Plimbi, Sosmed Favorit di Masa Depan?

28 May 2016 07:14 6804 Hits 12 Comments Approved by Plimbi

Era Kebosanan pada yang Unyu-unyu

Plimbi, Cara Baru Bermedia Sosial

Era kekinian, ditandai dengan maraknya sosial media (sosmed) di dunia maya. Begitu pesatnya perkembangan para pengguna sosmed, hingga nyaris separuh warga bumi menjadi pengguna aktif. Sejauh ini, sosmed mainstrem semacam Facebook dan Twitter masih merajai jejaring sosial di samping mulai banyaknya sosmed lain bermunculan dengan membawa tawaran-tawaran baru dan segar bagi (calon) penggunanya. Mulai dari Instagram, Pinterest, Tumblr, hingga Google+.

Melalui media utama berbasis foto, si anak Facebook, Inc., Instagram, meroket tajam dengan pengguna yang terus berdatangan. Pinterest, melalui tawaran layanan unggah foto/video, share link, dan kategorisasinya naik daun dengan pengguna yang kian berkerumun. Tumblr, lewat tawaran blog gaya baru bercorak media sosial, maju tak gentar dengan pengguna yang menyesak. Dan, Google+ merangkak-rangkak lewat tawaran fitur group circle, repost, instant upload dan semacamnya seolah-olah hendak menggusur Facebook dan Twitter (sayangnya belum juga tergusur, he-he) dengan pengguna aktif (bukan pengguna terdaftar) yang lumayan banyak meski tak sebanyak pengguna layanan moyangnya, yakni Google Search. 

Ini belum lagi sosmed mainstream berbasis pesan (instant messaging) seperti Blackberry Messenger, WhatsApp, Line, WeChat, dan lain semacamnya. Yang terbaru, Snapchat, bergerak cepat macam hantu saja, seperti logonya. Sosmed berbasis instant messaging bahkan nyaris menumbangkan kejayaan Short Message Service (SMS) yang bertahun-tahun menjadi kawan mesra-setia banyak orang. Era SMS, cepat atau lambat, sepertinya akan segera menjadi media berbalas pesan yang kesepian di lalu lintas jaringan yang riuh.

Di tengah-tengah maraknya perkembangan sosmed itu, lahirlah beberapa media sosial yang cukup berbeda dengan sosmed kebanyakan. Yakni, sosmed berbasis jurnalisme. Jurnalisme sosmed, sebenarnya bukan hal asing bagi pengguna media sosial. Sejak sosmed mulai ngetrend di jagat maya, sebagian kalangan sudah menjadikan sosmed untuk merilis berita (bukan membagikan link berita daring ya, he-he), mengemukakan pendapat, dan lain semacamnya (jadi tidak hanya mengunakan sosmed untuk leyeh-leyeh unggah foto unyu, curhat galau, atau nyetatus putus cinta dan lupa minum air sambiloto, ha-ha). 

Adanya sosmed, khususnya yang berbasis jurnalisme (atau pengguna sosmed mainstrem yang menjadikan sosmed sebagai tempat berjurnalisme-ria), menjadikan dunia jurnalistik bukan lagi dimonopoli para wartawan. Semua orang bisa menjadi wartawan, kadang-kadang wartawan dadakan, dan seperti saya, lebih banyak mengabaikan kaidah-kaidah jurnalistik yang baik dan benar alih-alih belajar terlebih dahulu sebelum berani ngejurnalisme di sosmed (payah ya, Bang, payah ya, Yu, uhuk-uhuk. Gak!).

Dengan kata lain, sosial media membuat para penggunanya bisa jadi wartawan tanpa harus berkalungkan Id Card dengan label wartawan. Semua orang berhak menulis berita dan tulisan-tulisan tertentu yang sebelumnya hanya dikerjakan oleh wartawan. Orang berhak meliput dunia politik, teknologi, masakan, tempat wisata, dan apa pun yang bisa ditulis. Bahkan, dengan media sosial orang dapat meliput dan memberitakan dirinya sendiri, ha-ha.

 

Era Kebosanan pada yang Unyu-unyu

Sejak sosmed menyita perhatian dunia nyata, orang-orang ramai-ramai bermaya-maya. Dan sejak itu pula foto-foto unyu menghiasi linimassa sosmed. Apalagi sejak Miss. Selfie buka-bukaan di ruang-ruang publik dan ruang-ruang privat sekaligus. Riuh-rendah publik maya ber-selfie-ria di mana pun dan kapan pun dengan pose yang beragam. Mulai dari pose memanyung-manyungkan bibir sambil peace dua jari, foto dengan ekspresi sedih atau gembira, sampai pada pose yang jungkir-balik macam orang ambeien (ambeien obatnya adalah sambiloto, gak-gak-gak). Ironisnya, demam berswafoto itu membuat beberapa orang tak peduli lingkungan.

Kini, rakyat maya sebagian di antaranya mulai bosan dengan foto-foto begituan (atau cuma saya sendiri yang bosan kali ya?). Sebaliknya, orang-orang maya mulai melirik (dengan malu-malu mungkin, ha-ha) pada sosial media yang menyajikan konten-konten “berkualitas”. Mereka mulai menaruh perhatian pada foto-foto dunia maya yang berisi keterangan mendalam dan bukan hanya semacam kalimat “asyik banget pemandangannya” (untuk memberi keterangan pada sebuah foto selfie berlatar pemandangan). Atau, sebuah kalimat “hmm, enak bingit makanannya sampai gua mandi keringat” (untuk memberi keterangan pada foto yang berlatar sebuah hidangan di restoran). Tak diragukan lagi, hal semacam itu pastilah membosankan dan kalau dipandang lama-lama membuat orang harus segera ke dokter spesialis mata untuk mengobati katarak, hu-huy.

Dengan kata lain, orang-orang maya—sedikit banyak—menaruh respek pada foto-foto yang berisi ulasan tentang isi fotonya. Karena dengan ulasan itu, publik maya akan lebih menikmati foto-foto itu (apalagi keterangannya disampaikan dengan menarik). Publik sosmed tentu bersosial media tidak hanya ingin melihat foto orang-orang narsis dan leyeh-leyeh macam orang baru saja kesurupan jin hamil 70 tahun.

Itulah kenapa, beberapa tahun terakhir muncul sosial media berbasis jurnalisme sosial yang menitikberatkan pada tulisan daripada foto atau video (tentu bukan berarti no photo-no video). Salah satunya Medium.com. Jejaring sosial yang didirikan oleh co founder Twitter Evan Williams ini, mengusung semangat jurnalisme sosial yang mengutamakan “jurnalistik” daripada unyu-unyuan. Publik maya pun menyambut positif Medium.com.

Orang nomor satu di Amerika Serikat, Barack Obama, menggunakan Medium; Hillary Clinton, sekretaris Obama sekaligus calon salah satu bakal capres Partai Demokrat AS, tak ketinggalan menggunakan platform ini; Melinda Gates, istri Bill Gates CEO Microsoft itu, juga mengunggah tulisan di Medium.; tak ketinggalan, Bono, pentolan U2, band rock-punk legendaris dari Irlandia itu, pun mengunakan Medium.

Di negara kita, Medium mulai populer sejak penyair yang menulis puisi untuk film AADC 2, M. Aan Mansyur, mengunggah tulisan-tulisannya. Muhidin M. Dahlan, pegiat literasi di Indonesia Buku, pun demikian. Irwan Bajang, penulis muda dan Pemimpin Redaksi Indie Book Corner (IBC), juga aktif menulis di Medium. Dan, cukup banyak kalangan anak muda Indonesia yang mulai aktif menggunakan Medium sebagai wadah menyampaikan pikiran dan gagasan.

Keberadaan Medium tersebut, seolah gayung bersambut dengan kehadiran Plimbi.com, sebuah jejaring sosial lokal (Indonesia) yang mengusung social jurnalism. Saya harus mengatakan bahwa Plimbi adalah sosmed anti-mainstrem yang menjanjikan dan kemungkinan besar menciptakan mainstream baru suatu saat di masa depan. Dalam hal tampilan, Plimbi tak sesederhana Medium. Namun, bukan berarti Plimbi tak sederhana atau rumit. Menurut hemat saya, Plimbi memiliki tampilan elegan yang memanjakan mata penggunanya (saya yakin Plimbers sepakat, he-he). Juga, menurut saya lagi-lagi, Plimbi memiliki tampilan yang lebih menarik dari Kompasiana, sosmed yang juga bercorak jurnalisme sosial (media warga dalam bahasa Kompasiana).

 

Plimbi, Cara Baru Bermedia Sosial

Terlepas dari itu, Plimbi menawarkan cara baru bagi kamu-kamu dalam bermedia sosial. Kalau sebelumnya kamu bermedia sosial tanpa harus mengerutkan kening alias langsung jleb-kan foto/video atau tulisan-tulisan (status atau tweet)—yang itu pun pada umumnya tulisan sekedar—ke Facebook, Twitter, atau Instagram, tidak demikian halnya di Plimbi. Tidak sebagaimana pada ketiga sosmed tersebut yang  apa pun saja bisa kamu unggah—bahkan hanya satu kata semisal “capek” atau hanya dua kata “bobo ah”—, di Plimbi kamu harus memutar otak agar tulisanmu sampai batas minimal 300 kata (tentu saja bukan berarti asal 300 kata).

Jika kamu jalan-jalan atau makan di suatu tempat, tidak bisa selfie-mu langsung diunggah ke Plimbi. Sekali-kali tidak bisa (tak bole-tak bole, kata Mei Mei, temannya Upin-Ipin itu, he-he). Misalnya kamu jalan-jalan ke Bandung, kamu harus membuat ulasan semacam Inilah 10 Tempat Paling Ciamik di Bandung terlebih dahulu sebelum kamu Plimbi-an (sayangnya, tulisan ini banyak mengandung typo, duh-duh). Atau kalau kamu makan, kamu baru bisa unggah foto apa yang kamu makan setelah kamu menulis semacam Empal Gentong di Setiabudi Jakarta yang tak Kalah dengan di Cirebon.

Atau kalau kamu nonton film, tidak bisa begitu saja kamu screenshoot film yang kamu tonton dan langsung kamu unggah ke Plimbi. Kamu harus membuat tulisan semacam Fenomena Persaingan Film Indonesia Versus Film Hollywood yang Masih Berlanjut dan barulah kamu bisa Plimbi-an. Atau, kalau kamu sedang memasak menggunakan tungku, tidak bisa kamu langung selfie-an di depan tungku dan kamu unggah ke Plimbi sebelum kamu menulis semacam Satu Tungku Dua Belas Payudara (ini orang kok tulisannya sendiri yang terus dipromosikan, bosan kita.. hiks-hiks-hiks).

Dengan demikian, tidak ada kata narsis dan leyeh-leyeh untuk Plimbi. Sebaliknya, kamu harus duduk manis di depan perangkat tulismu dan buatlah tulisan semenarik mungkin agar kamu menjadi bagian dari Plimbers yang berbahagia. Agar kamu menjadi bagian dari orang-orang yang selamat dari kemungkinan disandera perasaan bosan karena foto unyu-unyu dan status-tweet alay bin lebay yang bikin matamu sepet tak ketulungan. Ingatlah, ketika semua penduduk maya bosan dengan yang semacam itu, mereka akan ramai-ramai melirik media sosial berbasis jurnalisme. Bukan hal mustahil, ketika jurnalisme sosial sudah menjadi kebutuhan publik maya, Plimbi menjadi salah satu dari sosmed berbasis jurnalisme yang difavoritkan. Bukan begitu, Plimbers?

 

Pajagungan, 27 Mei 2016

*gambar: screenshoot akun Facebook Plimbi.com

 

Tags

About The Author

RACHEM McADAMS 26
Novice

RACHEM McADAMS

penyuka prosa & kucing | sesekali menulis cerpen & novelette
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel