article

Wisata Spiritual : Mengunjungi Pura Ponjok Batu Di Pulau Dewata

Wisata Spiritual : Mengunjungi Pura Ponjok Batu Di Pulau Dewata

Apakah anda sudah pernah berwisata ke Bali utara bagian timur ?

Pura Ponjok Batu yang berlokasi di Desa Pacung Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng merupakan sebuah tempat pemujaan bagi umat Hindhu di Pulau Bali untuk meminta berkah atau keselamatan, di samping itu pura ini juga terkenal sebagai tempat penyucian diri ( melukat ) bagi umat Hindhu yang membutuhkan. Jika anda datang dari Singaraja, maka jarak pura ini kira - kira mencapai 24 kilometer. Namun apabila ditinjau dari Kota Denpasar maka jaraknya mencapai sekitar 110 kilometer. Pura Ponjok Batu adalah salah satu pura yang bermanfaat untuk penyungsungan jagat atau Pura Dang Kahyangan. Dimana diketahui bahwa pura ini mempunyai rekaman sejarah yang cukup panjang dan unik. Hal tersebut dapat anda telusuri lewat temuan - temuan arkeologi, efigrafi dan folklore ( cerita rakyat ) yang hidup di tengah masyarakat Desa Julah dan sekitarnya sejak jaman dulu.

Berdasarkan kajian arkeologis, ketika ada penggalian di lokasi perbaikan pura pada tahun 1995, telah ditemukan sarkopah / sarkopagus kuno di halaman tengah pura. Saat ini sarkopah itu telah disimpan bersama sarkopah kuno lainnya di dalam sebuah bangunan pada halaman depan Pura Duhur Desa Kayuputih, Banjar. Sarkopah ( peti mayat ) terbuat dari batu cadas berukuran tubuh manusia laki - laki dewasa, banyak ditemukan dibeberapa daerah lainnya di Pulau Bali. Hal ini disebabkan karena sistem penguburan masyarakat Bali pada jaman dulu kala adalah menggunakan sarkopah untuk menyimpan jasad orang yang telah meninggal, dimana hal ini telah berlangsung sejak zaman perundagian di Bali yaitu sekitar tahun 2500 - 3000 SM, atau sekitar 5.000 tahun lalu. Kondisi ini menunjukkan bahwa di sekitar kawasan Pura Ponjok Batu pernah dihuni oleh masyarakat yang mendukung budaya sarkopah. Sarkopah adalah tempat disemayamkannya jasad orang yang dihormati dalam masyarakat. Pada zaman perundagian, masyarakat percaya bahwa pemujaan roh nenek moyang dan orang - orang yang dihormati seperti kepala suku atau ketua adat adalah akan membawa berkah dan keselamatan bagi para pengikutnya. Ttradisi ini menyerupai pembuatan mumi di Mesir, Babilonia, Siria dan lainnya.

ads

Sementara menurut kajian efigrafi atau prasasti, Desa Julah merupakan sebuah desa pemukiman yang sangat ramai dihuni oleh penduduk asli Desa Julah maupun para pendatang. Hal ini diketahui dari prasasti yang dikeluarkan oleh raja - raja dari Dinasti Warmadewa, masing - masing dari masa pemerintahan Raja Sang Sri Aji Ugrasena ( tahun 923 M ), Raja Sri Aji Tabanendra Warmadewa ( 955 M ), Raja  Sri  Janasadhu Warmadewa ( 975 M ), Raja Sri Dharma Udayana Warmadewa (1011 M), Raja Putri Sang Adnyadewi, Prabu Marakatta ( 1022-1026 M ), Raja Sri Paduka Anak Wungsu dan Raja Sri Prabu Jayapangus ( 1181 M ).

Raja - raja yang pernah berkuasa tersebut hampir semuanya pernah mengeluarkan prasasti tentang keberadaan Desa Julah pada jaman dulu. Di sana disebutkan bahwa tugasnya menjaga sebaik - baiknya semua pura yang berada di wilayah Desa Julah. Salah satunya adalah Pura Ponjok Batu merupakan sebuah pura tua yang keberadaannya hingga saat ini dirawat. Di pura ini banyak ditemukan beberapa patung, diantaranya adalah patung Dewa Siwa, Nandini dan Ganesa. Patung - patung tersebut merupakan petunjuk bahwa perhatian raja Dinasti Warmadewa terhadap keberadaan Pura Ponjok Batu adalah sangat besar.

Sementara berdasarkan folklore, Pura Ponjok Batu awalnya berpusat di Bali utara yaitu Pura Penimbangan di Desa Panji, kemudian mengalami perkembangan pengikut hingga ke Bali Utara bagian timur. Selanjutnya Ida Batara distanakan dibagian timur Bali Utara dengan membuat sebuah pura baru yang lebih besar.

Konsep Nyegara Gunung

Terdapat sebuah tradisi yang dipercaya hingga sekarang dan masih berjalan di sekitar desa - desa dalam wilayah Pura Ponjok Batu. Pura ini mempunyai hubungan erat dengan Pura Bukit Sinunggal di Desa Tajun, Kubutambahan. Dimana setiap ada upacara melasti terhadap Ida Batara / Tuhan di Pura Bukit Sinunggal dan pura - pura lainnya di Tajun, upacara pemelastian selalu diselenggarkan pertama kali di Pura Ponjok Batu karena disini terdapat sumber air tawar terbesar yang memiliki kesucian dan mampu berperan sebagai air campuhan antara air darat dan laut.

Hubungan antara Pura Ponjok Batu dan Pura Bukit Sinunggal ibarat zenit bawah dan zenit atas. Kondisi ini membuktikan adanya keserasian yang kekal antara segara dan gunung. Bali sejak dulu mempunyai nilai spiritual yang cukup tinggi karena faktor alam yang dimiliki, dimana di sepanjang pantai Bali utara terdapat jarak antara pantai dan gunung yang sangat berdekatan, sehingga tingkat kesucian segara dan kesucian daerah pegunungan adalah sama. Maka dari itu, upacara nyegara gunung dalam upacara adat Pitra Yadnya sangatlah penting untuk dilaksanakan.

Pura Ponjok Batu telah beberapa kali mengalami pemugaran. Pemugaran terakhir dimulai pada tahun 1994 hingga dilakukannya upacara Ngenteg Linggih pada Saniscara Wayang Karo, 8 Agustus 1998. Pura ini terbuat dari kumpulan batu hitam yang didesain secara natural agar keberadaannya tetap kuat dan kokoh. Saat ini, pelinggih yang ada di Pura Ponjok Batu meliputi :

1. Padmasana
2. Pelinggih Dang Hyang Nirartha
3. Pelinggih Ciwa
4. Pelinggih Ganesa
5. Pelinggih Batara Baruna
6. Pelinggih Seluang
7. Pelinggih Ratu Ayu Pangenter
8. Pelinggih Taksu (Dewa Gede Ngurah)
9. Pelinggih Ratu Bagus Mas Pengukiran
10. Pelinggih Ratu Bagus Mas Subandar
11. Pelinggih Taksu (Ratu Bagus Penyarikan)
12. Bale Pesandekan
13. Bale Paselang
14. Bale Ongkara
15. Bale Gegitaan
16. Bale Reringgitan
17. Bale Kulkul
18. Bale Pegat
19. Bale Paninjoan

Keunikan Dari Pura Ponjok Batu

Saat ini Pura Ponjok Batu telah menjadi populer karena memiliki daya tarik kuat terhadap para wisatawan asing untuk berkunjung kesini buat liburan dengan menikmati wisata spiritual, apalagi kondisi ini didukung oleh adanya arca - arca batu yang berbentuk unik yaitu perahu kecil yang beralaskan batu di pinggir laut Pura Ponjok Batu. Perahu â perahu kecil itu disucikan oleh umat Hindhu dan bisa anda lihat secara jelas dari halaman pura di atas atau anda langsung menuju ke sebuah tangga yang turun menuju ke bibir pantai. Disini kerap dilaksanakan persembahyangan. Tepat di bibir pantai yang berpasir hitam dan bersih, terdapat sebuah sumber air yang muncul dari pasir hitam dan membentuk sebuah kolam kecil. Disanalah biasanya umat Hindhu menyucikan diri ( melukat ) dengan cara membasuhkan air tersebut ke muka dan di kepala kemudian meminumnya sedikit atas persetujuan Jero Mangku / pemimpin upacara ada di sana.

Anda boleh jalan - jalan mengelilingi area pura yang sangat luas asalkan dalam kondisi sehat jasmani terutama buat kaum wanita sedang tidak datang bulan, anda akan sampai di Pura Ponjok Batu pada bagian parkir yang luas dan di sampingnya terdapat pemandangan natural dari laut Jawa yang membentang sangat luas di pinggir jalan raya besar ke arah timur di sebelah pura yang akan menuju ke Kota Amlapura di Karangasem.

Di sekitar areal parkir tersebut banyak terdapat warung - warung makan tradisional Bali yang menjajakan makanan - makanan ringan cepat saji atau sajian Nusantara, seafood atau Chinese food dan buah - buahan yang bisa anda beli dengan harga murah dan sehat. Dari areal parkir, anda bisa menikmati deburan ombak laut Jawa yang tidak begitu ganas saling bersautan dan silih berganti. Di sisi timur dari areal parkir, anda bisa melihat tempat persembahyangan yang cukup besar bagi umat Hindhu yang berkunjung sekedar bersembahyang dan biasanya mereka akan melanjutkan perjalanan menuju ke Kota Amlapura di Karangasem.

Menuju ke halaman utama dari pura, anda bisa melewati tangga - tangga besar menuju kesana. Di halaman utama inilah anda bisa langsung melihat keindahan seni pahat khas Bali dari bangunan - bangunan suci yang tertata rapi. Disinilah umat Hindhu melakukan persembahyangan bersama untuk memohon keselamatan. Anda bisa melakukan foto - foto menarik di sekitarnya.

Terdapat pohon - pohon yang tumbuh rimbun dan menambah keasrian dan kesucian dari lingkungan pura yang sunyi pada hari - hari biasa. Namun ketika hari - hari besar keagamaan umat Hindhu tiba ataupun ada piodalan - piodalan di pura ini, akan banyak dikunjungi oleh umat Hindhu se - Indonesia dan wisatawan asing yang berkunjung ke dalamnya untuk melihat - lihat jalannya upacara adat keagamaan di pura ini. Kadang - kadang akan disajikan tarian - tarian khas Bali yang berfungsi untuk menunjang kelancaran jalannya upacara keagamaan.

Apabila anda adalah wisatawan dari luar Bali atau luar negeri yang ingin berwisata ke Pura Ponjok Batu, sebaiknya dilakukan pada hari - hari besar keagamaan umat Hindhu atau disaat ada piodalan - piodalan di pura ini. Karena akan banyak dipentaskan tari - tarian tradisional Bali dan ritual upacara adat keagamaan Bali yang unik dan eksotik. Jangan lupa anda harus mau mengenakan pakaian adat khas Bali, minimal memakai kamen atau kain yang dililit pada badan.

Demikian kami menjelaskan, semoga bermanfaat !

 

 

 

 

 

0
Comments (0)
Unable to Comment
You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login

No comments yet. Be the first to comment.

From Author
Loading…
ads
ads
ads