Anak - anak merupakan anugerah. Dalam pandangan Agama Hindu, seorang anak merupakan pewaris sekaligus penyelamat bagi keluarga dan orang tua serta para leluhur. Begitu pentingnya peranan orang tua dan kedudukan seorang anak dalam lingkungannya, maka masing - masing keluarga wajib mengharapkan lahirnyaseorang anak yang suputra adalah seorang anak yang berwatak dan berkarakter baik, berbakti kepada orang tua dan leluhur serta patuh kepada ajaran agama. Watak dan karakter seorang anak dapat dibentuk sedini hari melalui pendidikan. Ibarat selembar kertas putih bersih, maka seperti itulah perumpamaan penggambaran bagi seorang anak yang baru terlahir ke dunia. Corak dan karakternya tergantung dari goresan warna yang diberikan orang tua dan keluarga terhadap pendidikan formal yang diberikan, juga dari lingkungan.
Dalam konsep Hindu, mendidik seorang anak bisa dimulai semenjak mereka dalam kandungan. Hal ini termuat dalam lontar Semara Reka dan Angastya Prana. Untuk bisa mendidik anak agar menjadi seorang yang suputra, maka terlebih dahulu para orang tualah yang harus menata dan merubah dirinya menjadi orang tua yang mulia dan baik hati. Maka dari itu dianjurkan dalam lontra sastra Hindu agar seorang ibu yang mengandung setelah melalui proses upacara perkawinan, diharapkan akan melahirkan anak yang suputra.
Mendidik anak sejak mereka masih di dalam kandungan atau yang diistilahkan prenatal, dapat dimulai dari pembenahan pola fikir dan sikap dari kedua orang tua mereka. Saat mengandung, kedua orangtua sesungguhnya harus mampu melakukan tapa yoga untuk bisa mengekang dan menghindari segala sesuatu yang tidak baik agar kelak tidak berpengaruh buruk pada janin. Wanita hamil diharuskan untuk terhindar atau menghindarkan diri dari perasaan yang kuat, misalnya marah, sedih, terlalu bergembira, terlebih lagi hingga menyebabkan pertengkaran saat hamil karena perasaan tersebut terlalu dominan akan mempengaruhi perkembangan dan karakteristik si bayi dalam janin menjadi cacat mental.
Masa - masa ngidam bagi seorang wanita hamil merupakan sebuah ujian terberat buat para calon ayah. Banyak dari para calon ayah yang sering tidak mampu memperhatikan istrinya yang sedang hamil besar dan dalam masa ngidam, sehingga tampak seperti salah satu pendidikan yang salah. Karena sesungguhnya, saat itu si calon bayi sedang berada dalam proses menguji keteguhan sang calon ayah untuk membuktikan bahwa beliau adalah seorang yang pantas dan bertanggung jawab untuk dijadikan panutan sebagai orangtua. Jika sampai ada calon ayah yang kerap mengabaikan istri pada saat hamil, maka anak - anaknya akan lahir sebagai seorang anak yang berani kepada orang tua, maka hal ini seperti termuat dalam lontar Semara Reka dan Angastya Prana adalah perbuatan yang durhaka.
Masa kehamilan seorang ibu adalah masa - masa yang penting untuk mulai bersedia belajar tentang cara mendidik si calon bayi. Maka dari itu mereka tidak diperbolehkan memarahi wanita hamil, menipu, atau bahkan mengagetkan seorang wanita hamil. Seperti termuat dalam lontar Tatwa Cerita tentang Ida Bhatara Dewi Uma yang pada waktu beliau hamil sempat dikagetkan oleh teriakan seekor anak gajah liar hutan yang kebetulan tersesat dan masuk ke halaman istana raja sehingga saat tiba waktunya beliau melahirkan, muncullah Putera Mahkota Sang Ganesha yang berkepala gajah.
Cerita legenda ini sesungguhnya menjelaskan kepada umat bahwa seberapapun beratnya sebuah kondisi, rasa emosi dan perasaan yang tidak baik lainnya kadang - kadang menghinggapi perasaan pasangan suami istri, maka semua itu harus bisa dikendalikan, karena, seperti yang dijelaskan oleh Pedanda tersebut di atas, masa kehamilan adalah masa seorang ibu harus bisa beryoga bagi kedua orangtuanya dan suami tercinta.
Demikianlah konsep sederhana seperti orang Hindu di Bali terhadap cara mendidik dan asuh anak - anak mereka, banyak menarik minat turis asing untuk mengenal dan mempelajarinya. Ada perasaan kagum terhadap pulau kecil yang bernama Bali ini. Merupakan sebuah tempat yang sedemikian memikatnya sehingga ada jutaan orang dari mancanegara rela mengeluarkan banyak biaya hanya untuk dapat berkunjung ke tempat ini.
Diketahui bahwa kehidupan masyarakat Bali secera ekonomi saat ini jika dibandingkan dengan 20 tahun lalu adalah sangat jauh berbeda dan telah berkembang pesat. Jutaan dolar telah mengalir dan membasahi tanah Bali sehingga mampu memberi penghidupan yang sangat bagus kepada sebagian besar masyarakat Bali yang berkecimpung di dunia pariwisata dan sektor lainnya. Tak dapat dipungkiri bahwa pariwisata telah menjadi tumpuan terpenting bagi kelangsungan hidup masyarakat Bali.
Dengan latar belakang tersebut di atas, Sang Pedanda ingin selalu mengingatkan kepada anda semua bahwa beliau ingin mengetuk hati masyarakat Bali terutama pasangan suami istri agar kembali ingat akan jati diri masing - masing. Kembali ingat sumber dari segala kehidupan ekonomi yang membuat mereka berhasil hidup makmur. Jangan sampai warisan yang adiluhung ini hilang begitu saja karena sebuah kebodohan.
Pedanda / seorang pemimpin dalam melakukan acara persembahyangan bagi umat Hindu di Bali ini pada setiap acara pertemuan adat dan upacara - upacara adat selalu menghimbau dan mengajak semua lapisan masyarakat Bali agar berbangga menjadi orang Hindu dan orang Bali seutuhnya.
Â
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.