Tanaman hias ini biasanya tumbuh di lumpur pada kolam buatan dengan batang dan daun setengah terendam oleh air, tumbuhan ini memekarkan bunganya di udara terbuka. Itulah namanya bunga teratai atau tunjung yang dianggap adalah sebagai media buat mewakili gambaran entitas yang bersemi di Bhur Loka ( alam bawah sadar manusia ), tumbuh di Bwah Loka ( alam tengah ) dan mampu menghasilkan bunga – bunga nan indah di Swah Loka ( alam atas ).
Bagi beberapa kalangan pecinta tanaman hias, tumbuhan ini dipandang sebagai media mengoneksikan Tri Loka sebagai satu kesatuan tempat hidup yang akan memberikan pesan, bahwasanya kemuliaan dalam bentuk bunga mekar nan cantik yang mencuat ke udara pada waktu pagi hari ini hanyalah bentuk ejawantah sebuah pertumbuhan yang telah berhasil melalui proses di dalam lumpur yang kotor dan batangnya yang selalu terendam dari waktu ke waktu dalam dinginnya air. Apa yang dipertontonkan sebagai simbol keindahan dalam bentuk bunga yang dikagumi, dipuja - puji dan dinikmati oleh banyak makhluk ini hanyalah sari - sari lumpur kotor yang mengalami perubahan dan berproses bersama air dan sinar matahari selama bermasa - masa.
Selanjutnya bunga tunjung lebih banyak dijadikan sebagai persembahan kepada Dewa – Dewa dalam ajaran agama Hindu, mereka dimanfaatkan sebagai sarana di dalam upacara pemurnian diri. Diharapkan upacara ini mampu bicara tentang symbol yang sarat makna, tetapi sederhana untuk dimengerti dan dilaksanakan, maka dari itu anda sebagai umat Hindu harus mampu membaca sebuah upacara persembahan sebagai bentuk teater tentang dunia pengharapan yang tertuang dalam doa – doa suci. Melalui persembahan bunga tunjung, para penyembah meletakkan harapannya untuk menguasai kemahiran dalam mengelola diri dalam hidup ini sehingga kelak bisa mendapat pahala berupa berbuah atau berbunga seperti keindahan dari mahkota bunga tunjung itu. Meskipun kadang – kadang kehidupan ini susah dan “ becek †untuk dilalui dan terkesan kotor menjijikkan, namun semua itu bukanlah menjadi beban manusia, sebab manusia hanyalah ibarat sebiji “ benih †yang bersemi di lumpur sebagai simbol sebuah kehidupan yang nampak keras, jorok, kotor dan dingin. Karena itu, bagi manusia bijak, mereka tidak mengidentikkan diri dengan kekacauan hidup itu sendiri, tetapi dapat memandang kekacauan, dingin dan kotor sebagai media yang pada akhirnya dapat mengolah diri untuk tumbuh menjadi pribadi mulia.
Para pemuja kesempurnaan dan para pengabdi pendamba kemuliaan hendaknya bisa memotivasi dirinya untuk mampu mempunyai kapasitas seperti halnya bunga teratai, bahwa proses kehidupan ini akan bisa mendewasakan dan mematangkan dirinya, hingga kelak berhasil mewujudkan diri seutuhnya sebagai pribadi mulia, insan yang memiliki kekaryaan dan dibutuhkan dunia, bahkan keharuman kemulyaannya akan tersebar hingga memenuhi ruang sorgawi.
Kelopak bunga teratai menunjukkan perluasan jiwa terhadap seseorang. Sedangkan kemampuan tumbuhan ini untuk bisa tumbuh subur di dalam lumpur dan menghasilkan keindahan natural adalah melambangkan tekad janji spiritual dalam ikonografi ajaran agama Hindu, Dewa digambarkan dengan bunga lotus sebagai tenpat duduk mereka. Hal ini berlaku juga bagi sebagian besar umat Budha, China, Hindhu, dan Jepang serta dalam sistem religi Asia lainnya sering digambarkan sebagai Dewa – Dewi yang duduk di atas bunga lotus. Menurut legenda, Budha Gautama terlahir dengan kemampuannya yang luarbiasa untuk mampu berjalan di usia balita dan dimana - mana ia melangkah, akan disertai bunga teratai mekar.
Tuhan dalam aspek Ibu ilahi sering diartikan sebagai yang duduk atau berdiri di atas teratai besar bernama tunjung biru, symbol kemurnian dan kebijaksanaan. Tanaman hias ini misterius dan sakral serta telah lama dimuliakan selama berabad - abad sebagai symbol alam semesta. Hiranya Garbha, “telur†(atau rahim) emas yang muncul di pagi hari ini sering disebut sebagai lambang lotus surgawi. Dewa juga digambarkan mengapung tertidur di atas perairan primordial, membentang diantara semak bunga teratai yang mekar.
Itulah penjabaran singkat tentang filosofi tunjung biru sebagai bunga indah mewangi yang dihasilkan oleh pejuang - pejuang kehidupan yang dengan sadar dan semangat bersedia berproses, karena mereka tahu, benih yang ada di dalam dirinya adalah benih unggul, benih itu berasal dari Tuhan itu sendiri dalam keyakinan masing – masing umat sesuai dengan ajaran agama masing - masing.
Â
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.