Menurut Assisten Manager Uluwatu Spa Intercontinental Bali Resort Denpasar Bali, beberapa tahun belakangan ini banyak berkunjung tamu - tamu dari Australia dan Jepang ke tempat - tempat Spa untuk melakukan pijat relaksasi dan layanan beragam produk Spa tradisional ala Bali, dimana kunjungan ini jumlahnya tetap setiap bulan, mereka berdatangan pada awal bulan Juli karena sedang berlangsung musim panas dan liburan di negaranya masing - masing. Para wisatawan tersebut, lanjut sang assisten, biasanya datang bersama dengan pasangan masing - masing. Selain pasangan - pasangan yang sedang berbulan madu, Spa dan salon di Pulau Bali banyak digemari oleh remaja - remaja putri untuk mencoba perawatan tubuh dan kulit. Menu Spa untuk remaja memiliki produk tersendiri dan dipasang dengan harga yang lebih mahal.
Sejak saat itu para wisatawan asing gemar melakukan liburan ke Bali untuk menikmati jenis wisata Spa yang dikemas dalam beragam produk yaitu terdiri dari dua kelompok, produk Spa modern dan Spa tradisional Bali. Lebih lanjut mereka menjelaskan, apabila mereka kebanyakan mencoba perawatan tubuh dengan pilihan paket produk Spa secara lengkap maka paket perawatan tubuh tersebut ( mulai dari pijat dari ujung kepala hingga kaki, flower bath, refleksiologi, lulur, hingga facial ) bisa anda coba.
Turis Australia dan Jepang suka memakai produk - produk lokal dari Bali misalnya Lavender scrub. Namun ada juga yang ingin mencoba produk luar misalnya Peponia dari Swiss.
Terapis - terapis Indonesia khususnya di Bali adalah menjadi alasan utama mereka suka mencoba wisata Spa. Menurut pengakuan para wisatawan mancanegara dari Australia dan Eropa, mereka tidak merasakan perawatan yang lengkap dan mampu menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh seperti yang dilakukan di Bali. Di negara masing - masing, jarang ada perawatan kecantikan tubuh dan kulit selengkap dan seenak pijatan di Spa Bali. Jadi mereka suka datang kembali ke Bali untuk melakukan wisata Spa.
Alasan lain yang membuat turis asing suka liburan ke Bali buat menikmati paket wisata yang tersedia bisa kami sebutkan di bawah ini yaitu ada 5 macam yang membuat anda sebagai turis asing jatuh cinta dan berani memilih jadi orang Bali :
1). Jatuh Cinta Pada Orang Bali
Pada beberapa kasus banyak dijumpai seorang bule jatuh cinta pada wanita / pria Bali, mereka kemudian menikah lalu menjadi orang Bali dan menetap di pulau ini buat liburan, adalah fenomena yang terbanyak terjadi, mungkin sejak jaman Belanda dulu dimana ada beberapa ratus pasang penganten beda negara berhasil mengarungi bahtera perkawinan mereka karena sama - sama saling jatuh cinta.
Cinta dan asmara adalah kondisi hati yang tak mengenal suku bangsa, ras, agama dan golongan. Kebutuhan dasar dari manusia tersebut tidak bisa ditunda, diubah, apalagi dimanipulasi atau ditolak begitu saja dan harus terjadi.
Pesona wanita dan pria Bali di mata pria dan wanita bule telah banyak diungkapkan diberbagai media. Bahkan ada beberapa kisah asmara mereka ada yang melegenda, menghiasi majalah - majalah luar negeri, menginspirasi para penulis buku dalam menuangkan ide - ide mereka yang brilian, dan sempat menjadi buah bibir masyarakat di Pulau Dewata dan dunia selama berpuluh - puluh tahun lamanya. Contohnya adalah kisah asmara Antonio Blanco dengan Ni Ronji, keluarga besar Ni Ronji adalah keluarga pelukis besar di Desa Ubud Gianyar Bali dan telah berhasil membuat pelukis asal Spanyol ini rela menikahinya dan memutuskan untuk menetap dan menjadi orang Bali, hingga beliau meninggal dunia dan diaben.
Kisah melegenda lainnya adalah perkawinan antara Le Mayeur, seniman asal Swedia dengan Ni Pollok, dimana nama kedua pasangan legenda ini masih tertulis jelas di Museum Le Mayeur yang berlokasi di kawasan wisata Sanur, Denpasar. Antonio Blanco dan Le Mayeur hanyalah 2 diantara puluhan atau mungkin ratusan orang - orang bule yang berhasil jatuh cinta dengan seorang wanita Bali, lalu menjadi orang Bali. Ada juga beberapa wanita bule yang jatuh cinta dengan pria Bali meskipun harus melakoni proses " Suddhi Wadani " ( mengukuhkan diri mereka sebagai penganut Hindu ), upakara " pawiwahan "Â (pernikahan), dan akhirnya menjadi orang Bali seutuhnya, tentu saja hal ini terlepas dari unsur paksaan, apakah tinggal di dalam atau luar Bali.
2). Jatuh Cinta Pada Keindahan Alam Bali
Bule menjadi orang Bali karena alasan ingin mendapatkan jodoh seorang pria / wanita Bali, hal ini sudah lama menjadi fenomena dan dalam jumlah yang besar. Anda bisa mengenalinya dengan mudah saat melihat seorang pria bule sedang menggendong anak didampingi oleh seorang wanita Bali atau pria Bali juga sedang menggendong anak kebule - bulean dan didampingi oleh seorang wanita bule pada ruang - ruang publik di Kota Denpasar. Yang tak kalah menariknya adalah pria / wanita bule yang berpasangan dengan bule lainnya, tetapi mereka sudah menjadi orang Bali. Ini bisa anda temukan di Ubud atau di daerah dataran tinggi seperti Bedugul dan Bangli. Beberapa tinggal di daerah - daerah urban seperti Kuta, Legian, Kerobokan, Seminyak, Jimbaran, Sanur atau Canggu.
Mereka suka menjadi orang Bali bukan karena jatuh cinta pada orang Bali saja, melainkan karena pada awalnya mereka jatuh cinta pada keindahan alam Pulau Bali yang alami. Kelompok bule yang satu ini adalah bule yang biasanya turut aktif mengkampanyekan pentingnya satu objek seperti menjaga kelestarian alam, mereka tidak ingin Pulau Bali menjadi rusak, umumnya mereka bergerak sendiri dengan teman - temannya atau bersama - sama dalam sebuah organisasi tertentu ( LSM misalnya ) membuat acara yang pada intinya menjaga dan melestarikan keindahan Bali yang sering dilukiskan sebagai " alam yang masih perawan ", molek dan menawan hati, dan telah terkenal di seluruh penjuru dunia. Jatuh cinta terhadap keindahan alam Bali merupakan alasan utama kedua yang membuat bule jatuh cinta dengan orang Bali.
3). Jatuh Cinta Pada Pola, Orientasi dan Gaya Hidup Orang Bali
Bule, sejak nenek moyangnya sudah terbiasa menjalani kehidupan yang serba kompleks, dimana sebagian besar waktu mereka adalah dihabiskan untuk mengejar ambisi. Dua dasawarsa belakangan ini menunjukkan tanda bahwa mereka mulai merasa bosan dengan yang namanya tactic, multi - tasking, atau burnout. Kadang - kadang mereka sudah mulai merasa muak dengan assertive no, sudah bosan dengan kerja secara sukarela dan tanpa pamrih. Bule usia dewasa dan kelompok manula sudah kenyang dengan semua sistem, adat dan budaya yang berlaku dalam masyarakat Bali. Mereka berlibur ke Bali, berinteraksi dengan orang - orang Bali, lalu diharapkan bisa jatuh cinta. ( Perhatikan kehangatan interaksi yang terjadi antara gadis bule dengan odah - odah dari Kintamani di bawah ini : tatapan mata odah yang bersahaja, hangatdan ramah tamah tersambut oleh cerahnya senyuman seorang gadis / pria bule.)
Kondisi tersebut di ataslah yang banyak terjadi di Bali dan Indonesia sebelum tahun 90 - an, pada saat pola, orientasi dan gaya hidup orang Bali masih bersifat sederhana, jujur, dan masih peduli terhadap orang lain, paras - paros selulung sebayantaka. Ketika orang Bali masih sering berkata nggih ( iya ) dibandingkan bilang no / ten ( tidak ). Atau saat orang Bali lebih banyak menghabiskan waktu mereka untuk menjalankan swadarma ( guna mengikuti perputaran karma ) ketimbang menerapkan ajaran adharma kepada sesama di sekitarnya.
Pola orientasi dan gaya hidup dari orang Bali yang seperti tersebut di atas, dalam pandangan bule adalah tidak sekedar baik, melainkan harus indah, menawan, dan menyentuh sanubari. Mereka tergugah dan akan bisa jatuh cinta pada pola orientasi dan - gaya hidup orang Bali yang menakjubkan itu, lalu memutuskan untuk menghabiskan sisa hidup mereka di Bali, bersama dengan orang - orang yang sederhana, berada di lingkungan orang - orang jujur, dan diharapkan mampu berdampingan dengan orang - orang yang peduli terhadap kesusahan dan kondisi lainnya dari orang lain.
4). Jatuh Cinta Pada Yoga Dan Spritualitas Orang Bali
Di tengah pola hidup orang Bali yang penuh dengan tekanan, bule semakin menyadari bahwa antibiotik dan obat - obatan modern lainnya hanyalah sebuah solusi jangka pendek saja dan dapat menimbulkan ekses ( buruk ) dalam jangka panjang. Sementara, hiruk - pikuk hiburan di kota metropolitan hanyalah sebuah pelarian sementara dari orang - orang tertentu yang sedang stress, hilang sebentar lalu datang lagi begitu mereka kembali menjalankan rutinitas kehidupan mereka sehari - hari. Salah satu upaya untuk mengatasi stress tersebut adalah dengan mendatangi rumah - rumah ibadah agama yang dianut meskipun tak banyak mengubah keadaan, mereka tetap saja merasa kosong, kering dan haus akan sesuatu. Mereka tetap berusaha untuk mencari sesuatu, sebuah kondisi ke wilayah selatan bumi ini, ada yang melakukan perjalanan liburan ke Mexico, Peru, atau wisata spiritual ke India, ada yang ke Tibet, Jepang, dan sebagian kecil melakukan perjalanan liburan ke Bali.
Itulah awal kesadaran dari para bule terhadap keistimewaan spiritualitas Hindu dan Budha, dimana secara umum diharapkan berubah dan menjadi trend gaya hidup minimalism and - obscurity yang diadopsi oleh kaum urban dari dunia barat. Merupakan sebuah gaya hidup yang menikmati kesederhanaan, seadanya dan dapat melupakan masa lalu tanpa perlu mengkhawatirkan masa depan. Titik - balik dari hedonisme yang pernah menjangkiti orang barat selama berabad - abad sejak revolusi indutri di Inggris Raya juga menjadi pengaruh kuat terhadap harapan mereka untuk belajar dan mengetahui tentang keistimewaan spiritualitas Hindu dan Budha.
Sebut saja Steve Jobs atau aktor ganteng Richard Gere misalnya. Petuah Swami Vivekananda ( seorang penulis sastra Hindu terkenal dari India ) menjadi semacam Daily Bread baru terhadap perkembangan kehidupan spiritualitas mereka. Deepak Chopra Center adalah contoh yang lain, ia berminat untuk belajar spiritual di Bali dan hampir setiap kunjungan liburannya selalu dibanjiri oleh yogis - yogis baru dari mancanegara.
Mereka membutuhkan spiritualitas yang mampu mengajarkan tentang surga dan neraka, tapi tidak semata - mata mengandung perintah dan doktrin, melainkan dapat mengajarkan mereka tentang cara menjalani hidup. Mereka menemukan hal ini di dalam ajaran agama Hindu, seperti yang sering mereka sebutkan, that not only a religion, rather, it is a way of life. Adalah sebuah cara hidup yang tidak saja akan membuat mereka tampak lebih sehat, melainkan juga menjadi lebih tenang, damai secara rohani, dan sekaligus lebih bergairah.
Erat kaitannya dengan fenomena tersebut di atas, dimana seorang Bule Hawaii beristrikan orang Amerika keturunan Jepang telah mendapat wangsit untuk menjadi seorang Pemangku ( pengantar doa ) di dalam salah satu pura di Tabanan. Beliau terhubung secara langsung oleh orang - orang Bali, secara spiritual, jauh sebelum mereka berkunjung untuk pertamakalinya kesini. Menurut pengakuannya, hingga saat ini telah membangun beberapa sanggah dan pura di Hawaii ( dalam lingkungan keluarga besar mereka ).
Seorang bule yang menjadi orang Bali karena adanya ketertarikan spiritualitas, bisa dengan mudah dikenali dengan melihat arsitektur sanggah atau pura yang cukup besar di pekarangan rumahnya ( semacam pemerajan alit yang terdiri dari Padmasana, dan beberapa Pelinggih tanpa Meru ), lengkap dengan lebuh yang wajib berisi canang dan nasi pengeluar setiap sore setiap hari, serta mempunyai kamar - kamar suci untuk bermeditasi.
5). Jatuh Cinta Pada Kreatifitas Dan Kesenian Orang Bali
Menurut orang bule, masyarakat Bali dikenal sebagai orang - orang yang kreatif dan mempunyai talenta seni cukup tinggi untuk menghasilkan berbagai ragam produk seni dan kerajinan tangan yang keindahannya setaraf dengan kreasi dunia dalam hal keunikan, dimana dalam proses pengerjaannya hanya menerapkan cara tradisional dari tangan dengan memakai alat - alat sederhana saja.
Banyak bule yang kemudian dapat jatuh cinta pada kondisi itu dan berkeinginan untuk menyalurkan kreatifitas dan karya seni orang Bali menuju pasar - pasar mancanegara, lalu mendirikan perusahaan dagang ( trading company ) dan agen perdagangan (trading agency). Kesibukan mereka mengkanalkan hasil kreatifitas dan seni dari orang Bali membuat para bule lebih suka tinggal langsung di Bali, berinteraksi dan membina hubungan dengan orang - orang Bali. Pertimbangan lainnya adalah biaya perjalanan dan akomodasilah yang pada akhirnya membuat mereka mau memutuskan untuk pindah, menetap, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bali.
Apakah fenomena seorang bule menjadi orang Bali adalah sesuatu yang patut untuk dibanggakan ? Terlepas dari persoalan berat tentang perlu atau tidaknya berbangga terhadap kondisi ini, maka beberapa pertanyaan penting untuk patut kita renungkan sebagai orang Bali dan perlu dijawab adalah : terdapat banyak bule yang lebih suka menjadi orang Bali karena berbagai alasan, apakah perlu anda mengubah jati diri menjadi sesuatu atau berkepribadian yang lain seperti orang lain ?
Orang bule pada umumnya sangat mencintai kesederhanaan pola, orientasi dan gaya hidup dari orang Bali, hal ini tentu berdampak bagus terhadap orang Bali itu sendiri dan dapat mengubah sebuah kondisi menjadi sesuatu yang kompleks demi untuk perkembangan globalisasi dan moderenitas.
Â
Â
Â
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.