Benih ikan Nila unggulan yang umum disediakan di Indonesia adalah jenis ikan Nila merah super, ikan Nila gesit, Nila hitam, Nila putih. Menurut Surya Mina dan beberapa sumber lainnya, mereka siap menerima dan mengirim pesanan benih ikan Nila dalam beragam ukuran, dari ukuran larva sampai ukuran sekitar 6 - 8.
Pembenihan ikan Nila yang dilakukan secara sembarangan akan menyebabkan penurunan performa dan kualitas benih ikan Nila yang akan dihasilkan, dimana hal ini menyebabkan kerugian bagi pembudidaya ikan Nila dengan semakin menurunnya kualitas ikan Nila yang beredar di kalangan petani ikan UKM di Pulau Jawa dan Pulau Bali. Maka dari itu, pembudidaya ikan Nila diimbau agar selalu berhati – hati dan tidak sembarangan membenihkan ikan Nila agar kualitas benih unggul yang dihasilkan nanti tetap terjaga dan unggul.
Mendorong kebutuhan akan ikan Nila unggulan setiap tahun, dan dalam upaya meningkatkan budidaya ikan Nila, menyebabkan petani lokal harus mampu memenuhi kebutuhan akan ikan Nila unggul sewaktu - waktu. Dijelaskan oleh Direktur Perbenihan, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Djumbuh Rukmono, dimulai pada tahun 2002, upaya perbaikan genetik Nila yang berasal dari Nila gift gencar dilakukan berbagai pihak dan sampai saat ini sudah ada 13 strain Nila yang resmi dirilis KKP. Ketigabelas ikan Nila tersebut meliputi Nila JICA, Nila Gesit, Nila Nirwana, Nila Jatimbulan, Nila Best, Nila Larasati, Nila Nirwana II, Nila Sultana, Nila Srikandi, Nila Anjani, Nila Merah Nilasa, Nila Jantan Pandu dan Kunti, serta Nila Salina. Nila - Nila tersebut dikembangkan oleh balai - balai di bawah arahan KKP serta unit pelaksana teknis (UPT) di bawah dinas perikanan provinsi dan kabupaten / kota setempat. â€Setiap strain Nila tersebut memiliki keunggulan tersendiri sesuai dengan peruntukannya, seperti tahan penyakit, tumbuh cepat, dan bisa hidup di air payau,†ungkap Djumbuh.
Pengembangan ikan Nila unggul di berbagai daerah, jelas Djumbuh lebih lanjut, dikoordinasikan melalui broodstock center (pusat induk) nasional yang dikoordinir oleh balai besar perikanan budidaya air tawar (BBPBAT) Sukabumi. “Setiap tahun dilakukan evaluasi,†kata Djumbuh.
Untuk pemenuhan konsumsi ikan Nila dalam negeri, sengaja dibudidayakan Nila unggulan dalam jumlah besar, dimana hasil budidaya semua strain Nila tersebut sebagian akan diekspor ke luar negeri. Salah satu strain Nila yang banyak diekspor ke luar negeri dan digemari oleh turis Jepang dan Korea adalah Nila Nirwana II yang dihasilkan oleh balai pengembangan benih ikan air tawar (BPBIAT) Wanayasa, Purwakarta, Jawa Barat.
Hal yang perlu diingat, kata Djumbuh, setiap indukkan strain baru yang dibuat harus didiseminasikan secara baik oleh unit pelaksana teknis yang ada di daerah. â€Tujuannya agar pembudidaya ikan baik pembenih maupun pembudidaya pembesaran dapat memanfaatkan secara optimal nila unggul yang diproduksi dengan kualitas yang selalu terjaga,†kata Djumbuh.
Sertifikasi Benih
Fakta menjelaskan bahwa sifat mudah kawin pada ikan Nila dapat dijadikan sebagai kelebihan dalam kegiatan pemuliaan, ternyata justru bisa menjadi problem besar apabila tidak disikapi dengan baik. Menurut pakar budidaya perikanan dari departemen budidaya perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor, Irzal Effendi, ikan Nila yang dikawinkan terlalu muda akan mengakibatkan lambatnya pertumbuhan dan ukuran tubuh ikan menjadi relatif kecil.
Tantangan lain yang dihadapi, kata Irzal, saat ini penyilangan ikan Nila di masyarakat sangat bebas dan kurang terkontrol. “Banyak pembudidaya yang coba - coba mengawinkan ikan Nila final stock (FS) atau benih sebar yang memiliki ukuran besar dengan tujuan untuk memperoleh keturunan yang ukurannya sama,†ujarnya. Penyilangan ini bersifat sporadic, akhirnya menghasilkan keturunan yang rendah dalam hal kualitas.
Melihat adanya tantangan dalam menjaga kualitas induk Nila unggul tersebut di atas, Irzal berharap di masa depan Pemerintah Indonesia bisa bertindak cepat untuk dapat mencari solusinya. Ia menyarankan agar ditempuh cara – cara termudah bagi pemula adalah dengan menunjuk dan bekerja sama terhadap balai - balai khusus untuk memproduksi induk sebar dan benih sebar. “Sementara, masyarakat atau swasta yang ingin memproduksi harus memiliki sertifikasi yang menunjukkan induk telah mengalami prosedur yang benar, sehingga layak dijadikan sebagai induk dan praktiknya harus diawasi oleh pemerintah,†tegas Irzal. Untuk mengatasi kondisi terburuk di atas, bisa dilakukan dengan cara monosex culture atau membudidayakan Nila satu jenis kelamin, baik jantan maupun betina saja sehingga perkawinan dalam kolam tidak terjadi. Monosex culture biasa dilakukan dengan cara memilih Nila jantan dan betina secara mekanis atau dengan pemberian hormon, misalnya aromatase dan inhibitor, untuk mengarahkan ikan Nila ke jenis kelamin jantan, sejak dini.
Demikian kami menjelaskan semoga bermanfaat !
Â
Â
Â
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.