article

Musim Azael

Musim Azael

Suatu pagi hari di pinggir sungai Raccoon yang membelah pusat kota Des Moines, Iowa.

Ada beragam kegiatan air yang dapat Anda lakukan di sini, seperti memancing ikan forel atau naik kapal, namun satu kegiatan favorit masyarakat setempat yang selalu dilakukan di pagi buta adalah menonton matahari terbit dari tepi langit bagian timur. Saat sang pagi mulai muncul di kaki bumi, memberi sinar di hati mereka yang sedang bersemayam dalam kotak musik kuno Balerina dan selalu menemani seluruh kegiatan kami dengan alunan musik merdu klasik dari Beethoven.

Begitu indah.

ads

Pagi telah menyapa alam dimana kami dapat melihat bidadari beterbangan di sepanjang pinggir sungai, berwarna putih bersih dengan seraut wajah mungil dan lucu sibuk mencari ikan – ikan kecil, atau menunggu uluran tangan terbaik dari kami untuk menaburkan remah – remah roti ke tengah sungai lalu mereka berlomba mendapatkan sepotong. Kemudian perlahan namun pasti, waktu bergulir sangat cepat hingga akhirnya tidak lagi mampu berjalan dan malam pun segera tiba. Namun kaki ini masih bisa melangkah menyusuri jalan setapak penuh kerikil – kerikil kecil dan hijaunya rumput liar hanya untuk melihat beberapa gerombolan anak – anak kecil tertawa bahagia meskipun mimpi – mimpi mereka masih jauh dari harapan indah.

Selembar pelangi terlukis begitu mempesona namun tiba – tiba menjadi buram karena hujan mulai turun membasahi bumi membuat mata ini tidak bisa lagi melukiskan satu – per satu kata – kata manis tetapi kami selalu bisa memetik hikmah terindah dari semua itu adalah merupakan anugerah alam tertinggi yang telah diciptakan – Nya buat seseorang seperti kami untuk selalu menjaga dan melindungi. Cahaya bulan menusuk hingga ke dalam mata menyebabkan semua terlihat seperti hal – hal yang telah lewat dan dengan sempurna sudah dibentuk, bagaikan setitik kilat melintasi otak, begitu abadi hingga waktu benar – benar berhenti berputar.

Sungai Raccoon, bak kumpulan awan berwarna putih, dengan airnya yang jernih mengalir begitu deras membuat pesona terdalam yang tidak mampu dipahat helai demi helai menggunakan kapak tertajam sekali pun sehingga muncul mahkota – mahkota romantis di atasnya membuat seluruh dunia akan terpesona oleh suasana alam yang tercipta begitu indah dari pagi hingga malam tiba.

Itu juga menjadi awal dari sebuah cerita menarik.

Mackenzie Yoho bertemu dengan Laura Bairrfhionn di Aspen Athletic Club pada Merle Hay Road di Des Moines sekitar tahun 2007. Seseorang yang lain yaitu teman bersama mereka, Brammeier juga bekerja disini sebagai pelatih senam tetapi karena ada perubahan sistem di dalam tubuh perusahaan, dia kemudian dipindah tugas ke kantor klub yang ada di Australia.

Laura adalah seorang gadis Katolik dari Wilton. Dia pergi ke St. Ambrose University, dimana ia banyak belajar olahraga dan kinerja manusia. Kebugaran adalah gairah hidupnya yang utama. Awal karirnya sempat menjadi cover model majalah The Brunette dengan kekhasan dari diri Laura, mata cokelat dan senyum ramah, tubuh ramping dan lentur dalam segala gerakan yang dia lakukan, cocok untuk profesi yang dia pilih namun jalan hidupnya ke masa depan, Laura memilih bekerja di klub gym. Dan persahabatan yang terjalin erat antara Yoho, owner klub dengan semua karyawannya ternyata memiliki sikap menular, pekerja keras, merupakan khas sikap orang Amerika pada umumnya, sikap yang mendorong rekan – rekan kerja mereka untuk bekerja dengan giat dan sedikit lebih keras. “ Dia selalu dalam semangat yang tinggi, “ kata Aaron Helder, seorang teman dekat lainnya dari mereka, bersama – sama bekerja di Aspen. “ Dia selalu meluangkan waktunya dan siap untuk bekerja. Dia punya kepribadian serta sikap peduli yang sangat besar dan benar - benar ingin selalu terlibat dalam membantu orang. “

Laura adalah seorang pelatih pribadi senior klub dimana Yoho menjadi salah seorang bosnya langsung. Yoho merupakan figur seorang pemuda Jepang asli memiliki postur tubuh sempurna, dada barel dan lengan seperti meriam. Dia adalah seorang keluarga kaya raya blasteran Jepang dan Des Moines, memiliki hobi bermain bisbol semasa kuliah di University of Iowa. Di sela – sela waktu luang, ia senang menghabiskan dua musim sekaligus sebagai seorang pemain bisbol handal meskipun itu hanya dilakukan sebagai penyaluran hobi saja disamping hobi lain yang memerlukan ketenangan pikiran yaitu pertanian Milwaukee Brewers, milik keluarga kakek Yoho yang ada di Belanda. 

To be continue ............................................ !

 

 

 

 

 

 

 

0
Comments (0)
Unable to Comment
You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login

No comments yet. Be the first to comment.

From Author
Loading…
ads
ads
ads