Pada suatu masa di jaman dahulu kala.
Terdapat kerajaan elf, mahluk legendaris dunia yang mampu menjalani sebuah kehidupan abadi, di negeri sakura, Jepang.
Elf merupakan mahluk penghuni kastil – kastil kuno di hutan belantara yang lahir dari mitologi Jerman. Biasanya elf berwujud manusia yang memiliki ukuran tubuh sangat kecil, ada yang mempunyai sepasang sayap – sayap indah dan mereka mempunyai tugas masing – masing sesuai ras elf sejumlah 26 jenis sebagai dewa kesuburan dan penjaga kelestarian alam semesta beserta mahluk – mahluk penghuninya, mereka dalam penggambarannya adalah seorang pria muda dan sangat tampan berambut panjang keemasan atau wanita muda yang sexy dan sangat cantik, tinggal di rumah – rumah pohon dalam hutan atau goa – goa ajaib di bawah tanah. Mereka adalah mahluk paling sempurna dan sangat pintar diciptakan oleh Ilahi dengan keistimewaan utama yaitu hidup abadi dan mempunyai kekuatan sihir.
Ras elf yang menghuni hutan – hutan belantara di Jerman kemudian menyebar ke seluruh dunia adalah Water Fairies yaitu bangsa elf yang gemar mengumpulkan makanan dan minuman dari tanaman liar di hutan – hutan bambu atau hutan padang rumput liar dan bunga – bunga musim semi di negeri Eropa. Ia adalah symbol pemilih kehidupan yang paling sempurna. Mereka gemar mengkombinasikan kecantikan, penghianatan dan kematian. Mereka dapat dijadikan sebagai teman, kekasih atau lawan.
Urisk adalah peri yang suka hidup terpencil di desa – desa paling indah yang ada di Eropa, mereka mendiami rumah – rumah unik di dalam kolam - kolam ikan yang banyak ditumbuhi bunga teratai. Mereka akan menampakkan diri pada rombongan manusia ketika seorang dari mereka sedang mengalami sebuah mimpi buruk atau dalam kondisi dimana mereka tersesat sendirian di tengah hutan rimba berpenghuni hewan – hewan ganas seperti buaya dan singa. Namun kemunculan yang aneh dan menyeramkan tersebut adalah sebuah pertanda bahwa manusia yang sedang kesusahan akan terhindar dari maut. Trolls dan Trows merupakan bangsa elf yang tidak suka melihat dan terkena sinar matahari. Oleh karenanya, mereka tinggal di dalam goa yang berlokasi nun jauh di atas bukit atau pegunungan di Eropa. Setiap bulan purnama muncul, mereka akan melakukan sebuah ritual berupa tarian dan kidung suci disertai bagian teraneh dan sedikit mengerikan bagi yang baru mengetahui yaitu acara melubangi telinga dengan jarum berukuran besar yang disebut dengan istilah henking. Terakhir adalah Sluagh, bangsa elf dalam wujud roh penasaran dari para kurcaci penghuni kastil – kastil tua dan mewah dalam lingkungan keluarga kerajaan bangsawan Eropa kuno yang kematiannya mendadak dan tak termaafkan, atau sekelompok para penyembah berhala yang tinggal di hutan belantara. Sluagh adalah lawan dari peri penghuni dataran tinggi di pegunungan Eropa, mereka hidup layaknya manusia biasa yaitu beternak, memancing ikan di kolam, danau atau sungai dan bercocok tanam. Yang terakhir adalah Spriggans, diceritakan bahwa elf ini memiliki wajah sangat jelek, aneh, bermata besar dan bertubuh kerdil namun memiliki sepasang sayap –sayap sangat indah seperti manusia kupu – kupu, pada waktu – waktu tertentu, mereka bisa merubah bentuk menjadi raksasa bertubuh sangat besar. Spriggans kerap diidentikkan dengan gerombolan penjahat yang sangat kejam, ahli dalam mencuri, perusak yang jitu dan membahayakan manusia.
Mereka suka merampok rumah - rumah manusia yang terletak di pinggir hutan bahkan menculik anak - anak mereka dalam usia balita (dan akan menggantinya dengan seorang bayi Spriggan yang menjijikkan tapi bisa berperilaku seperti anak manusia biasa tergantung bagaimana mereka mendidiknya).
Bangsa elf ras HobGoblins, merupakan nama untuk mahluk – mahluk bertubuh kecil, indah dan mungil yang senang bersahabat dengan manusia dan para penghuni bumi lainnya disebut kurcaci, membentuk sebuah kerajaan kecil yang tentram dan damai di sebuah desa bernama Gokayama. Desa ini adalah sebuah desa yang mempunyai gaya bangunan rumah dengan atap – atap unik seperti huruf A atau berbentuk dua tangan yang mengatup seperti seorang anak sedang berdoa, agak rendah, yang disebut dengan Gasshou, berdekatan dengan kota Nanto, perfektur Toyama. Desa tradisional ini berpenghuni para elf dan manusia yang bisa hidup harmonis berdampingan dengan alam dan tepat dinikmati sebagai desa wisata dimana hampir setiap tahun banyak dikunjungi oleh para turis mancanegara yang berjalan - jalan guna menikmati kedamaian karena desa ini masih perawan dengan dikelilingi oleh hutan – hutan belantara yang menghijau di sepanjang tahun. Meskipun demikian, Gokayama tidak dikembangkan secara komersil menjadi daerah wisata oleh pemerintah setempat sehingga keadaan alamnya yang alami masih bisa dipertahankan kelestariannya dari jaman nenek moyang kecil dahulu hingga sekarang.
Desa Gokayama memiliki 3 bagian wilayah dan masing - masing bagiannya mempunyai sekitar 40 rumah tradisional beratap khas. Pada pusat desa yang terletak di pinggir hutan, terdapat kompleks rumah yang dibangun pada jaman kerajaan Oda Nobunaga. Hal ini diperkuat oleh tarian dan lagu rakyat asli daerah ini sebagai kekayaan budaya mereka paling tinggi yang slalu dipentaskan pada acara – acara pesta rakyat ketika musim panen di ladang tiba.
***
Adalah seorang raja yang baik hati dan bijaksana namun mempunyai badan sangat gemuk sehingga terlihat seperti boneka Jepang yang bodoh bernama Danbo alias  Baginda Raja Assyami mempunyai seorang perdana menteri yang berbadan kurus tetapi sangat pintar mengemudikan kerajaan elf Gokayama bernama Atsushi. Setiap ada peluang bertemu dengan sesama anggota raja dan para pejabat tinggi kerajaan, datuk menteri Atsushi slalu berhasil menunjukkan kepintarannya dihadapan sang raja sehingga raja senang dan senantiasa bergantung kepadanya.
“ Wahai perdana menteri Atsushi, berjanjilah engkau kepada kami, bangsa elf kerajaan Gokayama, bahwa engkau tidak akan pernah meninggalkan kami ? “ raja seringkali bertitah kepada datuk menteri. Dan beliau selalu menjawab sambil disertai dengan sebuah senyuman manis, “ Tuanku baginda janganlah merasa khawatir. Dimana pun tuanku akan berada, tidak kami kira hanya di dalam dunia ini saja, ke surga atau neraka pun kami akan senantiasa bersama - sama tuanku raja Assyami yang bijaksana. Kami akan senantiasa memberikan tuanku raja nasihat – nasihat yang bermanfaat untuk menyelesaikan semua masalah di dalam kerajaan ini. “ jawaban datuk menteri ini sangat menggembirakan hati sang raja.
Pada suatu petang, musim bulan purnama. Baginda raja sedang berjalan - jalan di tepi sebuah sungai dengan diiringi oleh perdana menteri dan beberapa pengiring lainnya. Mereka sedang mengadakan acara kemping dan kemah bersama di sebuah hutan bambu yang slalu bersiul setiap hari menjelang pagi, bernama Sagano, tidak jauh dari desa Gokayama.
Di sekitar area kemping, udara berhembus sangat sejuk, hijau oleh daun – daun bambu disertai kicauan burung gereja yang bertengger di dahan pohon perdu, itulah perasaan yang bisa dilukis saat berada di dalam Sagano Bamboo Forest berlokasi di sebelah barat laut Kyoto, Jepang. Ketika siang mulai merangkul bumi, angin berhembus sepoi – sepoi lembut, sederetan batang – batang bambu di hutan ini akan mengeluarkan suara seperti senandung lagu – lagu pujian dari sebuah kapel nun jauh di kaki bukit.
Keindahan pemandangan alam dan suara – suara yang tercipta adalah kekayaan paling berharga sehingga membuat kawasan ini merupakan salah satu objek wisata paling alami dan tercantik di seluruh Jepang. Cocok untuk jalan - jalan santai dan bersepeda atau berkemah seperti yang dilakukan oleh rombongan keluarga kerajaan Gokayama.
Mereka naik kuda dari Kyoto dengan menempuh waktu sekitar 30 menit, dengan menjelajah hutan seluas 16 km2 adalah saat paling tepat untuk melancong sambil menikmati hembusan angin yang bersahabat dan melantunkan musik alam yang syahdu membelai telinga. Gemerisik dedaunan pohon bambu yang bergesekan dari sela batang akan membuai kedua mata dan mempengaruhi anda untuk segera tertidur dalam ketentraman hati.
Ketika sang raja hendak pulang menuju tenda, tiba - tiba ia mendengar bunyi anjing hutan yang menyalak – nyalak, sangat galak dari dalam hutan. Ia heran dan berpaling kepada perdana menteri dan bertanya, “ Kenapa dengan anjing – anjing hutan itu ? Mengapa mereka menyalak - nyalak seperti sedang gelisah, kedua telinga ini tidak suka mendengar keributan tersebut ! “ Datuk menteri segera menjawab, “ Tuanku, saat ini sedang musim dingin meskipun udara di sini masih bertiup lembut dan sejuk. Anjing – anjing hutan tersebut tidak mempunyai mantel tebal untuk membungkus dan memanaskan badan – badan kurus mereka. Salakan mereka berarti sebuah rayuan kepada baginda agar tuanku sudi menyumbangkan beberapa lembar selimut tebal untuk mereka. “
“ Oh !? Datuk sungguh pintar bisa memahami bahasa anjing hutan. Tetapi mengapa mereka tak mendapat jatah selimut dari kerajaan, bukankah slalu aku titahkan untuk memperhatikan setiap keperluan dari rakyat jelata di desa atau para penghuni hutan ? †tanya raja dengan mimik wajah heran, kecewa dan serius.        “ Mungkin petugas kerajaan yang menangani pembagian selimut untuk penghuni hutan bambu ini lupa dengan fungsinya, mereka patut disalahkan ! †jawab datuk menteri dengan tegas.
“ Pegawai itu teledor, sungguh memalukan ! Baiklah. Kirim segera utusan ke istana di desa bahwa pegawai yang bertugas membagikan jatah selimut kepada para penghuni hutan harus dimutasi ke dapur istana. Kemudian panggil seorang pegawai baru untuk membeli seratus helai selimut tebal dari wol dan segera bagikan kepada anjing – anjing hutan yang sedang melolong karena kedinginan tersebut. †perintah raja.
Tanpa membuang – buang waktu, datuk menteri menjalankan titah raja. Tetapi ketika sampai di istana, dia melalaikan perintah baginda, dia mencampakkan pegawai itu keluar istana, lalu merampas jatah uang untuk membeli seratus helai selimut tebal dari wol, dia pergi ke bank guna menyimpan setumpuk dolar untuk diri sendiri.
Pada petang berikutnya.
Sang raja kembali berjalan – jalan ke tengah hutan. Tiba – tiba ia dikagetkan oleh musang - musang liar yang berbadan kurus dan menyalak lagi ke arahnya. Baginda heran dan bertanya,  “ Apakah yang menyebabkan musang – musang itu menyalak dengan galak ke arahku ? Mengapa  mereka  bisa seperti itu, tolong segera cari tahu ! “ “ Baginda, mereka menyalak - nyalak karena bahagia, seorang pelayan istana telah mengirim beberapa kantong tulang ikan laut, mereka mengucapkan terima kasih dan rasa syukurnya kepada tuanku, †jelas datuk menteri sambil tersenyum.
“ Sungguh ajaib ! Aku yakin, di dunia ini tidak ada seorang raja yang memiliki keberuntungan seperti aku. Aku mempunyai seorang menteri sebijak para malaikat penyelamat bumi di atas lagit. Wahai sahabat, berjanjilah engkau tidak akan meninggalkan kerajaanku. “ “ Tidak, †datuk menteri berjanji. “ Kami akan senantiasa bersama - sama tuanku, di sorga atau ke neraka sekalipun . †Raja senang mendengar janji sakral dari para pengikutnya, tetapi kegembiraan beliau tidak berlangsung lama, tiba - tiba seekor babi hutan jantan berlari sangat kencang menuju ke kompleks tenda mereka di pinggir sungai.
Baginda bingung karena tidak pernah melihat binatang liar tersebut, “ Hewan apakah itu, si buruk rupa ! “ teriaknya lantang. Tentu saja datuk menteri tahu nama binatang itu. Dengan tenang dia menjawab, “ Tuanku raja, itu adalah seekor kuda liar milik rakyat paduka yang tinggal di tengah hutan. Saat ini ia kelaparan dan begitu sengsara karena sedang musim kemarau panjang, beberapa pegawai istana yang bertugas memberi mereka makan tidak hadir saat itu karena sedang berlibur keliling dunia. “
Raja marah besar !
Baginda segera memerintahkan pegawal istana yang lain untuk memecat pegawai yang teledor tersebut. Kemudian baginda mentitahkan datuk menteri Atsushi untuk mengambil beberapa batang emas murni, beberapa kantong batu permata dan setumpuk dolar AS untuk digunakan memberi makan semua hewan – hewan liar di tengah hutan bambu ini sehingga mereka tidak kelaparan. Datuk menteri dengan senang hati menjalankan titah sang raja Assyami, namun seperti sebelumnya, harta kekayaan tersebut dimanfaatkan untuk kepentingan sendiri !
Lima bulan berlalu.
Baginda murka karena taman bunga di belakang kastil mewahnya rusak karena beberapa ekor babi hutan liar sedang mengamuk sehingga bunga – bunga kesayangannya  rusak  dan  layu.  Ia  dengan  lantang  berteriak  kepada  Atsushi,  “ Adakah gajah – gajah liar tersebut  sedang  marah  atau  kelaparan ? Mereka terlihat gemuk tetapi kenapa masih saja  merusak taman bungaku di belakang kastil ! †Datuk menteri tertawa ringan dan menjelaskan, “ Tidak tuanku, itu bukan gajah ! Mereka sekarang gemuk seperti hewan – hewan liar lainnya di tengah hutan. Binatang itu adalah tikus – tikus hutan yang sedang bosan karena sudah memiliki setumpuk makanan dan minuman di goa – goa ajaib mereka di tengah hutan.
Di samping itu, setiap malam tiba, mereka suka menyelinap ke dapur – dapur warga di desa atau dapur istana hanya untuk mendapatkan remah – remah roti atau beberapa potong keju buat keluarga dan kelompok mereka di dalam goa. Tentu saja hal ini terjadi karena juru masak dapur istana sedang lalai karena terlalu banyak mengobrol, malas membuang sampah ke tempatnya atau ada yang libur tanpa sebab – sebab khusus. “
Kembali baginda raja marah besar ! Muka beliau membentuk seraut wajah tak beraturan dan merah seperti kulit kepiting rebus. Baginda membelalakkan mata lalu bersabda, “ Sayang sekali ! Tikus – tikus gemuk itu gemar mencuri makanan warga dan keluarga kerajaan sementara di luar sana sangat mudah mencari secuil makanan tanpa harus berbuat curang karena kelalaian tukang masak yang gemuk dan hobi tidur ! †Ia memerintahkan datuk menteri untuk memecat beliau saat itu juga !
Berita buruk tersebut membuat sang juru masak terkejut. Ia sangat mencintai profesinya dan tidak mau berhenti bekerja dari dapur istana. Pada malam hari, di bawah sinar bulan purnama, ia berkunjung ke rumah datuk menteri, sang juru masak memberi datuk menteri setumpuk uang dolar dan berjanji untuk menyelamatkan kehidupannya di dalam istana. Jika berhasil, ia akan memasakkan datuk menteri beragam sajian paling lezat dari mancanegara seperti halnya yang ia lakukan terhadap keluarga raja. Datuk menteri menyanggupi untuk mengembalikan jabatan dari sang juru masak, “ Jangan khawatir. Biar kami urus segalanya. “
Pagi hari, sepucuk surat melayang ke rumah sang juru masak. Namun datuk menteri memberanikan diri menghadap ke ruang pribadi sang raja, “ Tunggu tuanku raja ! †Ia menerangkan sebuah berita yang sangat penting erat kaitannya dengan kesalahan sang juru masak, “ Tuanku, kami baru saja bertanya kepada ahli nujum di tengah hutan. Kami mendapat sebuah petunjuk bahwa membiarkan sang juru masak berteman dengan tikus – tikus liar di dalam dapur istana adalah pekerjaan mulia.
Karena tikus – tikus itu bisa dimanfaatkan untuk mengusir serangga pembawa penyakit tertentu. Jika mereka berhasil menghilangkan serangga, kita akan tahu jalan terang menuju surga. Tuanku, biarkanlah si tukang masak ini tetap bekerja di dapur istana. Ia akan menjadi media paling penting untuk kita mengetahui tempat paling indah di dunia selain taman firdaus yaitu sorga. “
Baginda raja sangat tertarik mendengar penjelasan dari datuk menteri, ia bangkit dari tempat duduknya lalu memeluk datuk menteri sambil bertitah, “ Jika memang itu adalah penjelasan yang masuk akal, bagus sekali untuk dilaksanakan. Sekian lama aku mengetahui legenda sebuah tempat yang sangat nyaman di dunia bernama syurga.  Tetapi hingga saat ini, aku tidak pernah melihat dimana syurga itu ? Jika memang sang juru masak bisa mengantar kita untuk jalan – jalan melihat syurga, segeralah lakukan yang terbaik. “ Baginda berpaling kepada datuk menteri. “ Sahabatku. Berjanjilah untuk menemaniku kemana saja aku ingin pergi. Sekarang aku ingin melihat syurga. Datuk adalah orang pertama yang aku pilih untuk berjalan menuju ke tempat itu ! “
Sang baginda bertepuk tangan tanda memanggil seorang algojo yang bertubuh sangat besar seperti raksasa. “ Wahai sang algojo, gantunglah datuk menteri  kami sehingga kami bisa berjalan menuju syurga, sebuah tempat yang sangat indah terletak di alam dongeng .......... ! “ Datuk menteri terkejut dan menggigil ketakutan, ia tidak bisa berkata apa - apa, beberapa pengawal istana menggiringnya menuju ke area tali gantung di tengah hutan. Di belakang mereka, berjalan sang algojo yang akan melaksanakan titah raja untuk memasukkan kepala datuk menteri ke lubang tali gantung.
Menjelang malam hari, raja merasa gembira karena perintahnya sudah dijalankan dengan baik. Memang itulah yang dikehendaki sang baginda dan seluruh warga kerajaan Gokayama.
Adakah mereka suatu hari nanti bisa melihat keindahan syurga tanpa harus melalui lubang tali gantung dan sang algojo yang perkasa ? Entahlah !
Â
Â
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.