta untuk menerbitkan buku sendiri, lantas bukunya malah dibagi-bagikan secara gratis ke orang lain. Bukan cara itu kalau ingin menjadi writerpreneur.
Karena ini sebuah bisnis, sebelum menulis, pahami dulu selera pembaca, kepada siapa tulisan ditujukan, bagaimana potensi pasarnya. Ini semua harus dihitung, baru kemudian berkarya. Prinsipnya adalah jeli melihat peluang.
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.