article

Carmen, Perjuangan Sekelompok Wanita Gipsi Asal Spanyol

Carmen, Perjuangan Sekelompok Wanita Gipsi Asal Spanyol

Usai anda menyaksikan penampilan Heny Janawati yang apik memerankan tokoh Carmen di salah satu pertunjukan panggung kesenian yang spektakuler di Kanada. Avip (koordinator sanggar) memiliki ide awal dan langsung tergerak untuk mementaskan opera Carmen karya legendaris Georges Bizet di Indonesia. Dalam rencana besar mereka, Avip akan menggandeng Jos Groenier, sutradara asal Belanda yang telah lama bergabung dalam European Music Organisation yaitu sejak tahun 1978, yang bertujuan untuk memperkaya wawasan para penampil terhadap opera standar internasional.

Lebih lanjut menurut Avip, Carmen yang terdiri atas empat babak ini merupakan salah satu opera kelas dunia terlengkap pernah dipertunjukkan. Ada Aria (nyanyian tunggal), paduan suara, hingga orkestra. Tokoh Carmen dilukiskan sebagai seorang wanita Gipsi yang terbebas dari peraturan berlaku pada suku Gipsi di Spanyol, ia ditaksir oleh banyak pria, tetapi mempunyai kisah cinta tragis. Yang membuat pertunjukan ini semakin istimewa adalah Happy Salma ikut hadir sebagai penutur cerita yang memiliki durasi dua jam ini. Opera Carmen telah dipentaskan sejak tanggal 16 dan 17 April 2016 dengan harga tiket mulai Rp 300.000 (student) hingga Rp 2.000.000 (VVIP).

“Saya ingin opera yang dipentaskan oleh TRMS dan BMS ini bisa mengedukasi masyarakat Indonesia mengenai opera,” jelas Avip menutup pembicaraan.

ads

Kisah Cinta Tragis Wanita Gipsi Di Panggung Opera 'Carmen'

Jakarta (Senin, 18 Apr 2016), Happy Salma mengawali pertunjukan di atas panggung dalam balutan dress panjang berwarna merah model sederhana. Senada dengan warna kulitnya yang menarik, Happy Salma tampak anggun berdiri dengan tenang di atas panggung setengah lingkaran yang ditata dengan artistik, dan tepat di tengah – tengah terdapat ruang khusus bagi para pemain musik. Sambil menghela nafas panjang, ia mulai berkisah, pada jaman dahulu kala di sebuah negara yang dikenal dengan sebutan 'matador, hiduplah sepasang kekasih yang menjalani kisah cinta mereka dengan cara unik. Cinta mereka terukir indah dalam di seantero negeri. "Setiap pria memujanya, mengidam - idamkan kehadiran wanita itu, lirikan matanya membuat pria jatuh hati. Wanita itu bernama Carmen," ujar Happy yang malam itu di atas panggung bertugas sebagai narator.

Alkisah di sebuah pabrik rokok, Carmen (diperankan oleh Heny Janawati) bekerja sebagai buruh. Ia suka berpenampilan seksi dengan gaya berpakaian ala gipsi khas gadis – gadis Spanyol. Tubuhnya yang tinggi semampai kadang – kadang membuat siapa saja pemuda di dekatnya suka menunggu untuk diajak kencan. "Carmen jatuh cinta kepada Don Jose yang pemalu. Pria yang berprofesi sebagai tentara itu membuat Carmen menyerahkan hatinya. Carmen terlalu cantik bagi Don Jose," kata Happy menerangkan.

Untuk pertama kalinya, pertunjukan opera bertaraf internasional 'Carmen' karya populer komposer Prancis, Georges Bizet hadir di Indonesia pada tanggal 16 - 17 April tahun lalu di Ciputra Artpreneur Theatre, Jakarta. 'Carmen' dikenal sebagai salah satu kisah opera yang sangat romantis dan paling sering diadaptasi ke atas panggung opera di dunia.

Dengan latar belakang budaya Spanyol di abad ke-19, The Resonanz Music Studio mampu mengangkat kisah ini sesuai dengan naskah aslinya ke atas panggung dimana tim pemain diarahkan oleh sutradara asal Belanda bernama Jos Groenier yang telah beberapa kali menampilkan opera diberbagai negara. Happy yang ditemui oleh beberapa wartawan termasuk Femina usai preview, menjelaskan bahwa 'Carmen' memamng selayaknya tampil di Indonesia.

Superioritas Tokoh Carmencita Dalam Novel "Carmen" Karya Prosper Merimee

Penelitian yang dilakukan oleh dua penulis bernama Tantri Kusumawardhani dan dibimbing oleh Arifah Arum Candra, S.S., M.A, membahas tentang bentuk superioritas dari seorang wanita dari suku Gipsi terhadap laki - laki tertuang manis ke dalam novel laris berjudul sama yaitu Carmen (1845) oleh Prosper Merimee, seorang penulis asal Prancis pada abad ke - 19. Tema dari novel ini ialah sebuah perselingkuhan yang menyebabkan pembunuhan dan kisah tersebut terinspirasi dari perjalanan Prosper Merimee ke Spanyol sekitar tahun 1830. Pemeran utamanya memang adalah seorang wanita Gipsi dimana ditemukan dua teori yang digunakan dalam penelitian ini, yakni teori feminisme di Spanyol pada abad ke - 19 dan teori superioritas oleh Alfred Adler. Metodologi penelitian yang diterapkan adalah metode sosiologi sastra dari seorang filsuf Perancis, bernama Lucien Goldmann. Penelitian ini fokus kepada bagaimana cara mengelaborasikan bentuk sikap superioritas dari para tokoh utama dan dampaknya terhadap masyarakat sekitar, serta dapat mendeskripsikan situasi sosial di Spanyol pada abad ke - 19, terutama terhadap perjuangan para wanita demi untuk kesetaraan antara kedua jender.

 
gypsies1.jpg

Demikian kami menjelaskan semoga bermanfaat bagi anda yang tertarik akan kebudayaan orang gypsy.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0
Comments (0)
Unable to Comment
You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login

No comments yet. Be the first to comment.

From Author
Loading…
ads
ads
ads