article

Pengabdian Seindah Pelangi Cicih Sunarsih

Pengabdian Seindah Pelangi Cicih Sunarsih

MEMIMPIN dua organisasi bersamaan dan aktif dalam sejumlah organisasi lain serta menjalani aktivitas bisnis sekaligus memang tidak bisa dianggap mudah. Banyak tantangan maupun rintangan serta kendala yang dihadapi. Namun Cicih Sunarsih—Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Wanita Nasional (DPP Iwanas) dan Ketua Umum Mitra Wanita Nyi Ageng Serang (Mitranas) sangat menikmatinya. Dari sanalah, Cicih justru banyak mendapatkan pengalaman berharga bagaimana menjadi seorang pemimpin yang harus adil. 

Wanita kelahiran Bogor, 12 Januari 1967 ini juga harus menanamkan sikap kepada mereka untuk mau dan menghormati perbedaan pendapat. Sebab, dalam sebuah organisasi, perbedaan pendapat itu akan selalu ada. “Saya selalu tekankan untuk saling belajar menghargai sebab, manusia sebagai makhluk sosial tentu saling membutuhkan satu sama lain,” terang putri bungsu pasangan Mas Ade Yayan Garmita dan Carwati ini.  

 

Menurutnya, perbedaan itu merupakan salah satu karunia Tuhan dan membuktikan itulah kekuasaan Tuhan. Karena itu, dalam menjalankan roda organisasi, Cicih merasakan itulah bagian dari ibadah yang dilakukan kepada Tuhan.

ads

Dalam menjalankan aktivitas, Cicih selalu menerapkan filosofi pelangi. Pelangi yang terlihat warna-warni yang turun usai hujan terlihat sangat indah. Masing-masing warna juga tak pernah saling mendominasi, sama rata tak bercampur satu sama lain. Namun justru perbedaan warna inilah yang membuat pelangi semakin indah.

Pelangi inilah yang menjadi pelajaran bagi Cicih Sunarsih untuk selalu bersikap arif dalam menghadapi perbedaan. Perbedaan ini bukan menjadi kendala untuk maju, melainkan harus dijaga demi terciptanya keharmonisan untuk tercapainya tujuan bersama. Disinilah ia merasakan seninya memimpin sebuah organisasi.

“Jika pelangi ini hanya terdiri dari satu warna saja, tentu keindahannya tak ternyata Nampak. Begitu juga dengan dalam sebuah organisasi. Jika organisasi ini dijalankan melalui pemikiran satu orang saja, maka akan terasa monoton dan kaku,” ungkap wanita yang juga aktif di Gabungan Organisasi Wanita (GOW) ini.

Baik Iwanas maupun Mitranas adalah dua organisasi yang fokus di bidang sosial kemasyarakatan. Dalam menjalankan aksi peduli sosial, dirinya tidak mengharap bantuan pihak luar, termasuk dari pemerintah daerah. Sikap kedermawanan inilah yang membuatnya rutin menjalankan agenda-agenda sosial, mulai dari sumbangan yatim piatu hingga korban bencana. Sikap kepedulian social seperti inilah yang selalu ditularkan kepada pengurus dan anggotanya. “Kami biasanya mengumpulkan sumbangan untuk aksi sosial dari swadaya pengurus dan anggota,” ujar Cicih.

 

Pun demikian pada hal ini diterapkan terhadap karyawannya di sejumlah usaha yang dijalankan. Para karyawan diajarkan bersikap dermawan melalui program sederhana yakni “Sedekah Uang Kembalian”.  Sekilas, program ini memang sederhana, hanya mengumpulkan uang recehan dari para karyawan yang habis membelanjakan sesuatu. Uang recehan dari para karyawan ini dimasukkan dalam kotak yang setiap satu bulan sekali kotak tersebut dibuka dan hasilnya untuk berbagai kegiatan sosial.

Sebagai pemimpin dari dua organisasi kewanitaan, pengusaha di bidang properti ini juga selalu menyemangati mereka untuk selalu mandiri. Bagi Cicih, kemandirian perempuan itu sebuah keharusan. Sebab, jika hidup selalu tergantung orang lain, hal ini akan menjadi beban. Ia pun mendorong wanita mampu berkiprah dalam segala bidang. “Saya ingin, wanita Indonesia mampu berwirausaha mandiri dan professional,” tekadnya seraya mengatakan, baik di Iwanas maupun Mitranas, ia membebaskan para anggotanya untuk berekspresi dan mengeluarkan ide serta gagasan.

Terkait profesinya, sejak kecil, Cicih Sunarsih dikenal sebagai sosok yang mandiri. Saat masih bersekolah, ia sudah terbiasa berwirausaha untuk membantu orang tua membiayai sekolahnya. Selepas pendidikan, ia pun tak lantas menganggur namun langsung mencoba sejumlah profesi, diantaranya bergabung dengan perusahaan asuransi.

Jiwa entrepreneurship yang dimiliki inilah yang menjadikannya akhirnya memilih jalan sebagai seorang pengusaha di usia dewasa. Kini, bersama sang suami, selain usaha di bidang properti, ia menekuni usaha batu mulia dan memiliki pertambangan emas.

Di tengah kesuksesan yang diraih, Cicih memang tetap tak berubah. Ia dikenal sebagai sosok pengayom, welas asih, sabar, dan penuh perhatian. Ia pun selalu menjalankan nasehat dan petuah kedua orang tuanya untuk memperbanyak silaturahmi dengan siapapun. Karena melalui silaturahmi, pertolongan Tuhan akan terbuka dan kesuksesan akan teraih.

0
Comments (0)
Unable to Comment
You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login

No comments yet. Be the first to comment.

From Author
Loading…
ads
ads
ads