article

In Cold Day

In Cold Day

Akhirnya aku tiba di St. Louis setelah melakukan sebuah perjalanan panjang melalui rute perjalanan barat, di dalam mobil sempat berpikir untuk mengubah rute ke arah Terre Haute, wilayah Indiana, dengan perasaan ringan namun tetap berhati – hati, aku mencari sebuah halte untuk beristirahat sebentar. Aku keluar dari mobil dan bertemu seorang pria berusia sekitar empat puluh lima, atau mungkin lima puluh, masuk pada salah satu kafe dan duduk di sampingku. Kami berkenalan, lalu berbincang – bincang mengenai berbagai hal dan saya menemukan bahwa dia sangat cerdas serta menghibur. Ketika ia mengetahui bahwa aku berasal dari Washington, ia langsung bertanya tentang berbagai figur publik, dan topik hangat saat ini yang menjadi bahan perbincangan favorit warga di sana, seputar urusan kongres, dan saya baru menyadari (setelah sekian jam berlalu) melihat lebih seksama bahwa saya telah bercakap - cakap dengan seorang pria yang sempurna dan tipe cepat akrab, beliau mengenal dengan baik tentang seluk - beluk kehidupan politik di ibukota, bahkan sampai cara dan sopan santun, serta kebiasaan hidup para senator dan wakil rakyat di rumah pribadi mereka, dikenal dengan komplit olehnya. Perbincangan kami beralih ke hal – hal kecil lainnya ketika dua orang berhenti dan memilih sebuah meja di dekat meja makan kami untuk suatu keperluan, mereka melakukan sebuah percakapan seru.

***

“ Harris, jika anda bersedia melakukannya untuk saya, my boy J, saya tidak akan pernah melupakan jasa baik anda. “ Mata kawannya bersinar penuh antusias, membayangkan sesuatu yang paling bahagia akan terjadi. Selanjutnya kedua wajah orang asing tersebut tenggelam ke dalam perasaan khawatir berlebihan, laki – laki bertubuh gemuk memalingkan kepalanya kepada laki – laki bertubuh kecil dan kurus,

ads

“ Mari saya ceritakan kepada  anda  sebuah pengalaman yang cukup menarik untuk anda dengarkan ! Kisah ini, bab paling rahasia dari kehidupan pribadi saya di masa lampau. Belum pernah terselesaikan karena serangkaian peristiwa – peristiwa tragis lainnya menutup lembar demi lembar hingga saat ini aku sudah tidak tahan lagi ! Dengarkan dengan sabar, dan berjanji bahwa anda tidak akan mengganggu hingga aku selesai. “

Laki – laki bertubuh kecil dan kurus tersebut menjawab dengan sebuah anggukan kecil, dan laki – laki bertubuh gemuk itu pun mulai menceritakan petualangan aneh yang dia rasakan, berbicara penuh antusias dan kadang -kadang disertai gerakan – gerakan pendukung, keras penuh emosi, sangat melankolis, tetapi selalu dengan perasaan dan kesungguhan terlukis jelas di wajah tuanya.

Inilah kisah yang dituturkan oleh mereka di sebuah kafe dekat dengan halte bus, St. Louis, Missouri Amerika Serikat, pada suatu siang di musim panas. Sementara beberapa pelayan kafe sibuk menyiapkan menu pesanan kami, para pengunjung dari berbagai kota di wilayah ini bahkan beberapa diantaranya ada turis mancanegara. Sementara acara TV menyuguhkan kerusuhan yang dipicu karena tewasnya seorang remaja laki – laki berkulit hitam berusia sekitar 20 tahun bernama Michael Rush, penembakan dilakukan oleh serdadu polisi berkulit putih karena aksi brutalnya merampok sebuah mini market di Ferguson, Missouri, Amerika Serikat pada tengah malam, 17 Agustus 1853.  

Lamunanku terhenti oleh suara bariton dari dua orang laki – laki yang sedang membuat sebuah percakapan seru, seperti yang kami lakukan saat ini.

***

“ Pada tanggal 19 Desember 1853, saya memulai sebuah perjalanan cukup menyenangkan dari St. Louis dengan menumpang kereta malam menuju ke Chicago.

Di dalamnya hanya ada dua puluh empat penumpang, semua laki – laki usia remaja, beberapa orang dewasa dan tujuh penumpang berusia lansia. Tidak ada wanita apalagi anak - anak. Kami berada dalam semangat yang membara dan perjalanan tersebut begitu menyenangkan. Sedikit pun di wajah kami tidak menampakkan guratan – guratan kekhawatiran, apalagi kengerian atau tindak kriminal yang saat ini banyak digunjingkan oleh media masa. “

“ Jam menunjukkan pukul 11 : 00 malam, salju mulai turun sangat deras. Tak lama setelah meninggalkan desa kecil Welden, kami memasuki wilayah padang rumput yang sangat luas membentang di sepanjang pinggir rel kereta seperti lapangan sepak bola, jarang terlihat bangunan rumah penduduk, kereta malam perlahan – lahan menuju ke Settlements Yobel. Angin berhembus sepoi - sepoi, terhalang oleh pohon – pohon hutan atau bukit –bukit kecil, sementara salju mulai menumpuk membentuk bukit – bukit kecil padang pasir berwarna putih dan sangat dingin, beberapa diantaranya ada yang membeku, kami tahu hal ini mengganggu dan akan mengurangi kecepatan laju kereta malam. Memang, kondisi di luar kereta sangat tidak nyaman, mesin kadang – kadang mengeluarkan suara lemah dan hampir berhenti, mati. Kemungkinan kami akan terpenjara oleh badai salju, di tengah padang rumput yang begitu sunyi dan suram, lima puluh mil dari pemukiman rumah – rumah penduduk, apapun yang akan terjadi, pikiran kami melayang jauh menembus langit hingga membentuk seraut perasaan bosan dan menyedihkan selama berjam – jam di dalamnya. “

“ Pada pukul dua pagi, aku terbangun dari tidur gelisah kami di sepanjang perjalanan. Pikiran saya tadi sore ternyata benar ! Sangat mengerikan karena mesin kereta benar – benar mati. Kami seperti gerombolan tawanan, turun dari kereta untuk menyelamatkan diri, masing – masing dari kami melompat keluar ke tengah malam yang liar, kegelapan bersifat abadi, badai salju masih bergelombang menampar – nampar muka kami, seperti jiwa ini hendak melompat karena kedinginan, namun dengan kesadaran bahwa sebentar lagi semua penderitaan ini akan hilang, kami bekerja keras membawa skop tangan, atau benda – benda tajam lainnya, segala  sesuatu  yang bisa menyingkirkan tumpukan – tumpukan salju, segera !

Ini adalah kejadian aneh, bahwa hal – hal kecil membuat orang - orang panik untuk melawannya, dan dalam bayangan penuh kegelapan dan setengah lelah, kami berharap semua akan baik – baik saja. “

“ Satu jam berlalu dan menyisakan sebuah usaha yang sia – sia. Badai terus berlangsung sementara kami menggali tumpukan salju satu per satu. Dan yang lebih buruk, ditemukan kerusakan mesin dan roda dibagian belakang kereta sedikit bengkok karena terbentur benda keras. Dalam lelah dan kedinginan, kami masuk ke kabin kereta dan sangat sedih. Kami membaringkan kepala ini di jok tempat duduk penumpang seperti seorang napi yang sangat menderita dalam hidupnya. Kita tidak bisa mati membeku di sini, seharusnya ada setumpuk kayu bakar kering dalam perapian yang membantu kami menjadi nyaman melalui perjalanan panjang ini, namun konduktor menggelengkan kepalanya, ini berarti akan terjadi petaka dan membawa kematian bagi siapa pun untuk mencoba perjalanan lima puluh mil dengan berjalan kaki melalui tumpukan salju hingga tiba di tempat tujuan. Kami tidak bisa meminta bantuan, dan bahkan jika kita bisa, itu tidak akan datang secepat yang kami pikir. Kita harus menyerahkan dan menunggu, sesabar mungkin merupakan sebuah mujijat malam akan membantu atau tetap dalam kondisi kelaparan ! “

“ Malam itu seperti sebuah hari yang kekal, jam menunjukkan pukul tengah malam dan masih jauh dari fajar, kami mulai melakukan gerakan – gerakan ringan terhadap seluruh badan ini yang membeku sejak kemarin sore oleh amukan badai salju, satu demi satu para penumpang melakukannya, dan beberapa diantara kami saling membungkukkan badan sambil mengangkat topi, melirik dari jendela, berharap melihat mahluk hidup lainnya di sekitar kereta kami, tetapi yang terlihat hanyalah tumpukan gurun putih yang sangat luas dan tak bertepi, butir – butir salju melayang – layang ke sana kemari ditiup angin malam menutup cakrawala di atas langit. “

“ Semua berpikir, merenung dalam kesunyian malam di tengah padang rumput yang sangat luas, jauh dari pemukiman penduduk dan sedang diterjang badai salju. Dalam kelaparan yang teramat sangat dan begitu menyengat. Sudah tentu kami putus asa, mengawasi jalan di depan masinis kereta. Berharap bantuan akan segera datang. Seperti mimpi – mimpi kami dalam tidur malam dan sangat gelisah, kemarin. Bermimpi menghadiri  sebuah pesta dengan suguhan menu pesta dari masakan terlezat mancanegara. “

Seperti sebuah hukuman ! Hari kedua, ketiga, keempat hingga hari kelima terperangkap dalam penjara alam yang sangat mengerikan. Kelaparan, pikiran – pikiran liar, saling memandang setiap mata di dalam kabin kereta yang kian waktu terasa semakin sempit, hanya mampu merefleksikan bayangan diri sendiri yang samar - samar membentuk seorang laki – laki sangat besar berjubah serba hitam, sesuatu yang tidak ada akhirnya, membingkai kami tanpa sebuah kata – kata penghibur.

“ Hari keenam dan ketujuh berlalu sangat membosankan. Badan kami semakin kurus, dan putus asa membayangi hati dan pikiran ini, kematian itu sudah di ambang pintu ! Kami seharusnya cepat – cepat keluar, berusaha berlari sejauh mungkin untuk menghindar dari amukan badai salju yang kedua. “

Adalah Richard H. Gaston dari Minnesota, tinggi dan berwajah pucat, bangkit dari duduknya, berusaha menjadi seorang pemimpin. Semua tahu apa yang akan dia siapkan.

Masing – masing emosi, setiap kemiripan kegembiraan, menahan sebuah perasaan suka hanya untuk ketenangan, keseriusan, serta sikap bijaksana muncul di kedua matanya yang cekung, akhir - akhir ini berubah menjadi begitu liar. “ Tuan – tuan ! Kondisi ini tidak bisa ditunda lebih lama lagi, semua tergantung di tangan kita, dan harus menentukan langkah apa yang akan kita ambil daripada harus mati, untuk memperoleh sedikit makanan dan minuman !

Tuan John J. Williams dari Illinois bangkit dan berkata, “ Benar. Saya mencalonkan Pendeta James Sawyer dari Tennessee untuk memberikan pendapatnya ? “ Namun disela oleh tuan William Adams dari Indiana, beliau mengatakan, “ Saya mencalonkan Pak Daniel Slote dari kota New York. “ Mr. Charles J. Langdon menyahut dari jejeran tempat duduk paling belakang, “ Saya mencalonkan Pak Samuel A. Bowen dari St Louis. “

Begitulah suasana di dalam kereta malam, seperti sebuah meeting penting pada perusahaan besar di kota metropolitan. Apakah ini akan memerlukan waktu lebih panjang lagi untuk menyelesaikan hal - hal sepele tentang kondisi kami yang semakin rapuh. Tidak, tuan – tuan sekalian, sebagian besar adalah bertujuan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, pakaian tebal dan baru, sepasang kaos kaki dan sepatu baru, jaket atau selimut tebal dan terpenting adalah makanan dan minuman. Ini adalah syarat tertinggi, tidak memerlukan bakat dan tingkat pendidikan yang jenius, hanya kemauan dan kekuatan jasmani saja.

Kami saling memandang wajah – wajah cemas di sekeliling kami, ada yang membayangkan sepiring daging kalkun panggang ukuran jumbo atau beberapa mangkok sup krim kentang yang hangat dan berasa pedas di lidah, itu adalah harapan kami saat ini, bukan setumpuk rezeki yang solid ? Apakah diaantara kami akan saling menipu diri terhadap bayangan yang selalu menghantui ? Apakah kami akan saling mengejek penderitaan yang melilit seperti hantu – hantu malam membayangi tidur kami yang selalu gelisah ?

Kami akhirnya saling menatap sedih, jika kami bisa mendengarkan detak jantung seorang ibu yang sedang hamil besar, apakah kelaparan ini masih melanda ?

Memikirkan semua kondisi tersulit tersebut di atas, penuh kesengsaraan seperti sebuah masa lalu, sebuah masa depan dan meskipun harapan saat ini yang sangat gelap mengibuli, kecelakaan, kehancuran, terhuyung - huyung oleh penipuan, akankah kami menjadi gelandangan, tanpa rumah dan hari – hari terindah untuk kami lalui dengan berlibur keluar negeri ?

Semua bertepuk tangan.

Akhirnya kami sepakat bahwa beberapa dari kami harus sabar menunggu giliran untuk masuk ke dapur kabin, duduk dengan hati penuh rasa syukur terhadap perjamuan paling sederhana namun tetap terbaik yang telah diberkati olehNya karena visi kami adalah harus tetap bertahan selama beberapa hari hingga mendapat pertolongan dari seorang manusia lain di luar kereta ini.

Aku menyukai laki – laki bernama Harris, teman dari laki – laki gemuk, sang sutradara. Dia dengan baik melakukannya, mendengar tiap kata yang keluar sangat cepat dari mulut temannya tersebut.

Terakhir, “ Dia adalah anggota kongres dan seorang laki – laki yang sangat baik hati. Tapi ketika dia terjebak oleh badai salju dalam kereta ini, ternyata dia juga khawatir akan mati kelaparan. Dia mempunyai rasa lapar begitu besar setelah beberapa hari beku karena cuaca sangat buruk, akhirnya dia baik - baik saja sekarang, hanya mengalami sedikit kondisi monomaniac, dan ketika dia kembali ke tempat duduknya, dia tidak pernah berhenti bersyukur hingga tiba giliran kedua untuk bisa makan lagi di tengah kondisi kecelakaan yang mengenaskan ini.

Atau mungkin ada setitik pikiran lucu bahwa pemilihan esok atau lusa tidak akan ada oposisi selain beliau menempati nomor satu untuk berkesempatan mencicipi sarapan pagi berupa telur dadar goreng dan selembar roti tawar yang sudah kering, namun hal tersebut menjadi tidak begitu penting lagi, siapa pun yang akan dipilih adalah hak kami masing – masing, tidak akan ada yang keberatan hingga seseorang mengundurkan diri.

Aku merasa lega, dua laki – laki dengan tekstur tubuh berbeda tersebut telah mengakhiri perbincangan mereka, kami hanya mendengarkan, sempat berpikir bahwa mereka adalah orang gila dengan sebuah pengalaman mengerikan, ketika tengah malam bertemu sosok laki – laki kanibal berjubah hitam dan haus darah manusia, penghuni kereta macet di tengah padang rumput luas yang tertimbun tumpukan salju dan terisolir dari pemukiman penduduk.

Mereka berempat akhirnya makan dengan lahap di dalam kafe tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0
Comments (0)
Unable to Comment
You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login

No comments yet. Be the first to comment.

From Author
Loading…
ads
ads
ads