article

Menjadi Bijak Melalui Perkataan

Menjadi Bijak Melalui Perkataan

Kehancuran hidup manusia secara pribadi merupakan sebagian besar kondisi buruk yang disebabkan oleh mulut dan sikap mereka sendiri. Seringkali perkataan – perkataan yang meluncur tanpa melalui pemikiran dan pertimbangan yang serius dan dewasa akan menjadi senjata yang bisa melukai dan merugikan orang lain hingga suatu saat nanti akan menjadi bumerang.

Kecerobohan dalam memberikan nilai terhadap sebuah perkara sehingga pada akhirnya akan mengeluarkan pernyataan yang negatif pun akan mampu menyulut kemarahan / kekecewaan orang lain. Maka dari itu dibutuhkan pemahaman yang benar – benar matang sebelum kita menilai sebuah perkara yang sedang terjadi.

Pemahaman yang benar dan mudah dimengerti adalah pemahaman yang sejalan dengan Roh Kudus. Roh Kudus akan mengajarkan kepada kita dan anak – anak agar dapat menjadi pribadi yang bijak. Untuk bisa menjadi seseorang dengan pribadi yang baik hati, maka kita harus hidup berdekatan dengan Tuhan.

ads

Mulut kita adalah diciptakan oleh Tuhan tidak berpasangan seperti mata dan telinga. Tuhan berkehendak agar kita lebih banyak melihat dan memandang melampaui mata hati, membaca dan juga mendengarkan music untuk bisa memahami segala situasi yang ada di sekeliling kita sebelum kita memperkatakan kepada orang lain. Jadikan mulut kita hanya untuk memberkati orang lain.

“ Siapa memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri dari pada kesukaran. “

Amsal 21 : 23.

Marilah kita berusaha untuk mencoba menjawab pertanyaan – pertanyaan tersebut di atas dengan tindakan yang benar sehingga kita benar - benar mampu mensyukuri nikmatnya.

Kami kutip dari berbagai sumber, apakah anda pernah mendengar orang bijak berujar : berterima kasihlah pada benda – benda di sekeliling kita khususnya bersyukur kepada Allah SWT sang pencipta alam semesta ini. Dengan memperbanyak syukur, tentunya hubungan kita dengan sang pencipta akan lebih dekat dan kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan.

Kadang – kadang banyak orang yang menjadi stres atau bahkan sakit parah ketika menyadari dirinya tertimpa musibah. Mengapa demikian, karena mereka kurang mensyukuri bahwa musibah yang ditimpanya adalah sebuah nikmat dari Allah SWT. Jika kita dapat menelaah dan mempelajari lebih jauh tentang sesuatu seperti berkat dan berkah dibalik musibah itu dengan rasa ikhlas dan syukur maka insya Allah musibah yang akan kita hadapi kemungkinan nanti akan terasa lebih ringan, bahkan diharapkan mampu menemukan solusinya dengan sangat mudah. Begitu pula sebaliknya, jika kita terlanjur terbuai dengan suasana dimana diri kita enggan bersyukur saat tertimpa musibah maka kemungkinan besar masalah yang kita hadapi menjadi lebih berat dan apabila dibiarkan berlarut - larut dalam keterpurukan berkepanjangan maka pada akhirnya nanti bisa menjadi sebuah kehancuran bagi kehidupan kita. Kehidupan kita akan bahagia atau justru menjadi lebih menderita, semua tergantung terhadap cara kita dalam memandang dan menyikapi sebuah musibah yang sedang dihadapi. Jika kita selalu bersyukur dalam menghadapi musibah tersebut, Insya Allah kita akan menemukan sebuah jalan ketenangan agar terhindar dari musibah yang lebih besar dan akan menemukan jawaban terhadap apa yang sedang kita cari.

Karena sesungguhnya rasa syukur adalah sumber dari segalanya dan diharapkan mampu menyembuhkan berbagai penyakit di hati dan di dalam diri seseorang. Hati dan jiwa jadi damai, suci, dan bisa menumbuhkan rasa ikhlas dalam setiap kita hendak melakukan ibadah sehingga pada ahirnya cinta kasih Allah SWT lah yang hinggap di dalam diri kita.

 

0
Comments (0)
Unable to Comment
You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login

No comments yet. Be the first to comment.

From Author
Loading…
ads
ads
ads