Kehidupan para warga urban, populasi penduduk yang padat, banjir informasi, keserakahan, dan kerasnya kompetisi adalah media paling menarik sebagai inspirasi karya lukisan pelukis berparas cantik beraliran kontemporer asal Kota Bandung, Christine Ay Tjoe. Isu tersebut dituangkannya ke dalam karya – karya cemerlang berupa 12 lukisan yang dipamerkan di galeri seni White Cube, Bermondsey, London, 13 Juli – 11 September 2016 yang lalu. Lukisan Ay Tjoe yang abstrak tersebut di Indonesia kadang – kadang sangat sulit dipahami, tapi tetap tampil indah. Ia mengakui bahwa adanya unsur - unsur filosofi dan psikologi dibalik goresan manis dari warna dan bentuk yang ia tuangkan di atas kanvas mencerminkan sebuah karya cantik. “Saya tertarik untuk mengulik manusia. Saya lebih banyak menggambarkan kecenderungan yang akan terjadi dalam kehidupan manusia lokal dan global dalam karya - karya saya. Saya melihatnya dari sudut pandang pribadi,†ungkapnya. Lahir di Kota Bandung tahun 1973, Ay Tjoe dikenal sebagai salah satu perupa dengan sederet penghargaan, antara lain, 5 besar Phillip Morris Award tahun 2001, dan Scholarship in Stiftung Koenstlerdorf Schoeppingen, Jerman tahun 2004. Kini, ia lebih banyak dikenal aktif berpameran baik itu di dalam, maupun di luar negeri seperti Inggris, Amerika, Jerman, Jepang, Singapura, Korea, Prancis, Cina dan Hongkong.
Lahir di Bandung, 27 Desember, berbekal latar belakang pendidikannya di bidang Seni Grafis ITB dan lulus pada tahn 1997, Ay Tjoe merupakan seorang seniman perempuan di Indonesia yang cukup penting dan menonjol diantara rekan - rekannya. Ia memulai karirnya sebagai seorang seniman grafis lalu memulai bereksperimen dengan teknik dry point yang terus dikembangkan dan tertuang sangat cantik di atas kertas dan kanvas.
Karya - karyanya saat ini banyak mengungkapkan tentang kerapuhan, melankoli, rasa sakit dan kebahagiaan yang tampaknya merefleksikan gaya hidup dalam kelompok elit dan juga kehidupan pribadinya. Sejak lulus dari bangku universitas, ia telah banyak berpartisipasi dalam beberapa pameran di galeri dan museum baik itu di dalam dan luar negeri, seperti Taipei, Singapore, Shanghai, Beijing, Hong Kong, New York, Miami, London, Paris, Melbourne, Sidney, Jakarta dan Bandung. Namun ia lebih banyak tinggal dan bekerja di Bandung.
Objek Lukisan Musim Semi Alpen
Kereta Api Salju
Sebuah kereta warna merah melintas dengan cepat dan memasuki Stasiun Kleine Scheidegg. Ini merupakan stasiun terakhir kereta yang menghubungkan beberapa distrik di Interlaken. Sebuah penginapan megah berupa Hotel Bellevue des Alpes berdiri menantang langit yang setiap hari jarang mendung, bangunan yang didirikan tahun 1840 ini sempat menjadi ikon Alpen.
Belum lagi di sekitar stasiun dan perjalanan menuju ke stasiun, terdapat lembah yang sangat menawan, bisa dibingkai sebagai objek lukisan berupa panorama trio puncak bersalju Alpen yang terkenal : Eiger (3.970 meter di atas permukaan laut / dpl), Monch (4.099 meter / dpl), dan yang tertinggi Jungfrau (4.158 meter / dpl). Pada 118 tahun lalu, jalur kereta listrik yang mendaki kecuraman jurang dan gunung - gunung untuk menuju ke puncak Jungfrau (Jungfraubach) dirintis pertama kali oleh Adolf Guyer - Zeller. Sepanjang perjalanan tersebut dimana – mana ada tanjakan berliku – liku dan menanjak sekitar 400 meter hingga ke puncak, dimana kereta bisa berhenti beberapa kali untuk tujuan memberikan kesempatan kepada para penumpangnya turun guna istirahat atau menyaksikan keindahan gletser lewat jendela.    Â
Gletser Terpanjang Di Dunia Â
Sebuah lift membawa para tamu ke lantai atas dimana kondisinya yang cukup impresif tampak klasik dan semua material terinovasi, diangkut dari Zurich menuju ke tempat terpencil tersebut. Keluar dari lift, akan tampak pemandangan glacier yang terpampang menawan hati lewat jendela kaca. Terlihat sekumpulan turis asing berfoto di ruang terbuka dalam balutan pakaian hangat berwarna cerah. Sebuah teras landai di atas hamparan salju banyak membuat ciut hati beberapa turis asing karena tampak sangat licin layaknya jalan es, apalagi hanya ada tali seadanya saja di tepian jalan untuk bisa berpegangan. Namun kapan lagi anda bisa menikmati pemandangan alam ke Aletsch Glacier yang bagus dijadikan sebagai objek lukisan ? Tahun 2001, gletser terpanjang di dunia (24km) berhasil dinobatkan sebagai Unesco World Heritage dimana ada banyak sekali turis asing yang suka melihat – lihat sisi lain bangunan nan megah dan klasik. Banyak ada burung berbulu hitam dan besar hinggap di kabel listrik di atas bangunan tersebut. Cukup mengherankan karena saat ini ada fauna yang mampu mencapai daerah setinggi itu.
Demikian kami menjelskan semoga ada yang berminat !
Â
Â
  Â
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.