article

Perawan Tujuh Saudara Di Negeri Atas Awan

Perawan Tujuh Saudara Di Negeri Atas Awan

Pada zaman dahulu , konon ada sebiji buah yang sangat luar biasa bermanfaat untuk kesejahteraan para penghuni bumi. Buah ini tumbuh di hutan yang berada tepat di tengah lautan yang sangat luas . Siapa saja yang memperoleh buah itu dipercaya akan menjadi orang yang saleh dan bertuah.

Maka tersebutlah kisah seorang pemuda bernama Lenggai. Dia berasal dari sebuah desa bernama Kalimantan di Indonesia. Walaupun Lenggai seorang pengembara yang gagah berani , namun dia selalu ditimpa malang. Pada suatu hari Lenggai membuat keputusan hendak mencari buah ajaib itu. Dia kemudian menyewa sebuah kapal layar dan berlayar menyeberangi lautan. Pelayaran itu sangat sukar tetapi Lengai tetap tabah dan tidak berputus asa . Walaupun telah beberapa lama berlayar, namun hutan ajaib tersebut belum juga kelihatan. Akhirnya, setelah hampir tiga bulan berlayar, tiba - tiba kapal Lenggai menabrak gunung es dan tertarik ke dalam pusaran air yang sangat kuat. Kapalnya berputar – putar sangat cepat yang membuat sang nahkoda dan Lenggai lelah menyelamatkan kapal dan para penumpangnya, ini seperti sebuah bencana sangat besar. Lenggai hampir putus asa dan lemas . Tiba - tiba ia pingsan dan sadar kembali ketika tubuh lemasnya berada di pinggir pantai yang sangat sunyi dan memiliki panorama alam sangat indah. Matanya terpaku ke sekeliling pulau dan ia kaget, pulau ini pastilah pulau dengan hutan ajaib yang sedang ia cari - cari selama ini.

Setelah kondisi tubuhnya sehat, dia pun memanjat ke sebatang pohon apel dan dia memandang ke sekeliling hutan, tampaklah seekor burung rajawali yang sangat besar sedang bertengger di salah satu dahan pohon cemara hutan yang sangat tinggi. Cengkraman kuku burung itu sama kuatnya dengan genggaman tangan seorang laki – laki dewasa. “ Jika aku bisa berteman dengan burung itu, tentulah aku dapat meminta bantuan kepadanya agar ia mau mengantarku kembali ke daratan , “ bisik hati Lenggai.

ads

Dia mulai mendekati dahan dimana burung rajawali raksasa tersebut sedang istirahat, saat dia berada kira - kira sehasta dari tempat burung itu hinggap, secepat kilat dia menyambar salah satu pergelangan kaki burung itu dan bergayut di sana sekuat tenaga. Burung besar itu tidak menyadari bahwa di salah satu pergelangan kakinya sedang ada seorang anak manusia yang bergayut kepada dirinya. Setelah beberapa lama, si burung rajawali pun terbang membawa Lenggai yang nyaman bergelantung pada salah satu pergelangan kakinya. Burung tersebut terbang dan terus terbang sangat tinggi menyeberangi lautan dan melintasi daratan selama beberapa jam dimana Lenggai mulai merasa sangat letih dan tak berdaya lagi.

Ketika tiba di atas ladang peternakan lembu, beberapa ekor lembu tampak di bawah seperti titik – titik hitam menyebar ke sekeliling padang rumput liar dimana tumbuh subur bunga – bunga hutan liar berwarna kuning cerah. Akhirnya burung itu melayang turun dan secepat kilat Lenggai melepaskan pegangannya dan jatuh ke tumpukan jerami dengan selamat. Lenggai memperhatikan kawasan di sekelilingnya . Dia sangat heran melihat kawasan di sini sangat sunyi. Lenggai belum pernah sebelumnya berkunjung ke tempat yang menyerupai syurga, terlihat sangat cantik jejeran pohon – pohon palm yang menghijau dan sedang berbuah lebat, juga pohon apel dengan bunganya sedang berkembang dan berseri.

Lenggai terus berjalan dan akhirnya ia tiba di suatu lorong yang ditumbuhi oleh bunga anggrek hutan dalam warna - warni sangat menarik perhatiannya. Dalam kebingungannya, dia memutuskan untuk mengikuti salah satu jalan sempit dan tiba di depan sebuah rumah yang sangat indah. Lenggai melongokkan kepalanya dari salah satu jendela rumah yang kebetulan sedang terbuka, ia melihat ke dalam rumah itu ada seorang perawan sangat cantik sedang memasak hidangan istimewa buat keluarganya. “ Oh ! “ Gadis itu terperanjat saat dia melihat Lenggai berada di depan jendela rumahnya.“ Jangan takut, adinda, saya tidak akan melukai anda. Saya tidak tahu dimana saat ini saya sedang berada. Saya membutuhkan sedikit makanan dan minuman juga tempat tidur untuk malam ini, apakah adinda bisa membantu saya ? “ terang Lenggai.

Perawan itu bersedia membantu Lenggai, ia mempersilakan Lenggai masuk ke dalam dapurnya dan dia memberikan Lenggai sedikit makanan. Saat itulah mereka mulai akrab satu dengan yang lainnya, perawan itu bercerita bahwa dia adalah tujuh bersaudara, semua perempuan dan dia merupakan adik paling bungsu diantara tujuh saudara tersebut tinggal di dalam rumah kecil ini. Enam orang kakaknya saat ini sedang bekerja di ladang dan pada sebuah pabrik keju yang terletak di pinggir kota. Lenggai pun bercerita tentang musibah yang menimpanya sehingga terdampar di rumah ini. Ketika senja menjelang, keenam kakak perawan itu pulang ditemani oleh ayah dan bunda mereka. Mereka sangat suka menerima kedatangan Lenggai di pondok mereka yang sangat sederhana dan melayaninya dengan baik seperti keluarga sendiri. Semenjak hari itu, Lenggai tinggal bersama keluarga perawan dengan enam kakaknya serta kedua orangtua mereka. Setiap hari orangtua dan keenam kakak perawan bekerja di ladang buah stroberi dan bunga – bunga musim semi seperti tulip, sementara Lenggai menemaninya bekerja di pabrik keju. Mereka berdua naik sepeda menuju ke tempat kerja dan terlihat sangat senang menjalani sebuah kehidupan yang begitu sederhana.

Setelah tujuh bulan berlalu, perawan bungsu jatuh cinta kepada Lenggai. Pada suatu hari dia memberitahu perasaannya itu kepada kakak - kakaknya. Mereka semuanya suka dan setuju perawan bungsu kawin dengan Lenggai. Lenggai juga senang dengan gadis itu.

“  Kalian akan kami nikahkan nanti, pada akhir tahun menjelang perayaan Natal dan tahun baru. Engkau akan menjadi bagian dari keluarga kami. “ jelas kakak yang paling sulung. “ Sekarang adalah waktu yang paling tepat untuk kamu mengetahui bahawa sebenarnya kami adalah keluarga dari kerajaan dongeng di negeri atas langit. Kami memiliki putri tujuh orang dan disebut dengan nama Putri Bintang Tujuh. Adik bungsu kami dinamakan Putri Bintang Banyak. Kami dilarang memberitahu calon menantu lebih banyak daripada ini. Sayangilah putri bungsu kami seperti kami menyayanginya. “ Seminggu kemudian, majelis perkawinan Lenggai dengan Putri Bungsu Bintang Banyak pun digelar. Orang – orang di desa berkunjung untuk meramaikan suasana pesta pernikahan mereka. “

Beberapa tahun berlalu. Lenggai dan Bungsu Bintang Banyak dianugerahi seorang bayi laki – laki yang diberi nama Selamuda. Lenggai menjaga dan merawat anaknya dengan penuh kasih sayang sementara isterinya dan kakak - kakaknya masih bekerja di sawah dan pabrik pembuatan keju Belanda seperti sedia kala.

Pada hari pertama Lenggai ditinggal sendiri di rumah, sang istri memberi peringatan kepadanya agar berhati – hati, jangan pernah masuk ke gudang di ruang bawah tanah seorang diri apalagi sambil membawa bayi, jangan pernah membuka sebuah almari besar dan memiliki sepasang pintu berarsitektur kuno yang terletak di sudut gudang. “ Wahai suamiku tercinta, berjanjilah bahwa kakanda samasekali tidak akan membuka pintu almari kuno di ruang bawah tanah rumah kami. “ pesan Bungsu Bintang Banyak. “ Jika kakanda membukanya juga, akibatnya adalah buruk sekali bagi kakanda dan keluarga kami. “ Lenggai mematuhi pesan dari isterinya.

Untuk beberapa waktu, oleh karena selalu diingatkan berulang – ulang kali, Lenggai merasa bosan dan baru menyadari bahwa ada sesuatu yang ganjil di sembunyikan dalam rumah ini sejak pertama kali dia terdampar karena tersesat. Perasaan ingin tahunya menumpuk kian membesar di dalam dada, mendadak ia tak kuasa lagi menahan hasrat untuk mengetahui ada apakah di gudang bawah tanah dari rumah sang istri.

Pada suatu hari seperti biasa di rumah mereka sedang kosong, hanya ada Lenggai dan bayi laki – lakinya. Lenggai merenung dan tak kuasa menahan rasa ingin tahu, ia mulai tidak sabaran lagi. Dengan tergesa – gesa dia turun ke gudang di bawah tanah, menghampiri almari besar berarsitektur kuno lalu membukanya pelan – pelan. Alangkah dahsyatnya karena angin dingin muncul dari balik almari ! Tiba – tiba Lenggai pingsan dan ketika sadarkan diri, dia melihat beberapa manusia kerdil sedang sibuk menanam padi di sawah. Namun  ada yang aneh, manusia kurcaci tersebut kelihatan semakin kecil di bawah sana. Lenggai menyadari bahwa kini dia sedang berada di suatu tempat yang sangat tinggi, sebuah negeri di atas langit. Lenggai takjub melihat pemandangan alam di bawah sana. Dia tahu siapa mereka, adalah manusia – manusia di bumi yang sedang bekerja dengan rajin.

Pada petang hari, ketika sang isteri dan keenam orang kakaknya serta kedua orangtua mereka pulang dari ladang dan pabrik keju, Lenggai berusaha keras menutupi sebuah rahasia besar yang telah ia lakukan tadi pagi di gudang bawah tanah. Namun saat makan malam bersama, Lenggai nampak begitu sedih dan bimbang. Dia hanya makan sedikit saja dari beragam sajian menu makan malam yang dihidangkan oleh istri tercinta. Bungsu Bintang Banyak meneliti wajah sang suami, seperti ada sesuatu yang sedang disimpannya dimana dia tidak ingin berbagi dengan yang lain.

Dia segera bertanya kepada Lenggai, “ Suamiku, adakah kakanda membuka pintu lemari di gudang bawah tanah ?! “ Lenggai hanya menundukkan kepala dan diam. Setelah ditanya beberapa kali, akhirnya dia mengaku membuka pintu lemari tersebut hanya sekali dan menceritakan apa yang sudah dia lihat !

“ Isteriku, peristiwa itulah yang telah mengganggu fikiranku, “ Lenggai menjelaskan. “ Oh suamiku, bukankah aku telah memberi pesan agar jangan membuka pintu lemari itu ?! Kakanda telah melakukan sesuatu yang berbahaya dan itu tidak bisa dimaafkan, “ Bungsu Bintang Banyak berkata disertai tangisan penyesalan. “ Kakanda tidak bisa lagi tinggal bersama kami. “ Bungsu Bintang Banyak menangis terisak – isak sambil mendekap erat bayi laki – lakinya. “ Oh bayiku tercinta, ibu tidak pernah berpikir bahwa kita akan segera berpisah secepat ini. Hari ini adalah waktu terburuk yang menimpa kita. Oh ! Betapa beratnya penderitaan dan kondisi alam yang aku alami ! “ teriak Bungsu Bintang Banyak.

Maka pada hari itu juga, mereka mempersiapkan diri untuk sebuah perceraian karena sang suami telah berani melanggar pesan sakti dari para leluhur manusia kurcaci penghuni dunia dongeng di negeri atas langit. Keenam orang kakaknya dan kedua orangtua Bungsu Bintang banyak menyediakan persiapan khusus untuk menurunkan Lenggai dan bayi laki – lakinya ke bumi melalui sebatang pohon cemara sakti yang tumbuh menjulang tinggi di pinggir sebuah sungai besar. Mereka sangat sedih dan saling berpelukan untuk yang terakhir kali. Semua menangis. Tapi sebelum benar – benar berpisah, kakak tertua memberi penjelasan terakhir kepada Lenggai : “ Lenggai, engkau sudah mengetahui bahwa kami berasal dari keluarga raja Bintang Tujuh di negeri atas langit. Kami memberi petunjuk kepada semua peladang di bumi bahwa jika kalian merasa rindu dan bingung dalam kegelapan malam di tengah hutan belantara yang menyesatkan fikiran,

Sebelum terbit fajar atau matahari terbenam di ufuk barat perut bumi, segeralah kalian berlari menuju ke tengah hutan, carilah padang rumput liar yang sangat luas dimana ribuan bunga – bunga liar hutan berkembang dengan subur ketika musim semi tiba. Apabila engkau melihat tanda – tanda khusus dari kami di langit, mulailah segera menanam padi, sayur – mayur, bunga – bunga ladang atau buah – buahan di sawah, ladang, kebun atau hanya pekarangan rumah anda saja. Meskipun sempit, anda tetap bisa merasakan kehadiran kami. “

“ Jika kami sudah menghilang di balik awan yang mulai gelap pada waktu malam hari, hentikan kegiatan menanam apa pun di area yang terbuka. Karena hasilnya tidak akan banyak membantu, justru tidak akan memberikan hasil memuaskan. Semasa engkau tinggal di rumah kami yang sangat sederhana ini, kami telah menilai bahwa kami jarang berjumpa dengan engkau, hanyalah Bungsu Bintang Banyak saja yang berada di rumah. Sehingga engkau kesulitan mempelajari tentang kami, keluarga kami dan kerajaan besar di  bawah  kuasa  Ilahi  dan  pengaruh  kuat  bulan,  bintang  dan  penghuni  negeri  di  atas  langit  lainnya. “

Bungsu Bintang Banyak juga mengingatkan suami tercinta agar selalu menuruti nasihat kakak – kakaknya dan menceritakan kepada putra tercinta bahwa kedudukan Bintang Tujuh di atas langit akan senantiasa menjadi teman dan petunjuk kepada para petani di bumi saat mereka akan melakukan sebuah kegiatan bertani, berkebun atau meladang.

Begitulah akhir petualangan seru seorang pemuda tampan dan baik hati dari bumi. Ketika bulan purnama tiba, Lenggai dan bayinya kembali ke daratan. Setibanya di depan rumah kedua orangtuanya, Lenggai menceritakan semua pengalaman unik yang sudah dia alami kepada handai taulan, teman – teman, dan para tetangga.

Dia menceritakannya sangat detail diawali ketika dia meninggalkan desa untuk mencari buah ajaib, kemudian dia mendapat musibah kecelakaan besar di tengah samudera namun berhasil selamat dan terbang bersama sang rajawali raksasa dan terdampat di sebuah negeri yang sangat mempesona dimana ia bisa jatuh cinta dan menikah dengan adik bungsu keluarga raja Bintang Tujuh.

Semenjak hari itu, di desa Lenggai, para petani mulai bercocok tanam ketika mereka melihat tanda – tanda Putri Bintang Tujuh sedang mengerdip di atas langit. Dan seekor anjing gembala terburu – buru menghampiri pondok Lenggai dan putra semata wayangnya bahwa di langit sedang ada sang Bunda mengintip kehidupan para penghuni bumi yang tentram dan damai. Mereka berdua akan menuju ke sebuah kapel untuk berdoa, semoga Bunda tercinta mau mampir dalam mimpi – mimpi indah sang putra tercinta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0
Comments (0)
Unable to Comment
You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login

No comments yet. Be the first to comment.

From Author
Loading…
ads
ads
ads