article

Calo Tanah…Oh…Calo Tanah

Calo Tanah…Oh…Calo Tanah

SAYA termasuk orang yang selalu tertarik mencoba hal-hal baru. Rasanya, adrenalin saya tertantang. Kali ini saya akan bercerita bagaimana selama 6 bulan belakangan ini saya mengikuti sepak-terjang para calo tanah alias makelar tanah. 

Beruntung saya punya teman yang kerjanya memang mencari tanah untuk kepentingan sejumlah koleganya. Otomatis, teman saja—sebut saja Adi, banyak berhubungan dengan para calo tanah. Dari sinilah petualangan saya dimulai. 

Ketertarikan untuk menyelami dunia mereka berawal saat saya iseng ngopi pagi di sebuah warung. Tanpa sengaja saya bertemu Adi. Rupanya di warung itu, tengah berkumpul kawan-kawan Adi yang lain. Rupanya, warung itu sehari-harinya memang menjadi “kantor” bagi para calon tanah. 

ads

Ditemani kopi, obrolan pun seru. Tapi fokusnya satu, seputar jualan tanah. Kawan-kawan Adi ini punya banyak sekali listing orang-orang yang hendak menjual tanah maupun rumah. Bertukar informasi lah mereka. Saling share data dan foto via whatsapp. Bahan yang sudah di share itu langsung diteruskan ke beberapa orang yang potensial untuk membeli. 

 

Di sela-sela obrolan, tiba-tiba, Adi pun wajahnya tampak sumringah. Ia baru saja mendapat info ada orang yang jual tanah. Luasnya 5,5 hektare. Lokasi strategis, pinggir jalan besar. Sudah banyak perumahan. Harga cuma Rp400 ribu per meter, sementara pasaran tanah di situ sudah mencapai Rp700 ribu per meter. Yang menarik lagi, info yang di dapat; pembayaran lunak, bisa sampai dua tahun. 

Kebetulan, Adi sedang mendapat order untuk belanja tanah dari seorang pengembang perumahan. “Pas ini. Cocok dech. Yuk, ikut survey lokasi,” ujar Adi menawarkan ke saya. 

Tak berfikir dua kali, saya pun menerima ajakannya. Pertimbangannya; pertama, saya memang suka untuk mencoba hal-hal baru. Kedua, ingin membuktikan sulit tidak sih bisnis tanah itu. Selama ini, saya sering mendengar banyak orang mengeluh karena sulit menjalankan bisnis tanah. 

Tapi kesimpulan saya saat itu, kayaknya tak sulit-sulit amat nih. Buktinya, begitu mudah Adi mendapat informasi tanah dijual lengkap dengan berbagai kemudahannya. Ditambah lagi memang ia mendapat tugas untuk belanja tanah dari pengembang property. Klop banget…! Saya pun saat itu sampai tergiur mengikuti jejak Adi. “Kalau tahu begini mudah, saya kepengen terjun jadi calo tanah, ah…,” begitu ucap saya dalam hati. 

Sedang asyik membayangkan indahnya menjadi calo tanah, tiba-tiba saja saya dan Adi sudah sampai ke rumah si pemberi informasi tanah dijual itu. Ia pun langsung mengajak kawannya itu untuk survey lokasi. 

 

Check list pun mulai dilakukan. Sesuai informasi awal, luas 5,5 hektare. Benar. Lokasi strategis, pinggir jalan besar. Nah, di sini informasi mulai meleset. Ternyata, letaknya hampir sekitar 2 km dari jalan raya. Kok beda informasinya? “Jalan ini nantinya bakal jadi jalan raya juga. Mau dibangun Pemda kok, sudah diukur-ukur,” ujar kawan Adi sambil menunjuk jalan kampung yang dilalui menuju lokasi tanah itu. Ohhh… ternyata baru akan dibangun jalan raya, tapi belum. 

Check list berikutnya; sudah banyak perumahan. Hhhmmm…boro-boro perumahan, orang lalu lalang di kawasan itu pun masih jarang. Lokasinya masih dipenuhi rumpun bambu. “Tapi jangan salah lho, Di. Tanah-tanah di sekitar sini sudah banyak dibeli pengembang perumahan. Jadi, ke depan akan banyak kompleks perumahan,” ujar kawan Adi beralasan. Ohhh… ternyata baru akan dibangun jalan raya, tapi belum. 

Sampai di sini, Adi sepertinya tak patah semangat. Check list pun berlanjut. Harga Rp400 ribu per meter. “Kalo soal harga, coba saya telpon kawan saja dulu ya untuk memastikan,” ujar si kawan Adi itu. 

Welehhh…ternyata berantai nih. Dia bukan orang yang dikuasakan untuk menjualkan tanah itu, tapi masih melalui kawannya lagi. Nah, parahnya lagi, kawannya kawan Adi ini ternyata tidak sendirian. Ada lima orang lagi yang juga ikut terlibat masalah penjualan tanah tersebut. Wahhh…rombongan nih. 

 

Dalam hati saya menduga, wah ini nggak beres lagi… Ternyata benar. “Maaf Di, ternyata harganya sudah dinaikkan oleh pemiliknya. Sekarang dia buka harga Rp850 ribu per meter. Harga Rp400 ribu itu harga enam bulan lalu saat pemilik sedang kepepet butuh duit.” Makjlebbbb…. 

Saya jantung saya jadi ikut-ikutan deg-degan mendengar kabar itu. Tapi Adi enteng dan singkat saja menjawab, “Ohh, gitu ya.” Benar-benar ‘pemain’ tanah dia. Dapat informasi yang sebagian besar salah tapi tetap kalem. “Kalau untuk pembayaran benar nih, bisa lunak sampai dua tahun seperti info tadi,” tanya Adi mengecek kebenaran info berikutnya sambil terus memotret lokasi tanah itu dengan kamera ponselnya. 

Apa kata kawan Adi? Ternyata pembayaran lunak itu pun kebijakan enam bulan lalu. Sekarang pemiliknya hanya memberi kelonggaran pembayaran 3 termin dalam waktu 6 bulan. Guuubbbbrakkkk…. Dari sejumlah informasi yang disebutkan, ternyata cuma ada satu yang benar yakni luas tanah 5,5 hektare. Lainnya, informasi abal-abal alias tidak valid. 

Saat pulang, di dalam mobil Adi pun bercerita, dalam dunia percaloan tanah, hal seperti itu memang kerap terjadi. Ketidak-validan data obyek tanah yang akan dijual itu menjadi hal yang biasa. Umumnya, seringkali calo tanah melebih-lebihkan informasi tanah itu untuk menjadi daya tarik calon pembeli. 

 

Begitu calon pembeli sudah melakukan survey, mereka pun (biasanya ramai-ramai saat mendampingi pembeli, red), memainkan peran masing-masing yang intinya bagaimana caranya calon pembeli itu mau beli meski kurang minat. “Itulah makanya kenapa kawan saya yang pengembang property ini malas turun sendiri untuk survey langsung dan sering menyuruh saya,” ujar Adi. 

Tapi sejak itu, saya jadi penasaran dan sering ikut Adi untuk survey lokasi. Dari sekian banyak survey, cerita demikian lah yang sering didapat. Kesimpulan saya saat itu; mereka ini membantu menjualkan obyek yang nyata yakni tanah. Tapi kerapkali informasinya tidak nyata alias data yang tidak valid atau dilebih-lebihkan. Sehingga, mimpi besar mereka untuk mendapat fee hasil penjualan tanah kerap tidak menjadi kenyataan. 

Tiba-tiba ponsel Adi bordering. Dari seberang sana, terdengar seorang laki-laki bicara, “Gimana Di survey-nya. Mantap nggak tanahnya,” ujar pria sahabat Adi yang meminta jasanya untuk belanja tanah.

“Mentah, Bos. Sabar ya, saya cari lagi,” ujar Adi.

0
Comments (0)
Unable to Comment
You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login

No comments yet. Be the first to comment.

From Author
Loading…
ads
ads
ads